Housemate

Housemate
Pekerjaan Baru


__ADS_3

Dylan mengaduk secangkir teh hangat yang baru saja selesai dia buat. Ia letakkan cangkir itu di atas meja makan. Selang beberapa detik Luna turun dengan sudah berganti pakaian.


“Ini minum teh dulu! Siapa tahu teh hangat bisa meredahkan sakit perut lo.”


Luna memperhatikan secangkir teh di atas meja. Ia mendongak menatap Dylan yang lebih tinggi.


“Terima kasih sudah antar dan bantu gue. Gue jadi merepotkan lo.”


“Baru sadar ngerepotin?”


Gadis itu mengerutkan bibir, “maaf. Gue bingung mau minta tolong siapa. Elina nggak bisa bawa kendaraan. Karena lo sama gue serumah. Gue kepikirannya lo doang.”


“Iya, nggak apa-apa. Sudah terlanjut juga.” Lelaki ini memajukan bibir untuk menunjuk cangkir teh, “di minum tehnya!”


Luna mengangguk dan lekas duduk. Gadis itu menyeruput teh hangat buatan Dylan. Rasa teh itu di lidah Luna sangat pas. Tidak terlalu manis dan hangatnya normal.


Dylan menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Luna, “ Tante kapan pulang sih?”


Luna meletakkan dahulu cangkirnya, “Kata mama nanti sore sudah di Jakarta. Memang kenapa?”


“Syukurlah, sudah mau pulang. Nggak apa-apa cuma kalau nggak ada Tante Sinta di rumah masih siang begini jadi sepi.”


Gadis itu melirik jam di pergelangan tangan. Sudah pukul satu siang. Ia jadi teringat sesuatu.


“Lebih baik lo balik ke kampus. Masih ada kelas atau nggak?”


Dylan ikut melihat jam tangannya, “Ada, tapi nanggung juga gue ikut. Sudah nggak apa-apa. Nanti saja gue balik ke kampus.”


“Mau apa ke kampus lagi? Tutup gerbang?” Luna tertawa karena candaannya sendiri.


“Gue ada janji sama Alexa. Lo nggak apa ‘kan di rumah sendiri. Jam setengah empat nanti Bhiru juga sudah pulang.”


Sebanarnya, Luna ingin sekali melarang Dylan untuk tidak pergi, tetapi dia harus beralasan apa kalau lelaki itu bertanya.


“Iya, nggak apa-apa. Gue ‘kan sudah gede bisa jaga diri.”


Dylan berdiri dan meraih ransel yang ada di meja, “Gue ke kamar dulu.”


Luna tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia melihat Dylan melangkah menjauhinya. Sesekali gadis ini kembali menyeruput teh hangat yang sudah mulai mendingin.


•••


Ketika motor matic milik Dylan akan berbelok melewati pagar universitas tiba-tiba berhenti mendadak saat berpapasan dengan mobil Alexa yang terparkir di pinggir jalan. Lelaki ini lantas mendekati mobil sedan milik gadis cantik itu.


“Sudah lama, Sa?” Dylan menundukkan kepala untuk melihat Alexa dari kaca mobil yang terbuka.


Tiba-tiba gadis itu memilih keluar dari mobilnya. Ia berjalan mendekati Dylan yang masih duduk di atas jok motor.

__ADS_1


“Baru sepuluh menitan. Kamu nggak kuliah?” tanya Alexa yang melihat Dylan tadi datang dari luar.


Lelaki itu menggelengkan kepala, “Nggak, tadi sempat ada urusan.”


“Oke, kamu ikutin aku saja dari belakang.”


“Siap!”


Gadis cantik dengan rambut terkuncir ini kembali masuk ke dalam kendaraannya. Kemudian bersama-sama mereka meninggalkan kampus.


Cukup jauh peternakan milik keluarga Alexa itu. Mereka menghabiskan waktu sampai setengah jam ke sana. Kata Alexa, ini peternakan terdekat dari tempat tinggalnya. Sedangkan yang lain ada di Bandung.


“Ayo, temuin Daddy di dalam!” ajak Alexa yang berjalan masuk duluan.


Dylan mengangguk. Ia cepat meletakkan helm yang sudah terlepas dari kepala, lalu berlari kecil menyusul Alexa.


Awal masuk mereka disambut dengan tanaman-tanaman cantik. Ada beberapa pohon besar juga yang membuat tempat itu terasa sejuk. Tidak jauh dari gerbang masuk ada sebuah pondok peristirahatan. Kemudian di belakangnya kandang-kandang sapi.


Alexa dan Dylan masuk ke dalam pondok dengan pintu yang tidak terkunci. Pondok itu cukup luas dengan berbagai ruangan di dalam. Ini sudah mirip rumah pribadi.


“Daddy ini Dylan sudah datang!” Alexa berteriak memanggil ayahnya.


