Housemate

Housemate
Luna Butuh Bantuan


__ADS_3

Sepulang kampus kita langsung ke peternakan. Aku tunggu kamu di depan gerbang.


Dylan tersenyum menatap layar handphone-nya. Ia senang ketika mendapatkan pesan dari Alexandra. Akhirnya, ia bisa membantu Rania mengumpulkan uang lebih cepat. Walau Rania tidak setuju akan hal ini. Namun, lelaki itu tetap mengerjakannya tanpa memberitahu sang ibu.


Pemuda ini mendongakkan pandangan dan menatap teman-teman yang ada di kelas. Ia bersyukur gosipnya dengan Luna perlahan menghilang. Sekarang mengikuti jam kuliah sudah tenang.


Namun, tampaknya ketenangan itu hanya sebentar. Sebuah pesan masuk kembali pada ponsel yang masih digenggam Dylan.


Luna


Tolong...


Perut gue sakit. Antarin pulang😭😭😭


“Nggak bisa lihat gue santai sedikit ini cewek,” gumam Dylan yang menatap kesal ke layar handphone.


Tiba-tiba sebuah pesan masuk kembali.


Luna


Dylan... 😭


Sebenarnya, Dylan merasakan kegelisahan mendapat pesan itu dari Luna. Bagaimana kalau gadis itu benar butuh bantuan.


Dylan menyimpan ponsel ke saku, lalu memakai tas dan tergesa-gesa keluar dari kelas hingga tidak sengaja menabrak Kendro yang mengobrol dengan seorang gadis di meja dekat pintu.


“Mau ke mana, Lan?”


“Gue ada urusan!” teriak lelaki itu tanpa menoleh kembali.


Kendro menyembulkan kepala keluar dari kelas, “Sebentar lagi dosennya datang!”


Lelaki yang sudah jauh berlari itu tidak memedulikan peringatan dari sahabatnya. Entah mengapa Dylan sangat mengkhawatirkan keadaan Luna.


Ia lekas mengambil motor yang ada di parkiran, lalu melajukan ke arah gedung fakultas Luna. Ketika sampai di sana. Dylan melihat Luna duduk bersama Elin. Gadis berambut sebahu itu memegangi perut sambil merintih ke sakitan.


“Perut lo kenapa bisa sakit?” tanya Dylan saat sudah duduk di sebelah Luna.


Gadis dengan mimik wajah ditekuk itu menatap Dylan, “Untung lo sudah di sini. Antarin gue pulang.”


“Iya, gue antar, tapi lo sakit perut gara-gara apa? Bukannya, tadi pagi sarapan.”


“Luna datang bulan,” jawab Elina mewakilkan.


“Cuma itu?” Dylan menghela napas dan membuang muka, “gue sudah buru-buru ke sini dan meninggalkan kelas padahal masih ada pelajaran cuma buat nolongin orang datang bulan?”


“Lo pikir datang bulan itu sepele?” Luna memegangi perut, “sakit tahu. Mules banget.”


Dylan kembali menatap gadis di sebelahnya. Ia memperhatikan Luna yang dari tadi menekan perut. Bulir-bulir keringat yang ada dipelipis meyakinkan Dylan kalau gadis itu tidak sedang bercanda padanya.

__ADS_1


“Ya sudah ayo gue antar pulang!”


Luna tersenyum tipis pada pemuda itu. Kemudian menatap Elina yang ada di sebelah kiri.


“Lin, gue pulang dulu. Tolong nanti izinin gue.”


Elina mengangguk, “Iya, nanti gue izinin. Hati-hati kalian!”


Dylan berdiri dengan memapah Luna. Mereka berjalan mendekati motor. Lelaki itu memberikan satu helm pada Luna. Namun, gadis itu menggeleng.


“Pakaikan,” ucapnya dengan nada manja.


Mau tidak mau Dylan memasangkan helm ke kepala gadis itu. Sesudah itu dia memakai helm miliknya dan naik ke motor. Luna pun menyusul naik ke boncengan setelah Dylan siap. Motor melaju meninggalkan Elin yang melambaikan tangan atas kepergian kedua orang itu.


Di perjalanan Dylan tidak mengeluarkan suara. Lelaki itu fokus saja pada jalan dan motornya. Namun, Luna yang cerewet itu bersuara kembali.


“Pembalut gue habis.”


“Terus apa hubungannya sama gue?” teriak Dylan agar suara tidak tertelan oleh angin.


“Kita mampir ke mini market dulu ya! Percuma pulang kalau gue nggak bisa ganti.”


