
Masih banyak pertanyaan yang ada di kepala Alexa setelah kejadian satu jam lalu. Gadis itu berjalan menyusuri rumah untuk mencari ibunya. Ia bertemu oleh Alika di taman belakang. Ternyata wanita itu sedang menangis.
Perlahan Alexa mendekati dan duduk di sebelah wanita yang melahirkannya ini.
“Mommy!” panggilan sang anak membuat Alika menoleh dan mengusap pipi yang basah.
“Ada apa?”
“Ada yang masih ingin aku tanyakan.”
“Tanya apa? Kalau tentang hubunganmu sama Dylan, Mommy sudah nggak tahu harus berbuat apa. Mommy sudah berusaha demi membuatmu bahagia.”
Alexa menggelengkan kepala, “Bukan itu.”
“Lalu?”
“Kalau aku bukan anak kandung Daddy, terus aku anak siapa Mommy? Jangan bilang aku cuma anak angkat?” mata Alexa mulai berkaca-kaca.
“Kamu anak Mommy.” Alika menepuk dada, “anak kandung Mommy.”
“Terus siapa Daddy kandung aku?”
“Itu nggak penting, Nak. Terpenting Daddy Arga sangat menyayangimu seperti anak kandungnya.”
Alexa sudah menangis, “Itu penting banget, Mom. Aku harus tahu siapa Daddy kandungku. Mengapa dia meninggalkanku? Kenapa dia nggak hidup dengan Mommy dan aku? Seperti Daddy Arga. Jawab Mom!”
Alika mengusap-usap pundak anak anak. Ia juga tertegun. Tidak tahu harus berkata jujur atau tidak pada Alexa.
“Mommy kenapa diam saja? Jawab Mommy! Aku harus tahu siapa dan di mana Daddy-ku.”
“Setelah mendengar ini kamu nggak boleh marah!”
Alexa mengangguk cepat. Dia sampai tak berkedip menatap Alika.
“Dulu Mommy dan Daddy-mu itu adalah sepasang kekasih. Namun, lelaki itu meninggalkan Mommy setelah Mommy hamil. Di saat itu Kakekmu yang sebagai orang tua tunggal Mommy jadi pusing memikirkan nasib putrinya. Nama baik keluarga pun terancam. Ini memang kebodohan Mommy yang gampang sekali terhasut lelaki bejat itu.” Alika kembali menatap sepasang mata anaknya, “Daddy Arga saat itu adalah pekerja di peternakan Kakek. Dia ditawarkan Kakek untuk membantunya menyelesaikan masalah. Kami juga awalnya tidak tahu kalau dia masih beristri. Dia mengaku kalau saat itu adalah duda tanpa anak. Akhirnya, kami menikah dan menganggap kamu adalah anak dari Daddy Arga. Sampai sekarang pun Mommy nggak tahu di mana keberadaan ayah biologismu.”
Alexa tertunduk, salah satu tangan meremas bangku yang dia duduki, dn air mata masih mengalir di pipinya. Alika bergeser mendekat ke sang putri. Ia memeluk Alexa untuk menyalurkan rasa kasih sayangnya.
“Sudahlah, kita nggak usah memikirkan Daddy kandungmu. Sekarang kita sudah bahagia tanpa dia.”
•••
“Saat itu Ayah hanya memikirkan diri sendiri. Hingga meninggalkanmu dan Ibumu begitu saja.”
“Maafkan Ayah, Dylan!”
“Dia hamil di luar nikah dan Ayah harus menikahinya. Ayah pikir itu kesempatan untuk menjadi kaya seperti impian Ayah.”
__ADS_1
“Maafkan Ayah!”
Penjelasan Arga dari yang dulu hingga terbaru terus terngiang di telinga Dylan. Lelaki itu menggepalkan tangan di atas kasur. Sepasang matanya menatap ke depan penuh amarah.
“Pria itu sudah banyak berbohong.”
Ketukan pintu membuat Dylan menoleh. Kebetulan pintu kamar memang sengaja dia buka. Pemuda ini sedikit tersenyum saat melihat Rania sudah datang dengan membawa tas dan koper.
“Sudah siap?” tanya Rania disertai senyum manis yang selalu membuat hati Dylan tenang.
“Sudah, Bu.”
“Ayo kita berangkat!”
Dylan, lantas berdiri dan menggeret koper keluar dari kamar. Mereka memutuskan untuk pergi juga malam itu. Rania menuruti permintaan sang anak untuk pindah saja kembali ke kontrakan.
Ketika sampai di lantai dasar langkah kedua orang ini terhenti karena tiba-tiba Arga datang menggunakan kursi roda.
“Rania, Dylan, saya mohon jangan tinggalkan rumah ini. Ini adalah rumah kalian juga,” ucap pria itu mencoba membujuk anak dan ibu ini.
