
"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Ivan pada Adinda.
Deg.
Adinda diam terpaku. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jika boleh jujur, Adinda memang masih menyimpan rasa itu pada mantan suaminya. Namun, rasa itu sudah tidak penting lagi mengingat statusnya kini.
"Kenapa Kakak bertanya seperti itu?" tanya balik Adinda.
"Kakak hanya ingin memastikan saja. Kakak takut kamu tidak bahagia," jawab Ivan seraya menatap lekat pada Adinda.
"Kak, kalau boleh jujur, di sini memang masih ada rasa itu," kata Adinda seraya menunjuk dadanya sendiri.
"Namun, semua itu sudah tak ada artinya lagi. Sekarang aku adalah istrimu. Hati dan jiwaku adalah milikmu seutuhnya. Hubunganku dengannya tak lebih dari sebatas orang tua Vina," kata Adinda tanpa ragu.
"Kalau begitu, tolong berjanjilah padaku untuk tetap bahagia. Jangan ragu untuk kembali padanya demi Vina, jika suatu saat aku tak bisa menepati janjiku untuk membahagiakanmu," kata Ivan.
"Kakak bicara apa sih? Kakak lupa kalau tadi pagi sudah mengikrarkan janji suci. Kenapa sekarang malah bicara seolah pernikahan hanyalah sebuah permainan." Adinda melerai tangan Ivan yang masih setia memeluknya.
"Bukannya begitu, aku hanya takut tak bisa membuatmu bahagia selamanya." Ivan meraih tangan Adinda dan mengec*pnya.
"Bahagia ataupun tidak bahagia adalah dua hal yang saling beriringan. Aku bahagia dengan pernikahan ini. Menjadi istri dari seorang laki-laki tanpa cela sepertimu adalah hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Untuk saat ini tak ada alasan untuk aku tak merasa bahagia. Atau jangan-jangan Kakak yang tidak bahagia dengan pernikahan ini, sehingga bisa berbicara demikian?" Adinda menatap Ivan yang hanya tersenyum melihat Adinda berbicara.
"Kamu tahu, hal terbesar apa yang pernah aku impikan dalam hidupku?" Ivan kembali mendekap Adinda dengan eratnya.
"Mana aku tahu," jawab Adinda ketus. Ia tak habis pikir laki-laki yang kini telah berstatus sebagai suaminya berbicara yang menurutnya tak masuk akal.
"Menghalalkanmu dan menjadikanmu ratu di hatiku. Menjadikanmu pelabuhan terakhir dalam hidupku. Sekarang impianku sudah terwujud. Kebahagiaan yang aku harapkan telah aku dapatkan. Jadi, aku bisa tenang sekarang," ucap Ivan seraya mengelus surai panjang Adinda yang tergerai.
Klik, tiba-tiba mati lampu.
"Huwaaa," teriak Adinda. Ia memeluk suaminya dengan erat.
"Hust, jangan teriak-teriak. Nanti orang-orang pada berpikir bahwa permainan kita terlalu g*nas," goda Ivan seraya merogoh ponsel di dalam sakunya. Kemudian ia menghidupkan senter sebagai penerangan.
__ADS_1
"Iihhh apaan sih. Aku tuh fobia kegelapan dan petir yang bersamaan," jelas Adinda seraya menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya.
"Mana ada petir? Cuma mati lampu doang, kan? Bilang aja kalau pengen meluk suamimu ini. Hati dan jiwaku adalah milikmu seutuhnya," goda Ivan seraya menirukan kata-kata Adinda.
"Iisshhh, memang petirnya belum ada, tapi kan di luar sedang hujan." Adinda mengerucutkan b*birnya dan mendorong d*da Ivan.
"Jangan ngambek, entar cantiknya hilang loh." Ivan kembali membawa Adinda dalam pelukannya.
Adinda hanya menurut saja. Adinda takut jika tiba-tiba ada petir di saat mati lampu seperti ini. Ivan tersenyum senang bisa menggoda istrinya.
"Ya udah yuk kita tidur, ini sudah malam," ajak Ivan seraya menuntun Adinda menuju peraduan.
"Ki-kita tidur ser*njang?" tanya Adinda gugup.
"Iya, Sayang. Kita kan sekarang suami istri," jawab Ivan seraya tersenyum manis ke arah istrinya.
Ivan membantu Adinda berbaring. Ia juga memakaikan selimut pada istri yang belum genap sehari ia nikahi. Ivan mengec*p kening istrinya perlahan. Ia memperhatikan wajah istrinya secara lekat dalam keremangan cahaya senter ponselnya.