“Oke!”


Luna tersenyum tipis saat permintaannya selalu dituruti lelaki itu.


Gadis itu membolakan mata saat melihat sebuah noda merah menempel di jok. Ia mengecek celana yang dipakai. Luna menggosok-gosok jok motor lelaki itu.


“Sudah sana beli! Masa mau gue juga yang beli.” Dahi Dylan berkerut karena Luna malah asyik sendiri, “lo lagi ngapain?”


Gadis itu terkejut. Ia cepat menatap Dylan sambil tersenyum, tatapi tubuhnya berusaha menutupi jok yang kotor.


“Kenapa sih?”


Luna menggeleng, “Nggak apa-apa. Lo saja yang beli ke dalam ya!”


“Malas amat. Itu ‘kan barang perempuan. Kenapa nggak lo saja yang beli? Yang butuh juga lo.”


Dari tadi Dylan memperhatikan gelagat Luna. Gadis itu selalu menoleh ke belakang.


“Ada apa?” Dylan berusaha melihat ke arah gadis itu lihat, tatapi Luna selalu menghalanginya.


“Nggak ada apa-apa. Lo saja yang beli ke dalam!”


Bagimanapun disembunyikan akhirnya Dylan melihat noda di jok motornya.


“Lo ngotorin motor gue?”


Luna menunduk. Dia mau sekali saat tembus dan diketahui oleh laki-laki.

__ADS_1


“Maaf, gue nggak sengaja.” Tangan Luna berupaya menutupi celana bagian belakang yang kotor.


Terdengar oleh Dylan isakkan gadis itu. Pemuda ini meletakkan tas ke jok motor bagian depan yang bersih. Kemudian melepas jaket yang dia gunakan. Dylan merendahkan tubuh, lalu melilitkan jaket ke pinggang Luna. Aksinya itu membuat Luna mendongak dan menatap wajah laki-laki ini.


Wajah yang berdekatan membuat Dylan jelas melihat air mata yang mengalir di pipi Luna.


“Sudah jangan menangis!” Dylan mengusap pipi Luna dengan ibu jari, “gue nggak masalah. Nanti sampai di rumah bisa dibersihkan.”


Dylan berdiri dengan tegak lagi. Memakai ranselnya dan kemudian mengusap-usap kepala Luna.


“Tunggu di sini! Gue belikan dulu pembalutnya.”


Dylan berbalik dan mulai melangkahkan sepasang kakinya. Namun, baru beberapa langkah Luna memanggil.


“Dylan!”


Lelaki itu menghentikan langkah dan menoleh ke belakang, “Ada apa?”


“Yang ada sayapnya.” Luna menggerakkan kedua tangan memperaktekkan gerakan terbang.


Dylan mengangguk saja. Kemudian masuk ke dalam mini market. Sampai di dalam lelaki itu dibingungkan dengan berbagai merek pembalut.


“Waduh yang mana nih?” Lelaki ini menggaruk kepala yang tak gatal, “seumur hidup baru ini gue beli pembalut. Ibu mana pernah nyuruh beli ini.”


Pemuda itu asal mengambil saja yang penting di bungkus dia melihat kalau itu yang ada sayapnya. Di kasir Dylan harus sabar mendapati tatapan aneh dari dua penjaga kasir.


“Kenapa melihat saya seperti itu ya Mbak, Mas?”


Sepasang pelayan kasir itu menggeleng. Kemudian yang wanita menjawab, “Nggak apa-apa, Mas.”


“Ini bukan buat saya. Tuh.” Dylan menunjuk Luna yang duduk di motor, “buat cewek itu.”


“Oh, buat pacarnya, Mas. Perhatian juga sampai si Mas yang masuk dan beli ke dalam,” ucap pelayan laki-laki berbasa-basi.


“Dia bukan pacar saya!”


“Dua puluh ribu, Mas.” Mendengar ucapan Mbak kasir. Dylan lekas memberikan uang dan mengambil belanjaan yang sudah dibungkus. Lelaki itu lantas keluar dari mini market.


“Nih.” Dylan memberikan plastik putih pada Luna, “gara-gara lo gue jadi dapat tatapan aneh dari orang-orang di dalam.”


Luna berusaha menahan tawa.


“Kenapa lo? Mau ketawain gue?”


Gadis itu menggeleng, “Nggak, terima kasih.”


Kali ini Dylan yang mengangguk. Lelaki itu segera menaiki motornya, memasang helm dan melaju meninggalkan halaman mini market.


•••

__ADS_1


__ADS_2