Housemate

Housemate
Pertolongan


__ADS_3

Luna menegok kanan-kiri sebelum berlari masuk melewati gerbang utama kampusnya. Sesekali dia merapikan masker yang ia gunakan. Gadis itu bukan sedang sakit. Namun, ia sengaja memakai masker untuk menutupi wajahnya.


Ia bermaksud agar orang-orang tidak mengenali dirinya. Gadis ini malu akan gosip yang sedang hangat diperbincangkan mahasiswa kampus. Bukannya menjadi orang tidak dikenal, Luna malah menjadi pusat perhatian karena ulahnya sendiri. Beberapa orang melihatnya aneh.


Luna menutup wajahnya dengan poni dan rambut sebahunya. Benar-benar seperti orang mencurigakan.


“Ini semua gara-gara Mama nyuruh gue kuliah juga,” gerutunya sambil terus melangkahkan kaki menuju gedung fakultas psikologi yang jaraknya masih jauh sekali.


Harusnya tadi Papa mengantar sampai di depan fakultas karena buru-buru ke kantor dia menurunkan Luna di depan gerbang saja.


Tin... tin...


Suara klakson mengejutkan Luna hingga gadis itu berbalik dan membuka maskernya.


“Eh lo gimana sih bawa motornya? Nggak lihat ada orang jalan?”


“Salah siapa juga jalan di tengah?” tanya balik cowok yang membawa motor. Ia hampir menabrak Luna.


“Lo!” Luna melipir ke samping cowok yang mengerutkan dahinya ini, “lo yang kemarin di UKK ‘kan? Lo penjaga UKK itu?”


Dylan menaikan kaca helmnya, “gue kasih tahu sama lo. Gue bukan penjaga UKK.”


“Terus kenapa di situ?”


“Gue lagi cari obat. Teman lo aja asal narik-narik gue.”


“What ever deh!” Dylan mendelik mendengar perkataan Luna, “gue cuma mau minta pertanggung jawaban lo.”


“Nyentuh aja nggak minta tanggung jawab. Bukan anak gue itu!” Dylan tidak terima atas tuntutan Luna.


“Bukan tanggung jawab yang itu bodoh.” Luna menepuk lengan Dylan dengan sedikit kuat hingga lelaki itu meringis, “tadi lo hampir nambrak gue. Gue sampai kaget untung nggak jantungan. Jadi, lo harus ganti rugi karena bikin gue kaget.”


“Gue nggak ada uang buat ganti rugi. Jadi, gue minta maaf aja ke lo! Lagi ini—“


“Hei Luna!” panggilan seseorang membuat Dylan menghentikan bicaranya. Ia bersama Luna menoleh ke lelaki yang memanggil itu, “masih berani pergi ke kampus?”


Lelaki dan beberapa teman perempuannya itu tertawa habis mengejek Luna.


“Oh ini gebetan baru lagi ya, Lun?” tanya mahasiswi itu, “cepat banget move on dari Brian?”


Luna menoleh ke Dylan, lalu ia mendadak murung.


“Woi, bisa nggak sih nggak usah ledekin orang? Gue kasih tahu ya. Gue bukan gebetannya dan apa salah nembak cowok duluan? Luna itu hebat bisa menurunkan gengsi demi orang yg dia suka. kalau kalian belum bisa melakukan apa yang dia lakuin jangan pernah ngeledek lagi. Paham?”


Luna mendongak dan menatap Dylan yang membela dirinya dari orang-orang itu. Ia tidak menyangka cowok yang dia pikir menyebalkan ini baik hati juga. Dylan berhasil membuat orang-orang yang mengejek Luna itu bungkam dan pergi dari sana.


“Nggak usah bilang makasih. Gue ikhlas nolongin lo.”

__ADS_1


Padahal Luna tidak berkata apa-apa. Namun, Dylan sudah menebaknya saja. Gadis itu mengerutkan bibir dan dahinya menatap lurus ke cowok ini.


“PD betul lo!”


“Gue tahu sih orang kayak lo pasti nggak akan bilang gitu. Anggap aja tadi tuh sebagai permintaan maaf karena hampir nambrak.”


Dylan menghidupkan mesin motornya lagi, “Gue duluan ya, cewek bucin.”


Cowok itu pergi bersama motor kesayangannya dengan tertawa sehabis mengejek Luna.


“Ih nyebelin!” Luna menggepalkan tangannya. Namun, tidak berhasil memukul karena Dylan sudah pergi lebih dulu.


Luna menoleh ke kanan dan ke kiri. Jalanan menjadi sepi. Ia menaikan lagi maskernya, lalu melanjutkan langkah.


“Coba kasih tebengan gitu. Dasar cowok UKK nyebelin!” gerutu Luna sambil berjalan.


•••


“Woo whats up, Bro!”


