Housemate

Housemate
Sedikit Keributan di Perpustakaan


__ADS_3

Kalau diingat-ingat kejadian beberapa jam lalu Dylan masih saja malu. Semua teman sekelas melihat aneh pada dirinya. Bagaimana tidak secara Luna itu sudah terkenal seantero kampus dan Dylan berdekatan dengannya.


Dylan menghela napas dari balik buku yang sedang dia baca, “Gue harus bisa menjauh dari tuh cewek.”


“Woi!”


Seseorang menepuk bahu Dylan hingga pemuda itu tersentak dan menjatuhkan buku ke meja. Ia lekas menoleh. Javier dan Kendro tersenyum padanya.


“Kalian.”


Javier menarik kursi dan ikut duduk. Begitupun dengan Kendro. Dylan ada di antara mereka berdua sekarang.


“Gue sama Kendro cari lo ke mana-mana tahunya nongkrong di perpustakaan lagi,” keluh Javier menceritakan apa yang dia lakukan bersama Kendro.


“Kenapa nggak telepon saja?”


“Nggak aktif nomor lo, bodoh!” sambar Kendro yang menopang dagu.


Dylan menepuk dahi, “Oh iya, sorry masih gue nonaktifkan.”


Lelaki itu tertawa karena kebodohannya sendiri. Ia lekas merogoh ransel dan mengambil handphone yang terakhir kali dia simpan di sana.


“Gue mau nanya deh,” ucap Kendro berbicara lagi dengan suara dikecilkan. Ketika memasuki perpustakaan semua orang dilarang berisik.


Dylan menyimpan handphone yang telah menyala ke dalam saku celana, “Mau tanya apa?”


“Itu yang tadi pagi si Luna ‘kan? Cewek yang ada di video viral itu? Kok lo bisa seakrab itu tadi?” Kendro menyerbu dengan banyak pertanyaan.


“Iya.” Tiba-tiba Javier ikut bersuara, “tadi pagi lo ngobrolin apa sama dia? Kelihatan serius sekali.”


“Kalian kalau nanya itu satu-satu dong. Gue bingung harus jawab yang mana.”


“Jawab saja dulu yang pertama,” balas Kendro.


“Gue sama dia nggak ada hubungan apa-apa. Sudahkan, jangan dikira pacaran lagi.”


“Kalau soal ngobrol tadi pagi?” sambung Javier yang masih saja mendesak.


“E... e... itu...” Dylan mencoba memfokuskan mata ke arah buku yang dia pegang sekarang.


“Kalian di sini juga?”


Pertanyaan dari seseorang yang ada di belakang membuat ketiga lelaki ini menoleh.

__ADS_1


“Alexa?” Dylan bisa bernapas lega. Kali ini kedatangan Alexa membuatnya senang.


“Halo Dylan, Ken, Vier.” Alexa melambaikan tangan dan tersenyum ramah.


“Hai, Sa. Sendirian saja?” tanya Javier berbasa-basi.


“Iya, aku lagi pinjam buku.” Alexa menunjuk kursi di depan Dylan, “boleh aku duduk di sana?”


Kendro menoleh ke kursi, lalu melihat lagi ke arah Alexa, “Duduk saja kali, Sa. Kosong juga kursinya.”


Alexandra tersenyum dan itu membuat dirinya cantik berkali-kali lipat. Javier dan Kendro sampai terpukau melihatnya.


Dylan kembali fokus ke buku. Ia bersyukur Javier dan Kendro sudah melupakan pertanyaan mereka.


“Lan, kamu masih ikut UKM Jurnalistik?” tanya Alexa yang sudah duduk berhadapan dengan pemuda ini.


“Masih.”


“Aku pengin pindah UKM saja,” ucap Alexa sambil membuka lembaran buku yang sebelumnya dia peluk.


“Kenapa?” tanya Javier, “bukannya lo ikut UKM PMR?”


“Capek ikut PMR itu. Bisa ‘kan aku pindah ke jurnalistik, Lan?” tanya Alexa yang mendapat lirikan lelaki di depannya ini.


“Yah, kok nggak bisa.” Alexa menekuk wajah karena kecewa.


Dylan sudah kembali menatap buku di tangan. Ia tidak peduli dengan gadis itu. Kalau bisa Alexa tidak mengikuti di mana dia berada. Dylan memang berbeda dari lelaki lain. Dimana mahasiswa menggilai paras cantik dan etitut baik Alexandra untuk dijadikan pacar. Ia tidak sama sekali tertarik akan hal itu.


