
Dylan duduk di depan meja belajar. Ia memperhatikan bandulan dari kalung yang terpasang di leher. Pemuda ini tiba-tiba tersenyum saat mengingat Luna yang menangis untuk memaksanya menggunakan kalung couple itu.
Kedua tangan Dylan bergerak ke belakang. Ketika ingin melepaskan kalung yang dia pakai, tetapi handphone tiba-tiba saja berdering.
Dylan mengurungkan niat untuk melepaskan kalung itu. Ia lantas meraih ponsel. Video call dari Luna. Lelaki ini lekas menerima panggilan itu.
“Dylan lihat gue bikin apa!” Luna menunjukkan lukisan yang sudah diberi bingkai, “ini lukisan wajah lo. Bagaimana mirip ‘kan?”
Pemuda ini memperhatikan dengan serius, “Bagus. Kelihatan mirip gue.”
Luna tersenyum senang karya buatannya dipuji oleh Dylan.
“Besok lukisan ini gue kasih ke lo. Disimpan jangan dibuang! Gue sudah capek buatnya.”
Dylan menganggukkan kepala. Luna tak henti tersenyum menatap wajah cowok itu dari layar handphone-nya. Mata Luna menangkap kalung pemberian dirinya tadi siang masih digunakan oleh Dylan.
“Terima kasih ya,” ucap Luna.
Dahi Dylan mengerut, “Terima kasih untuk apa?”
Luna memajukan bibir untuk menunjuk, “Itu lo masih pakai kalung couple kita.”
Dylan menunduk melihat ke leher. Kemudian dia melihat ke Luna kembali.
“Bagaimana kalau jangan kalung saja yang couple. Kita juga jadi couple?”
“Maksudnya?”
“Kita pacaran. Mau? Harus mau!” paksa Luna dari sambungan video call itu.
Dylan menundukkan kepala, menutup mulut dengan telapak tangan, dan tertawa pelan. Ia kembali memandang Luna. Menatap tajam ke arah gadis itu.
“Selama ini sepertinya gue kurang tegas ngomong ke lo. Gue dekat ke lo itu hanya sebatas teman dan kerabat. Gue dan keluarga lo ‘kan sudah kenal dekat. Selama ini gue juga nggak pernah memikirkan soal percintaan. Jadi, tolong lo jangan salah paham sama kebaikan gue.”
“Jadi... lo baik sama gue itu apa maksudnya?” tanya Luna dengan tidak bersemangat lagi.
“Gue anggap lo teman, tapi sudah bisa disebut sahabat juga.”
“Semua cowok itu sama saja. Cuma suka PHP doang!”
Luna memutuskan sambungan telepon secara mendadak. Alis Dylan tertaut melihat layar ponsel yang menghitam. Ia meletakkan benda pipih itu di meja. Melepas kalung yang digunakan, menyimpan ke dalam kotak kecil, dan memasukkan ke laci.
Sedangkan di lain tempat Luna telah bercucuran air mata sampai sesenggukan.
“Dylan jahat.”
Luna menengkurapkan lukisan berbingkai yang berisi wajah Dylan di meja. Ia melangkah mendekati ranjang tidur dan menjatuhkan tubuh ke kasur.
“Luna!”
__ADS_1
Sinta membuka perlahan pintu bercat merah jambu itu. Wanita paruh baya ini mengintip ke dalam kamar. Dahinya mengerut saat mendapati sang putri sedang tidur tengkurap di atas kasur.
Ibu dua anak itu lantas masuk ke dalam dengan tangan membawa tumpukan pakaian yang telah rapi di setrika.
“Luna?” Sinta menepuk-nepuk paha anak sulungnya, “jangan tidur tengkurap begitu sayang!”
“Mama...” Luna lekas mengubah posisi menjadi duduk, lalu memeluk pinggang sang ibu.
“E-eh, ada apa ini?” Sinta berusaha menahan pakaian di kedua tangan agar tidak jatuh, “ini pakaian setrikaan Mama hampir jatuh."
“Dylan jahat, Ma.”
Sinta tidak mengerti maksud dari anaknya ini. Ia melepas pelukan Luna dan meletakkan sementara pakaian di kasur. Kemudian wanita itu duduk di samping Luna.
“Ada apa dengan Dylan? Kenapa kamu bilang dia jahat?”
Luna kembali memeluk sang mama.
