
“Mau saya bantu, Den?”
Pertanyaan itu datang dari asisten rumah tangga Arga saat melihat Dylan mengeluarkan banyak barang dari taksi.
“Boleh, Bi. Memang kuat?” tanya balik Dylan pada pembantu perempuan itu.
“Saya panggilkan yang lain juga, Den. Biar cepat kejanya.” Pembantu itu pergi ke samping rumah. Tidak lama balik bersama satpam dan tukang kebun.
Mereka mengangkat barang-barang Dylan yang banyak itu menuju kamar pemuda ini. Sesuai intruksi dari yang samg empunya.
Setelah semua terangkat dan Dylan kebagian membawa koper, lelaki itu lantas masuk ke dalam rumah menyusul pekerja yang membantunya.
“Kak!”
Dylan menghentikan langkah ketika mendengar Alexa memanggil dirinya. Ia memutar tubuh menghadap sang adik.
“Ada apa?”
Alexa melangkah lebih dekat ke pemuda itu, “Kenapa tadi aku panggil malah lari?”
“Kapan kamu panggil?”
“Nggak usah pura-pura nggak tahu. Jelas-jelas kamu lari tadi sama Luna saat aku panggil. Kenapa masih dekat sama cewek itu? Bukannya sudah kularang? Keras kepala banget sih.”
“Gue berteman sama siapa saja. Asal dia nggak bawa pengaruh negatif ke gue. Luna anaknya baik. Gue juga kenal dengan keluarganya. Sekedar berteman apa salahnya?”
“Bukannya kita sudah sepakat kalau kamu bakal jauhin Luna.”
“Gue nggak pernah iyain omongan lo.”
“Kamu suka sama Luna?”
Dylan melepas pegangan dari koper. Berdiri lurus menghadap Alexa sambari memasukan kedua tangan ke dalam saku celana.
“Atas dasar apa lo bicara begitu?”
__ADS_1
“Karena kamu nggak mau aku suruh jauhin dia. Aku cuma minta itu. Keluarga kita baru ini dipersatukan lagi. Tolong senangin juga hatiku.”
“Gue nggak bisa jauhin teman yang sudah akrab begitu saja. Masalah pertemanan gue jangan dicampur adukkan sama keluarga kita. Maaf gue nggak bisa mengikuti mau lo.”
Setelah menjelaskan semuanya Dylan kembali menggeret koper menuju lantai dua.
•••
Wangi khas rumah sakit sudah menyeruak saat Dylan dan Rania menginjakkan kaki mereka di lobby. Ibu serta anaknya ini berjalan menyusuri ruang rumah sakit. Mereka berhenti pada ruangan mawar nomor 6. Sebelumnya, Rania sudah bertanya pada Alika tempat Arga di rawat. Maka dari itu dia inisiatif mengajak putranya untuk menjenguk.
“Assalammuaikum,” ucap Dylan sambil membuka pintu ruang rawat ayahnya.
“Waalaikumsalam,” jawab orang di dalam dengan suara pelan.
Rania dan Dylan segera masuk. Mereka hanya menemukan Arga berbaring di tempat tidurnya.
Wanita dengan gaun panjang sampai betis itu meletakkan buah yang dia bawa sebagai buah tangan ke atas meja. Ia ikut sedih melihat keadaan mantan suaminya.
“Alika mana, Mas? Kok kamu sendirian?”
“Syukurlah, Yah. Ayah sudah satu minggu di sini.”
Arga menoleh ke sebelah kiri tempat Dylan berdiri. Pria itu tersenyum.
“Ayah nggak apa-apa, Nak. Bagimana setelah semingguan kamu tinggal di rumah Ayah. Betah?”
Sebenarnya Dylan tidak betah. Apa lagi dengan Alexa yang terus mengaturnya. Membatasi pertemanan dengan Luna dan selalu mengganggu ketika Dylan berjumpa dengan Luna di kampus. Dengan alasan dia adik dari Dylan.
Kalau dia berbicara jujur nanti Arga pasti jadi kepikiran sedangkan pria itu baru saja sehatan.
“Betah kok, Yah. Ayah cepat pulang makanya. Aku pengen bisa lebih dekat dengan Ayah.”
“Ayah akan makan yang banyak dan minum obat yang teratur agar bisa cepat pulang.”
Dylan tersenyum dan menganggukkan kepala. Rania yang melihat itu ikut tersenyum. Kedekatan mantan suami dan anaknya ini patut dia syukuri. Karena Dylan perlahan memaafkan ayah kandungnya. Walau dia tahu Arga sangat bersalah pada ibu dan dirinya sendiri.
__ADS_1
Rania juga tahu kedekatan seperti ini adalah impian Dylan sejak lama. Sekarang ayah yang sering dia pertanyakan ada di depan mata.
Dylan duduk di tepi brankar, “Aku nggak pernah membayangkan kalau ternyata Ayah sudah punya istri dan anak lagi. Aku pikir tadinya kalau kita bertemu. Ayah dan Ibu bisa bersatu lagi. Kita bahagia bertiga.”
Alika yang ingin masuk menghentikan langkah kaki ketika mendengar ucapan Dylan dari depan pintu.
Hati Arga terasa seperti ditusuk saat anak kandungnya bicara begitu, “Maafkan Ayah ya, Nak. Ayah menghancurkan harapanmu. Waktu berpuluh-puluh tahun Ayah lewati dengan keluarga baru.”
“Kata Ibu, ayah memang sengaja meninggalkannya demi Tante Alika.”
Arga menatap ke arah Rania. Wanita itu menundukkan kepala dan tidak mau pandangan mereka saling bertemu.
“Ayahmu memang nggak baik, Nak.” Arga kembali menatap Dylan, “seperti cerita yang sudah kamu dengar. Ayahmu ini egois dan nggak pernah memikirkan perasaan ibumu, tapi kamu sudah memaafkan itu ‘kan?”
“Sudah, Yah. Dari ayah mau menebus kesalahan dan mengizinkan aku juga mengajak ibu untuk tinggal bersama, aku sudah memaafkan ayah.” Dylan menoleh ke Rania, “Ibu juga sudah memaafkan ‘kan?”
Rania menegakkan kepala. Terlihat berfikir sembari menatap anaknya. Namun, tidak lama dia mengangguk dengan mengulas senyum tipis.
“Terima kasih, Rania. Saya tahu pasti ini benar-benar berat untukmu,” ucap Arga yang masih berbaring.
“Saya sadar, Mas. Setelah saya pikir-pikir lagi kejadian kita sudah lama. Nggak baik kalau saya terus mendendam padamu. Lagi pula Dylan memang harus mengenal Ayah kandungnya. Sekarang saya ikhlas dengan apa yang sudah saya lewati selama ini. Asal kamu nggak akan memisahkan Dylan dengan saya.”
Arga melihat Dyan dan Rania bergantian, “Saya nggak akan memisahkan kalian. Saya pun tahu kebahagian Dylan adalah kamu.”
Arga menunjuk Rania di akhir kalimatnya. Alika yang mendengar dari depan pintu ikut tersenyum. Rasa bersalah yang selama ini dia simpat akhirnya lega setelah ketiga orang itu dipertemukan.
“Kamu mau saya kupaskan buah, Mas?” tanya Rania menawarkan.
“Boleh.”
Alika memutuskam untuk masuk setelah pembicaraan serius itu selesai.
“Heh, ada Dylan sama Mbak Rania,” ucapnya berbasi-basi.
•••
__ADS_1