
Sedari tadi sejak jalannya diskusi Alexa terus memperhatikan gerak-gerik Dylan. Lelaki itu sadar dari tadi ditatap. Ia mencoba mendekati Alexa setelah membereskan barang-barang ke dalam tas.
“Ada apa, Sa?”
Alexa gelagapan. Ia menggelengkan kepalanya, “Nggak apa-apa.”
“Serius?” Alis Dylan terangkat satu, “dari tadi lo lihatin gue mulu.”
“Perasaan lo saja kali.” Alexa buru-buru memasang tas, “gue duluan.”
Gadis itu terlihat tergesa-gesa keluar dari basecamp. Aisyah, sepupunya memanggil saja dia tidak hiraukan.
Dylan mengedikkan kedua bahu, “Aneh banget sih.”
Alexa berjalan terburu-buru kembali ke gedung fakultasnya. Ia mengeluarkan handphone dan menekan nomor seseorang.
“Daddy, aku perlu bantuan.”
[Kamu pulang saja dulu ke rumah sayang. Nanti baru kita bicarakan lagi.]
“Baiklah, Daddy.” Alexa memutuskan sambungan telepon. Ia kembali menyimpan benda pipih itu ke dalam tas.
Gadis itu mengambil mobilnya yang ada di parkiran fakultas. Ia segera masuk ke dalam dan mengendarai mobil mini itu keluar dari kampus.
Alexandra adalah anak dari seorang pria yang mempunyai pertenakan sapi. Selain peternakan yang banyak, keluarga mereka juga mempunyai usaha produksi susu dan mengekspornya sampai keluar negeri. Ibunya adalah mantan model majalah kecantikan dan fashion. Dari beliaulah Alexa bisa secantik itu.
“Alexa!” seru seorang wanita yang sudah berumur. Namun, masih tampak cantik dan awet muda.
“Mom, Daddy mana?” tanya Alexa sesudah bersalaman dengan ibunya.
“Ada di ruang kerja. Lagi sibuk menelepon pekerja di peternakan.”
Gadis dengan rambut lurus terurai itu lantas berlari ke arah ruangan yang ibunya sebut tadi.
Pintu coklat itu dibuka oleh Alexa dan seorang pria berbrewok dan mempunyai kumis tipis tersenyum ke arahnya.
“Daddy!” seru Alexa dengan nada manja.
Pria berumur 50 tahun itu meletakkan ponsel, lalu berdiri sambil merentangkan tangan menyambut putri kesayangannya.
Mereka berpelukan sebentar sebelum Alexa menyampaikan maksud dan tujuannya.
“Ada apa?”
__ADS_1
“Aku boleh pinjam anak buah Daddy untuk mencari tahu seseorang?”
Dahi pria itu berkerut, “Kamu ingin mencari tahu siapa?”
Alexa ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Ia menunduk malu-malu.
“Mengapa? Ayo ceritakan pada Daddy!”
Gadis yang mempunyai tinggi 164 cm itu mendongakkan pandangan, “Di kampus aku punya seseorang yang aku suka. Beberapa hari ini dia digosipkan dengan seorang gadis, tapi aku pikir itu hanya gosip. Semua itu hanya berita bohong.”
“Kamu mau minta anak buah Daddy mencari tahu kedekatan pemuda itu dengan gadis yang digosipkan padanya?”
Alexa memasang wajah mengiba, lalu mengangguk.
“Benar Daddy. Karena ada seorang teman mengatakan kalau mereka itu benar pacaran. Aku hanya ingin membuktikan Daddy yang mana yang benar.”
Pria yang sukses dalam mengembangkan usaha peternakan ini tersenyum menatap sang putri.
“Nggak sangka anak Daddy ini sudah menyayangi pria lain.” Ayah satu anak itu merangkul putrinya, “Daddy akan membantumu, Nak. Demi kebahagian kamu Daddy akan melakukan apa pun.”
Alexa memeluk pria itu dengan penuh cinta, “Terima kasih, Daddy. I love you.”
“I love you more baby!” pria itu membalas pelukannya.
•••
Rumah sungguh terasa sepi. Walau hanya bisa memasak telur dadar Luna akan meresa bebas beberapa jam ini. Bisa santai-santai sambil menonton drama korea.
Baru saja menunagkan nasi ke piring dan akan menambahkan saus pada telur yang sudah matang tiba-tiba bel rumahnya berbunyi.
