Housemate

Housemate
Rania Kelelahan


__ADS_3

Ruang keluarga kediaman Wardana sedang ramai malam ini karena kedatangan Sinta. Luna dan Bhiru sibuk memeriksa bawaan Sinta dari kampung halaman.


“Ma, nggak jadi bawa harta warisan?” tanya Luna membuat dahi Sinta berkerut.


“Masa uangnya mau Mama plastikin ‘kan nggak mungkin. Jadi, ini dia!” Sinta berseru menunjukkan buku tabungan, “warisannya sudah ada di dalam ATM.”


“Coba lihat, Ma.” Luna lantas merebut dari tangan ibunya, “Luna mau lihat ada berapa banyak uangnya.”


Bhiru yang sedang menyemil kripik segera mendekat ke kakaknya. Begitu pun juga Wardana yang ikut penasaran.


“Satu meliar!” pekik ketiga orang di hadapan Sinta ini. Sedangkan ibu dua anak itu tersenyum dengan membusungkan dada bangga.


“Apa yang satu meliar?” celetuk Dylan yang baru turun dari lantai dua. Rambut lelaki itu masih basah pertanda dia baru selesai mandi.


Luna menunjukan buku tabungan yang dipegang, “ini Mama dapat warisan 1 M.”


Dylan membulatkan bibir dan ikut terkagum dengan pencapaian Sinta.


“Stttt!” Sinta meletakkan jari telunjuk ke depan bibir, “jangan keras-keras nanti kedengaran orang di luar bisa dirampok kita.”


“Benar itu kata Mamamu,” ucap Wardana yang ikut setuju. Sekarang pria itu sudah kembali duduk di sofa sambil menonton televisi.


Luna terdiam dan memberikan buku tabungan itu kembali pada sang ibu.


“Kalian sudah makan malam?” tanya Sinta.


“Belum, Ma.” Bhiru menjawab dengan masih memakan kripik di tangan, “biasanya Tante Rania yang masak kalau dia sudah pulang kerja.”


Sinta menoleh pada jam dinding, “Sudah jam tujuh kenapa ibumu belum pulang juga Dylan?”


Pemuda itu mememasukan kedua telapak tangan ke dalam saku celana, “Sebentar lagi biasanya Tante.”


Sinta mengangguk-anggukan kepala paham. Ia menatap kembali keluarganya satu-persatu.


“Kalau begitu Mama saja yang masak.” Sinta memungut tas pakaiannya, lalu melangkah pergi.


Wardana dengan sigap bangkit, “Ma sini Papa bantu.”


Pria itu berinsiatif membantu istrinya untuk mengangkat tas pakaian. Dylan melangkah mendekati sofa, kemudian duduk di dekat Luna.


“Mau, Kak?” Bhiru mengulurkan plastik berisi kripik ke depan Dylan.

__ADS_1


“Nggak, kamu makan saja.”


Bhiru mengangguk dan menarik kembali kripik kesukaannya. Luna mencibir melihat perlakuan adik semata wayangnya itu malah lebih perhatian pada Dylan.


“Kak Luna nggak di tawarin, Ru?”


“Ogahlah, yaw!” Bhiru menjulurkan lidah dan memeluk erat kripik.


“Curang!” gadis itu melemarkan bantal kecil pada anak laki-laki ini. Untung saja Bhiru cepat menghindar dan akhirnya tidak kena.


Dylan hanya tertawa pelan menyasikkan pertengkaran kedua kakak-beradik itu.


Hingga suara pintu terbuka dan ucapan salam membuat ketiga orang ini menoleh. Muncullah Rania yang baru pulang bekerja.


“Waalaikumsalam, Tante,” balas Luna dengan hangat.


Rania hanya tersenyum. Namun, perhatiannya teralihkan pada Bhiru yang berbicara.


“Mama sudah pulang, Tante.”


Wanita yang mencepol rambutnya itu menautkan alis, “Baguslah, kemarin katanya Bhiru kangen Mama ‘kan.”


Anak laki-laki itu tertawa malu-malu.


“Iya, Bu. Ibu sakit?” tambah Dylan.


Rania menggeleng, “Nggak, cuma capek saja sedikit. Ibu istrirahat dulu ya.”


Baru beberapa langkah Rania sudah memegangi kepala, lalu tiba-tiba terjatuh lunglai ke lantai.


“Ibu!”


Dylan yang terkejut memekik dan berlari mendekati ibunya. Kepala Rania jatuh ke lengan Dylan. Luna dan Bhiru juga panik. Sinta bersama Wardana juga lekas keluar dari kamar.


•••


Dengan bantuan Wardana dan Sinta, Dylan berhasil memindahkan ibunya ke kamar. Sekarang wanita paruh baya itu sudah beristirahat di ranjang.


Wardana juga menelepon dokter untuk memeriksa keadaan teman lamanya itu. Kata Dokter, Rania hanya kelelahan. Maka itu Dokter memberikan bebapa vitamin agar keadaan tubuh Rania menguat lagi.


Dylan sendirian ada di kamar Rania. Memerhatikan raut wajah ibunya yang tertidur.

__ADS_1


“Ini yang Dylan khawatirkan kalau Ibu bekerja di tempat orang. Pasti terlalu diporsir bekerja.” Lelaki ini membenarkan selimut yang digunakan Rania.


“Dylan!”


Panggilan Luna yang ada di depan pintu membut pemuda itu menoleh. Ia hanya mengedikkan dagu seakan bertanya, ada apa?


“Kata Mama lebih baik lo istirahat. Bukannya, besok mau kuliah lagi?”


“Iya, nanti gue akan istirahat, tapi gue mau tunggu Ibu bangun dulu.”


Luna bersandar di kusen pintu, “lama kali kalau nunggu bangun. Tante itu bangunnya subuh. Lo mau begadang sampai subuh?”


Dylan mendegus, lalu menatap Rania yang masih terlelap. Akhirnya, lelaki ini bangkit dari duduk di tepi kasur. Ia melangkah ke dekat Luna.


“Iya, ini gue mau tidur.” Setelah mengucapkan itu Dylan kembali melangkah dan tidak lupa menutup pintu kamar ibunya.


“Tungguin gue!” Luna berlari mengejar Dylan.


Dylan berhenti di depan pintu kamar. Ia menoleh ke belakang saat merasa Luna ada di belakangnya.


“Ngapain lo masih ngikutin gue? Itu kamar lo di sebelah!” Dylan menunjuk pintu satunya.


“Mau tidur bareng lo.” Luna tersenyum manis.


“Sudah gila lo?” Luna mengerutkan bibir, “masa mau tidur bareng. Gue bukan suami lo.”


Luna memang tangan di belang punggung. Ia bergerak-gerak pelan.


“Kalau gitu ayo ke KUA! Kita jadi suami-istri.”


Dylan menggelengkan kepala, “Parah, otak lo konslet ya?”


“Sepertinya iya, ini semua karena lo.”


Pemuda itu mendorong dahi Luna dengan jari telunjuk dan tengahnya. Hingga kepala gadis ini terdorong ke belakang.


“Jangan aneh-aneh! Sudah sana pergi!”


Baru akan membuka pintu kamar tiba-tiba lampu mati dan membuat rumah itu gelap gulita.


“Aaaaa!” Luna berteriak keras dan refleks memeluk pinggang lelaki di depannya, “Dylan, gue takut!”

__ADS_1


Sedangkan yang terpeluk menjadi mematung di tempat. Dylan seperti merasa mendapatkan sengatan kecil lagi saat Luna melakukan itu.


•••


__ADS_2