Housemate

Housemate
Dylan Datang Menjenguk


__ADS_3

Dylan meletakkan bubur yang dia beli sebelum berkunjung ke rumah Luna di atas meja. Ia lantas duduk setelah Sinta mempersilakan.


“Maafkan aku, Tante. Gara-gara aku Luna ikut jatuh dari motor.”


Sinta tersenyum tipis, “Nggak apa-apa. Luna sudah menjelaskan semuanya tadi malam. Ini bukan salahmu. Kamu juga ikut terjatuh ‘kan?”


“Tetap saja Tante, ini salah aku. Harusnya aku jaga Luna bukan celakai dia.”


“Ya sudah, lagi pula Luna nggak terluka parah. Hanya saja sekarang dia sedang demam. Nggak bisa pergi ke kampus.”


“Aku tahu Tante. Tadi Luna menelepon dan menyusuruh aku datang.”


“Anak itu merepotkan orang saja.” Sinta menggerutu, “maafkan Luna ya sudah bikin kamu nggak bisa ke kampus.”


“Nggak kok, Tante. Aku memang sedang libur.” Dylan menunjuk ke atas, “boleh saya melihat Luna?”


“Boleh, silakan!”


Dylan mengangguk dan segera berdiri, lalu melangkah menuju lantai dua. Ketika pintu terbuka lelaki ini dengan jelas melihat Luna berbaring dengan selimut tebal menutupi tubuhnya.


Pemuda itu lantas masuk ke dalam kamar bercat biru muda ini. Ia mendekati ranjang Luna dan duduk di pinggir kasur. Dylan hanya memperhatikan gadis yang memejamkan matanya itu.


“Gue nggak apa-apa. Biasa saja kali lihatnya.”


Saat menyadari kalau Luna memperhatikan dirinya juga. Dylan segera membuang muka.


“Nggak ada yang lihatin lo.”


Luna tertawa pelan, “Sudah ketahuan nggak ngaku lagi. Bagaimana keadaan lo?”


Dylan kembali menoleh pada gadis itu.


“Harusnya gue yang bertanya seperti itu. Bagaimana keadaan lo?” Dylan menyentuh dahi Luna, “kata Tante lo demam?”


“Memang demam, sepertinya karena tubuh gue berasa sakit semua.”


“Itu artinya lo harus dipijat. Agar kalau ada yang keseleo cepat membaiknya.”


Gadis dengan wajah pucat itu menggeleng cepat, “Nggak mau. Nanti badan gue tambah sakit.”


“Biar cepat sembuh.”

__ADS_1


“Ada lo di sini saja gue yakin gue bakal cepat sembuh.”


Dylan menghela napas dan membuang muka lagi.


Ketukan yang datang dari pintu kamar Luna membuat kedua orang yang ada di dalamnya menoleh.


“Maaf mengganggu.” Sinta masuk begitu saja karena pintu memang dibiarkan terbuka, “mama datang cuma mengantarkan sarapan untuk Luna.”


Wanita paruh baya itu meletakkan nampan berisi susu dan bubur di atas nakas samping ranjang.


“Habiskan ya Luna. Itu bubur dari Dylan.” Sinta tersenyum dengan kembali berdiri tegak.


Luna juga menguntai senyum sembari menatap Dylan yang mengalihkan pandangan. Kemudian Luna mengangguk menatap ibunya.


“Luna pasti akan habiskan, Ma.”


“Pintar.” Sinta mengusap kepala putrinya, “Mama tinggal dulu.”


“Gue mau makan buburnya, lapar.” Dylan menoleh saat Luna berkata begitu, “suapin dong.”


“Iya, gue suapin.”


Luna tersenyum lebar sampai gigi terlihat. Karena sangat senang gadis ini berpegangan dengan kedua tangan Dylan untuk bangun. Namun, ulahnya membuat lelaki itu merintih kesakitan sambari memegang lengan kiri.


Luna membenarkan posisi duduknya. Ia memegang tangan Dylan yang terluka itu.


“Ternyata jatuh kemarin lo juga cidera?”


“Sedikit. Sudah diperiksa ke dokter. Katanya, nggak apa-apa.”


“Maaf kepegang. Gue tadi—“


“Nggak apa-apa.” Dylan mendahului ucapan Luna hingga gadis itu terdiam.


Dylan meraih mangkuk bubur. Kemudian mulai memang sendok dan akan menyuapi Luna.


“Sekarang makan dulu. Biar bisa minum obat. Jangan sampai demam lo itu tambah parah.” Lelaki ini mengulurkan sendok. Luna dengan senang hati melahap bubur itu.


•••


“Pelayan!”

__ADS_1


Wanita yang dipanggil itu menoleh. Kebetulan hanya dia yang ada di sana. Ia berhenti mengelap meja bekas pelanggan sebelumnya.


Rania segera mendekati Koki yang memanggil dan menunda sementara tugasnya itu.


“Antarkan ini ke meja nomor 12!” Koki itu memberikan nampan berisi pesanan.


Rania mengangguk, “Baik Chef.”


Wanita berseragam pelayan itu lantas mengangkat nampan berisi pesanan pelanggan. Ia mengahampiri meja tujuannya dan menata makanan di sana.


Pelanggan wanita yang ada di meja nomor 12 ini sedari tadi sibuk memperhatikan Rania.


“Ada yang salah dengan penampilan saya, Bu?” tanya Rania yang mengetahui kalau orang itu sedari tadi melihat ke arahnya.


Wanita dengan gaya trendi ini menggeleng, “Nggak, Bu. Saya kira saya mengenal Ibu. Ibu mirip orang yang saya kenal.”


Rania menunduk malu, “Saya nggak mengenal Ibu.”


“Iya, saya salah orang, Bu. Maaf.”


“Baiklah, silakan dinikmati, Bu. Saya permisi ke belakang. Kalau butuh bantuan bisa panggil saya atau pelayan yang lain.”


Pelanggan ini mengangguk dengan tersenyum manis. Setelah Rania pergi wanita ini mengeluarkan handphone dari tasnya.


Ia menekan nomor tujuan dan menempelkan ponsel ke telinga.


“Halo, Mas. Saya melihatnya ada di Delicious restoran.”


“...”


“Saya yakin nggak salah lihat. Dia bekerja sebagai pelayan di sini.”


“...”


“Baik, saya akan cari tahu di mana tempat tinggalnya.”


Wanita bersanggul ini menyimpan kembali ponsel setelah selesai berkomunikasi dengan orang di seberang sana.


•••


Note:

__ADS_1


Tolong di vote yang banyak ya 🙏🏻 terima kasih ❤


__ADS_2