
Beberapa hari telah berlalu. Sikap dan tingkah laku Devin sudah tak sekaku seperti biasanya. Devin telah kembali berubah seperti saat menjadi sahabat untuk Adinda. Apalagi semenjak Candra sering menampakkan dirinya di hadapan Adinda, Devin semakin posesif dibuatnya.
Adinda sih senang-senang saja diperlakukan seperti saat mereka masih menjadi sepasang sahabat. Namun, yang Adinda heran adalah perlakuan Devin terhadapnya yang kadang berlebihan. Bolehkah Adinda menganggap perlakuan Devin adalah sebuah perasaan sayang kepada lawan jenis, bukan sebagai sahabat.
Ke mana pun Adinda ingin pergi maka Devin akan siap siaga mengantarnya. Sarapan dan makan malam bersama. Akhir pekan pun Devin menyempatkan diri mengajak Adinda berkeliling, tapi Adinda sadar ia tak boleh banyak berharap kepada Devin.
Terkadang perlakuan Devin yang berlebihan seperti ini seringkali membuat Liona protes. Karena kini Liona tak lagi menjadi prioritas bagi Devin. Devin sendiri heran akan apa yang terjadi pada dirinya. Devin sangat mencintai Liona, tapi Devin merasa nyaman jika bersama dengan Adinda. Bersama Adinda, Devin menjadi diri sendiri dan dia tak perlu menjadi orang lain.
Ting!
'Din, pulang nanti aku gak bisa jemput. Aku masih ada meeting sama klien. Kamu gak apa-apa kan pulang sendiri?' Ternyata pesan dari Devin yang mengabari Adinda kalau ia tak bisa menjemput sang istri.
'Ya, gak apa-apa Dev.' Adinda membalas pesan Devin.
Adinda tak masalah jika harus berangkat dan pulang kerja sendiri. Bukankah sebelumnya memang seperti itu. Hanya saja Devin menawarkan diri untuk mengantar sekaligus menjemput Adinda.
Adinda kembali melanjutkan pekerjaannya. Agar ia bisa segera pulang dan beristirahat.
Tok tok tok.
"Masuk!" instruksi Adinda.
Adinda mendongak untuk melihat siapa yang datang dan masuk ke ruangannya. Jika Sinta dan Alia, mereka pasti akan langsung bersuara, tapi kali ini mengapa hanya diam saja.
"Candra!" seru Adinda.
Adinda tak menyangka jika yang berkunjung adalah Candra. Pasalnya mereka tak memiliki janji untuk bertemu. Namun, sekarang lihatlah! Candra berdiri di ambang pintu ruangan Adinda dengan senyum lebarnya.
"Gak usah kaget gitulah Adindaku sayang. Apakah kamu tak merindukan kakandamu ini?" Candra dengan penuh percaya diri berjalan ke arah Adinda berada.
Adinda memalingkan wajahnya ke samping. Ia tak ingin Candra melihat rona kemerahan di wajahnya karena panggilan sayang mereka di masa lalu. Sejujurnya rasa itu masih tersisa, karena hubungan mereka kandas bukan karena keinginan mereka berdua.
__ADS_1
Namun, sekarang Adinda sadar bahwa ia sudah menjadi seorang istri dan tak sepatutnya masih menyimpan nama laki-laki lain di sudut hatinya. Walaupun hubungan pernikahannya hanyalah sebatas hitam di atas putih.
Candra mendudukkan dirinya di kursi di hadapan Adinda. Candra tahu bahwa kini Adinda tengah tersipu. Seandainya saja status Adinda bukanlah istri orang, pasti Candra akan langsung mengajaknya ke KUA.
Adinda melihat ke arah Candra setelah berhasil menetralkan degup jantungnya. Adinda memindai penampilan Candra yang hanya berpakaian kasual.
"Tumben?" tanya Adinda.
"Kangen," jawab Candra.
Adinda menepuk keningnya saat menyadari kalau Candra telah salah mengartikan maksud dari pertanyaannya, sedangkan Candra masih saja memamerkan deretan gigi gingsulnya, yang membuatnya terlihat lebih manis dan menggemaskan.
"Maksud aku, tumben pakai baju kasual. Gak kerja emang?" tanya Adinda seraya menunjuk pakaian yang Candra kenakan dengan menggerakkan dagunya ke arah Candra.
