Housemate

Housemate
Sebuah Kecurigaan


__ADS_3

Sesampai di rumah Luna disambut oleh Rania. Ibu mertuanya itu terlihat biasa saja. Sepertinya memang tidak masalah dia pergi bermain bersama teman-teman kantornya. Karena kata Ibu, Dylan sudah tidur Luna langsung saja masuk ke kamarnya. Tidak lupa membuka dan tutup pintu dengan perlahan.


Luna melepas tas dan meletakkan di atas meja rias. Ia mendatangi Dylan yang tertidur pulas di ranjang. Wanita itu membenarkan selimut yang suaminya pakai.


“Kamu pasti capek ya? Baru jam segini saja sudah tidur. Aku pikirnya mau ngobrol dulu.” Luna mengusap-usap rambut Dylan.


Luna teringat tanda di lehernya. Ia bergegas mendekati meja rias. Membuka helaian rambut itu hingga bisa melihat pantulan leher dari cermin.


“Sampai berbekas gini. Mesum banget Pak Arjun. Aku sudah baik sama dia, balasannya malah begini. Kalau Dylan tahu bagaimana ya?” ujar wanita ini sembari mengelus-elus leher.


“Tahu apa?”


Luna tersentak kaget dan menoleh. Dia mendapati Dylan yang sudah terbangun. Buru-buru wanita ini merapikan rambut menutupi lehernya, sekarang dia jadi khawatir kalau Dylan mendengar ucapannya tadi.


Dylan mengubah posisi menjadi duduk. Ia menatap Luna yang sedang harap-harap cemas.


“Kok nggak dijawab? Kalau aku tahu memang kenapa? Tahu apa juga?”


“Tahu... tahu kalau aku main sama teman kantor,” ucap Luna beralasan lain.


“Oh itu.” Dylan mengangguk, “aku sudah tahu itu dari Ibu. Sesekali nggak apalah. Biar kamu nggak bosen cuma ke kantor dan rumah saja. Sedangkan aku belum bisa mengajakmu jalan-jalan.”


Luna tersenyum, “Aku ganti baju dulu ya.”


Dylan mengangguk saja. Lupa menguncir rambut kembali sampai melupakan kalau ada bakas kecupan di sana.


“Tunggu!” Dylan berdiri, kemudian melangkah mendekati istrinya.


Seketika langkah Luna terhenti dan matanya membulat. Dylan menyentuh lehernya. Luna baru teringat insiden tadi di club.


“Leher kamu kenapa?” Dylan memiringkan kepala agar lebih jelas melihat bekas merah itu.


Luna gemetar dan menghalang-halangi pandangan Dylan dengan rambutnya, “Itu bekas digigit nyamuk.”


Dahi lelaki itu mengerut, “Masa digigit nyamuk sebesar itu? Aku lihat dulu.” Dylan menyampirkan rambut Luna ke belakang.


Dylan menurunkan tangan kembali setelah melihat bekas merah itu dengan jelas. Ia menatap Luna tanpa menampakkan ekspresi apa pun.


Kedua mata Luna berkaca-kaca menatap lelaki tinggi ini, “Aku bisa jelasin ke kamu.”


“Siapa yang melakukan itu? Jawab jujur!”

__ADS_1


Luna malah meneteskan air mata hingga membasahi pipinya.


“Kamu selingkuh?” Luna menggelengkan kepala saat terisak, “aku memang jarang ada di rumah. Jarang ada waktu untuk kamu. Begini caramu membalas?”


“Nggak, aku nggak selingkuh Dylan. Percaya sama aku,” ucap Luna dengan masih menangis.


“Terus siapa lelaki yang bikin itu di leher kamu?"


“Tadi waktu aku main ke koraoke bersama yang lain ternyata ada Pak Arjun...”


“Jadi ini ulah manajer itu?” Dylan memotong penjelasan istrinya, “apa saja yang dia lakukan sama kamu selain di leher itu?”


Luna menggeleng lagi, “Dia melakukan ini nggak sengaja. Dia mabuk dan salah masuk kamar mandi. Tiba-tiba bercerita dan mencium leherku. Aku nggak selingkuh Dylan. Jangan marah!”


Dylan bergeming ketika Luna melingkarkan kedua tangan di pinggangnya.


“Maafkan aku... ini juga bukan mauku, aku nggak bisa pergi saat itu. Pak Arjun menghalangi jalanku untuk pergi.”


