
Rania memasukkan kotak bekal ke dalam ransel sang anak. Sekarang mereka menetap dikontrakan lama. Bersyukurnya walau sudah masa kontrak habis mereka masih bisa perpanjang karena belum ada penghuni baru.
“Dy, itu bekalnya Ibu masukan ke tas!” teriak Rania di ruang depan.
Dylan keluar kamar sembari memasang almamater kampusnya. Ia melangkah menghampiri Rania.
“Nggak usah dibekalin kali, Bu. Aku ‘kan sebulanan di sana. Pasti juga di kasih makan pagi, siang, dan malam.”
“Nggak apa-apa, itu bekal bukan cuma makanan, tapi ada vitamin dan obat-obatan.” Rania merapikan kerah jaket anaknya, “ingat jangan telat makan! Jangan makan sembarangan!”
Lelaki yang lebih tinggi dari Rania ini mengangguk, “Iya, Bu. Ibu juga jaga diri baik-baik. Apa lagi tinggal sendiri. Kalau kesepian ajak saja teman perempuan Ibu menginap di sini. Di restoran Ibu punya sahabat?”
Rania tertawa mendengar pertanyaan Dylan, “Kamu ada-ada saja. Ibu bisa jaga diri. Kamu tuh, di sana lakukan tugas dengan benar agar cepat lulus.”
“Siap, Bu Bos.” Dylan mengambil tas miliknya, “aku berangkat ya, Bu.”
Rania mengangguk dan memberikan tangan kanan untuk Dylan salami, “Hati-hati di jalan.”
Pemuda ini pergi menaiki angkutan umum ke kampusnya. Karena hari ini Dylan serta teman-temannya akan berangkat untuk menuntaskan tugas KKN. Belum juga berhasil mendapatkan maaf dari Luna, lelaki itu harus berpisah lama dengan sang gadis. Semoga satu bulan tidak mengubah perasaan Luna padanya. Hanya itu harapan Dylan.
Di tempat lain Luna juga sama akan melaksanakan tugas yang diberikan oleh pihak kampus. Namun, dengan tujuan berbeda.
“Luna ayo masuk sudah selesai belum?” tanya Elina yang mendatangi Luna di bagasi Bus. Luna sedari tadi belum selesai juga meletakkan kopernya.
“Iya-iya ini sedikit lagi.” Luna kembali menyimpan kotak musik pemberian Dylan ke dalam koper, “Pak jangan tindih koper saya. Ada harta berharga.” Ia menitipkan pada Bapak sopir yang sedang bertugas menyusun barang para mahasiswa.
“Siap, Neng. Saya letakkan di paling depan.”
“Sip!” Luna mengacungkan jempol.
“Sudahkan?” Luna mengangguk, “ayo masuk bus!”
Elina menggandeng sahabatnya itu untuk memasuki bus dan memilih kursi yang akan mereka tempati.
•••
Sebulan kemudian...
“Kangen banget sama Mama.” Luna memeluk Sinta saat sudah tiba di rumah.
Wardana yang mengangkat koper masuk ke dalam rumah tersenyum melihat adegan itu. Pria ini habis menyusul anaknya di kampus.
“Masa sih?” goda Sinta yang membalas pelukan anaknya.
__ADS_1
Luna melepas pelukan, ”Iya benar, Ma. Habisnya makanan di sana nggak seenak masakan Mama.”
“Masakan Mamamu emang top!” sahut Wardana memberikan jempol sembari melintasi kedua perempuan itu.
“Nah, benar kata Papa. Masakan Mama top.” Luna ikut mengacungkan dua jempol.
Sinta tertawa, “Ya sudah sana beres-beres dulu. Nanti turun untuk makan!”
“Siap! Luna mandi dulu, Ma.” Luna berlari menuju anak tangga.
“Jangan lupa baju kotornya di keluarkan Luna biar segera Mama cuci!” teriak Sinta yang mendapat balasan dengan teriakan pula.
Gadis yang masih menggunakan jas almamater ini membuka pintu kamar. Ia sangat rindu dengan kamar serba birunya itu.
Luna berlari dan menjatuhkan tubuh ke kasur. Betapa rindu dengan kasur empuknya. Ia teringat sesuatu dan segera mengeluarkan handphone dari tas kecil yang masih disandang.