Adinda merasakan jantungnya bertalu dengan kencang. Adinda masih takut jika Ivan akan meminta haknya malam ini. Walau sebagai istri ia harus siap mel*yani suaminya kapan pun. Namun, ia masih merasa ngilu kala teringat betapa brutalnya Devin memperlakukannya malam itu.
Duaaarrrrr.....
"Aakkhhhh." Sontak Adinda mendudukkan dirinya dan memeluk Ivan yang masih berdiri di dekatnya.
"Tuh kan, apa aku bilang? Aku takut kak. Jangan pergi kemana-mana," kata Adinda seraya semakin mempererat pelukannya.
"A-aku cuma mau ganti baju, Din," kata Ivan gelisah.
Bagaimana tidak gelisah, jika saat ini wajah Adinda tepat berada di depan miliknya yang hanya berbataskan kain. Ivan mencoba mendorong Adinda perlahan, namun Adinda makin mempererat pelukannya.
Duaaarrrr...
Kembali terdengar suara petir yang menggelegar. Adinda makin menyembunyikan wajahnya pada sesuatu yang kini semakin mengeras.
__ADS_1
"Din, bisa tolong lepasin Kakak?" tanya Ivan dengan suara yang terdengar serak.
"Aku takut," jawab Adinda.
Ivan memejamkan matanya. Di bawah sana semakin terasa sesak dan memberontak. Apalagi saat Adinda menggeleng-gelengkan kepalanya, ia seakan tak bisa menahan diri untuk mengajak Adinda mengarungi lautan cinta yang belum pernah ia selami.
"Din--"
"Aku benar-benar takut, Kak," potong Adinda.
"Iya, aku tahu kamu takut, tapi apa kamu tidak kasihan sama suamimu ini?" tanya Ivan seraya mencoba untuk tetap menahan diri agar tak menerkam Adinda, walaupun ia sebenarnya sangat ingin.
"Makanya Kakak jangan kemana-mana. Kakak harus tetap di sini nemenin aku sampai listriknya hidup kembali," putus Adinda.
Ivan sudah tidak tahan lagi. Ia mendorong Adinda perlahan, sehingga berbaring di tempat tidur. Kini posisi Adinda berada di bawah k*ngkungan suaminya.
"Ka-Kakak mau ngapain?" tanya Adinda gugup.
"Kamu harus tanggung jawab." Ivan mendekatkan wajahnya dan mulai mengec*p b*bir mungil yang telah menggodanya sejak pertemuan awal mereka di rumah sakit.
"Tanggung jawab bagaimana?" tanya Adinda. Sumpah, jantungnya kini benar-benar berdetak di atas normal.
"Apa kamu tidak tahu? Apa kamu tidak merasakannya? Waktu kamu memelukku barusan, kamu menyembunyikan wajahmu tepat di hadapan milikku. Sekarang lihatlah, dia semakin memberontak," jelas Ivan yang membuat Adinda tersentak kaget.
Ivan meraih tangan Adinda dan meletakkannya tepat pada miliknya. Adinda terbelalak kaget. Belum selesai ia terkejut akan penjelasan Ivan barusan, kini tangannya menyentuh pusaka warisan leluhur yang bertegangan tinggi.
Adinda menarik tangannya, tapi Ivan menahannya. Ivan menuntun tangan Adinda untuk memanjakan miliknya. Ivan memejamkan matanya untuk menikmati sensasi rasa yang tak biasa untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya.
Adinda merasa gugup, namun ia tak bisa menolak mengingat ini adalah kewajibannya sebagai seorang istri. Ia pun menuruti perintah suaminya. Ada gelenyar aneh yang terasa menggelitik perutnya. Meski ini adalah pernikahan keduanya, namun ini adalah pengalaman pertamanya menyentuh sesuatu yang keras dan bervolume.
Perlahan Ivan kembali mengec*p b*bir mungil sang istri. Ia menggigit b*bir bawah Adinda agar lebih leluasa mengabsen setiap isi di dalamnya. Walau pada awalnya terasa kaku, namun lambat laun mereka sama-sama terb*ai dan menikmatinya.
Mereka sama-sama saling mengatur napas setelah tautan b*bir mereka terlepas. Suara gemuruh di luar sana masih saling bersahutan. Namun, Adinda tak lagi merengek ketakutan. Ia sibuk menetralkan debaran jantungnya yang seakan melompat tak karuan.
__ADS_1
"Boleh?" tanya Ivan seraya menyeka sisa saliva di b*bir sang istri.