Housemate

Housemate
Perhatian


__ADS_3

“Cup-cup, sudah, Lun!” Elina mengusap-usap pundak sahabatnya itu sembari berjalan ke kantin.


Luna masih saja menangis walau tak sekeras tadi. Ia tidak bisa memaafkan Alexa begitu saja.


“Kotak musik gue.” Luna menghentak-hentakkan kaki ke tanah. Ia masih menangis tanpa menghiraukan orang-orang yang melihat padanya.


“Malu tahu dilihatin orang-orang.” Elina mengusap pipi Luna yang basah, “sekarang kita sudah sampai kantin dekat fakultas Dylan nih. Semoga bertemu orangnya ya.”


Bujukan Elina dapat menenangkan sedikit perasaan Luna.


“Lan, itu bukannya Luna? Kenapa dia?”


Dylan yang sedang memasukan laptop ke dalam tas melihat ke arah yang Javier tunjuk.


“Sepertinya dia menangis,” timpal Kendro.


Mendengar penuturan Kendro, dengan cepat Dylan menutup ransel dan memakai ke bahu. Lelaki itu bergegas lari menghampiri kedua gadis baru akan masuk kantin.


“Ayo ikut!” ajak Kendro pada Javier yang heran melihat Dylan panik.


Javier dan Kendro lantas menyusul Dylan untuk mendatangi Luna.


“Luna kenapa?”


Gadis dengan mata yang sudah sedikit sembab ini menoleh. Tanpa menjawab pertanyaan Dylan, Luna memeluk lelaki itu. Kali ini Dylan tidak menolak atas pertalakuan Luna yang sangat tiba-tiba. Ia menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu agar tenang.


Javier dan Kendro yang baru sampai hanya memperhatikan saja.


“Sebenarnya ada apa?” tanya Dylan pada Elina.


Gadis berkacamata itu ragu akan menyampaikan ini pada Dylan. Ia takut kalau Dylan bertengkar dengan Alexa. Namun, Luna lebih kasihan.


“Tadi Alexa datang marah-marah.” Dahi cowok itu mengerut, “dia membanting kotak musik punya Luna sampai hancur. Karena Alexa tahu itu kado dari lo.”


Dylan menghembuskan napas, “Alexa lagi,” gumamnya.


“Maaf kadonya rusak,” ujar Luna dengan suara agak serak. Ia masih memeluk Dylan dengan erat.


“Bar-bar juga Alexa itu. Gue pikir benaran lemah lembut,” ujar Kendro dengan suara sengaja di kecilkan.


Dylan menarik kedua tangan gadis yang sedang memeluknya ini. Ia dorong kedua bahu Luna sampai pelukan terlepas.


“Dengarkan gue!” Luna mendongak menatap Dylan, “nggak apa-apa kotak musiknya rusak.”


“Tapi ‘kan itu kado pertama dari lo buat gue.”

__ADS_1


Lelaki ini tersenyum tipis, kemudian mengusap pipi Luna dengan kedua ibu jari.


“Nanti gue ganti dengan yang sama persis. Jangan menangis lagi!”


“Maafkan gue ya... nggak bisa jaga pemberian lo. Harusnya memang dengarin omongan Mama. Kotak musiknya nggak usah dibawa ke kampus.” Luna berbicara dengan air mata yang kembali terjun bebas.


“Sudah nggak apa-apa.” Lagi Dylan mengusap pipi Luna, “selesai ngampus kita cari sama-sama kotak musik yang persis dengan sebelumnya, tapi sekarang gue harus masuk kelas. Jadi, lo gue tinggal dulu ya.”


Javier melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan, “Tinggal lima menit lagi dosen bakal masuk.”


Luna menoleh pada Javier, kemudian menatap Dylan lagi.


“Iya gue paham. Sana masuk ke kelas! Nanti terlambat lagi.”


