
Tok tok tok... Ketukan di pintu mengalihkan atensi Adinda dari kegiatan menggambarnya.
"Masuk," seru Adinda.
"Permisi, Bu," ucap Widi dari arah pintu yang terbuka. Ia melangkah menghampiri meja kerja Adinda dengan menenteng sebuah kotak makan siang.
"Bu, istirahat dulu," ucap Widi.
"Sebentar lagi Wid," jawab Adinda. Ia masih saja sibuk mencorat-coret kertas.
"Tapi ini sudah lewat jam makan siang Bu." Widi masih berusaha membujuk Adinda untuk beristirahat. Ia paham betul jika atasannya itu sering melewatkan jam makan siang jika sudah fokus mendesain. Apalagi jika mendapat pesanan khusus dari customer.
"Letakkan saja di meja, sebentar lagi saya istirahat," ucap Adinda tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas di hadapannya.
Widi meletakkan kotak makan siang yang dibawanya di meja sofa. Dilihatnya Adinda masih sibuk mendesain. Widi menghembuskan napas panjang. Kembali ia melangkah menghampiri meja kerja Adinda. Diperhatikannya wajah atasannya itu yang tampak pucat.
"Bu, maaf kalau saya lancang. Saya tahu jika customer yang datang tadi pagi meminta hasil desainnya harus selesai hari ini juga, tapi Ibu juga harus istirahat. Wajah Ibu terlihat pucat sekali. Saya tidak ingin Ibu Adinda jatuh sakit." Widi kasihan melihat Adinda yang harus bekerja keras mendesain lima gaun pengantin sekaligus dalam tempo yang singkat.
"Baiklah." Adinda mendongak dan tersenyum. Ia kemudian meletakkan pensilnya dan beranjak menuju sofa. Namun, baru beberapa langkah Adinda merasakan kepalanya seperti berputar.
"Bu Adinda." Sigap Widi menopang badan Adinda yang hampir terjatuh.
"Tolong! Bu Adinda pingsan," teriak Widi yang membuat beberapa karyawan segera berhambur ke ruangan Adinda.
"Bu Adinda kenapa Wid?" tanya Susan panik.
"Mungkin beliau kelelahan," jawab Widi tak kalah paniknya.
"Ya sudah, kita harus segera bawa Bu Adinda ke rumah sakit," usul Miska.
"Tomi, Andre, cepat bantuin angkat bu Adinda. Malah diem aja dari tadi," ucap Widi pada dua orang temannya yang hanya bergeming sedari tadi dikarenakan kaget melihat atasannya tergeletak tak sadarkan diri.
__ADS_1
Tomi dan Andre tersentak. Mereka bergegas mengangkat Adinda dan membawanya menuju mobil. Mereka meletakkan Adinda di kursi penumpang belakang dengan Widi yang sudah terlebih dahulu masuk dan menopang atasannya itu.
"Tom, kamu yang nyetir mobilnya. Untuk kalian semua tolong jaga butik ya," perintah Widi yang membuat karyawan yang lain mengangguk.
Tomi sudah siap di kursi kemudi. Kemudian mobil pun melaju perlahan meninggalkan butik. Widi merogoh ponsel di sakunya. Ia segera menghubungi Devin dan memberitahukan kondisi Adinda. Untunglah walau dalam keadaan panik, Widi masih dapat berpikir jernih.
Devin segera menuju ke rumah sakit yang diberitahukan Widi. Ia begitu cemas dengan kondisi istrinya yang terlihat lemas akhir-akhir ini. Tak lama kemudian Devin sudah sampai di rumah sakit. Semenjak Adinda memutuskan untuk menerimanya kembali, sejak saat itulah Devin bermutasi ke kantor cabang di kota B agar lebih dekat dengan kediaman istrinya.
Devin turun dari mobilnya. Ia berjalan dengan langkah lebar. Dilihatnya dua orang karyawan istrinya tengah duduk di kursi tunggu UGD. Devin pun melangkah menghampiri mereka.
"Widi, Tomi, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Devin pada Widi dan Tomi yang seketika menoleh ke asal suara.
"Pak Devin," ucap Widi dan Tomi serempak. Mereka beranjak berdiri saat melihat suami atasannya ada di hadapan mereka.
"Bu Adinda masih di dalam, Pak," jawab Widi.
