Housemate

Housemate
Bekal dari Ibu


__ADS_3

“Dylan ayo berangkat!”


Luna berteriak dengan melangkah keluar dari rumah. Sedangkan lelaki yang dia panggil masih sibuk memasukkan barang-barang yang dibutuhkan ke dalam ransel.


“Sabar sebentar!” balas Dylan, kemudian berlari menuju lantai bawah. Lelaki ini menghampiri Sinta dan Rania yang masih ada di meja makan.


Dylan mengambil gelas berisi susu, lalu meneguknya. Melihat anaknya tergesa-gesa Rania menggelengkan kepala.


“Pelan-pelan dong, sayang.”


“Maaf, Bu, Tante. Aku buru-buru sudah kesiangan.”


“Ini jangan lupa dibawa!” Rania memberikan kotak bekal.


Dahi lelaki ini mengerut, “Nggak perlu bawa bekal, Bu. Nanti aku makan di kantin kampus saja.”


“Ini bukan untuk kamu, tapi untuk bosmu yang telah baik itu.”


Dylan membulatkan bibir, lalu menerima bekal pemberian Rania.


“Aku kira tadi buat aku.” Lelaki ini cengengesan sambil memasukkan bekal ke dalam ransel.


“Dylan bekerja, Mbak?” tanya Sinta yang baru tahu.


“Iya, sudah saya larang fokus kuliah saja, tapi anaknya nakal. Karena katanya nggak mengganggu jam kuliah saya izinin saja.”


“Bukan nakal Ibu. Aku cuma mau bantu Ibu saja supaya nggak kecapekan.”


“Anak kamu ini berbakti sekali, Mbak.” Sinta tersenyum, “kamu sangat beruntung.”


“Iya, Sin. Saya memang merasa jadi Ibu yang paling beruntung di dunia ini, karena terlah dihadirkan putra seperti Dylan.”


“Ibu sama Tante lebay nih. Seorang anak memang harus berbakti pada orang tuanya bukan?”


Kedua wanita itu mengangguk menyetujui ucapan Dylan.


“Dylan! Buruan nanti telat kita,” ucap Luna yang berteriak kembali di teras rumah.


“Luna sudah memanggil-manggil dari tadi, Bu.” Dylan mencium punggung tangan rania, “aku pamit Bu, Tante.” Lalu berganti mencium punggung tangan Sinta. Kemudian lelaki itu berlari kecil keluar rumah.


“Lama banget sih, lo? Bokap sama adik gue saja sudah pergi barusan.”


“Maaf, gue tadi bangunnya kesiangan. Terus ibu-ibu yang di dalam ngajakin ngobrol dulu.”


“Pantesan, gue sudah nungguin sampai lumutan. Lo tahu nggak sih gue ada jam kuliah pagi.”


“Sudah sih biasa saja ini kita mau berangkat. Sewot banget lo.”


“Bagimana gue nggak sewot cinta gue, lo tolak.”


Dylan tertawa kecil sekilas, “Sudah jangan ngaco lagi! Ayo berangkat! Katanya takut telat.”


Lelaki ini lebih dulu melangkah mendekati motor yang sudah ada di garasi. Ia mendorong kendaraan roda dua itu keluar. Gadis tadi lantas menyusulnya dan menerima helm pemberian Dylan.


“Andai ini tanggal 28 oktober 1928,” celetuk Luna yang membuat Dylan menoleh padanya.

__ADS_1


“Memang kenapa?”


Luna terlebih dulu duduk di boncengan, “Gue akan ubah naskah sumpah pemuda jadi sumpah aku cinta kamu.”


Lelaki itu menjulurkan lidah seperti orang yang ingin muntah. Luna melihat kelakuan Dylan dari kaca spion lantas memukul punggung pemuda itu.


“Kok lo seperti itu sih reaksinya?”


“Gombalan lo bikin enek.”


Gadis ini memutuskan untuk diam saja menikmati perjalanannya bersama Dylan ke kampus. Namun, saat terjebak di lampu merah Luna bicara lagi.


“Gue punya tebak-tebakan. Mau main?”


Dylan menoleh sekilas, lalu memperhatikan rambu-rambu yang akan berubah menjadi hijau.


“Apa?”


“Kera, kera apa yang harus dimusnahkan?”


“Nggak ada. Karena seluruh kera di Indonesia harus dilestarikan. Nanti punah negara kita nggak punya spesies kera lagi.”


Luna mencebikkan bibir, “Ada satu kera yang harus musnah.”


“Apa tuh?”


“Keraguanmu untuk mencintaiku.”


