
Dari kejauhan Dylan melihat Luna baru ingin membuka pagar rumah. Lelaki itu mencepatkan laju motor dan berhenti dengan roda kendaraan menabrak pagar. Untungnya cepat direm.
“Lo gimana sih bawa motor? Pagar rumah gue saja mau ditabrak.” Luna mendengus karena sedikit kesal dengan kelakuan Dylan.
Pemuda itu menaikan kaca helm, “Ada yang lebih penting dari ini yang harus gue bahas sama lo.”
Jantung gadis itu mulai berdetak lebih cepat. Ia sudah tahu apa yang ingin Dylan bahas. Pasti soal gosip yang tersebar itu. Pikir Luna, dia harus menghindar dari lelaki ini sebelum dimarahi.
“Gue capek, besok-besok saja bahasnya.” Luna berlalu begitu saja masuk ke dalam.
“Eh tunggu! Jangan coba-coba lari lo. Ini ada campur tangan lo juga!” teriak lelaki itu.
Dylan tidak akan tinggal diam. Lelaki ini memasukan motor ke halaman. Melepas helm, kemudian berlari menghampiri Luna. Baru saja kaki Luna memijak tangga Dylan menarik salah satu tangan gadis itu, lalu menarik kencang hingga tubuh Luna memutar dan jatuh menabrak dada bidang milik Dylan. Untung pemuda ini menahan tubuh mungil Luna. Mereka saling pandang untuk beberapa detik.
“Iiiiih!” Dylan mendorong Luna untuk menjauh, “ngapain lo nempel-nempel ke gue?”
Luna cemberut sambil merapikan baju yang dia gunakan, “Najis, siapa juga yang mau nempel-nempel sama lo. Gara-gara lo ini narik-narik hampir saja gue jatuh.”
“Maaf, ada yang harus gue omongin sama lo.”
“Apa?”
“Ini semua gara-gara lo. Lo sudah tahu ‘kan sama gosip baru di kampus kita? Andai lo nggak ke kelas gue saat itu. Ini nggak akan terjadi.”
Luna yang berdiri di atas anak tangga ini ingin sekali meremas bibir cowok di depannya itu.
“Enak saja lo nyalahin gue. Ini juga salah lo. Yang diteleponin nggak angkat siapa? Ketika ditelepon berkali-kali terus HP-nya nggak bisa dihubungin lagi siapa? Lo ‘kan? Harusnya lo terima kasih ke gue. Karena gue presentasi lo lancar. Jauh tahu lari-lari ke gedung fakultas lo.”
“Kalau begitu mulai besok kita harus jaga jarak. Lo ke kampus jangan numpang gue lagi. Kalau ada barang yang tertukar lagi, telepon saja gue. Kali ini gue angkat.”
“Sadarkan lo sekarang? Kalau ini penyebabnya lo juga. Bukannya berterima kasih malah marah-marah.”
“Ada apa ini kok kalian bertengkar?” tanya Sinta yang keluar dari dalam rumah saat mendengar suara kedua orang itu.
Luna menoleh pada Sinta, “Ini Ma, dia nyalahin Luna karena gosip di kampus. Padahal dia juga salah.”
Gadis itu menatap sinis pada Dylan Kemudian lari masuk ke dalam rumah.
“Maaf, Tente.” Sinta tersenyum saat mendengar tuturan penyesalan keluar dari mulut pemuda di depannya, “aku izin masuk dulu.”
“Iya, jangan bertengkar lagi!”
__ADS_1
Dylan mengangguk, lalu berjalan melewati Sinta dengan salah satu tangan membawa helm.
“Anak-anak, anak-anak.” Sinta menggeleng dengan sedikit tertawa. Ia sangat memaklumi sikap dari kedua orang itu.
•••
Gadis yang menguncir sebagian rambut itu memberikan uang pada driver ojek online. Luna terpaksa menaiki kendaraan itu karena tidak bisa berangkat bersama Papanya. Lagi pula pasti Wardana akan memaksanya berangkat bersama Dylan. Itu tidak mungkin dia turuti untuk sementara. Cowok itu pasti masih kesal padanya. Ia juga kesal karena disalahkan terus. Padahal mereka sama-sama salah.
“Terima kasih, Mas.”
“Helmnya, mbak.” Tunjuk driver itu pada kepala Luna.
“Oh iya.” Luna tertawa pelan, lalu melepas helm dan memberikan pada Driver.
Setelah itu Luna berjalan masuk ke gedung fakultasnya. Beberapa pasang mata memperhatikan. Luna sudah tahu masalah bersama Dylan itu pasti sudah tambah menyebar ke mana-mana.