Gadis itu mencari kontak Dylan, lalu membuka blokir-nya. Sebenarnya, ia sangat rindu dengan pemuda itu. Status mereka juga masih abu-abu karena saat itu Dylan tidak mau diputuskan.
Luna mengubah posisi menjadi duduk di pinggir kasur. Ia mengetikkan sebuah pesan.
Hai, apa kabar?
Sayang sekali Luna menghapus kembali pesan dan tidak jadi dikirimkan ke Dylan. Gadis ini menghela napas, kemudian menoleh ke samping. Hadiah dari Dylan sebulan yang lalu demi membujuk Luna masih ada di meja belajar. Hanya makanan yang dibawakan lelaki itu sudah Luna berikan ke pda adiknya.
•••
Luna menutup aktifitas makannya dengan mengabiskan sisa air di gelas. Ia membiarkan Sinta untuk membereskan piring.
“Bagimana enak?” tanya Ibu dua anak itu.
“Enak banget, Ma. Terima kasih Mamaku sayang.”
“Sama-sama anakku sayang.” Sinta tertawa geli sembari mengangkat piring ke wastafel.
“Oh iya, Ma. Luna mau izin ke rumah Dylan ya siang ini.”
Sinta menoleh, “Tumben, kalian sudah nggak marahan?”
“Masih sih, paling Luna lihat dari pagar rumahnya saja. Nggak enak sama Alexa.”
Sinta tertawa, lalu mendekati sang anak. Dia duduk di sebelah Luna.
“Kamu belum tahu ya?”
__ADS_1
Dahi Luna mengerut, “Tahu apa?”
“Dylan dan ibunya sudah pindah ke kontrakan lagi. Mereka keluar dari rumah Om Arga sejak kejadian pertengkaran itu.”
“Mama tahu dari mana? Kok nggak ada kasih tahu Luna?”
“Tahu dari Dylan, juga dari Tante Rania. Mama ‘kan suka teleponan. Untuk apa mama kasih tahu kamu. Kamu sama Dylan ‘kan lagi bertengkar.”
Luna cemberut, “Iya sih, Mama nggak salah juga.” Luna berdiri dan mengulurkan tangan untuk berpamitan.
Sinta membalas uluran tangan anaknya, kemudian Luna mencium punggung tanga wanita itu.
“Luna pamit dulu ke rumah Dylan.”
“Kamu ke sana mau ngapain? Kalian mau balikan?” selidik Sinta.
“Belum tahu, Ma. Lihat saja nanti.”
Gadis itu meraih tas, kemudian melangkah keluar rumah. Ia mengeluarkan sepeda dari garasi. Berhubung kontrakan Dylan cukup jauh dari kompleks-nya. Luna harus menaiki kendaraan agar tidak lelah.
Ia mengayuh sepeda itu dengan bersemangat. Ketika sampai di depan rumah Dylan. Rumah terlihat ramai dengan orang-orang yang sedang makan.
Luna baru tahu kalau Rania membuka warung nasi kecil-kecilan di depan rumah. Tidak sengaja Luna melihat Dylan berjalan keluar warung untuk mengantarkan pesanan pelanggan. Gadis itu cepat-cepat memundurkan sepedanya.
“Silakan dinikmati, Pak.”
“Terima kasih, Dylan. Kata Ibumu, kamu KKN. Sudah selesai?”
Dylan tersenyum tipis, “Sudah, tadi pagi udah sampai rumah lagi.”
Setelah tidak ada pertanyaan dari pelanggan Dylan berniat akan kembali masuk ke rumah. Namun, matanya tak sengaja menangkap ban sepedah yang bersembunyi di balik tembok.
“Semoga dia nggak lihat gue.” Luna berdoa di dalam hati.
Pemuda itu jalan mendekati persembunyian Luna. Betapa terkejutnya Dylan saat melihat siapa yang ada di depan matanya sekarang.
“Luna?”
Gadis yang memejamkan mata itu, lantas membuka mata kembali. Kedua mata membulat saat melihat Dylan.
“Kamu lagi apa di sini?”
•••
__ADS_1