Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 17


__ADS_3

Meski terasa sesak tapi Adinda berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar. Statusnya yang hanyalah istri di atas kertas membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Namun, tetap saja hatinya terasa sakit kala melihat langsung laki-laki yang berstatus suaminya berpegangan tangan dengan wanita lain sambil tertawa bahagia. Sementara dirinya dilupakan begitu saja.


Adinda menghirup udara dan menghembuskannya perlahan. Kemudian Adinda melangkah menuju tempat di mana Devin berada, sedangkan Candra masih setia mengekorinya. Adinda tak habis pikir akan sikap Devin yang bisa di bilang semena-mena terhadap dirinya.


Devin tak menyadari kehadiran Adinda karena posisinya yang membelakangi Adinda. Devin masih saja mengobrol ria dengan Liona. Bersama Liona rasanya dunia seakan milik berdua.


"Devin!" seru Adinda ketika tepat berada di belakang punggung Devin.


Seketika Devin melepas genggaman tangannya dengan Liona. Devin menoleh dan mendapati Adinda kini berada tepat di hadapannya. Devin beranjak dari duduknya. Netranya beradu pandang dengan Adinda yang menatapnya kecewa.


"Ya tuhan, kenapa aku bisa lupa sama Adinda," batin Devin. Ia khawatir Adinda akan salah paham. Apalagi kini Devin sedang bersama dengan Liona.


Devin beralih melihat ke arah belakang Adinda. Matanya memicing melihat laki-laki yang kemarin membuat hatinya merasa dongkol.


"Kamu ngapain bareng sama dia?" tanya Devin seraya menunjuk ke arah Candra dengan tatapan tajamnya.


"Seharusnya aku yang tanya sama kamu Dev. Kamu ngapain disini bareng dia?" Adinda melempar kembali pertanyaan Devin dengan jari yang menunjuk ke arah Liona.


"Wajar dong kalau gue di sini sama Devin. Loe lupa siapa gue bagi Devin? Apa perlu gue ingatkan ulang?" timpal Liona dengan senyum sinisnya.


Adinda memutar bola mata malas. Tanpa perlu dijelaskan lagi Adinda sudah tahu Liona itu siapa, yang dibutuhkan Adinda hanyalah penjelasan Devin yang melupakan keberadaannya.


Devin mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras melihat Adinda tampak akrab dengan laki-laki lain.


"Tinggal jawab aja kenapa sih Din? Kamu kesini itu bareng aku dan kenapa sekarang malah bareng sama dia!" Devin meninggikan volume suaranya. Tidak terima rasanya melihat Adinda bersama dengan laki-laki lain.


"Sudah tau aku ke sini itu bareng kamu, tapi kenapa aku di tinggalin. Bilangnya cuma sebentar, tapi nyatanya hampir satu jam," jawab Adinda kesal.

__ADS_1


Devin meraup wajahnya kasar. Dilihatnya sekeliling, tampak banyak pasang mata yang memperhatikan perdebatan mereka.


"Kamu tahu ini apa?" Adinda mengangkat kresek di tangannya yang berisi barang belanjaannya.


"Belanja satu troli penuh tanpa pegang uang sepeser pun, mau di bayar pake apa? Untung tadi Candra datang dan bayarin semuanya." Adinda kesal bukan main. Seharusnya kan Adinda yang marah karena menunggu terlalu lama. Ini kenapa malah jadi sebaliknya.


"Kenapa kamu gak tungguin aku aja Din? Kenapa harus minta tolong sama dia?" Devin mencoba menekan amarahnya. Berbicara senormal mungkin agar tak mengundang perhatian banyak orang.


"Aku udah nungguin kamu hampir sejam Dev, tapi kamu tidak kunjung kembali. Harus berapa lama lagi aku nungguin kamu Dev? Dua jam, tiga jam atau bahkan seharian?" kata Adinda kesal.


Rasanya Adinda benar-benar ingin memakan orang kalau begini ceritanya. Cacing di perutnya terus saja meronta-ronta, tapi Devin sama sekali tidak peka.