Perlahan pintu ruang UGD terbuka. Devin kembali melangkah mendekati dokter yang baru saja selesai memeriksa istrinya.
"Pasien baik-baik saja Pak. Pasien hanya kelelahan saja. Sebaiknya dalam kondisi hamil muda seperti ini, pasien harus lebih banyak istirahat," ucap dokter seraya mengulas senyum.
"A-apa Dok? Istri saya hamil?" tanya Devin memastikan bahwa ia tak salah dengar, sebab seminggu yang lalu istrinya masih negatif saat melakukan tes kehamilan mandiri.
"Iya Pak. Istri anda sedang hamil. Saat ini usia kehamilannya berkisar tiga minggu. Jadi, masih sangat-sangat rentan," jelas dokter.
"Alhamdulillah. Apa boleh saya menjenguk istri saya Dok?" tanya Devin. Ia sangat bahagia mendengar kabar bahwa istrinya sedang hamil.
"Oh, silahkan Pak," ucap dokter seraya menepi.
"Terima kasih Dok," ucap Devin. " Widi, Tomi, terima kasih karena telah membantu istri saya," ucap Devin pada Widi dan Tomi.
"Sama-sama Pak," jawab keduanya serempak.
__ADS_1
"Selamat atas kehamilan bu Adinda ya Pak. Kami turut bahagia mendengarnya," ucap Widi.
"Terima kasih. Oh ya, sebaiknya kalian kembali ke butik. Biar saya yang akan menemani istri saya di sini," ucap Devin.
"Baik Pak, kalau begitu kami permisi," ucap Widi.
"Mari Pak," imbuh Tomi.
"Ya silahkan. Hati-hati di jalan." Devin kemudian masuk ke ruangan UGD setelah dua orang karyawan istrinya itu berlalu. Devin melangkah menghampiri Adinda yang baru siuman. Devin mendudukkan dirinya di kursi samping brangkar. Digenggamnya tangan Adinda dan ia ciumi bertubi-tubi.
"Sayang, akhirnya doa dan usaha kita terkabul. Terima kasih ya." Devin membelai pipi Adinda yang tengah tersenyum padanya.
"Permisi Pak, Bu," ucap perawat yang melangkah menghampiri brangkar Adinda. "Selamat ya Pak, Bu, atas kehamilan Ibu Adinda. Ini resep obat dan vitamin yang harus ditebus di apotik. Diminum yang teratur ya Bu dan jangan lupa harus banyak-banyak istirahat. Hari ini juga Bu Adinda sudah boleh pulang." Perawat tersebut memberikan secarik kertas yang berisikan resep dan vitamin untuk Adinda.
"Terima kasih Sus," ucap Adinda dan Devin serempak.
Mereka pun bersiap-siap pulang ke rumah. Tak sabar rasanya memberitahukan kabar bahagia ini pada seluruh anggota keluarga. Terutama Vina yang selalu meminta adik pada kedua orang tuanya.
Mereka meninggalkan rumah sakit setelah menebus obat dan vitamin di apotik rumah sakit. Sepanjang perjalanan Devin menggenggam erat tangan Adinda dengan sebelah tangannya. Binar bahagia terpancar dari wajah keduanya.
Akhirnya kebahagiaan itu hadir di waktu dan tempat yang telah digariskan oleh takdir. Walau kesedihan datang bertubi-tubi, namun percayalah bahwa takkan selamanya kesedihan mengiringi. Akan ada saatnya kebahagiaan itu menghampiri.
Ada kalanya rasa sakit yang disebabkan oleh orang yang kita cintai begitu dalam dan sulit dilupakan. Namun, akan lebih baik jika berdamai dengan masa lalu dan saling memaafkan.
Tetaplah berusaha dan berdoa menurut keyakinan masing-masing. Insyaallah apa yang kita inginkan akan terkabulkan. Walau tidak instan, namun perlahan.
Jodoh, rezeki, dan maut seseorang sudah ada takdir dan porsinya masing-masing. Kadang kita mencari hingga ke ujung dunia, namun pada akhirnya jodoh kita ada di depan mata tanpa kita sadari keberadaannya.
Tetaplah semangat menjalani hari walau kadang terasa jenuh. Sabarlah, pelangi akan selalu hadir di saat hujan dan badai telah usai.
-End-
__ADS_1