“Dylan nggak mau jadi pacar Luna, tapi kenapa ya Ma, Dylan baik banget sama Luna?”
Sinta mengusap-usap rambut Luna yang tergerai. Ia memikirkan ucapan Luna.
“Mama juga berpikiran Dylan sudah menyukai kamu,” ujar Sinta di dalam hati.
“Mama melihat dasarnya Dylan itu memang baik, Nak. Mungkin kamu yang salah memahami. Apa lagi kita sudah sangat mengenal ibunya bukan? Sudah seperti saudara.”
“Salah Luna juga sih, Ma. Terlalu mengejar Dylan. Mungkin dia ilfil.”
“Hus, nggak baik ngomong begitu. Yang penting kamu sudah berusaha, kalau ditolak jangan bikin kamu jadi kehilangan semangat untuk menemukan jodoh. Suatu saat pasti juga ada yang suka sama kamu.”
Luna menempelkan pipi di dada Sinta, “sementara Luna nggak mau membuka hati untuk siapa-siapa.”
Sinta mengusap kembali rambut anak gadisnya, “Iya Mama paham sayang. Perasaan itu nggak gampang untuk diubah-ubah.”
Luna mempererat pelukan di pinggang Sinta.
•••
“Bisa minta tolong nggak?”
“Tolong apa?” tanya balik Kendro.
Luna mengulurkan tangan yang memegang lukisan berbingkai telah dibungkus rapi, “Kasih ke Dylan. Harus sampai ke tangan orangnya.”
Kendro menerima barang titipan Luna, “Ini apa? Kenapa nggak lo kasih sendiri?”
Luna menggelengkan kepala.
“Gue titip saja. Sudah ya, masih ada kelas sepuluh menit lagi.” Gadis itu lantas berlari meninggalkan Kendro yang masih bingung dengan sikap Luna.
__ADS_1
Air mata tiba-tiba terjun bebas di pipi sebelah kiri Luna. Ia mengusap cepat pipi yang basah.
Luna teringat ucapan Brian beberapa minggu yang lalu.
Gue menyesal mencintai seseorang yang nggak mencintai gue.
“Mulai sekarang gue nggak boleh ngotot buat terus dekat dan memaksa Dylan buat suka sama gue. Mungkin saja selama ini dia risi, tapi nggak enak buat ngomong.” Luna memukul kepala sendiri, “bodoh, seharusnya lo sadar ini dari lama, Lun.”
“Kenapa gue nggak menyadari itu. Sudah ditolak Brian malah berani-beraninya dekatin Dylan.”
Luna menghela napas, lalu mempercepat langkah menuju gedung fakultasnya.
“Gue cariin ke mana-mana ternyata ada di sini.”
Dylan dan Javier yang sedang berbincang sembari duduk di anak tangga itu mendongakkan kepala.
“Memang ada apa lo nyariin kita berdua?” tanya Javier.
“Gue cariin Dylan doang sih.” Kendro memberikan barang titipan Luna, “buat lo.”
Dengan ragu Dylan menerima benda itu, “Dari siapa?”
“Dari Luna. Tadi ketemu gue di depan. Katanya, titip itu untuk lo.”
“Kenapa dia nggak langsung kasih sendiri ke gue?”
Kendro mengedikkan kedua bahu.
“Apa itu yang dikasih sama Luna?” tanya Javier, “buka dong!”
Dylan mengikuti intruksi dari sahabatnya itu. Ia membuka bungkus yang menutupi Lukisan. Javier dan Kendro bersama-sama terpukau melihat hasil karya Luna.
“Ini Luna sendiri yang lukis?” Javier merebut lukisan itu dari tangan Dylan.
“Bagus,” komentar Kendro yang memandang lukisan bersama Javier.
Dylan jadi teringat percakapan terakhirnya dengan Luna. Ia berpikir apa gara-gara itu Luna tidak mau menemuinya hari ini. Padahal yang lelaki itu mau agar Luna tidak berharap lebih padanya.
“Lo lagi marahan sama Luna?” pertanyaan dari Javier membuat Dylan tersentak.
Dylan menggeleng cepat, “Nggak.”
Lelaki itu berbohong. Ia tidak mau masalah dirinya bersama Luna diketahui orang banyak.
“Kami baik-baik saja. Mungkin dia sedang buru-buru mau masuk kelas."
“Kata Luna tadi juga dia buru-buru mau masuk kelas,” sela Kendro.
•••
__ADS_1