Dylan tidak menjawab apa pun. Namun, saat itu juga dia menggas motor untuk melanjutkan perjalanan. Aksinya membuat Luna memekik hingga memeluk pinggang lelaki itu secara refleks.


Luna terpaksa berteriak agar suaranya tidak kalah dengan suara kendaraan lain. Sedangkan Dylan tidak merespons lagi.


Motor matic hitam itu perlahan memelan dan menepi. Luna lekas turun dari boncengan, lalu memberikan helm pada Dylan kembali.


“Lain kali jangan begitu lagi bawa motornya.”


“Tergantung.” Dahi gadis itu mengerut, “lo masih ngomong kata-kata norak itu apa nggak.”


Luna merengut, “Padahal itu kata-kata romantis tahu. Lo nggak bisa bedakan yang mana romantis dan norak?”


“Terserah lo saja.” Dylan memutar arah kendaraan yang masih dia tunggangi, “gue sudah terlambat masuk ke kelas.”


“Oke, hati-hati ya sayang. Belajar yang rajin.”


Dylan menoleh ke arah Luna dengan menggelengkan kepala. Kemudian lelaki itu segera melajukan motor kembali menuju gedung fakultas kedokteran.


•••


Bersama dengan petugas di peternakan dylan mengecek kesehatan sapi-sapi yang akan diperah susunya.


“Kamu mengerti memeriksa kesehatan binatang, Lan?”


Dylan mengulurkan rumput pada sapi itu, “Sedikit, Pak. Saya perhatikan si sapi-sapi di sini gemuk-gemuk. Sehat semua.”


“Kami rajin memanggil dokter hewan untuk memeriksa sapi-sapi di sini. Kadang juga pada divaksin.” Bapak yang berbicara dengan Dylan itu bersiap akan memerah, “saya urus yang ini. Kamu perah yang satunya ya, Lan!”

__ADS_1


“Siap, Pak.”


Dylan yang tadi hanya memperhatikan sekarang pindah ke sisi lain. Ia meletakkan ember di bawah susu sapi.


Karena sebelumnya sudah latihan. Memerah bukanlah hal susah baginya.


Setelah selesai mengerjakan tugas. Dylan teringat bekal yang diberi Rania tadi pagi. Ini sudah pukul tiga sore. Ia harus cepat-cepat menemukan Arga.


“Permisi!” Dylan mengetuk pintu pondokkan.


Tidak lama muncul pekerja Arga dengan tampang bingung.


“Ada Pak Arga?”


“Si Bos ada di taman belakang. Sedang mengecek tanaman kesayangannya.”


“Oh baiklah.” Dylan menunduk menatap kotak bekal di tangan, “saya permisi ke taman belakang.”


Setelah berpamitan Dylan lantas menuju tujuannya. Ia harus sampaikan amanah dari sang ibu.


“Permisi, Pak.”


Arga menoleh dan senyuman mengembang di wajahnya, “Eh, Dylan. Ada apa?”


Pria yang sudah menginjak umur 50 tahunan ini meletakkan gunting rumput yang dia pegang. Kemudian berjalan menghampiri Dylan.


“Ini Pak, ada makanan dari Ibu saya. Katanya, sebagai ucapan terima kasih karena Bapak sudah baik pada saya.” Pemuda ini mengulurkan kotak bekalnya.


“Repot-repot sekali. Padahal saya ikhlas membantu kamu.” Arga menyambut bekal itu, “bilang ke Ibumu terima kasih dari saya.”


Dylan tersenyum, lalu menganggukkan kepala.


“Boleh saya buka?"


“Silakan, Pak. Kalau bisa langsung saja dimakan, Pak.”


Arga tersenyum, “Baiklah.”


Pria berbrewok dan berkumis tipis ini segera mendekati bangku kecil yang ada di pinggir pepondokan. Dylan berdiri di sebelahnya.


Ketika membuka kotak bekal itu Arga terkesima melihat nasi berpadu dengan cumi asam manis, tumis kangkung dan acar.


“Maaf ya, Pak. Ibu cuma bisa kasih itu, tapi cumi asam manis buatan Ibu yang paling enak.”


Arga mendongak memperhatikan Dylan. Kemudian mencoba menyantap makanan buatan Rania.


Pria itu bergeming dengan masih mengunyah makanan di dalam mulut. Rasa masakan ini seperti familier di lidahnya.


Tiba-tiba sekelebat kejadian di masa lalu melintas di kepala pria itu, seperti film yang diputar ulang.


“Bagaimana, Pak?”


Arga tidak menjawab. Ia masih saja termenung.


“Nggak enak ya, Pak?” Dylan khawatir kalau bosnya itu akan kecewa merasakan masakan Rania yang mungkin bukan selera Arga.

__ADS_1


•••


__ADS_2