“Siapa yang datang pagi begini?” Luna melihat jam dinding yang ada di ruang makan. Baru pukul 9 pagi.
Namun, bagaimanapun ia tetap menghampiri tamu itu. Dengan senyum mengembang Luna menyapa tetangga yang membawa anak berusia 8 bulan.
“Luna kamu bisa bantu saya?” tanya wanita yang kira-kira masih sekitar 30 tahunan.
“Bantu apa, Mbak? Kebetulan Luna memang nggak kuliah.”
Wanita itu menyerahkan anaknya. Luna terkejut, tetapi dia tetap menerimanya ke pelukkan.
“Saya titip zayn ya? Saya ada urusan ke rumah sakit.”
“Siapa yang sakit, Mbak?”
__ADS_1
“Itu ayahnya Zayn. Tadi menelepon katanya ke celakaan.”
“Innalillahi, ya sudah Zayn sama saya saja. Mbak susul suaminya dulu.”
“Iya, terima kasih, Luna. Ini perlengkapan Zayn.” Wanita dengan rambut terurai bergelombang itu memberikan tas bayi, “maaf merepotkan kamu.”
Luna menerima tas, “Oh nggak kok, Mbak. Saya suka anak kecil.”
“Baguslah.” Ibu dari bayi kecil itu tersenyum, “mama pergi dulu ya sayang.”
Setelah berpamitan dengan si bayi dan Luna, wanita tadi lantas pergi menyusul suaminya ke rumah sakit.
Luba menghela napas. Ia menatap Zayn yang tertawa sambil bertepuk tangan.
“Gue itu nggak bisa ngurus lo.” Zayn merespon perkataan Luna dengan gumaman, “tapi kenapa gue malah sok-sokan suka anak kecil?”
Luna menggelengkan kepala, lalu membawa zayn untuk masuk rumah. Gadis ini mengeluarkan perlengkapan tidur bayi laki-laki itu ke atas meja. Ia membaringkan Zayn di sana.
Sambil menyantap dadar telur saus sambal Luna memperhatikan pergerakan bayi mungil itu.
“Lo jangan nyusahin gue ya,” ucap Luna menepuk-nepuk pelan kaki Zayn yang memakai kaus kaki, “gue suka sih sama lo, lucu dan gemesin. Masalahnya cuma kalau mengurus bayi gue nggak bisa. Secara lo tahu gue masih kuliah ‘kan?”
Luna meraih gelas berisi air dari kursi di sampingnya. Ia sengaja tidak meletakkan di atas meja takut tertendang Zayn.
“Hah...” Gadis yang menguncir rambutnya asal itu menghela napas lega sudah mendeguk air, “mau nolak permintaan Mbak Ayu tadi juga nggak enak. Si Mbak suka ngasih masker wajah gratis.”
Luna mencari gendongan dari dalam tas bayi itu. Ia berinisiatif untuk menggendong saja. Walau sedikit rusuh saat memasang gendongan dan memasukan bayi ke dalamnya. Gadis itu berhasil juga.
“Sepertinya gue sudah cocok jadi ibu.” Luna tertawa sendiri setelah bicara.
Ia mencuci piring dan gelas sambil menggendong zayn yang susah diam itu. Kalau tidak mengayunkan kaki, bayi itu bergumam tak jelas sampai air liurnya mengenai dada Luna.
Setelah pekerjaan rumah selesai Luna membawa zayn ke kamarnya. Ia membaringkan bayi itu ke atas kasur.
Luna mengajak zayn untuk bermain, lalu terkadang membiarkan saja sendiri. Ia asyik bermain sosmed. Namun, tiba-tiba zayn menangis. Luna jadi kelimpungan.
“Mau apa sayang?” Luna menepuk-nepuk paha bayi itu, tetapi tidak berefek apa pun, “diem dong. Mau apa sih? Bilang jangan nangis saja!”
Ia teringat oleh susu. Mungkin bayi ini haus. Luna meraih botol susu yang tergeletak di kasur.
“Ya susunya habis sayang. Sebentar, Kak Luna bikinin dulu ya.”
Gadis itu bergegas lari turun ke lantai dasar dengan membawa kotak berisi susu bubuk dan botol susu . Setelah selesai dia berlari kembali ke kamar. Zayn tetap menangis, walau sudah mendapatkan susu.
__ADS_1
“Waduh, kamu mau apa sih?” Luna menggaruk-garuk kepala, kebingungan.
•••