“Ini dia orangnya.” Langkah Luna terhenti saat tubuh Brian menghalangi jalannya untuk masuk ke kelas, “cepat juga ya dapat pengganti gue. Sudah move on dari gue?”
“Bukan urusan Brian! Awas Luna mau masuk!” Ketika Luna ingin melewati bagian yang tidak ter-blokir tubuh lelaki itu, Brian malah dengan sengaja menghalangi lagi.
“Awas Brian!”
“Lo ada hubungan sama Dylan anak kedokteran itu?”
“Nggak apa-apa sebenarnya, gue senang.” Dahi Luna berkerut. Ia tidak mengerti maksud cowok di hadapannya ini, “dengan begitu nggak ada yang menghalangi gue lagi buat dekat dengan Alexa.”
“Maksudnya?”
Brian menepuk-nepuk bahu Luna, “semoga cepat jadian.”
Kemudian pemuda itu berlalu meninggalkan kelas dan Luna yang sedang menyerap kata-katanya.
“Dih, ogah banget jadian sama cowok itu.” Luna bergidik geli, lalu melanjutkan langkah kaki untuk masuk ke kelas.
Sedangkan di tempat lain, Dylan juga sudah sampai di kampus. Lelaki ini sedang memprhatikan ponsel di tangan. Ia melihat gosip dari akun lambe turah kampus sudah di repost ke mana-mana. Makin menjadi-jadi saja gosip itu.
Yang tidak habis pikir mengapa warga +62 bisa langsung menyimpulkan kalau mereka pacaran. Apa lagi cuma dari foto yang diambil dari arah belakang.
Lelaki itu membaca salah satu komentar.
Yuliana123: Sudah seperti kejatuhan bulan saja Luna kalau dapat Dylan. Brian saja nolak dia.
__ADS_1
“Benar itu, gue yang apes,” ujarnya memberi tanggapan sendiri.
Dylan menyimpan kembali handphone ke saku. Ia melanjutkan langkah ke arah ruang jurnalistik. Ia ingin tahu dari mana akun lambe itu mendapatkan info.
“Ada Dini nggak?” tanya pemuda ini di depan pintu. Ada 2 orang di dalam basecamp.
“Belum ada ke sini. Mungkin masih di kelas atau memang belum datang,” jawab Haikal yang sedang sibuk dengan laptopnya.
“Tumben nyariin Dini.” Rea yang ada di dalam berjalan mendekat, “mau ngapain?”
“Ada perlu.”
“Pagi guys!” orang yang sedang dibicarakan itu muncul dengan tersenyum lebar.
“Kebetulan, ini Dylan nyariin lo.” Rea menunjuk ke samping.
Dini mengedikkan dagu, “Ada apa, Lan? Mau kasih duit ya?” Gadis ini tertawa dengan leluconnya.
“Bukan, lo dapat info soal gue dan Luna dari mana? Pasti bukan lo dapat sendiri ‘kan?”
“Mak lambe itu mana pernah kerja sendiri. Mata-mata gue banyak.” Dini tertawa lagi setelah menjelaskan.
Dini memang pemegang akun bernama lambe turah Universitas Negeri Jakarta. Akun turun-temurun ini akan selalu mengupdate topik terbaru dari anak kampus. Biasanya, akan ada yang memberi informasi lewat pesan.
“Siapa yang pertama kali ngasih foto gue sama cewek itu ke lo? Kasih tahu gue!”
Rea hanya menyimak pembicaraan dua orang itu.
“Maaf, gue nggak bisa kasih tahu. Ini sudah kesepakatan gue sama orang itu.”
“Tapi gosipnya itu nggak benar. Cepat hapus postingan di akun lambe itu!”
“Namanya juga gosip. Kadang benar, kadang juga bisa nggak benar.” Dini menaikkan tali tas yang turun, “maaf gue nggak bisa hapus info yang sudah di-update. Cuekin saja kali kalau itu memang nggak benar. Nanti juga mereka pada lupa.”
Dylan merasa menemui Dini juga tidak menyelesaikan masalah. Dia tahu ini kalau tidak ulah teman sekelasnya bisa jadi kerjaan anak lain yang kelasnya satu tempat dengan dirinya.
•••
Note:
Sampai sini bagaimana? terlalu ngaret gak sih ceritanya? aku masih mengusahakan yg terbaik untuk cerita ini.
__ADS_1
Jangan lupa support. vote yang banyak banyak. kasih rate yang bagus. like dan komentar jangan lupa. terima kasih 😊