Dylan menggeleng, “Ini bukan rumah kami, Yah. Ini adalah rumah Tante Alika. Aku sudah diusir sama beliau untuk apa aku masih di sini.”
Arga menggayuh roda dengan tangan untuk mendekat ke depan Dylan. Pria itu menggenggam sebelah tangan anak laki-lakinya.
“Jangan tinggalkan Ayah, Nak! Ayahmu ini sudah sakit-sakitan mungkin umurnya nggak lama lagi.”
“Kamu masih marah ya sama Ayah? Maafkan Ayah, Nak! Tetaplah tinggal!” Arga menangis dengan memeluk pinggang Dylan.
Dylan melihat ke arah lain. Mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh ke pipi. Lelaki itu melepaskan pelukan Arga.
“Aku nggak bisa mengubah keputusan ini.”
Rania mengeluarga amplop dari tas pakai, “Mas ini saya bayar uangmu yang dulu sempat dipakai untuk menyewa kontrakkan.”
Arga mendorong balik amplop coklat itu, “Jangan dikembalikan Rania. Sudah ambil saja untuk kalian melanjutkan hidup atau dibuat ke usaha. Saya ikhlas. Jangan buat saya tambah merasa bersalah!”
Air mata Arga masih bercucuran. Rania jadi tidak tega melihat mantan suaminya.
“Baiklah, terima kasih banyak, Mas. Kamu sudah baik sama kami sekarang.”
“Ini belum seberapa Rania. Salah saya justru belum bisa terbayar.” Arga menjabatkan tangan, “maafkan saya Rania.”
“Saya sudah lama memaafkan kamu, Mas.” Rania menarik tangannya kembali.
“Ayo, Bu. Nanti kita kemalaman samapai di rumah,” ajak Dylan menarik koper lagi.
Rania menyimpan uangnya dan mengangguk saat sang anak mengajak. Wanita itu berjalan menyusul Dylan.
__ADS_1
“Dylan!”
Teriakan Alexa yang baru datang dari taman belakang membuat Dylan menghentikan langkah lagi. Gadis itu berlari dan langsung memeluknya sampai tubuh lelaki ini limbung.
Dylan mendorong Alexa hingga pelukkan mereka terlepas.
“Kamu mau ke mana sama Ibu?”
Dylan menoleh pada Rania sebelum menjawab, “Pergi dari rumah ini dan tinggal seperti dulu.”
Alexa panik, “Nggak boleh! Kalian tinggal di sini saja.”
Pemuda ini tidak mengacuhkan perkataan Alexa. Dylan dan Rania terus berjalan menghampiri taksi yang sedari tadi sudah menunggu. Setelah semua masuk ke dalam mobil. Kedua orang itu pun segera menaiki kendaraan roda empat ini. Taksi pun berjalan meninggalkan lingkup rumah mewah itu.
Alexa dan Arga hanya bisa meratapi kepergian anak serta ibu di depan teras rumahnya. Sedangkan Alika mengintip dari balik jendela.
•••
Tiga kali bel rumah Dylan tekan barulah sang empunya membukakan pintunya.
“Selamat Pagi, Tante!” sapa Dylan dengan ramah pada Sinta.
“Pagi Dylan.” Sinta tersenyum kecut, “mau mencari Luna ya?”
Dylan mengangguk, “Iya Tante, Lunanya belum pergi ke kampus ‘kan?”
“Luna ada di kamar, tapi dia nggak mau bertemu kamu. Maaf, ya.” Dylan seketika lesu, “semalaman Luna juga nggak mau makan. Dia mengurung diri di kamar. Kalian bertengkar?”
“Hanya salam paham, Tante.” Dylan melihat ke paper bag yang ada di tangan. Dia mengulurkan paper bag ke arah Sinta, “ini dari Ibu untuk Tante. Selamat ulang tahun katanya.”
Sinta memerima hadiah kecil yang Dylan bawakan, “Wah, ibu kamu repot-repot. Bilang terima kasih ya ke ibumu!”
Dylan tersenyum tipis sembari menganggukkan kepala.
“Kalau begitu aku permisi, Tante. Mau ke kampus dulu.”
Dylan melihat-lihat ke atas saat melangkah menuju motornya. Namun, dia tidak menangkap sosok Luna.
“Oh iya, hati-hati Dylan bawa motornya!”
Dylan mengangguk lagi, “Iya Tante.”
Pemuda itu lekas menaiki motor kesayangannya yang terpakir di halaman rumah. Setelah memakai helm dan menghidupkan mesin Dylan, lantas meninggalkan rumah Luna.
Luna yang mengintip dari balkon atas cepat berlari menuju kamar kembali setelah mendengar Sinta menutup pintu. Wanita paruh baya itu juga terkejut mendengar pintu kamar Luna tertutup keras.
•••
__ADS_1