
“Luna Almayda!”
Gadis yang disebut itu namanya oleh dosen maju ke depan dengan tidak bersemangat. Ia mengambil makalah yang diberikan oleh pengajar itu.
“Kamu kenapa? Sakit?”
Luna menggeleng cepat, “Nggak, Bu.”
“Seperti orang sakit. Kalau nggak kuat ke UKK saja ya!”
Gadis itu mengangguk, lalu kembali duduk. Brian yang duduk di belakang Luna memperhayikan gadis itu saja.
“Lo sebenarnya sakit ‘kan?”
Luna menoleh ke belakang sekilas, “nggak.”
“Iya seperti orang sakit,” bisik Elina agar tidak terkena tegur dosen yang sedang membagikan makalah para mahasiswa itu.
Luna menghela napas dan bersandar pada kursinya.
“Semalam overthinking sampai susah tidur. Jadi sekarang gue merasa mengantuk,” jelas gadis itu menatap lurus ke depan.
“Memikirkan apa? Pasti ada hubungannya dengan Dylan ‘kan? Sudah jangan mengharapkan orang yang jelas-jelas sudah menolak lo.” tanya Elina yang konsisten memelankan suara.
“Gue kira sudah jadian sama Dylan,” celetuk Brian yang Luna menghadap ke belakang.
“Boro-boro jadian. Gue ditolak lagi. Dia Cuma anggap gue teman.”
Brian berusaha menahan tawa. Namun, Luna sadar akan hal itu. Dia memukul Brian dengan makalah miliknya.
“Nyebelin banget lo. Malah ketawa diatas penderitaan teman.”
“Luna Almayda!”
Perlahan Luna menoleh. Menatap dosen yang melotot padanya. Gadis itu tersenyum hingga menunjukkan deretan gigi dan kembali duduk menghadap ke depan.
Akhirnya mata pelajaran yang berlangsung satu setengah jam itu telah usai. Luna berjalan sendirian menuju UKK. Dia mau menumpang tidur sampai kelas berikutnya dimulai.
Langkah gadis itu terhenti saat berpapasan dengan Dylan. Lelaki ini juga melihatnya. Luna memperhatikan wajah Dylan yang pucat sambil memegangi perut. Sebenarnya ingin sekali dia bertanya. Namun, Luna memilih untuk buru-buru masuk ke UKK. Begitu juga Dylan yang berusaha mendahului Luna. Akhirnya mereka tersendat di pintu.
Sadar akan tubuh yang berhimpitan. Membuat Luna menjauh begitu juga dengan Dylan.
__ADS_1
Dengan menunduk Luna mempersilakan, “Lo duluan!”
“Ladies frist!” Dylan juga menyuruh gadis itu untuk masuk terlebih dulu.
Luna menghela napas dan berjalan masuk ke dalam. Kemudian disusul Dylan.
Kedua orang yang telah masuk ke ruangan kesehatan itu berdiri di depan meja Dokter penjaga.
“Kamu kenapa?” tanya Dokter wanita pada Luna.
“Saya kurang tidur, Bu. Numpang tidur 2 jam saja. Sepi juga ‘kan UKK-nya. Kalau saya nggak tidur dulu bisa nggak konsentrasi pelajaran berikutnya.”
“Makanya kamu itu jangan suka begadang! Ya sudah saya izinkan.”
Luna tersenyum, lalu berjalan meninggalkan Dokter dan Dylan. Namun, dia berusaha menguping pembicaran kedua orang itu.
“Ada apa?”
“Saya diare, Bu. Mau minta obat.”
“Kok bisa kamu makan apa?”
“Seperti saya emang salah makan, Bu. Tadi makan rujak sama yang lain.”
Dylan menggeleng. Sedangkan Dokter itu menatapnya dengan bibir dikulum.
“Kalau begitu saya periksa dulu.”
