
Semua orang berkumpul di ruang tamu. Rania mempersilakan Alika dan Arga untuk duduk dahulu. Namun, wanita itu tidak melepaskan Dylan dari sampingnya.
Rania memeluk sebelah lengan putranya. Ia tidak akan biarkan Dylan pergi bersama pria yang meninggalkan mereka dulu.
Alika memberikan gelas berisi air yang sebelumnya Dylan ambilkan untuk mereka pada Arga. Pria itu hanya meneguknya sekali.
“Mas Arga sekarang nggak sesehat dulu. Sebenarnya penyakit ini sudah ada dari 6 bulan yang lalu. Seminggu ini baru datang kembai.”
“Nggak diobati, Tante?” tanya Dylan.
Alika mengangguk, “Sudah, Mas Arga juga sudah menjalani kemoterapi.”
“Boleh tahu sakitnya apa?” Rania menarik lengan Dylan saat anaknya tampak peduli pada mantan suaminya.
Anak lelaki itu menoleh, lalu terdiam.
“Ayahmu sakit kanker darah.”
Dylan mendongakan pandangan saat mendengar penuturan ibu tirinya. Ia menatap Arga yang tampak pucat.
Arga menatap Dylan. Pandangan lelaki itu sayu. Namun, walau tubuh terasa lemas Agra berusaha untuk duduk tegak.
“Ayah nggak tahu akan hidup berapa lama lagi. Ayah minta maaf padamu dan ibumu, Nak. Maafkan Ayah.”
Dylan bergeming dan hanya menyimak perkataan ayah kandungnya. Arga beralih melihat ke mantan istri.
“Rania, maafkan saya atas semua yang saya lakukan ke kamu. Saya tahu semua kesalahan saya ini nggak mudah untuk kamu maafkan, tapi dengan hidup yang kemungkinan sebentar lagi saya hanya ingin dimaafkan olehmu.”
Wanita yang duduk berhadapan dengan Arga ini meneteskan air mata.
“Sekarang saat kamu susah juga baru kamu membutuhkan kami. Apa kamu mengingat kami saat kamu senang?”
Bahu pria itu bergetar, “Saya tahu itulah kesalahan terbesar saya Rania. Saya meninggalkanmu untuk mencari kesenangan sendiri. Bahkan saya nggak pernah mencari kalian saat saya sudah senang, tapi sekarang izinkan saya menebus semua dosa itu.”
“Saya nggak mengizinkanmu untuk membawa Dylan.” Pelukan di lengan Dylan semakin dipererat oleh Rania.
“Kamu jangan egois, Mbak.” Rania mendelik saat mendengar ucapan Alika, “Mas Arga ingin juga tinggal dengan anak kandungnya. Umurnya mungkin nggak lama lagi. Dia hanya ingin membahagiakan anaknya sendiri.”
“Saya egois kamu bilang?” Rania menepuk dada dengan suara bicara dikecilkan, “kalian yang egois!”
Seketika suara perempuan yang lembah-lambut itu memenuhi ruang tamu bahkan sampai terdengar keluar rumah.
__ADS_1
“Apa kalian tahu penderitaan saya saat membesarkan Dylan? Tanpa Ayah dan tanpa batuan siapa pun. Saya yang berkerja keras untuk membesarkannya. Sekarang kalian datang untuk memisahkan saya dan anak saya.” Rania bicara sambari menangis.
“Sudah, Bu.” Dylan mencoba menenangkan sang ibu.
“Dengar!” Dylan kembali membuka suara, “Umur aku sudah 20 tahun. Di mata hukum aku sudah dewasa. Aku berhak menentukan yang terbaik buat diri kusendiri. Kalau anda ingin aku tinggal bersama anda, bukan pada ibu kalian bertanya, tapi padaku.” Lelaki yang bicara penuh penekanan itu menunjuk dadanya berkali-kali.
Rania mengusap kedua lengan putra semata wayangnya sambari menggelengkan kepala. Air mata masih membasahi pipinya.
“Keputusanmu apa, Nak? Kamu mau ‘kan tinggal dengan Ayah. Ayah akan membiayai pendidikanmu. Bahkan kalau kamu mau berkuliah di luar negeri Ayah siap membayarkannya.”
“Dari kecil ibu nggak pernah mengajarkan aku jadi materialistis. Hidup sederhana saja sudah cukup bagi aku Ayah,” ujar Dylan yang berhasil menampar Arga secara tak kasat mata.
Pemuda itu memghela napas panjang. Ia melihat pada ibu yang memeluknya tak lepas dan masih menangis. Dylan mengalihkan pandangan untuk menahan air mata yang ingin keluar.
