
Rania yang saat itu sedang ada di warung mengemasi barang sesudah berjualan, segera keluar dan menemui Dylan yang baru saja datang. Namun, langkah Rania terhenti saat Arjun masuk ke halaman rumahnya.
“Luna mana, Bu?” tanya Dylan setelah mencium punggung tangan sang ibu.
“Ada di dalam sedang menonton.” Rania menunjuk Arjun, “Ini siapa?”
“Ini laki-laki yang mencium Luna, Bu.” Dylan mengenalkan dengan santai.
Wanita ini tersentak dan refleks melayangkan sebelah tangan ke pipi Arjun. Lelaki itu hanya memegangi pipinya yang terasa panas setelah tertampar. Ia pasrah karena perbuatannya memang salah.
“Jadi kamu yang sudah membuat anak saya dan istrinya menjadi bertengkar. Kamu tahu nggak Luna sedih karena perbuatan busukmu itu.”
Rania meluapkan kekesalannya, sedangkan Dylan membiarkan ibunya itu memarahi Arjun.
“Kenapa kamu membawanya ke sini?” tanya Rania yang kini menatap Dylan.
“Dia sudah menjelaskan semua pada aku, Bu. Sekarang aku mau mempertemukan dia sama Luna. Agar masalah ini cepat selesai.”
Rania melirik sinis Arjun, “Ayo masuk!” ajaknya setelah itu membukakan pintu, lalu masuk lebih dulu.
Luna menoleh ketika Rania sudah kembali. Wanita yang sedang menikmati acara televisi lekas berdiri melihat Dylan yang diikuti Arjun dari belakang. Luna berjalan cepat ke belakang suaminya. Ia bersembunyi dengan memeluk lengan Dylan.
“Kenapa Pak Arjun ada di sini?” tanya Luna menatap Arjun takut.
__ADS_1
“Saya ke sini mau meminta maaf sama kamu.” Arjun melirik Dylan sebentar, “suami kamu sudah menceritakan semua. Maaf ya membuat kalian jadi bertengkar.”
“Sini duduk!” Luna menegadahkan kepala saat Dylan melepaskan tangan istrinya ini dari lengan dan membawa wanita itu untuk duduk bersamanya, “Coba kamu jelaskan lagi kejadiannya pada Pak Arjun. Dia melupakan itu karena mabuk.”
Mereka berempat berkumpul di ruang tamu. Untungnya Luna mau menceritakan kejadian malam itu. Arjun ikut terkejut karena ingatannya saat mabuk hanya samar-samar. Sekaligus Arjun juga malu ketika Luna memberitahu kalau lelaki itu mengungkapkan perasaannya. Luna pikir ini tidak perlu disembunyikan dari pada menjadi bumerang lagi untuk rumah tangganya.
“Saya benar-benar meminta maaf. Ini akibat saya terlalu susah untuk menahan perasaan. Hingga semuanya malah jadi begini. Saya serius sudah mencoba melupakan perasaan saya ke Luna karena saya tahu diri dengan posisi ini.” Arjun menatap Dylan dan Rania bergantian, “tapi saya berkata jujur kalau nggak sama sekali berhubungan gelap sama Luna. Hanya sebatas kesalahan kemarin saja.”
“Saya pun paham Nak Arjun, kalau perasaan memang susah untuk diatur jatuh ke siapa, tapi Luna sudah memiliki suami. Kalau Anda nggak keberatan tolong jauhi Luna,” ucap Rania menanggapi perkataan manajer itu.
“Lebih baik Luna saja mengundurkan diri, Bu.” Rania dan Arjun bersamaan melihat ke arah Dylan, “lagi pula Luna lagi hamil. Dia butuh istirahat yang banyak dan itu juga bisa membantu Anda melupakan istri saya.” Lelaki yang duduk di sebelah Luna ini menatap Arjun sangat tajam.
“Kalau keputusannya begitu saya juga nggak masalah. Yang terbaik saja buat kita bersama. Sekali lagi saya minta maaf.”
“Nggak usah, Bu.” Arjun berdiri, “saya izin pamit pulang, permisi.” Lelaki ini menunduk sesaat, setelahnya dia melangkah keluar rumah.
•••
Air hangat dituangkan ke dalam gelas berisi susu. Dylan mengaduk campuran susu dan air itu dengan perlahan, setelah itu meletakkan sendok kotor ke wastafel. Lelaki ini berjalan keluar dari dapur membawa segelas susu menuju kamar.
Dylan membuka pintu perlahan dan melihat Luna duduk bersandar di kepala ranjang sembari memainkan ponsel. Luna bergegas menyimpan benda pipi itu di sampingnya.
Wanita ini tersenyum ke arah Dylan walau laki-laki itu tetap menatap datar padanya.
__ADS_1
“Minum susu dulu sebelum tidur!” Dylan memberikan gelas yang dia bawa ke depan Luna. Sesudah gelas diambil oleh sang istri, Dylan duduk di tepi ranjang. Pria ini menatap Luna dengan raut muka sedih, “aku sekalian mau minta maaf. Maaf sudah nggak percaya sama kamu. Aku terlalu emosi sampai nggak berpikir panjang lagi.”
Kedua sudut bibir Luna perlahan tertarik membentuk sebuah senyuman. Ia bergeser lebih dekat ke Dylan dan menyandarkan kepala ke dada sang suami.
“Aku sudah maafkan. Kamu percaya saja sekarang sama aku, aku sudah senang.” Luna menghela napas, “maaf, aku juga terlalu ceroboh malam itu. Aku cuma nggak sangka Pak Arjun yang tampak baik bisa begitu.”
“Terima kasih sudah memaafkan aku. Iya aku sudah paham. Kamu hanya terlalu polos dan baik sampai kamu pikir semua orang itu sama seperti kamu.”
Dylan memeluk Luna dengan erat. Mengikis jarak antara mereka dan menyalurkan rasa rindu karena jarangnya bertemu.
Luna menarik kepala lagi. Menengadahkan kepala menatap Dylan dan mengakibatkan pelukan mereka sedikit merenggang.
Wanita di hadapan Dylan ini mengulurkan tangan, lalu mengusap sebelah pipi Dylan sembari memperlihatkan senyum indahnya.
“Sekarang kamu sudah yakin ‘kan kalau anak di perutku ini.” Luna menunduk sembari mengelus perut sendiri, “anak kamu?”
Dylan ikut menunduk meratapi perut datar istrinya. Ia mengusap mata yang berair. Pria ini sangat menyesal sudah tidak mengakui kalau itu anaknya sendiri.
Dylan perlahan turun dari ranjang dan berlutut di depan Luna. Ia elus-elus perut sang istri dengan lembut. Dia juga mengecup perut datar itu sekilas, kemudian menempelkan pipi dan memeluk pinggang Luna.
“Anakmu pasti paham kok kalau ayahnya cemburu.” Luna mengusap-usap rambut suaminya, “kalau kamu cemburu itu tanda yang bagus sayang. Berarti kamu sangat cinta sama aku. Ah, aku jadi nggak percaya kamu bisa secinta ini.” Wanita ini terkikik geli.
•••
__ADS_1