
Ruangan karaoke yang sudah disewa oleh Luna dan teman-temannya sedari tadi diramaikan dengan suara lagu yang melantun serta tawa dari orang-orang di dalamnya.
Ada sekitar 10 orang di dalam. Lebih didominasi oleh wanita. Luna tertawa melihat Mina mendendangkan lagu dangdut sembari bergoyang bersama Ando yang menyawernya.
“Maaf saya terlambat.” Seorang pria membuka pintu ruang karaoke itu. Semua orang yang ada di dalamnya menoleh ke arah pintu.
“Masuk, Pak!” suruh Ando yang masih memutar-mutar selembar uang di atas kepala Mina sembari bergoya, “kita dangdutan dulu biar otot nggak kaku, Pak.”
Yang lain tertawa mendengar ucapan dari rekan kerjanya itu. Arjun mengangguk, lalu masuk dan menutup pintu. Tidak sengaja pandangannya dan Luna bertemu. Namun, Luna cepat membuang muka.
Arjun menjatuhkan tubuhnya di samping Luna, sedangkan gadis itu sedikit bergeser memberikan jarak.
“Kamu di sini juga, Lun? Nggak nyangka bisa bertemu kamu.” lelaki itu bertanya dengan suara dikeraskan.
Luna mengangguk, “Iya Pak. Diajak sama Mina.” Gadis ini membalasnya juga dengan sedikit berteriak.
“Sama kalau begitu. Saya juga diajak mereka-mereka ini,” balas Arjun, padahal Luna tidak bertanya.
Luna tersenyum sembari tertawa kecil.
Arjun kembali diam dengan memperhatikan teman-teman lain yang sedang bernyanyi. Luna memperhatikan gerak-gerik manajernya ini. Pria itu terlihat gugup dengan memainkan cincin di jari kelingkingnya. Kedua kakinya juga tidak mau diam. Luna pikir Arjun sedang menikmati lantunan lagu.
Musik pun berhenti karyawan lain menggantikan Mina untuk bernyanyi. Wanita itu duduk di sofa depan Arjun.
“Bapak mau pesan minum? Saya panggilkan pelayannya.”
Arjun menggelengkan kepala, “Nggak usah, nanti saya pesan sendiri saja.”
Mendapat tolakkan Mina menatap orang yang sedang melantunkan sebuah lagu melow. Arjun menoleh pada Luna dan Mina, tidak ada yang memperhatikannya sekarang. Pria itu buru-buru keluar dari ruangan. Namun, gerakannya ditangkap oleh Luna.
Luna membiarkannya karena dia pikir Arjun ingin memesan minuman. Mereka kembali fokus melakukan kegiatan hiburan itu. Hingga Luna dipaksa untuk membawakan satu buah lagu.
“Suara saya cempreng. Kalian sajalah.” Tolaknya pada Ando yang memaksa.
“Ayolah, Lun. Masa ikut ke sini cuma nonton doang.” Kali ini Mina membujuknya.
Luna tetap menggeleng, “Saya kebelet pengin ke toilet dulu.”
Wanita yang masih memakai blazer ini segera berlari keluar dari ruang karaoke itu. Luna sengaja menghindari ajakan Mina dan teman-temannya yang lain.
“Kabur anaknya,” ujar Mina memasang wajah cemberut ke arah teman-temannya.
•••
Arjun meninggalkan ruang karaoke dan pergi ke meja bar untuk memesan minuman. Musik di tempat Elvano tidak kalah berisiknya. Di dekat dance floor ada seorang Disc Jockey yang menghibur pengunjung club.
Segelas white wine dihidangkan oleh bartender ke depan Arjun. Lelaki itu meminumnya hingga tandas. Ia juga tidak hanya memesan sekali bahkan berkali-kali sampai kepala terasa berat dan pusing.
__ADS_1
“Tunggu-tunggu!” Arjun menghentikan seorang bartender yang ingin menuangkan lagi minuman ke gelas lelaki itu, “saya mau ke kamar mandi. Di mana kamar mandinya?”
