Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 16


__ADS_3

"Ponselku mana ya?" gumam Devin seraya merogoh saku celananya.


"Oh ya, ada di meja makan. Haaahhh, kenapa sekarang aku jadi pelupa gini sih." Devin menepuk keningnya pelan.


Devin membalikkan badannya tapi ia tidak tahu bahwa Adinda berada tepat di belakangnya.


"Aduuuhhh!" pekik Adinda seraya mengusap keningnya yang beradu dengan dagu Devin.


"Duh maaf, maaf Din. Kamu sih jalannya gak liat-liat." Devin mengulurkan tangan hendak mengusap kening Adinda, tapi segera di tepis oleh Adinda.


"Jadi kamu nyalahin aku?" Adinda mengarahkan jari telunjuk tepat di depan wajahnya sendiri.


"Bu-bukan begitu Din." Devin menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Aku itu jalannya udah bener Dev. Kamunya aja yang tiba-tiba berhenti dan balik badan." Adinda mendengus kesal. Bisa-bisanya Devin menyalahkan dirinya.


"Iya, iya maaf aku yang salah. Aku tadi cuma mau ngambil ponselku yang ketinggalan di meja makan," jelas Devin.


"Nih ponselmu!" Adinda meletakkan ponsel Devin ke tangannya. Kemudian ia berlalu menuju tempat tidur.


"Sakit banget ya Din?" tanya Devin melihat Adinda meringis seraya mengusap keningnya.


"Udah tau nanya!" seru Adinda ketus.


"Sekali lagi aku minta maaf Din," sesal Devin. Sungguh ia benar-benar tidak tahu jika Adinda berada tepat di belakangnya.


"Sebaiknya kita segera tidur, sudah malam." Devin beranjak menuju lemari untuk mengambil selimut.


Adinda mengerutkan kening mencerna kalimat yang baru saja ia dengar. Tidur ... haruskah Adinda dan Devin tidur bersama dalam satu tempat tidur? Mereka memang sudah sah menjadi suami istri, tapi hubungan mereka teramat membingungkan.


"Jadi beneran kita tidur berdua di sini?" Adinda memicingkan matanya melihat ke arah Devin. Kesal yang tadi ia rasakan berubah jadi perasaan was-was.


"Iya Din, tapi kamu tenang aja. Kita memang sekamar tapi tidak seranjang. Aku akan tidur di sofa." Devin menunjuk sofa panjang yang ada di kamarnya.


Bukan Devin tak ingin tidur seranjang dengan Adinda. Mengingat bahwa mereka sering melakukannya dulu sebagai sahabat. Namun, sekarang kondisinya beda. Devin takut dirinya khilaf dan tak bisa menahan diri untuk tidak menerkam Adinda.

__ADS_1


Adinda menghembuskan napas lega. Adinda takut Devin khilaf dan melakukan lebih dari yang tadi mereka lakukan. Adinda tersipu mengingat adegan yang membuatnya seolah terhipnotis oleh pesona seorang Devin.


Di sisi lain Adinda tidak tega membiarkan Devin membaringkan dirinya di sofa. Pastilah rasanya sangat tidak nyaman. Apalagi harus melakukannya selama setahun. Namun, tak mungkin juga jika Adinda yang harus tidur di sofa kan.


"Memang gak apa-apa Dev?" tanya Adinda memastikan.


"it's ok Din. Atau kamu mau kita tidur berdua di ranjang? Kamu pasti sudah merasa candu dengan yang ku lakukan tadi, bukan? Atau malah menginginkan lebih dari itu?" tanya Devin dengan seringai menggoda.


"Ogah!" pekik Adinda. Dia merebahkan dirinya membelakangi Devin. Menutup dirinya dengan selimut sampai ke ujung kepala. Malu rasanya jika mengingat dirinya seperti menikmati yang mereka berdua lakukan.


Devin tertawa seraya mengambil bantal. Kemudian ia melangkah menuju sofa dan merebahkan dirinya.


 ---


"Din, aku angkat telepon dulu sebentar." Devin menunjuk ponsel yang digenggamnya. Kemudian berjalan menjauh setelah melihat Adinda menganggukkan kepalanya.


Siang ini mereka sedang berbelanja kebutuhan dapur di mall. Adinda kembali mendorong troli menyusuri rak tempat sayuran yang berjejer. Memilih sayuran apa yang akan menjadi bahan eksekusi masaknya selama seminggu.


"Terong, Kubis, Wortel, Sawi. Hhmmm apa lagi ya?" Adinda memilih dan memilah sayuran. Kemudian satu persatu dimasukkannya ke troli belanjaan.


"Lauk sudah, sayuran sudah. Sekarang tinggal mencari buah-buahan," gumam Adinda.