Dylan dan Dokter itu pergi ke ruangan pemeriksaan. Karena sudah tak dapat melihat apa yang dilakukan Dylan selanjutnya gadis ini memilih berbaring di brankar.
“Kasihan sampai pucat mukanya.” Luna menatap langit-langit ruangan itu, “waktu gue sakit dia bawa bubur plus ngerawat gue. Apa gue lakukan yang sama?”
Terus berpikir akhirnya Luna ketiduran. Ia tidak sadar kalau Dylan mendatanginya. Dylan hanya diam memperhatikan Luna yang terpejam. Di kepalanya berputar-putar ucapan Javier beberapa hari lalu.
Dylan bingung bagaimana dia ingin memastikan perasaannya ke Luna kalau sampai sekarang saja Luna masih menjaga jarak dengannya.
Tiba-tiba Luna bergerak dan lelaki itu segera pergi meningglkan UKK.
•••
Seorang gadis yang memegang kotak bekal celangak-celinguk di gedung fakultas ke dokteran. Tingkahnya sudah seperti maling yang takut ketahuan tuan rumah.
__ADS_1
Ia tersenyum saat sesorang yang dia cari muncul juga. Kebetulan lelaki itu sendirian. Gadis ini cepat menghampirinya.
“Ayo ikut gue!” ajaknya dengan menarik sebelah lengan pemuda yang kebingungan ini.
“Luna? Ada apa?” tanya Dylan.
Luna menoleh ke belakang, “Sudah ikut saja dulu!”
Dylan pun menuruti mau dari gadis itu. Mereka pergi ke rooftop. Luna memang sengaja mencari tempat sepi. Angin yang kuat menerbangkan rambut mereka. Namun, ini tidak membuat kedua orang itu untuk turun lagi.
“Sini!”
Luna mengajak Dylan untuk duduk di pinggir gedung. Gadis itu duluan duduk bersila di sana. Dylan pun mengikutinya.
“Dulu saat gue sakit. Lo datang bawa bubur dan ngerawat gue. Sekarang gue mau membalas itu.” Luna mengulurkan kotak bekal yang sedari tadi dia pegang, “ini buat lo. Semoga sakit perutnya lekas sembuh.”
“Perut gue sudah baikan.” Dylan menatap Luna bingung, “lo nggak marah lagi sama gue?”
“Sudah nggak apa-apa terima saja.” Luna memberikan paksa makanan bawaannya. Ia menggeleng saat Dylan bertanya, “gue sudah lupain itu.”
Dylan mengulas senyum, “Gue senang kalau lo sudah nggak marah lagi.”
“Tapi gue bakal marah lagi kalau lo nggak makan bubur dari gue. Ini gue harus pagi-pagi keluar rumah demi beliin sarapan lo dulu.”
Lelaki itu menunduk menatap kotak bekal yang ada di atas kaki. Ia mengembalikannya ke Luna. Membuat gadis ini berpikir Dylan mau dia benar-benar marah.
“Waktu lo sakit gue suapin. Sekarang gue juga mau disuapin.” Luna bergeming, “ayo suapin gue!”
Dengan masih menatap Dylan dengan aneh Luna tetap membuka kotak bekal dan mengikuti mau lelaki itu.
“Aaaak!” Dylan membuka mulutnya. Luna menyuapi dengan jantung yang berdebar-debar keras. Ia takut suara itu akan terdengar oleh Dylan.
Dylan tersenyum, menikmati kunyahan demi kunyahan dari suapan Luna. Benar saja kata Javier kaalu ia merasa bahagia saat di dekat Luna.
“Ini enak banget loh. Mau coba juga nggak?”
“Hah?”
Dylan merebut sendok yang dipegang Luna. Menyuapi gadis yang begong itu dengan bubur. Sikap Dylan membuat Luna kehilangan akal.
“Eh belepotan,” ujar lelaki itu lekas membersihkan sudut bibir Luna dengan ibu jarinya.
__ADS_1
•••