Emosi menyelimuti Dylan. Sebelah tangannya menggepal karena kesal. Lelaki ini tidak membalas pelukan sang istri.


“Besok aku akan datang ke kantormu,” ucap Dylan berhasil membuat Luna menengadahkan kepala.


“Jangan membuat keributan!” Luna berhenti menangis, “bukannya besok kamu juga harus ke rumah sakit?”


“Tapi jangan membuat keributan! aku nggak mau kamu berkelahi sama Pak Arjun.”


“Lihat saja besok.” Dylan melepaskan pelukan Luna, “sana pergi mandi! Aku mau tidur.”


Luna meratapi Dylan yang kembali berbaring di kasur dengan posisi tubuh membelakanginya.


•••


Luna berlari keluar dari kamar menuju kamar mandi. Dylan yang ada di ruang makan bersama Rania menoleh ketika wanita itu melintas.


“Luna sarapan dulu sebelum berangkat!”


Bukan mendapat jawaban dari menantunya itu, Luna malah membalas dengan suara muntahan.


“Istrimu kenapa itu?” tanya Rania menunjuk ke pintu kamar mandi.


Dylan bersama ibunya segera mendekat ke depan kamar mandi. Pria ini mengetuk pintu beberapa kali.

__ADS_1


“Sayang, kamu nggak apa-apa?”


Seperkian detik Luna kembali keluar dengan keadaan yang lemas. Ia menatap sendu ke arah suami dan mertuanya.


“Aku mual dan kepalaku juga pusing. Sepertinya aku demam. Aku izin nggak ke kantor dulu deh.” Luna menggenggam sebelah tangan Dylan, “besok saja ya kita selesaikan itu.”


“Apa jangan-jangan kamu hamil ya sayang?”


Luna dan Dylan bersamaan menoleh ke arah Rania, sedangkan wanita paruh baya itu tersenyum karena senang mendapatkan cucu.


“Coba deh kalian perikakan ke dokter.”


Kali ini Dylan dan Luna yang saling tatap. Pria itu menarik tangan yang masih istrinya genggam.


“Aku mau bicara sama kamu.” Dylan lebih dulu jalan keluar dari dapur.


Rania jadi bingung ada apa dengan anaknya yang terlihat tidak senang saat istri hamil. Apa ini ada hubungannya dengan pendengaran Rania semalam. Ia seperti mendengar Luna menangis. Namun, terlupa akan menanyakan itu.


Luna terlihat murung. Padahal baru saja dia tampak bahagia karena kemungkinan mempunyai momongan, tetapi melihat raut wajah sang suami membuat wanita ini cemas.


“Aku ke kamar dulu, Bu.” Izin Luna yang melangkah pergi menyusul Dylan.


Luna menutup pintu kamar setelah ada di dalam. Diam-diam Rania menguping karena penasaran dengan permasalah pasangan suami-istri itu.


“Aku bukannya mau curiga sama kamu, tapi ini kenapa bisa kebetulan. Kemarin lelaki bernama Arjun itu mencium lehermu. Sekarang ada kemungkinan kamu hamil. Apa calon bayi di perutmu anak laki-laki itu?”


Sebagai istri dari Dylan, Luna tidak percaya kalau suaminya bisa menuduh sekejam itu.


“Mana mungkin karena dicium aku bisa hamil dari laki-laki lain. Kalau aku benar hamil ini pasti anak kamu, bukan anak dari pria lain.”


“Aku bukan laki-laki bodoh Luna. Bisa saja kalian berhubungan sudah lama tanpa aku tahu.”


Luna menangis mendengar Dylan tidak mempercayainya, “Aku sudah jelaskan kemarin mengapa Pak Arjun bisa melakukan itu. Kamu masih nggak percaya?”


“Bisa saja kamu membohongi aku. Aku kesepian terus cari pelampiasan?”


Dylan mengambil tas kerja yang sudah siap di atas kasur, “Nanti kita bicara lagi. Aku harus ke rumah sakit.”


Pria ini melangkah pergi meninggalkan Luna yang menangis. Dylan sempat terkejut mendapati Rania di depan pintu. Namun, lelaki itu tidak mempermasalahkan dan melanjutkan langkah setelah mencium punggung tangan ibunya ini.


Rania bergegas masuk ke kamar. Duduk di sebelah Luna yang masih menangis. Bahkan tangisnya lebih keras dari sebelumnya. Rania memeluk Luna serta berusaha menenangkan.

__ADS_1


•••


__ADS_2