"Bukan begitu Din, tapi aku--"


Kruyuuukkk....


"Kamu dengar sendiri kan Dev? Bahkan para cacing di perutku sudah berdemo dari tadi, sedangkan kamu di sini malah menikmati makanan sambil suap-suapan dengan sangat mesra." Adinda tentu saja merasa malu. Namun, lebih dari pada itu, rasa marah dan kecewanya lebih besar.


"Lebih baik kita cari meja lain Din. Terus pesan makanan." Candra membuka suaranya setelah sejak tadi hanya berdiam diri.


Adinda membalikkan badannya tanpa sepatah kata pun. Mengekori langkah Candra yang mencari meja kosong untuk mereka tempati. Sungguh Adinda merasa teramat kecewa pada Devin.


Devin hendak beranjak menyusul Adinda, tapi segera ditahan oleh Liona. Liona merasa teramat puas melihat tontonan gratis secara langsung di depan matanya. Namun, Liona juga harus lebih waspada. Karena sepertinya Devin begitu perhatian pada Adinda.


"Duduk di sini aja Dev. Memangnya kamu ngapain nyusul mereka? Apa kamu cemburu kalau Adinda jalan sama cowok lain?" tanya Liona.


Urung Devin melangkah untuk menghampiri Adinda. Devin menghela napas panjang. Devin mendudukkan dirinya kembali di hadapan Liona. Biarlah untuk saat ini ia membiarkan Adinda tenang terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bukan begitu sayang. Aku sama sekali tidak cemburu sama mereka. Aku hanya merasa kesal karena Adinda membangkang ucapanku dan berani mendebatku di depan orang lain. Aku gak mau kalau kejadian seperti ini sampai terdengar oleh kedua orang tuaku. Mereka pasti akan merasa sangat kecewa dan aku gak mau semua itu terjadi," jelas Devin panjang lebar.


Sebenarnya Devin juga merasa tak yakin apakah ia cemburu atau tidak melihat kedekatan Adinda dengan laki-laki lain, yang ia tahu, ia hanya merasa sangat kesal terhadap Adinda.


"Baguslah kalau begitu." Liona tersenyum manis ke arah Devin. Dalam hati ia bersorak bahagia sebab Devin ternyata begitu mencintainya


Drrtt drrtt drrtt....


Liona merogoh ponsel di dalam tasnya. Melihat nama si pengirim pesan. Liona sedikit terkejut, tapi tak lama ia menormalkan kembali mimik wajahnya. Liona tak mau Devin curiga. Dibukanya pesan tersebut dan mulai membacanya. Senyumnya terbit seketika.


"Dev, aku harus pergi. Ada meeting penting." Liona meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Devin hanya menganguk seraya tersenyum. Sebenarnya Devin masih ingin berlama-lama dengan Liona, tapi Devin juga merasa senang Liona pergi meninggalkannya. Karena itu artinya, ia bisa menemani Adinda dengan leluasa.


Dilihatnya punggung Liona yang telah melangkah menjauh. Setelah tak terlihat lagi, ia menoleh ke arah Adinda yang tampak sudah selesai menyantap makanannya. Devin segera beranjak menghampiri Adinda.


"Sudah selesai Din?" tanya Devin setelah sampai di tempat Adinda berada.


"Heemm." Adinda hanya berdehem.


"Kita pulang sekarang ya. Mama udah nungguin kita," kata Devin.


"Maaf, istri saya harus pulang sekarang. Dan tolong kirimkan nomor rekening anda. Nanti saya transfer untuk mengganti biaya yang sudah anda keluarkan untuk istri saya hari ini." Devin tak mau berhutang budi pada Candra.


"Oh maaf, Bro. Aku ikhlas kalau itu buat Adinda." Candra menatap Adinda dengan senyum manisnya.


"Makasih ya Dra. Kalau begitu aku pamit dulu," pamit Adinda.

__ADS_1


Melihat ekspresi Devin yang tampak menahan amarah, gegas Adinda beranjak dari duduknya. Menggandeng tangan Devin untuk segera pergi. Adinda tak ingin ada perdebatan lagi.


__ADS_2