Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 10


__ADS_3

POV Devin.


"Devin!"


"Devin iiihhh, sudah belom? Gerah ini." Perkataan Adinda seketika membuyarkan lamunanku dan menarikku kembali ke dunia nyata.


"Eh, ya sebentar." Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Bisa-bisanya otakku travelling kemana-mana. Haaiiissss...


"Nah, sudah selesai," kataku setelah selesai membantu Adinda membuka risleting gaunnya.


"Makasih Dev, aku mandi dulu." Tanpa menunggu jawabanku Adinda berlalu ke kamar mandi.


Kutarik kedua sudut bibirku ke atas. Dulu, kami sering kali menghabiskan waktu bersama. Bahkan sering kali berbagi r*njang dan tentunya tak pernah sampai melewati batas. Namun, mengapa kini terasa canggung. Padahal sebelumnya biasa-biasa saja.


Aku pandangi pintu kamar mandi yang tak menutup sempurna. Kulangkahkan kakiku semakin mendekati kamar mandi. Aku menghela napas dalam. Ceroboh sekali dia. Bagaimana bisa dengan santainya membiarkan pintu kamar mandi tak menutup sempurna begini, sedangkan di dalam kamar ini ia tak sendiri.


Berniat ingin menutup pintu, namun urung ku lakukan. Pemandangan di depan mata sungguh sangat sayang untuk dilewatkan. Siluet bayangan dibalik tirai di bawah guyuran shower seketika membuat sesuatu yang sesak semakin memberontak.


Aku geleng-gelengkan kepala mencoba menghalau pikiran yang tidak-tidak. Ingat Devin! Ada hati yang harus aku jaga. Mengingat Liona aku jadi merasa sangat bersalah.


Semalam ia menghubungiku dan memintaku untuk memikirkan ulang tawaran gilanya tempo hari. Tentu saja dengan tegas aku menolaknya. Aku tak ingin jadi manusia bej*t yang memanfaatkan keadaan.


Kututup rapat kembali pintu kamar mandi. Kemudian aku melangkah menuju tempat tidur untuk istirahat. Sayup-sayup suara adzan berkumandang. Kulirik pintu kamar mandi masih tertutup. Meski aku tak bisa menjadi suami seutuhnya untuk Adinda, setidaknya aku harus bisa menjadi imam yang baik dalam ibadahnya.


Kupejamkan mata ini sebentar sembari menunggu Adinda selesai dengan ritual mandinya. Tak lama aku memejamkan mata, sayup-sayup ku dengar suara panggilan Adinda.


"Dev!"


"Devin!" Suara panggilan di pintu kamar mandi seketika membuatku membuka mata. Kutolehkan kepala menghadap ke arah Adinda. Tampak Adinda di sana yang tengah melongokkan kepalanya sedikit di ambang pintu kamar mandi.


"Sudah selesai?" tanyaku


"Heemmm i-iya," jawabnya.

__ADS_1


Heran, katanya selesai, tapi ngapain juga masih bertahan dengan posisi seperti itu.


"Dev, boleh minta tolong gak?" tanyanya ragu-ragu.


"Apa?" Aku balik bertanya dengan malas.


"Aku lupa bawa handuk. Bisa minta tolong ambilkan? Sekalian dengan baju gantiku, tapi baju gantiku ada di kamar sebelah." Nyengir saja dia tanpa tahu telah membuat aku kesal. Sungguh menyebalkan!


Meski enggan aku tetap beranjak dari tempat tidurku. Kulangkahkan kaki menuju lemari pakaianku. Kubuka pintu lemari untuk mengambil handuk bersih. Namun, betapa terkejutnya aku. Di dalam lemariku yang memang terdapat bagian yang kosong, kini dipenuhi dengan pakaian wanita beraneka warna. Ada underware dan juga... baju apa ini? Seketika mataku melotot sempurna mendapati baju yang ku pegang tak layak di sebut sebagai pakaian. Kugeleng-gelengkan kepala tak habis pikir. Pasti ini ulah mama.


"Dev, cepetan! Aku kedinginan ini." Teriakan Adinda seketika mengalihkanku dari keheranan tentang fungsi pakaian yang ku pegang.


"Sebentar!" kataku.


Kuambilkan handuk bersih di lemariku. Lalu aku ambil pakaian wanita yang sudah bisa dipastikan itu milik Adinda. Tak lupa kuambil asal sepasang underware. Setidaknya aku tak perlu merasa cemas karena ini masih baru.


Setelahnya aku melangkah menghampirinya dan menyerahkan apa yang dia minta di tanganku padanya. Dia tampak heran karena aku mengambilkan pakaiannya di lemariku. Dia mengucapkan terima kasih dan langsung menutup pintu kamar mandi.


