
Luna tergesa-gesa menuruni anak tangga dengan sudah rapi akan pergi ke kampus. Gadis ini bukan takut akan terlambat ke kampus, tetapi dia takut tidak sempat melepas Dylan pergi. Pagi ini juga Rania dan Dylan memutuskan untuk pindah ke kontrakan yang baru.
Luna melihat Rania sedang berpamitan dengan Sinta dan Wardana di depan rumah. Ia berjalan menuju mereka.
“Maafkan saya ya Sinta dan Mas Ardan kalau selama ini kami merepotkan kalian.”
“Kamu nggak ada salah kok, Ran. Kalian juga nggak merepotkan. Kami senang bisa membantu kalian. Rumah juga jadi makin ramai,” balas Wardana disertai senyuman di akhir kalimat.
“Iya, Mbak. Kalian nggak merepotkan sama sekali. Kamu banyak membantu saya di rumah. Kapan-kapan main-main ke sini. Pintu rumah kami terbuka untuk Mbak dan Dylan,” tambah Sinta.
“Tante jangan jadi pindah ya,” ujar Luna tiba-tiba bergabung dengan para orang tua yang sedang berbincang.
Rania tersenyum, “Nggak bisa sayang. Tante dan Dylan harus pergi dari sini. Kami nggak enak kalau harus terus menumpang.”
Luna memajukan bibir dan kedua bahu menurun, lemas. Ketika melihat ke arah Dylan ternyata lelaki itu juga sedang menatapnya. Namun, tidak lama Dylan kembali sibuk menata barang di motor.
“Terus bagaimana kalau Luna kangen sama Tante?” tanya Luna.
“Kamu kangen sama Tante apa Dylan?” goda Rania membuat Luna tersipu malu.
“Ih, Tante. Ya kangen sama kalian berdua.” Gadis ini memegangi sebelah tangan Rania, “Tante jangan pergi ya!”
“Tante ‘kan sudah bilang kalau kangen kamu bisa main ke rumah. Lagi pula rumahmu sudah diketahui mantan suami Tante. Tante ingin pergi jauh lagi dari dia. Tante nggak mau Dylan tinggal bersamanya.”
Dengan berat hati Luna melepas tangan Rania. Gadis itu lantas berlari menghampiri Dylan.
“Ingat ya kita ini calon suami-istri. Matanya jangan jelalatan terus jangan ganjen juga lihat tetangga cantik!”
Dylan menoleh mendengar Luna tiba-tiba berkata seperti itu, “Apa sih? Nggak jelas lo.”
“Aku serius!”
Lelaki itu menggelengkan kepala. Kemudian memasang helm ke kepalanya.
“Sejak kapan lo ke gue pakai aku-aku?”
“Dari sekarang kita biasakan aku-kamu. Jangan pakai lo-gue, itu kasar untuk pacar.”
“Tambah hari lo tambah sedeng. Minum dulu sana obat lo!”
Luna berpindah tempat, lalu memeluk Dylan begitu saja. Ia tidak peduli dengan orang tua yang melihat kelakuannya. Tindakan gadis ini membuat Dylan mematung.
“Aku sudah bilang kalau aku sayang banget sama kamu. Kamu kapan sayang sama aku?” tanya Luna dengan suara kecil. Hanya Dylan yang dapat mendengar itu.
Dylan menunduk untuk melihat gadis yang hanya setinggi dadanya saja. Dia tidak membalas pelukan Luna. Ia hanya sekedar memperhatikan saja.
__ADS_1
“Ekhem! Tolong bagian ini disensor. Ada anak kecil!” ujar Bhiru membuat Luna melepas pelukannya.
“Apa sih? Ganggu saja lo!” teriak Luna pada adiknya yang duduk di dalam mobil.
Anak laki-laki berseragam putih-biru itu tertawa setelah membut kakaknya kesal.
“Ayo kita berangkat sudah tambah siang,” ajak Wardana yang diangguki Rania.
Sesudah bersalaman dengan sang istri pria berjas dan membawa tas kerja itu lekas berjalan ke arah mobil.
“Kamu mau ikut Papa nggak, Lun?” tanya Wardana pada anak perempuannya.
“Nggak, Pa. Luna naik ojol saja.”
Dylan dan Rania juga segera menaiki motor mereka. Beriringan kendaraan itu meninggalkan rumah. Luna hanya bisa melambaikan tangan melepas kepergian mereka. Terutama Dylan.