"Ribet Din pakai jas mulu. Aku pakai baju formal kalau pas ketemu klien, meeting, dan jika ada acara penting yang harus aku hadiri. Kalau hari-hari biasa, aku ya lebih nyaman pakai baju kasual begini," jelas Candra panjang lebar.
"Oh!" Adinda hanya beroh ria menanggapi penjelasan Candra.
"Aku hanya ingin ketemu sama kamu Din. Bolehkan? Sekalian aku mau nganterin kamu pulang," ungkap Candra.
Adinda kembali melanjutkan pekerjaannya. Membuat sebuah desain baju pengantin yang dipesan oleh salah satu p*******n setianya. Dia tak ingin membuat Candra menunggu terlalu lama. Lagi pula Devin sudah mengiriminya pesan yang menyatakan tak bisa menjemputnya. Jadi, tidak ada salahnya kan Adinda menerima tawaran Candra untuk mengantarnya pulang.
"Lagi sibuk banget ya?" tanya Candra saat melihat Adinda masih sibuk mencorat-coret kertas.
Adinda mendongak dan mengangguk. Kemudian kembali menarikan pensilnya di atas kertas.
"Kalau begitu, aku tunggu di sana ya Din." Candra menunjuk ke arah sofa yang berada di ruangan Adinda.
"Iya," jawab Adinda seraya mengangguk.
Candra beranjak dari duduknya. Ia melangkah menuju sofa. Candra mendudukkan dirinya di sofa. Mengeluarkan ponsel sembari menunggu Adinda menyelesaikan pekerjaannya. Sesekali Candra melirik ke arah Adinda yang tengah fokus mendesain.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Adinda telah menyelesaikan desain terakhirnya. Ia menoleh ke arah Candra yang tengah sibuk memainkan ponselnya. Adinda tersenyum, begitu pula Candra ketika pandangan mereka beradu.
Adinda merapikan kertas-kertas hasil dia menggambar. Kemudian merapikan meja sebelum beranjak pulang.
"Dra!" seru Adinda yang membuat Candra melihat ke arahnya.
"Sudah selesai Din?" tanya Candra ketika melihat Adinda berjalan ke arahnya dengan menenteng tasnya.
"Iya Dra," jawab Adinda.
"Kita mampir di cafe depan dulu ya Din. Aku masih pengen ngobrol sama kamu," ucap Candra seraya beranjak dari duduknya.
Mereka berjalan beriringan menuju cafe yang tepat berada di seberang jalan dari butik Adinda. Mobil yang Candra kendarai di biarkan tetap terparkir di depan butik.
Sementara Devin tak jadi melakukan meeting dengan klien. Ia mengemudikan mobilnya menuju butik Adinda. Mengabaikan panggilan dan pesan dari Liona. Rasanya ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan istrinya itu.
Devin memarkirkan mobilnya di depan butik Adinda. Ia bergegas turun dari mobil dan mulai melangkah menuju butik. Namun langkahnya terhenti kala melihat mobil di sebelahnya dengan plat nomor yang tidak asing baginya.
Devin bergegas memasuki butik dan menuju ruangan Adinda. Namun, sesampainya di ruangan Adinda ia tak menemukan siapa-siapa. Devin keluar kembali dan menghampiri Sinta yang berada di balik meja kasir.
"Adinda mana?" tanya Devin to the point.
Sinta terkejut melihat Devin di hadapannya. Sinta baru saja kembali dari toilet. Jadi, ia tak tahu jika ada suami dari bosnya datang berkunjung.
"Ma-maaf Pak, Bu Adinda se-dang keluar," jawab Sinta dengan gugup.
"Kemana?" tanya Devin dengan tak sabar. Devin tahu kalau Sinta pasti mengetahui kemana Adinda pergi.
"A-anu Pak. I-tu--"
"Anu, anu, yang jelas dong kalau ngomong!" Devin meninggikan suaranya dengan rahang yang mengeras. Untunglah tak ada orang lain selain mereka dan juga Alia yang terjengkit kaget mendengar teriakan Devin.
__ADS_1
"Maaf Pak. Bu Adinda sedang--" Sinta tak melanjutkan kata-katanya ketika mendengar suara yang sangat ia kenal.
" Devin!"