Housemate

Housemate
Menghindar dari Alexa


__ADS_3

Dylan kembali menyimpan ponsel dan duduk di kursinya. Sekarang tinggal menunggu dosen yang mengajar datang. Namun, dia kepikiran perkataan Luna. Mengapa tiba-tiba bicara begitu?


“Coba telepon balik deh.” Baru akan mengeluarkan handphone kembali. Kedua sahabat lelaki itu masuk ke dalam kelas dengan saling mendahului.


“Gue duluan!”


“Nggak bisa gue duluan.” Javier mendorong Kendro hingga hampir saja menabrak seorang gadis yang juga ingin masuk.


“Kalian itu kenapa?” tanya Dylan saat kedua lelaki itu sudah ada di depannya.


“Gue mau nanya,” ujar keduanya serempak.


Dylan tertawa dibuatnya. Pemuda itu menyimpan kembali ponsel dan menyuruh teman-temannya ini untuk duduk dulu.


“Satu-satu, jangan berebutan! Mau nanya apa?”


“Lo benar jadian sama Alexa?” tanya Kendro dengan cepat.


“Jadi, kalian lari dari luar sampai ke sini Rebutan cuma mau nanya itu?” tanya balik Dylan.


Javier mengangguk, “Iya pertanyaan gue juga sama.”


Sebelum menjawab Dylan menghela napas terlebih dulu, “Alexa bukan pacar gue. Dia itu adik tiri gue.”


“Kok bisa?” tanya Kendro dan Javier bersamaan.


Dylan menjelaskan semua kepada sahabatnya ini. Tidak ada lagi yang dia rahasiakan dengan mereka. Dia benar-benar terbuka tentang keluarganya.


“Begitu, kami satu Ayah, tapi berbeda Ibu.”


Kendro mengangguk-anggukan kepala saat sudah mengerti.


“Terus bagaimana dengan Alexa yang suka sama lo? Pasti Awkward moment banget ya tinggal berdua?” tanya Javier.


“Rumahnya ‘kan besar. Jarang bertemu dia. Gue berusaha menghindar saja. Aneh juga rasanya malah jadi saudara.”


“Bisa nih gue ambil alih buat pepet Alexa.” Kendro menata jambulnya, “nanti jadi iparan sama Dylan.”


“Memang lo siap saingan sama Brian?” tanya Javier yang meruntuhkan imajinasi Kendro.


Kendro menoleh, “Bukannya Brian sudah jadian sama Luna?”


Javier dan Kendro sama-sama melihat ke arah Dylan.


“Kenapa natap gue begitu?”


“Lo nggak cemburu Luna jadian sama Brian?” tanya Kendro.


Dylan menggedikkan kedua bahu, “Memang gue siapa harus cemburu?”


“Lo ‘kan dekat sama Luna, Dy. Masa iya nggak ada cemburunya,” ujar Javier yang merasa aneh.

__ADS_1


Dylan hanya bergeming. Tidak membalas lagi perkataan sahabatnya.


“Omong-omong soal Brian. Anak itu di skorsing ‘kan gara-gara mencelakai lo dan Luna. Lo ada yang luka?” tanya Kendro.


Dylan memegang sebelah lengan, “Kemarin ini sakit. Sekarang sudah nggak.”


•••


Luna menutup muka dengan kedua tangan ketika melintasi basecamp anak jurnalistik. Kebetulan sekali ruangan itu sedang banyak orang berkumpul di depan pintu termasuk Dylan. Luna tidak ingin bertemu dengannya.


“Kalau nggak karena dosen yang tadi ogah banget gue lewat sini. Nggak ada jalan lain lagi.” Luna meruntuk sendirian, “pahit-pahit semoga gue nggak kelihatan.”


Entah beruntung atau sial Dylan mengenali Luna.


“Luna!”


Teriakannya menghentikan gerakan kaki gadis itu. Luna menurunkan tangan, lalu tersenyum sampai menunjukkan gigi pada Dylan. Namun, beberapa detik kemudian dia berlari.


Dylan tidak hanya diam. Ia mengejar gadis itu hingga berhasil mengenggam sebelah tangannya.


“Kenapa malah kabur?”


“Lepas-lepas!” Dylan melepaskan genggaman di pergelangan gadis itu, “jangan pernah tunjukin muka lo lagi di depan gue!”