Arga keluar dari sebuah kamar dengan senyum mengembang, “Iya, ini Daddy keluar sayang.”


Mata Dylan dan Arga saling bertemu. Pemuda yang memakai ransel di pundak itu mengangguk dan tersenyum ramah pada ayah temannya. Namun, berbeda dengan Arga yang sempat bergeming menatap Dylan sangat tajam.


“Daddy kok ngelamun?” pertanyaan dari sang putri membuat Arga tersadar, lalu menoleh pada Alexa.


“Bagiamana ada pekerjaan untuk Dylan?” tanya Alexa mengulang pertanyaan yang sempat dia tanyakan di rumah.


“Silakan duduk dulu Dylan!” Arga mempersiakan tamunya.


Dylan mengangguk, “Iya, Om. Terima kasih.”


Ketiga orang itu duduk di ruang tamu. Arga menatap Alexa yang dari tadi memandangi wajah Dylan.


“Alexa!” Gadis ini lekas menoleh, “tolong ke belakang. Bilang sama Mang Udin buatkan minum.”


“Oke, Daddy!”


Alexa dengan penuh semangat melangkah ke arah dapur. Fokus Arga kembali pada Dylan.


“Kamu mahasiswa kedokteran?”


Dylan mengangguk, “Iya, Om.”


“Mengapa mencari pekerjaan? Lebih baik kamu fokus kuliah. Masa depanmu cerah dengan jurusan yang kamu pilih itu.”

__ADS_1


“Saya juga maunya begitu, Om. Ibu juga menyuruh saja untuk kuliah saja, tapi keluarga kami sedang butuh uang untuk mengontrak rumah baru. Jadi, saya berinisiatif membantu Ibu, Om.”


“Ibumu juga bekerja?”


Dylan mengangguk, “Bekerja, Om. Dulu ibu punya warung makan di rumah. Setelah tempat tinggal kami kebakaran Ibu nggak punya tempat dan modal usaha lagi. Sekarang Ibu bekerja sebagai pelayan restoran.”


“Oh, rumahmu sempat kebakaran. Kalau boleh tahu Ayahmu nggak punya pekerjaan?”


Pemuda itu langsung menekuk wajahnya. Ia terlihat murung dan Arga merasa bersalah menanyakan itu.


“Kata ibu, Ayah sudah meninggal dari saya di dalam kandungan, Om.”


“Maaf, saya tidak tahu.”


“Nggak apa-apa, Om.” Dylan tersenyum tipis.


Disela-sela percakapan kedua lelaki itu Alexa datang dengan membawa nampan berisikan dua gelas minuman.


“Silakan di minum.” Alexa meletakkan satu persatu gelas ke meja.


“Terima kasih, Sa.”


Alexa tersenyum dan duduk di sofa berhadapan langsung dengan Dylan, “sama-sama.”


•••


Sesudah menikmati teh hangat buatan Alexa, mereka memutuskan untuk berkeliling peternakan termasuk masuk ke dalam lokasi kandang sapi.


“Tugas kamu di sini memeriksa kesehatan dan kebersihan sapi serta memeras susu. Ini nggak akan menganggu jam kuliahmu. Kamu boleh datang kalau sudah selesai mengikuti pelajaran di kampus,” jelas Arga dengan melangkah santai menyusuri kandang.


“Terima kasih, Om. Kalau begini saya bisa tetap fokus kuliah dan mendapatkan uang dari pekerjaan.”


“Sama-sama, Dylan.” Arga menepuk-nepuk pundak pemuda itu, “nanti ada petugas yang berpengalaman akan mengajarkan kamu. Soal gaji sudah saya atur. Kamu tenang saja.”


Alexa ikut senang mendengar perkataan ayahnya. Ia juga bahagia melihat Dylan yang tidak berhenti tersenyum.


“Makasih Daddy sudah memberikan yang terbaik untuk temanku.”


Arga mengusap kepala putri semata wayangnya, “sama-sama sayang. Semua teman dekatmu pasti akan Daddy berikan yang terbaik. Daddy senang kalau kamu juga senang.”


Alexa memeluk pria paruh baya itu. Dylan hanya memperhatikan saja kemesraan mereka. Ia jadi terpikir keadaan ayahnya yang sudah berbeda alam dengannya.


“Kalian lanjutkan jalan-jalan berdua saja ya.” Arga melepas pelukan, “nanti tolong panggil petugas di sana ya, Sa. Suruh dia mengajarkan Dylan.”


“Siap Daddy!” Alexa mengangkat sebelah tangan memberi hormat.


Arga tertawa kecil dibuatnya. Pria itu mengacak rambut panjang milik Alexa dan berpamitan pada Dylan. Setelahnya, Arga melangkah pergi.

__ADS_1


Muda-mudi ini menemui Pak Noval yang akan menunjukkan cara memerah susu sapi.


•••


__ADS_2