“Lebih baik Tuan ke kamar mandi bawah yang di dekat ruang karaoke. Kamar mandi di lantai ini sedang dalam perbaikan.”
“Aah... repot sekali.” Keluh Arjun dengan tubuh yang limbung.
“Maafkan atas ketidak nyamanan ini, Tuan.”
“Ya sudah, ya sudah.” Arjun mengibaskan tangan. Lelaki itu berjalan pergi menjauhi meja bar dan masuk ke dalam lift.
Selama berjalan Arjun beberapa kali menabrak orang. Tubuhnya tidak seimbang dan seperti ingin jatuh. Kesadarannya juga tinggal 80%. White wine yang diminumnya membuat diri mabuk.
Arjun berhenti di depan kamar mandi. Ia lebih dulu memperhatikan kedua pintu coklat itu.
“Yang mana kamar mandi laki-laki?” tanyanya sembari mmenunjuk.
Ia berusaha membuka lebar kedua mata. Namun, sebuah gambar sebagai tanda pembeda kamar mandi terlihat buram di mata Arjun. Hingga dia memutuskan masuk ke kamar mandi yang salah.
Luna yang baru selesai mencuci tangan dan akan melangkah keluar dibuat terkejut oleh kedatangan manajernya.
“Pak Arjun?”
Pria itu mendongakkan pandangan. Sebelah tangan berpegangan pada gagang pintu agar tidak jatuh. Ia tersenyum mengerikan.
“Luna, mengapa kamu ada di kamar mandi laki-laki?”
Luna mendelik mendengar pertanyaan dari Arjun. Yang Luna tahu Arjun-lah yang salah masuk kamar mandi karena Luna tidak mungkin salah.
“Bapak mabuk ya?”
“Luna!” Ia menunjuk Luna hingga wanita ini terkejut dan melangkah mundur, “kamu tahu saya jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu.”
Luna tidak akan tahu hal ini kalau Arjun tidak mengungkapkan perasaannya sekarang.
“Sayang sekali saat saya mengetahui kamu sudah menikah. Saya pikir laki-laki yang mengantarmu adalah saudara laki-lakimu. Saya mencoba untuk menepis perasaan ini, tapi mengapa...” Arjun kembali menangis, “mengapa perasaan itu susah untuk dihilangkan?”
Luna merasa tidak enak pada Arjun, padahal pria di hadapannya ini sangat baik. Mau bagaimana lagi sebelum mengenal Arjun, Luna lebih dulu mengemal Dylan.
“Maafkan saya, Pak. Saya nggak tahu kalau Bapak suka saya, tapi kita memang nggak bisa untuk berhubungan lebih jauh. Saya sudah menikah dan sangat mencintai suami saya.”
“Saya tahu!” Arjun bersuara lebih keras, kemudian kembali bicara dengan suara di kecilkan, “saya tahu kamu sudah menikah. Ini salah saya sendiri nggak bisa mengatur perasaan. Saya juga nggak ingin merusak hubungan kalian. Saya nggak ingin ada di tengah-tengah kalian.”
Luna mengulas senyum, “Saya tahu itu, Bapak orang baik.”
Arjun kembali menangis dengan suara beratnya. Luna mendekat dan mengusap punggungnya.
“Lebih baik Bapak pulang. Sepertinya, keadaan Bapak nggak baik. Saya akan suruh Ando antar Bapak ya?”
__ADS_1
Pria dengan pakaian sudah tidak rapi itu membalikkan posisi tubuhnya dengan Luna. Sekarang Luna bersandar di pintu masuk. Wanita ini jadi takut. Apa lagi kamar mandi perempuan itu Luna saja yang mengisinya sedari tadi sebelum Arjun datang.
Arjun mengusap pipi yang basah dan menatap tajam ke arah Luna, “Kamu sengaja bukan nggak pakai cincin pernikahanmu? Kalau dari awal saya tahu, saya nggak akan berharap.”
