Housemate

Housemate
Sikap Aneh Dylan


__ADS_3

Alexandra turun dari mobil pribadinya dengan air mata bercucuran. Arga menepikan mobilnya setelah dia melihat anak semata wayangnya berlari masuk ke dalam rumah. Pria itu dengan langkah cepat menyusul Alexa.


“Mom, Mommy!” Gadis dengan rambut panjang dikuncir ini berteriak keras memanggil sosok ibunya.


Alika yang selalu terlihat rapi dan cantik di setiap waktu ini lekas menghampiri anak perempuannya.


“Ada apa sayang?” wanita itu memasang ekspresi cemas, “kamu mengapa menangis?”


“Alexa dengarkan Daddy dulu!” ujar Arga yang sudah ada di tengah-tengah kedua perempuan ini.


Alika dan Alexandra bersamaan menatap Arga. Namun, ada beberapa kerutan di dahi Alika. Ia bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.


“Ada apa ini, Mas? Kenapa Alexa menangis?”


“Mommy ternyata Daddy sudah menikah dan mempunyai anak. Daddy membohongi kita selama ini,” sela Alexa sebelum Arga menjawab pertanyaan istrinya.


Alika seperti tidak terkejut. Ia malah beralih menatap Arga dan hanya bergeming.


“Mommy kenapa diam? Mom nggak marah sama Daddy?” Alexa berhenti meneteskan air mata. Sekarang dia terheran-heran oleh sikap sang ibu.


Alika tertegun, “Sebenarnya Mommy sudah tahu itu, Sa."


Bibir Alexa terbuka sedikit. Ia tercengang atas pengakuan ibunya. Jadi, selama ini hanya dia yang tak tahu latar belakang sang ayah.


“Sebelum menikah dengan Mommy, Daddy-mu sudah menikah. Namun, dia bercerai dan menikahi Mommy,” ucap wanita kurus-tinggi itu.


“Kenapa kalian nggak pernah cerita ke aku? Apa masih ada yang kalian sembunyikan?”


Arga dan Alika saling tatap dan memilih membisu. Alexa kembali menangis mengingat nasibnya bersama Dylan.


“Kenapa anak Daddy itu harus Dylan? Kenapa harus cowok yang aku suka?” tangis gadis ini makin menjadi-jadi.


“Alexa maafkan Daddy.” Arga memegang sebelah bahu sang putri, “Daddy juga baru tahu kalau Dylan anak Daddy, sayang.”


Gadis itu bergeser sampai tangan Arga yang ada di bahunya terjatuh. Kemudian Alexa berlari menuju kamarnya. Baru saja pria ini ingin mengejar sang putri Alika lebih dulu menarik tangannya dan membawa ke kamar.


“Ada apa?” tanya Arga setelah pintu kamar tertutup.


“Kamu sudah bertemu mantan istrimu, Mas?” tanya Alika. Ternyata wanita ini juga penasaran.


“Belum, saya baru bertemu oleh anak saya yang sudah 20 tahun saya tinggalkan.”


“Bagaimana kamu bisa tahu kalau pemuda yang disukai Alexa itu anakmu?”


Pria itu bergeming dengan melangkah sedikit menjauhi istrinya. Arga menatap ke arah jendela.


“Dia membawakan saya sekotak makanan. Rasa makanan itu mengingatkan pada Rania. Saya tanya siapa nama ibumu? Dia menjawab Rania Samaira.” Arga berbalik ke belakang menatap Alika, “itu nama mantan istri saya. Kamu sendiri ‘kan juga tahu. Sudah pasti Dylan anak saya.”

__ADS_1


Alika tertegun, “Apakah kamu akan kembali ke mereka?”


Arga melangkah mendekati Alika. Kemudian menariknya ke dalam pelukan.


“Saya nggak mungkin meninggalkanmu dan Alexa. Bertahun-tahun kalian yang menemani kehidupan saya. Walau Alexa bukan darah daging saya, tapi saya menyayanginya seperti anak kandung.”


Pria ini memegang kedua bahu wanita itu dipeluknya. Setelah itu mendorong tubuh Alika sampai terlepas dari pelukan.


“Saya cuma mau kamu bisa menerima Dylan sebagai anakmu juga. Dia satu-satunya anak kandung saya. Saya mohon sama kamu.”


Wanita ini mengangguk, “Iya, Mas. Saya akan coba menerima anakmu itu.”