Sekeras apa pun usaha orang diluar sana untuk mendapatkan hati seorang Alexandra itu akan percuma karena perasaan gadis itu sudah terpatri ke Dylan. Ia sangat cinta pada lelaki ini dan akan berusaha mendapatkannya segera.


“Kenapa nggak ikut taekwondo saja sama gue,” tawar Javier.


“Nggak mau, taekwondo itu sama capeknya. Bahkan lebih capek. Aku ‘kan sedang mencari UKM yang bisa dibawa santai.”


Kendro yang menidurkan kepala di meja menguap terlebih dulu baru ikut bergabung dalam pembicaraan, “Bilang saja lo mau dekat-dekat sohib gue ‘kan?”


Dylan menoleh ke Kendro, lalu beralih melihat Alexa. Gadis dengan rambut panjang terurai ini menunduk malu. Sahabat Dylan berhasil menebak perasaannya.


“Alexa lo di sini juga?”


Pertanyaan itu berhasil membuat ketiga orang yang sedang mengobrol ringan ini mendongakkan kepala untuk menatap orang itu. Kecuali Kendro yang memejamkan mata dengan tangan sebagai alas kepalanya.


“Iya, ini lagi ngobrol sama Dylan dan teman-temannya. Ada apa Brian?” Alexa berbicara dengan lembut.

__ADS_1


Brian melirik Dylan yang sudah kembali membaca. Beberapa orang yang suka dengan Alexa memang sudah tahu kalau gadis itu ada rasa dengan Dylan dan sedang berusaha mendekati pemuda itu. Sedangkan Brian, dia tidak suka Alexa dekat dengan laki-laki lain.


“Hari ini sibuk nggak?”


Alexa mencoba mengingat-ingat jadwalnya, “Cuma sepulang kuliah aku ingin menemui sepupuku di ruang jurnalistik. Ada keperluan mendesak?”


“Gue cuma mau ajak lo makan siang bersama. Omong-omong kenapa lo mau bertemu sepupu lo itu?”


“Oh itu, aku ingin pindah UKM ke jurnalistik siapa tahu sepupuku bisa bantu. Maaf, aku nggak bisa ikut makan siang bersamamu. Lain kali saja ya.” Gadis ini mengakhiri bicara dengan tersenyum.


“Iya nggak masalah. Lain kali kita bisa antur jadwal lagi.” Brian mencoba untuk ikut tersenyum. Walaupun sebenarnya dia kesal sekali terus ditolak oleh Alexa, “gue boleh kasih saran?”


“Apa itu?”


“Lo jangan sering-sering bergaul dengan mereka.” Brian menunjuk Dylan dan kawan-kawan, “mereka memberi dampak buruk ke lo.”


Dylan melirik Brian. Ia baru sadar orang di depannya itu ternyata cowok yang pernah Luna tembak. Dia tidak habis pikir dengan Luna yang bisa jatuh hati pada cowok yang tampangnya kayak preman pasar itu.


“Jaga ya bacot lo!” Javier mengeraskan suara hingga beberapa orang menoleh ke arah mereka.


“Memang iya ‘kan. Kalian membawa dampak buruk ke my princess.”


“Sialan!” Javier mengumpat dan ingin berdiri. Namun, tangan Dylan menghalangi pergerakannya.


Sahabatnya itu menggeleng, “Jangan buat keributan di sini!"


Javier berhasil ditenangkan. Dylan menatap Brian tajam. Begitupun sebaliknya. Dylan menyimpan buku ke dalam ransel, lalu memakai ransel itu ke kedua pundak.


“Ayo pergi dari sini!” Dylan berdiri besamaan dengan Javier, “Ken bangun! Ayo kita pergi!”


Tidak lupa ia membangunkan Kendro yang terlelap di meja. Kendro nampak bingung memandangi Brian, tetapi dia tetap mengikuti intruksi Dylan.


“Apa-apaan sih kamu? Mereka jadi pergi ‘kan!” ujar Alexa yang kesal dengan tindakan Brian.


“Alexa gue hanya menjauhi lo dari pengaruh buruk.”


“Mereka itu teman-teman aku. Mereka nggak memberi pengaruh buruk. Bahkan sebaliknya, mereka selalu memberikan pengaruh positif terhadap aku.” Alexa berdiri dan mendorong Brian yang menghalangi jalan, “awas! Aku kesal sama kamu.”


Gadis itu meraih buku yang ada di atas meja, lalu berlari kecil menyusul Dylan keluar dari perpustakaan.


“Awas lo!” Brian menggepalkan salah satu tangan. Ia sedang mencoba menahan emosinya terhadap Dylan.


•••

__ADS_1


__ADS_2