“Waktu itu saya sudah jelaskan ke Bapak. Kalau cincin saya tertinggal di kamar mandi rumah.”
“Mengapa semua wanita membuat saya terus kecewa dan terluka?” Arjun kembali menangis. Aroma alkohol menyengat di sekitar Luna, “dulu seorang wanita juga pernah mengecewakan saya. Sekarang saat saya jatuh cinta lagi. Kamu nggak bisa saya miliki.” Arjun tersedu-sedu, kemudian meletakkan kepala ke bahu Luna dan menunduk.
Luna mencoba menepuk-nepuk pelan punggung Arjun, “Sebenarnya kecewa itu datang karena dari kita sendiri, Pak. Terlalu mempunyai ekspetasi tinggi juga rentan kecewa. Jadi, Bapak jangan mudah menyerah. Suatu saat wanita yang cocok pasti datang ke Bapak.”
Pria ini mulai berhenti menangis saat Luna berusaha menenangkannya. Namun, Luna merasakan sesuatu yang berbeda pada lehernya. Mata wanita ini melebar saat benda lembut dan lembab menyentuh lehernya. Luna memberontak ketika menyadari Arjun mencium lehernya.
“Apa yang Bapak lakukan? Lepaskan saya!”
Arjun memegangi kedua tangan Luna dan membuat wanita itu susah untuk bergerak. Kali ini Luna yang menagis.
“Lepaskan saya!” Luna terus memberontak agar Arjun menghentikan mencumbu leher itu, “Tolong!”
Makin lama tubuh pria itu maki tidak bertenaga. Luna mendorong manajernya ini hingga menabrak pinggir wastafel dan tergeletak ke lantai tidak sadarkan diri.
Luna tidak menyia-nyiakan itu. Dia cepat berlari meninggalkan kamar mandi tanpa peduli pada Arjun yang pingsan.
Wanita ini berhenti melangkah saat sedikit lagi sampai di ruang karaokenya tadi. Ia terlihat takut dan mengawasi sekitar. Luna menatap pantulan tubuh dari pintu kaca yang ada di depannya. Ia mencoba mendekat dan mengecek leher itu. Ada bekas merah di sana yang membuat Luna cemas kalau hal ini diketahui Dylan.
Luna melepas ikat rambut. Ia sengaja menggerainya agar tidak ada yang tahu, terutama sekarang teman-temannya yang ada di dalam. Luna juga menghapus jejak air mata di pipi. Ia masuk ke ruangan karaoke yang masih ramai itu dengan berusaha bersikap biasa saja.
“Lun, HP lo tadi bunyi,” ucap Mina memberi tahu.
Luna meraih sling bag di atas sofa. Ia lekas memeriksa notifikasi pada ponselnya. Dari ibu dan juga ada pesan dari Ibu. Ia membacanya.
Ibu mertua
Luna cepat pulang, Nak! Dylan malam ini pulang ke rumah.
Wanita itu terkejut, mengapa mendadak sekali? Dylan bilang hari ini akan menginap lagi di rumah sakit, tetapi malah pulang ke rumah.
“Teman-teman saya balik duluan ya.” Luna menyimpan kembali benda pipi ini dan memakai ponselnya, “suami saya ternyata sudah ada di rumah.”
“Oh ya sudah kalau begitu, Lun. Mau diantar?” pertanyaan datang dari Ando.
Luna menggeleng, “Saya naik taksi saja.”
“Oke, hati-hati.”
“Hati-hati, Lun!” ucap yang lainnya.
Luna tersenyum dan mengangguk, lalu melambaikan tangan seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Ia lekas keluar dari ruangan karaoke. Ketika sampai di persimpangan Luna melihat orang-orang ramai di dekat kamar mandi. Namun, Luna bergegas pergi dari tempat itu.
__ADS_1
•••
Jangan lupa tinggalkan vote, like, dan komentarnya. Terima kasih. ❤🙏🏻