•••


Luna sedari tadi memerhatikan gerak-gerik Dylan di meja makan. Mereka semua sedang berkumpul untuk makan malam. Lelaki itu tampak sering mengaduk makanan dan tidak memakannya. Wajah Dylan masih juga murung dab tidak bersemangat seperti biasanya. Ia bingung sebenarnya Dylan sedang ada masalah apa.


“Alhamdulillah, kenyang.” Wardana berucap sambil mengelus perut yang sedikit membesar.


Perhatian Luna tertuju pada Papanya. Kemudian disusul dengan Sinta yang bangkit dari duduk.


“Sini saya bereskan!”


Wanita itu mengambil piring bekas suaminya.


“Bhiru juga sudah, Ma.” Bhiru memberikan piring miliknya pada Sinta. Kemudian berlari keluar dari ruang makan.


“Saya bantu ya, Sin.” Rania berdiri yang mengambil piring Luna yang baru saja kosong.


“Saya nggak enak dong. Masa makan saja nggak bantu bersih-bersih.”


“Sudah biarkan saja, Ma.” Wardana membuka suara, “lagi pula kalau kerjanya berdua lebih cepat selesai bukan?”


“Benar, Mas.” Rania menoleh ke Dylan ketika ingin mengambil piring kotor, “kenapa makananmu belum habis juga Dylan?”


Dylan mendongak mentap sang ibunyang ada di samping dirinya. Semua orang yang masih di meja makan juga jadi menatap ke arah pemuda itu.


“Sudah kenyang, Bu.” Dylan memberikan piring miliknya, “aku mau ngomong sesuatu sama Ibu.”


Dahi Rania mengerut, “Mau ngomong apa?”


Anak laki-laki itu berdiri. Kemudian melangkah ke arah kamar Rania lebih dulu. Wanita itu menatap Sinta.


“Sin, saya tinggal sebentar ya. Nanti saya balik lagi.”


“Iya, Mbak. Nggak apa-apa, sepertinya Dylan mau bicara penting.”


Rania mengangguk, kemudian melangkah pergi. Luna memperhatikan dengan serius. Gadis itu jadi penasaran ingin berbicara apa mereka.

__ADS_1


“Ma, Luna ke kamar mandi dulu.” Gadis ini bergegas pergi setelah diangguki sang ibu.


“Kamu mau ngomong apa?” tanya Rania saat di depan pintu kamarnya.


Dylan mengeluarkan salah satu tangan dari saku celana, “Uang yang kemarin masih ada? Kembalikan saja ke Dylan, Bu.”


Lelaki itu menadahkan satu tangan ke depan Rania. Luna dari jauh memperhatikan mereka.


“Kenapa? Bukannya itu gaji kamu bekerja?”


“Sudah kembalikan saja, Bu!”


Rania membuka pintu kamar, “Tunggu Ibu ambilkan dulu!”


Tidak lama Rania keluar lagi dari kamar membawa amplop berisi uang yang dipinta anaknya.


“Ini.” Rania memberiakn ke tangan Dylan, “tapi tinggal setengah yang lain sudah Ibu bayarkan ke ruko baru untuk kita usaha dan tinggal.”


Dylan menghela napas sambil memeriksa uang di dalam amplop.


“Ya sudah, nggak apa-apa.” Dylan ingin melangkah pergi. Namun, salah satu tangannya dipegeng Rania.


Pemuda itu menoleh.


“Kamu ada masalah?”


Dylan tersenyum tipis, “Nggak.”


“Terus ingin kamu apakan uang sebanyak itu?” tanya wanita ini lagi.


“Ingin aku kembalikan. Aku mau keluar dari pekerjaan itu.”


“Kenapa?”


“Nggak apa-apa, Bu. Aku mau membantu Ibu jualan di ruko baru kita.”


“Itu masih lama, Nak. Ibu masih mengumpulkan modalnya.”


Dylan tersenyum, kemudian melanjutkan langkah meninggalkan sang ibu. Luna lekas bersembunyi sebelum dia ketahuan sedang menguping oleh lelaki itu.


Rania dibuat bingung dengan sikap anaknya malam ini. Ia merasa Dylan mempunyai masalah.


“Ada apa sih sebenernya?” gumam Luna memperhatikan Dylan yang perlahan menghilang dari pandangan.


Disatu sisi Luna senang kalau Dylan keluar dari pekerjaan itu. Namun, disisi lain Luna jadi sedih mengetahui Rania sudah mendapatkan tempat tinggal baru. Itu artinya tidak lama lagi mereka akan pergi meninggalkan rumahnya.


•••

__ADS_1


Note:


jangan lupa supportnya untuk housemate 😊 terima kasih sudah membaca.


__ADS_2