“Dari dulu aku selalu bertanya dengan Ibu. Seperti apa sosok Ayah? Kata Ibu, ayahku sudah tiada. Mengapa aku nggak boleh melihat fotonya saja? Karena orang yang sudah pergi tidak boleh terus ditangisi dan mengingatnya.” Dylan menatap Arga, “aku pikir itu nggak masuk akal. Pasti ada yang Ibu sembunyikan. Aku berusaha mengungkapnya. Hingga nggak sengaja kita dipertemukan. Dan aku menyesal terlalu ingin bertemu denganmu.”
Pria bersyal ini meneteskan air matanya lagi, “Maafkan ayah, Nak. Ayah memang punya salah yang besar padamu dan Ibumu.”
Dylan mengusap bagian pipi yang dijatuhi air dari matanya.
“Aku mau tinggal dengan Ayah,” ucap Dylan melihat ke arah lain.
Rania yang mendengar cepat mendongak. Wanita itu menggeleng berkali-kali.
Anak laki-laki ini mencoba menenangkan sang ibu, “Tenang, Bu! Aku nggak akan tinggalkan Ibu. Aku janji.”
Pemuda itu melihat lagi ke arah Arga dan Alika, “Aku mau Ibu juga ikut tinggal di rumah Ayah. Aku sudah berjanji pada diri sendiri. Di manapun aku tinggal Ibu juga harus ada di tempat yang sama. Walaupun nanti aku menikah.”
Arga menoleh pada Alika. Wanita yang menjadi istrinya sekarang ini mengangguk pelan. Ia setuju kalau Dylan dan Rania tinggal di rumah mereka.
•••
Tiga kali bel rumah besar itu berbunyi. Tidak lama pintu rumah dibuka oleh pembantu rumah tangga yang bekerja di sana.
“Ayo, masuk! Anggap saja rumah sendiri,” ucap Alika yang menuntun suaminya.
Rania dan Dylan memperhatikan rumah besar itu. Rumahnya 5 kali lebih besar dari rumah Luna yang mereka anggap sudah mewah.
Dylan mengangguk, “Terima kasih, Tante.”
“Bagaimana hasilnya, Mom?” pertanyaan itu datang dari Alexa yang sedang berjalan turun dari lantai dua.
__ADS_1
“Ini lihat siapa yang datang sayang,” balas Alika dengan senyuman.
Alexa membuka mulut tanpa bersuara saat melihat Dylan ada di rumahnya. Mata gadis itu berbinar-binar. Ia ingin sekali berteriak kencang saat ini. Namun, rasa senang itu dia salurkan dengan memeluk Dylan.
“Aku senang banget kamu tinggal di sini.” Lelaki itu bergerak pelan karena risih dengan perlakuan saudara tirinya itu. Alexa melepas pelukan, “sekarang kita benar-benar jadi saudara? Aku panggil kamu kakak?”
Arga tertawa pelan, “Iya sekarang kalian itu saudara. Yang akur ya! Daddy nggak mau melihat kalian bertengkar. Dylan jaga adiknya.”
Dylan mengangguk saja.
Gadis berambut panjang itu tersenyum lepas, “Tante, Kakak ayo aku tunjukkan kamar kalian!"
“Iya terima kasih,” balas Rania yang masih canggung.
“Sekarang aku boleh panggil Tante, Mommy juga?” tanya Alexa sambari berjalan ke lantai dua.
“Ibu saja. Sama seperti Dylan.”
“Oke, Ibu.”
Mereka terus berbincang ringan sampai di tujuan.
Dari bawa Arga masih memperhatikan mereka. Sekarang pria yang mengidap penyakit ganas ini sedikit tenang. Keluarganya sudah berkumpul sekarang.
“Kamu benar nggak apa-apa Rania juga ikut tinggal di sini?” tanya Arga pada sang istri.
Alika mencoba tersenyum di depan pria itu, “Nggak apa-apa, Mas. Nggak ada cara lain untuk Dylan mau tinggal bersama kamu. Kalau kamu mau membahagiakan anakmu. Sebaiknya kamu bahagiakan juga Ibunya.”
“Terima kasih Alika. Saya sangat berhutang budi padamu dan kelurgamu.”
Alika tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dalam hati dia berucap, “Seharusnya saya yang bicara begitu, Mas. Terima kasih kamu hadir untuk menyelamatkan hidup saya yang hampir hancur.”
“Ayo ke kamar! Kamu harus banyak istirahat, Mas.”
Arga mengangguk dan mengikuti Alika yang memapahnya ke kamar.
•••
Note:
ini sedihnya sampe ke kalian gak sih?
__ADS_1
Minta vote yang banyak ya 😭🙏🏻❤