Adinda menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Devin. Tapi Devin tak nampak batang hidungnya. Sebenarnya bisa saja ia pergi ke gerai buah terlebih dulu, tapi Adinda tak mau Devin kebingungan karena tak menemukan Adinda berada di tempat Devin pergi meninggalkannya.


"Baiklah, hanya sebentar kan. Sebaiknya aku duduk dulu." Adinda beranjak menuju kursi tunggu.


Cukup lama Adinda menunggu namun Devin tak kunjung menghampirinya kembali. Adinda baru ingat kata sebentar yang Devin ucapkan bisa jadi seharian. Adinda menghembuskan napas berat. Adinda merasa Devin yang sekarang tak lagi sama dengan Devin yang dulu.


Adinda memutuskan menuju gerai buah sendirian. Kembali mendorong troli dengan perasaan kecewa. Sesekali kepalanya menoleh kebelakang. Berharap Devin sudah mengekori langkahnya.


Sementara di tempat berbeda. Lebih tepatnya di sebuah restoran di mall yang sama. Devin tengah asyik menyantap hidangan di meja dengan Liona.


Tadi Liona tanpa sengaja melihat Devin dan Adinda di gerai daging. Gegas ia menghubungi Devin untuk meminta penjelasan. Memintanya untuk menemani makan siang bersama. Awalnya Devin keberatan, tapi akhirnya dia menyetujui karena tidak ingin wanitanya merajuk.


Devin tampak sangat bahagia. Bahkan kini Devin lupa tentang tujuannya datang ke tempat ini dan bersama siapa. Bersama Liona ia seakan lupa dengan segalanya.

__ADS_1


Devin bahkan melupakan satu hal. Dia tampak asyik mengunyah makanan. Sesekali tawa terdengar dari keduanya. Sementara Adinda, ia merasa kewalahan dengan demo para cacing yang terus saja memukul-mukul dinding ususnya.


Kruuyuuuukk.


"Please cacing para penghuni usus. Janganlah kalian berdemo di waktu dan tempat yang salah," gumam Adinda sambil mengelus perutnya.


"Devin jahat banget sih. Udah tahu aku gak bawa dompet tapi malah ninggalin aku begitu lama tanpa sepeser uangpun," gerutu Adinda.


Seketika terdengar tawa yang terasa dekat di belakangnya. Adinda menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang sudah berani menertawakan dirinya.


"Candra!" desis Adinda.


"Memangnya siapa lagi cowok pemilik senyum semanis gula selain aku Din?" Candra membanggakan dirinya dengan tingkat kepercayaan diri level dewa.


Adinda memutar bola mata malas. Jengah sekali dia meladeni kenarsisan seorang Candra. Selalu saja seperti itu. Meski ia akui kehadirannya sedikit mengurangi kegalauan dirinya.


Candra hanya tertawa seraya memamerkan deretan gigi gingsulnya yang tampak rapi dan menawan. Kemudian mengambil alih troli dan mendorongnya.


"Eh eh, mau dibawa ke mana Dra?" tanya Adinda. Ia mengekori langkah lebar Candra yang mendorong troli belanjaannya.


"Mau ke kasir," jawab Candra santai.


"Tenang aja Din. Aku yang bayarin," sambungnya ketika melihat raut wajah Adinda yang tampak keberatan.


"Tapi aku kesini sama suamiku Dra. Jadi kamu gak perlu bayar belanjaanku," tolak Adinda. Ia tak enak hati menerima kebaikan Candra.


"Aku tadi lihat suami kamu lagi makan berdua sama cewek di restoran mall. Kebetulan aku tadi lagi meeting sama klien di sana. Jadi buat apa kamu nungguin dia. Udah aku aja yang bayarin," kata Candra.


"Kamu gak lagi bercanda kan Dra?" Adinda memicingkan matanya. Tak semudah itu Adinda percaya dengan omongan Candra.


"Kalau kamu gak percaya, kita kesana. Sekalian untuk menghentikan aksi demo para cacing di perutmu, tapi setelah aku membayar semua belanjaan kamu." Candra menyorongkan belanjaan Adinda ke kasir. Membayarnya kemudian mengajak Adinda untuk membuktikan ucapannya.


Adinda mengekori langkah Candra seraya bertanya-tanya dalam hatinya. Apa benar yang dikatakan Candra atau hanya modus saja untuk mengajaknya makan siang bersama.


Semakin dekat, Adinda semakin terlihat gugup. Kakinya melangkah memasuki restoran. Melihat ke arah meja yang ditunjuk oleh Candra dan benar saja, netranya melihat pemandangan yang mengiris hatinya.

__ADS_1


"Devin!"


__ADS_2