Dahi Dylan mengerut, “Kenapa?”


“Karena kita sudah putus.”


Luna menjadi kikuk. Ia mengusap tengguk dan memperhatikan sekitar.


“Putus pertemanan!” ujarnya kemudian.


“Lo nggak mau berteman sama gue lagi? Memangnya gue salah apa?”


Gadis ini menatap Dylan kesal, “Pacaran saja sana sama Alexa.”


Luna kembali ingin pergi. Namun, Dylan dengan cepat berdiri di depan gadis itu.


“Lo sendiri ‘kan tahu gue sama Alexa itu adik-kakak. Mana mungkin kita pacaran.”


Luna benar-benar tengsin sekarang. Mengapa ia bisa melupakan hal satu itu. Terlalu cemburu membuat otaknya tidak bekerja.


Gadis ini menundukkan kepala, lalu menghela napas panjang.


“Jadi kita tetap berteman?”


Luna mengangkat kepalanya lagi. Kemudian mengangguk, “kita teman.”


Dylan menarik kedua sudut bibir sedikit. Ia mengenggam sebelah tangan Luna sampai gadis yang lebih pendek darinya ini tidak bisa bicara lagi.


“Sekarang lo temani gue ke kontrakan. Gue harus ngambil barang-barang yang masih tertinggal di sana.”

__ADS_1


“Untuk apa diambil. Terus mau dipindahkan ke mana?”


“Rumah Ayah. Dari semalam gue dan Ibu tinggal di rumah Ayah.”


“Serumah sama Alexa dong?”


Dylan mengangguk, “Iya, dia ‘kan anak Ayah juga. Sudah ayo! sebelum Alexa cari gue. Dia pasti mau ikut kumpulan ke sini. Nanti gue ceritain lagi soal pindah rumah.”


Luna masih tak beranjak dari tempat saat lelaki tinggi itu menarik sebelah tangannya. Dylan menoleh ke belakang.


“Ada apa?”


“Kumpulannya bagaimana?” tunjuk Luna pada ruang jurnalistik.


“Sudah lupakan saja. Nanti gue minta izin.”


Mereka berlari dengan bergandengan tangan meninggalkan tempat itu. Namun, kepergian kedua orang itu berhasil ditangkap Alexa dari kaca spion mobilnya. Baru saja dia sampai di parkiran depan ruangan UKM.


Alexa cepat keluar dari mobil dan melihat Dylan dan Luna yang makin menjauh, “Dylan!”


Panggilan itu membuat Dylan dan Luna sama-sama menoleh, tetapi tak menghentikan langkah. Mereka malah mempercepat larinya.


Alexa mengamankan mobil, lalu mengejar Dylan dan Luna.


“Waduh gawat, Alexa mengejar kita.” Luna menatap Dylan setelah melihat ke belakang.


Pemuda itu memcoba menoleh. Ternyata yang dibilang Luna itu benar. Alexa berlari sambari meneriaki namanya.


“Kita harus sembunyi,” ujar Dylan membuat Luna memutar otak untuk berpikir.


“Masuk perpustakaan saja,” balas Luna yang mendapat anggukan Dylan.


Perpustkaan di kampus ini sangat besar. Akan susah untuk mencari orang. Tempat yang tepat untuk bersembunyi menghindari Alexa.


Mereka lantas masuk perlahan ke dalam perpustakaan sesudah melewati satpam yang berjaga di depan.


“Sini!” Dylan menarik Luna untuk mengikutinya.


Hari ini perpustakaan cukup ramai. Walau begitu mereka sibuk masing-masing. Tidak akan ada yang memperhatikan kedua orang itu.


“Kita ngumpet di sini saja.” Dylan memilih ruangan di pojok yang terhalangi rak buku tinggi serta ada beberapa tumpukan buku lama yang belum dirapikan.


Mereka berjongkok di situ sambari memastikan dari sela-sela buku kalau Alexa sudah tidak ada lagi.


“Di sini banyak debu. Banyak nyamuk juga lagi,” ucap Luna menggaruk lengan yang terasa gatal.


Dylan meletakkan jari telunjuk di depan bibir, “Jangan berisik! Tahan saja sebentar.”


Luna memajukan bibir sudah seperti bebek. Untungnya dia mau menuruti kata-kata lelaki itu.


•••

__ADS_1


__ADS_2