“Kenapa kamu nggak bareng Papa saja, sayang?” tanya Sinta yang sekarang sudah ada di sebelah putrinya.
“Nggak ah, Ma. Nanti nggak diantar sampai dalam.”
“Padahal Papa mau ke rumah kontrakan baru Dylan dulu. Membantu mengantarkan barang.”
“Yaaa, kenapa nggak bilang dari tadi?” Luna menekuk wajah.
“Kamu nggak nanya juga.” Sinta tertawa kecil.
“Kamu mulai suka sama Dylan?”
Gadis itu mengangguk, “Iya, Ma. Luna mau dijodohkan sama dia.”
Sinta mendorong pelan pundak anaknya, “Kemarin-kemarin saja nolak keras. Sekarang malah minta dijodohkan.”
“Namanya juga baru jatuh cinta, Ma.”
“Sudah nggak usah mengurus cinta-cintaan dulu. Pesan ojol terus berangkat ke kampus. Nanti kamu telat.”
“Iya.” Luna mengeluarkan handphone dari saku celana.
•••
Seorang pemuda membawa langkah kakinya mendekati seorang wanita yang sedang duduk sendirian sembari mengaduk minuman. Lelaki itu tersenyum hingga sampai di depan gadis tujuannya.
“Gue boleh duduk di sini?” tanya lelaki itu saat sang wanita mendongak padanya.
“Duduk saja.” Gadis itu tampak tidak peduli.
__ADS_1
Lelaki ini lekas menganbil tempat di depan gadis pujaan hati. Fungsi dari posisi duduknya adalah agar lebih bebas menatap wajah cantik gadis di hadapannya.
“Dari tadi gue lihat lo murung saja. Ada masalah?”
Gadis ini melirik lelaki itu sekilas, lalu menyeruput minuman menggunakan pipet.
“Kalau kamu ke sini cuma mau kepoin aku. Lebih baik sekarang juga kamu pergi dari hadapan aku, Yan!”
Brian tertawa kecil, “Jangan mudah sensi begitu. Nanti cantik lo hilang, eh tapi lo tetap selalu cantik walau bagaimanapun.”
“Basi,” celetuk gadis itu dengan melihat ke arah lain.
“Ada masalah apa, Sa? Gue begini juga bisa jadi teman curhat. Gue jamin nggak akan bocor ke mana-mana.”
Alexa menatap malas ke arah Brian, “Dari pada kamu nanya terus kayak reporter. Lebih baik kamu bantu aku.”
“Bantu apa?”
“Buat siapa saja yang suka sama Dylan nggak bisa mendapatkannya. Karena aku nggak rela siapa pun memiliki Dylan. Kalau aku nggak bisa memiliki dia. Orang lain juga nggak boleh.”
Otak Brian yang biasa jarang digunakan sekarang jadi berkerja keras. Ia memikirkan apa maksud Alexa.
“Kenapa lo nggak bisa memilik Dylan? Jelas dia belum punya pacar.”
“Itu bukan urusan kamu!” bentak Alexa yang membuat Brian terkejut.
Brian tidak menyangka gadis manis, lembut, dan sopan ini juga bisa melakukan apa saja yang dia ingin. Nmun, itu tidak penting bagi Brian. Terpenting saingan paling berat sudah tidak bisa bersatu dengan Alexa. Peluang dia masih lebar.
“Kamu harus awasi Luna! Aku pikir dia yang bisa berpotensi mendekati Dylan.”
Brian mengangguk, “Jadi lo mau Dylan jomblo saja seumur hidup?”
“Iya, kalau dia mau menikah harus sama aku.”
Pemuda tinggi dan berbadan besar itu tidak habis pikir. Sebenarnya dia senang kalau Dylan itu jadian sama yang lain, tetapi sekarang tugasnya malah menjauhi Dylan dari lawan jenis.
“Gue nggak mau melakukan ini dengan cuma-cuma,” ujar Brian bersandar pada kursi sembari melipat tangan ke dada.
“Tenang, nanti kamu bakal aku bayar 20 juta. Cukup?”
“Gue nggak mau uang.”
“Jadi, kamu mau apa?”
“Lo!”
__ADS_1
•••
jangan lupa vote yang banyak😄🙏🏻 terima kasih sudah membaca ❤