Tak lama kemudian Adinda keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masih basah. Dia tampak begitu menggemaskan dengan sisa-sisa air yang masih menetes. Lagi-lagi aku hanya bisa memejamkam mata. Aku mencoba menghalau desiran aneh yang datang tiba-tiba. Segera ku langkahkan kaki ini menuju kamar mandi sebelum aku benar-benar tak bisa mengendalikan diri untuk menerkamnya.


"Mandi," jawabku singkat tanpa menoleh padanya.


"Loh, bukannya tadi udah mandi ya? Kok mau mandi lagi Dev?" tanyanya heran.


Aku menghentikan langkahku dan menoleh padanya. "Mau ambil wudhu Din. Kamu sudah ambil wudhu belum? Kita sholat berjamaah," jelasku sekaligus mengajak Adinda untuk berjamaah.


"Oh," jawabnya beroh ria. "Iya, sudah barusan." sambungnya.


"Pakaianmu sudah ada di lemari. Mukenahnya juga ada disana. Mungkin mama yang sudah memindahkannya," tunjukku ke arah lemari.


Gegas aku kembali melanjutkan langkahku menuju kamar mandi. Setelah selesai aku keluar dan mendapati Adinda telah menungguku untuk melaksanakan ibadah bersama. Setelahnya aku dan Adinda melakukan ritual ibadah kami dengan khusyuk.


 ---

__ADS_1


Satu persatu tamu silih berganti mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Adinda berdiri dengan gelisah. Kakinya terasa pegal dan lecet. Dia tidak terbiasa memakai stiletto. Jangankan stiletto, high heels saja jarang.


"Masih banyak ya tamunya?" Adinda semakin tak nyaman untuk berdiri.


Devin menoleh pada Adinda. Dia memperhatikan Adinda yang berdiri dengan gelisah. Sesekali Adinda tampak meringis.


"Duduk aja kalau gak nyaman," saran Devin. Dia tak tega melihat Adinda seperti kesakitan.


"Ya gak enak Dev kalau aku duduk, sedangkan para tamu masih pada antri buat ngucapin selamat sama kita." Adinda menolak saran Devin.


"Sudah, duduk aja dulu." Devin masih meminta Adinda untuk duduk.


"Tapi Dev ...."


"Duduk Din! Harus nurut apa kata suami, biar dapat pahala," rayu Devin setengah memaksa.


Adinda menunduk menyembunyikan wajahnya yang tersipu. Gegas ia duduk sesuai titah sang suami. Adinda kaget ketika tiba-tiba Devin berjongkok di hadapannya.


"Mana kakimu?" tanya Devin


Adinda mengulurkan kakinya ke arah Devin. Devin membantu melepaskan stiletto yang di kenakan Adinda. Dilihatnya kaki Adinda yang lecet dan tampak kemerahan.


"Sebaiknya gak usah pakai alas kaki aja dulu Din. Nanti kalau sudah selesai acara kita obati lukamu," saran Devin.


Adinda hanya mengangguk pasrah. Percuma saja ia menolak pasti ujung-ujungnya harus mau.


Intan tampak tergopoh-gopoh naik ke pelaminan. Dilihatnya Devin dan Adinda secara bergantian. Intan tampak mengatur napasnya sebelum berucap sesuatu pada mereka berdua.


"Sebaiknya kalian istirahat aja dulu. Urusan tamu biar nanti Mama yang handle," ucap Intan.


"Gak apa-apa Ma kalau kita ninggalin acara duluan," tanya Adinda memastikan.


"Ya gak apa-apa Sayang. Dari pada anak Mama yang satu ini makin kesakitan." Senyum tulus terukir di wajah Intan.

__ADS_1


Adinda dan Devin saling berpandangan. Gegas Adinda mengalihkan wajahnya supaya dia tidak lagi terlena oleh pesona seorang Devin. Meski status mereka kini telah sah menjadi sepasang suami istri, namun ada perjanjian hitam di atas putih yang mengikat di antara mereka, sehingga Adinda harus mulai menyiapkan diri untuk tidak terjebak lebih jauh dalam urusan cinta.


Adinda mengangguk ke arah Intan. Adinda mencoba berdiri tapi kakinya terasa sakit. Devin dengan sigap merengkuh pinggang Adinda. Devin kemudian membopong tubuh Adinda ala bridal style. Adinda kaget sekaligus malu karena banyak pasang mata yang menyaksikan. Alhasil, ia bersembunyi di dada bidang Devin. Menghirup aroma tubuh Devin yang pastinya akan sulit ia lakukan lagi di kemudian hari.


__ADS_2