
Sebuah ambulan berhenti di depan pintu masuk rumah sakit. Seorang perawat yang memang bekerja di sana berlari masuk ke ruang UGD.
“Brankarnya cepat!”
Kerena berhubung Kendro dan Dylan tidak sedang memegang pasien. Merekalah yang membantu perawat untuk menjemput pasien yang masih ada di dalam ambulan.
Kalau dilihat dari luka-luka pasien. Sepertinya dia adalah korban kecelakaan. Banyak darah dikepala dan tangannya.
Mereka berlari sembari mendorong brankar kembali ke UGD setelah mengambil pasien itu.
Peralahan medis mulai disiapkan. Semuanya bergerak cepat. Tidak lama dokter senior yang bekerja di sana juga datang untuk menangani.
Ada beberapa orang yang mengurusi korban kecelakaan ini. Setelah mengabiskan waktu sampai satu jam akhrinya penanganan selesai.
Keadaan pasien pun sudah berangsur stabil dan akan segera dipindahkan ke ruang rawat.
“Untung saja kepala orang itu nggak gagar otak ya, Ken?” Dylan melepaskan sarung tangan, lalu membuangnya pada kotak sampah yang ada di sebelah wastafel.
Kendro mengangguk dan juga membuang sarung tangan yang sudah kotor itu, “Tapi kasihan jadi korban tabrak lari."
Dylan sembari membasuh tangan pada air yang mengalir hanya menyimak perkataan sahabatnya.
“Hari ini harus jaga UGD. Mana nggak bawa pakaian ganti,” keluh Kendro bergantian membersihkan tangan di wastafel, “Lo bawa, Lan?"
Pria yang ditanya itu mengangguk, “Bawa dong, buat jaga-jaga. Gue cuma kepikiran Luna sama Ibu saja di rumah.”
“Yang pengantin baru sudah pisah ranjang saja hari ini.” Kendro tertawa kecil, “telepon bisa kali, Lan. Lo seperti hidup di zaman purbakala saja.”
“Nanti deh, kalau benar-benar senggang. Handphone gue tinggal di ruangan.”
Kedua pria itu berjalan lagi ke UGD ruang utama. Baru ingin duduk seorang gadis bersama temannya menengur mereka. Lebih tepatnya sih hanya ke Dylan.
“Dylan ‘kan namanya?” tanya gadis itu.
Sang empunya nama mengangguk bingung, “iya ada apa?”
Tanpa ada yang menyadari Kendro terkesima memperhatikan gadis yang berbicara pada Dylan.
Gadis itu menggelengkan kepala dengan malu-malu, “Nggak ada hal penting. Cuma dari tadi gue merhatiin lo yang lagi menangani pasien. Keren banget.”
__ADS_1
Gadis bernama tag Deana ini sedikit terdohok saat teman di sebelahnya menyenggol lengan ke depan. Namun, dia berusaha stay cool.
“Terima kasih,” jawab Dylan tanpa menunjukan senyumnya.
“Gue juga ada di situ-loh. Kalian nggak lihat gue? Gue ‘kan nggak kalah keren dari Dylan.”
“Ih, nggak peduli.” Dea pergi dengan menarik salah satu tangan temannya.
Kendro tidak masukkan ke hati ucapan gadis itu. Ia beralih menatap Dylan dengan memegang dada.
“Lan sepertinya gue jatuh cinta.” Dylan mengerutkan dahi, “sama cewek tadi. Dia satu ruangan ‘kan sama kita?”
Dylan mengangguk dan memasukan kedua tangan ke dalam saku jas, “Sepertinya iya. Gue nggak terlalu mempehatikan. Coba tanya Javier.”
Javier memang lebih gaul dari mereka berdua. Apa lagi dari Dylan, mengenal teman sekelasnya saja sudah syukur.
“Mau bantuin gue nggak, Lan?” tanya Kendro.
“Bantu apa dulu?”
“Bantu mintakan nomor whatapp itu cewek.”
“Dylan!” Kendro menutup mulut dan memperhatikan sekitar. Dia sadar kalau suaranya terlalu keras.
•••
“Nggak usah terus dilihatin HP-nya, nggak akan hilang.”
Luna menegadahkan kepala saat ibu menegurnya. Wanita paruh baya itu duduk di sebelahnya dan ikut menonton televisi.
“Dari tadi Luna menunggu Dylan telepon, Bu. Sampai sekarang nggak ada kabar.” Luna melihat ke arah jendela, “sudah malam, apa dia nggak pulang?”
“Mungkin, sibuk. Kamu tahu saja dokter itu pekerjaannya sangat padat apa lagi kalau banyak pasien.” Rania mengambil remot di atas meja, “kamu jangan khawatir! Dylan pasti baik-baik saja di rumah sakit. Kalau dia nggak pulang malam ini. Mingkin besok pagi dia pulang.” Wanita ini mengganti channel TV.
Luna mengangguk. Ia sudah pasrah kalau tidak ada kabar dari suaminya itu. Namun, handphone gadis ini menyala dan berdering, melantunkan rington yang digunakan gadis ini.
Dengan sangat antusias Luna meraih ponsel, “Bu, Dylan video call.”
Rania tersenyum dan menghadapkan posisi duduk menyerong ke menantunya, “Cepat angkat!”
__ADS_1
Setelah tombol hijau di geser tampak wajah Dylan di layar. Luna melambaikan tangan ke arah lelaki itu.
“Halo sayang.”
Dylan tersenyum di sana, [halo, bagaimana kabar kamu sama Ibu?]
“Aku sama Ibu baik.” Luna mengarahkan layar ponsel ke Rania. Mertuanya itu tesenyum sembari melambaikan tangan ke Dylan, “baik semua. Kamu bagaimana? Capek ya? Mukamu kelihatan kelelahan.”
[Sedikit, setelah lihat kamu dan Ibu lelahku hilang.]
“Gombal.”
[Banyak sekali pasien yang masuk UGD hari ini. Beberapa memerlukan penanganan yang lama. Jadi, sedikit menguras tenaga. Oh iya, aku belum kabarkan ke kamu dan Ibu. Hari ini aku nggak pulang. Jadwal jaga malam UGD ada digiliran ruang satu.]
Luna memasang wajah cemberut, “Terus pulangnya kapan? Aku kangen.”
Rania tertawa kecil dengan menggelengkan kepala mendengar Luna mulai bermanja pada anaknya.
[Besok sore. Sabar ya! Kangennya ditahan dulu. Aku masih banyak pekerjaan. Sudah dulu ya. Kalau terlalu lama aku bisa kena teguran. Ini saja aku beralasan ingin salat isya, tapi belum melakukan salatnya. Aku salat dulu ya. See you.]
Sambungan video call itu dimatikan oleh Dylan buru-buru. Luna hanya bisa menghela napas. Mau bagaimana lagi dia memang harus lebih sabar.
Luna menoleh ke Rania, “Sudah dimatikan saja, Bu. Luna masih mau ngobrol.”
“Besokkan bisa bertemu.” Rania mengusap-usap punggung Luna, “sudah jangan cemberut begitu!"
Luna mengulum bibir dan mencoba tersenyum sedikit. Rania menarik tangan kembali, lalu menatap ke depan.
“Kita tonton yang lucu saja biar kamu terhibur.” Ibu itu mengganti channel TV lagi.
•••
penyegaran geng 😂🤭
Kalau dokternya macam ini aku gak pulanglah dari RS. Nginep aja xixixi😁
Tolong berikan dokter muda kita vote geng. Terima kasih 🙏🏻❤
__ADS_1