Kedatangan Dylan disambut dengan heboh oleh Kendro. Dylan tersenyum dan bersalaman ala lelaki dengan sahabatnya itu.


“Gimana kemaren kejadiannya? Kok bisa kebakaran rumah lo?” tanya Javier.


Dylan memilih kursi di depan Javier, lalu melepas ransel yang dia pakai. Cowok itu duduk terlebih dulu sebelum mulai bercerita.


“Jadi lo tinggal di mana?” tanya Kendro kali ini.


“Sementara di rumah Pak RT, tapi kalau ada uang bakal pindah secepatnya.”


“Oh gitu, kita turut perihatin dengan musibah yang menimpah lo dan ibu lo,” tutur Javier.


“Kita juga mau berbagi sedikit nih.” Kendro mengambil plastik berisi sembako dari bawah mejanya, “ini dari gue dan keluarga, sedikit.”


Dylan lekas berdiri dan menyambut pemberian sahabatnya ini, “Lo repot-repot amat, Ndro.”


“Nggak repot kali. Ini bisalah buat makan lo dan Tante Rania.” Javier ikut mengangguki ucapan Kendro.


“Gue juga punya nih.” Cowok dengan kulit kuning langsat ini memberikan sebuah kotak, “ini cuma beberapa baju bersih buat ibu lo dan lo.”


“Makasih banyak, Vier.” Dylan tersenyum.


“Masih ada nih dari teman-teman.” Javier menoleh pada mahasiswa dan mahasiswi yang telah datang, “teman-teman tolong yang bawa bantuan buat Dylan bisa dikasih sekarang.”


Tidak lama dari itu semuanya bangkit dan mendekat pada Dylan. Mereka membuat lingkaran, lalu bergantian memberikan sumbangannya.


“Ini baju gue masih bagus-bagus. Semoga bisa lo pakai.”

__ADS_1


“Cuma bisa kasih sedikit uang.”


“Semoga buku-buku ini bisa lo pakai.”


Dylan bergantian mengucapkan terima kasih dan menerima pemberian teman-temannya. Ia bersyukur banyak orang yang peduli pada dirinya dan Ibu.


“Kalian pada liat di televisi ya?” tanya Dylan yang mendapat anggukan teman-teman sekelas.


“Javier juga yang kordinir dari grup chat kemarin,” tambah dari salah satu teman sekalas Dylan.


Dylan tersenyum kepada Javier dan yang lainnya.


•••


“Lo sakit, Lun?” tanya Elina melihat Luna memakai masker menutupi setengah wajahnya.


Luna yang berkeringat itu tidak menjawab dia memilih duduk, lalu melepas tas dan maskernya.


“Gue nanya malah dikacangin.” Elina menaikan kacamatanya.


“Bentar dulu, kasih waktu gue buat bernapas.”


Elina makin penasaran. Gadis yang mempunyai tinggi badan sedikit lebih tinggi dari Luna ini menyerongkan duduknya menghadap ke kanan. Tepat pada tempat Luna duduk.


“Lo habis joging? Keringetan gitu atau lo habis lari dari kenyataan ya?” Kemudian Elina tertawa.


“Uh! Senang benar lo ngejek gue. Sama aja lo sama yang lain,” omel Luna tidak suka.


“Maksudnya?”


Luna merubah sedikit duduknya menyerong, “Tadi gue habis diejekin sama anak-anak kampus. Padahal gue udah pakai masker biar nggak dikenalin.”


“Oh jadi masker ini fungsinya buat nutupin muka lo?”


Luna mengangguk dengan wajah cemberut.


“Semua ini gara-gara gue ketemu cowok UKK itu. Karena dia gue diejekin, tapi dia juga ngebelain gue sih.” Luna yang tadinya ngegas dalam bicara tiba-tiba suaranya mengecil di kalimat terakhir.


“Cowok UKK? Yang nolongin lo kemarin itu?” Luna mengangguk lagi, “baik juga dia nolongin lo lagi. Dia bantu apa?”


“Jadi itu, dia hampir nabrak gue. Otomatis gue ngebuka masker gue. Lagi marah-marah sama tuh cowok eh ada cowok lain ngatain gue sama teman-temannya. ‘Kan gue malu. Gue juga nggak nyangka ternyata dia belain gue dari ejekan anak kampus.”


“Wah...” Elina menopang dagunya dengan kedua tangan, “udah kayak malaikat dia ke lo. Nolongin terus.”


Luna jadi memikirkan perkataan Elina. Benar juga cowok itu sangat baik padanya. Namun, saat wajah menyebalkannya muncul di benak Luna. Seketika gadis ini kembali kesal.


•••

__ADS_1


Jangan lupa divote, komen, dan like serta favoritkan. Terima kasih ^^


__ADS_2