Dylan mengacak rambut gadis yang hanya setinggi ketiaknya, “Oke, jangan menangis lagi!”


Luna tersenyum sembari menganggukkan kepala.


“Titip Luna, Lin!”


Elina menautkan jari telunjuk dan ibu jari membentuk lingkaran, “Oke!”


Dylan mengajak kedua sahabatnya untuk pergi bersama menuju kelas. Luna memperhatikan kepergian ketiga lelaki itu.


“Makin ke sini sepertinya Dylan semakin perhatian sama lo,” ucap gadis yang rambutnya dikucir kuda hari ini.


Luna menoleh, “Lo lihatnya begitu?”


Memang lo nggak merasa?” tanya balik Elina.


Luna dengan polosnya menggeleng. Elina menepuk jidat, lalu menari tubuh gadis itu untuk mengikutinya ke dalam kantin.


“Sambil makan gue jelasin. Dari tadi perut gue bunyi terus.”


•••


“Terima kasih, Bu.” Dylan menukarkan uang dengan paper bag berisi barang yang dia cari.


Lelaki itu melangkah ke tempat Luna sedang menunggu. Ia tidak memberikan langsung belanjaannya. Namun, memperhatikan apa yang sedang Luna lihat.


“Lo mau beli itu?”


Gadis ini tersentak saat Dylan bertanya dan berdiri di sebelah. Ia lantas menoleh ke samping.


“Iya.” Luna mengambil kalung couple yang digantung bersama aksesoris lain, “baguskan?”

__ADS_1



“Buat apa? Itu kalung berpasangan. Lo sendiri saja belum ada pacar,” ucap Dylan meremehkan.


Luna memutar tubuh menghadap lelaki itu, “Pacar gue ya lo. Sebelah bentuk hati ini untuk lo. Lucu ‘kan kita punya kalung couple.”


Dahi cowok itu mengerut. Dari dulu dia memang sudah mengira urat malu Una sudah putus.


“Tunggu! Gue bayar dulu.” Gadis itu berlari mendekati kasir.


Setelah membayar Luna langsung keluar dari toko karena Dylan sudah menunggu di depan pintu masuk toko.


“Nih.” Luna sungguh memberikan sebelah kalungnya.


Dylan menggeleng, “Kita nggak pacaran. Gue bukan pacar lo.”


Gadis itu kembali menekuk muka. Ia seperti ingin menangis.


“Dylan jahat.” Luna menangis dengan air mata yang benar-benar keluar, “Dylan nggak mau ngakuin pacarnya.”


Pemuda itu menjadi panik. Apa lagi saat orang-orang menatapnya seperti penjahat.


“Jangan menangis! Ini sudah gue belikan kotak musiknya lagi.” Dylan mengangkat paper bag di tangan.


“Wuaaa Mama...” Luna malah mengeraskan tangisannya.


Tanpa pikir panjang Dylan mengambil kalung yang Luna genggam, “Iya ini gue terima.”


Tangisan itu pun mereda. Luna mengusap air mata di pipi. Ia tersenyum menatap cowok tinggi ini.


“Pakai dong!”


“Oke.” Dylan menyerahkan kotak musik ke tangan Luna. Setelah itu dia benar-benar memakai kalung dengan gandulan setengah hati.


Luna pun meminta Dylan memasangkan untuknya. Bahagia rasanya lelaki yang gadis itu suka mau mengikuti maunya.


“Sudah gue pakai ‘kan?” Luna mengangguk, “ayo pulang!”


Dylan berjalan lebih dulu ke motor. Ketika menyerahkan satu helm ke Luna. Gadis itu memperlihatkan kedua tangan yang memegang paper bag.


Pemuda itu menghela napas dan memakaikan helm ke kepala Luna. Gadis ini tersenyum menatap lelaki di hadapannya.


Luna duduk diboncengan, lalu tidak ragu untuk memeluk Dylan dari belakang.


•••

__ADS_1


__ADS_2