
"APA?" teriak Adinda seraya menjatuhkan ponsel di tangannya.
Adinda terduduk dan meraih ponselnya. Ia menempelkan benda pipih itu ke telinganya kembali. Ia ingin memastikannya kembali bahwa apa yang tadi didengarnya dari si penelepon hanyalah gurauan semata. Walau tak bisa di pungkiri ada rasa cemas yang menyelimuti.
"Halo, halo, halo Din. Kamu masih di situ gak?" Alia heboh sendiri di ujung telepon saat tak lagi mendengar suara Adinda.
"I-iya Al, aku kaget aja tadi. Bercandamu sih, kelewatan," jawab Adinda.
"Ya ampun Din, aku itu serius. Aku beneran loh ini. Aku benar-benar lihat dokter Ivan sama cewek masuk hotel," jelas Alia.
"Kalau memang itu suamiku, mana buktinya? Bisa saja kan itu hanya orang yang mirip." Adinda tetap berpikir positif pada suaminya. Ia tak mau berburuk sangka mengingat suaminya adalah orang yang sangat baik. Apalagi urusan ranjang sudah ia penuhi.
"Ya ampun, masa kamu gak percaya sama bestimu ini? Aku memang tidak punya bukti, tapi aku punya saksi." Alia tetap ngotot bahwa penglihatannya tak mungkin salah.
"Memang siapa saksinya?" tanya Adinda.
"Sinta, Din," jawab Alia, "Sin, tolong jelasin gih sama besti kita yang satu ini kalau omongan kita bisa dipercaya," ucap Alia seraya menyerahkan ponselnya pada Sinta.
"Halo, Din," sapa Sinta saat benda pipih itu beralih padanya.
"Iya halo. Kalian tidak sedang bercanda kan, Sin?" tanya Adinda cemas.
"Kami tidak bercanda, Din. Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri, kalau yang ada di depan sana tadi adalah dokter Ivan. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa datang langsung ke sini dan membuktikannya sendiri," jelas Sinta.
Badan Adinda lemas seketika. Sinta tak mungkin membohonginya. Karena Sinta lebih bisa dipercaya dari pada Alia yang sering kali bercanda di setiap tutur katanya.
"Terus, kenapa kalian bisa ada di sekitar hotel yang sama?" tanya Adinda menyelidik.
"Ya karena kami tadinya mau mengunjungimu. Terus waktu kami tadi berhenti di minimarket buat beli oleh-oleh buat kamu, kami gak sengaja lihat dokter Ivan keluar dari minimarket. Terus aku lihat ada seorang wanita di mobilnya. Aku pikir itu kamu, tapi ternyata bukan. Kami berinisiatif buat mengikuti kemana perginya dokter Ivan dengan wanita lain itu. Ternyata arah tujuan mereka adalah hotel Angkasa," jelas Sinta panjang lebar.
"Hotel Angkasa?" tanya Adinda memastikan kalau pendengarannya tidak salah.
"Iya, Din," jawab Sinta.
"Baiklah, aku ke sana sekarang. Assalamualaikum." Adinda memutus sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Sinta.
__ADS_1
"Hotel Angkasa? Bukankah itu hotel keluargaku? Ya Rabb, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa laki-laki yang baru tiga hari aku nikahi tega mengkhianatiku?" gumam Adinda seraya menyeka air mata yang sudah membanjiri pipi mulusnya.
Adinda beranjak dari tempat tidurnya. Ia terlebih dulu memastikan Vina masih tertidur lelap sebelum keluar dari kamarnya. Setelah dirasa aman, ia melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan oma Fani.
"Oma," panggil Adinda saat mendapati oma Fani duduk bersantai seraya membaca koran di ruang keluarga.
"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya oma Fani.
"Adin ijin mau keluar sebentar Oma. Ada sesuatu yang harus Adin beli. Adin titip Vina dulu ya, Oma," pamit Adinda.
"Pergilah, biar Omamu ini yang menjaga Vina," jawab oma Fani.
"Terima kasih, Oma. Kalau begitu, Adin berangkat sekarang ya, Oma," kata Adinda.
"Baiklah, hati-hati di jalan," kata oma Fani seraya tersenyum menyaksikan Adinda yang sudah beranjak menuju kamarnya.
Adinda segera menyambar jaket dan mengenakannya. Tak lupa kunci mobil, dompet dan juga ponsel di kantonginya.
"Sayang, jangan nakal ya. Bunda pergi dulu sebentar. Vina sama oma Fani," pamit Adinda pada putrinya yang tampak tak terusik oleh keberadaan Adinda.
"Oh ya, sebaiknya aku menghubungi suamiku dulu," gumam Adinda seraya merogoh ponsel di sakunya.
"Kak, kamu sebenarnya ada di mana?" gumam Adinda gelisah.
Adinda segera beranjak meninggalkan kediaman Angkasa. Ia tak ingin menunda lebih lama dan membuat rasa penasaran itu berubah jadi curiga. Perlahan mobil Honda Jazz warna putih itu melaju membelah jalan raya.
"Ya Rabb, semoga mereka hanya salah lihat saja," lirih Adinda.
Ia masih berharap bahwa orang yang teman-temannya yakini bahwa itu suaminya adalah orang yang kebetulan berwajah sama. Namun, Adinda harus membuktikannya sendiri agar tak hanya menerka-nerka sesuatu yang belum pasti.
"Kenapa pakai macet segala lagi, huft," gerutu Adinda.
Adinda memukul stir kemudi untuk meluapkan kekesalannya. Di saat terburu-buru malah terjebak macet yang semakin menyita waktunya.
"Oma," lirih Adinda. Matanya memicing melihat siluet seorang wanita paruh baya di boncengan tukang ojek yang menerobos kemacetan.
__ADS_1
"Ya gak mungkinlah itu Oma. Oma kan lagi di rumah jaga Vina." Adinda menghela napas dalam. Kemacetan di depan sana seakan mengular dan sulit terurai.
Setelah terjebak macet selama kurang lebih lima belas menit, akhirnya mobil Adinda bisa melaju kembali. Adinda menghembuskan napas lega. Sesekali ia melirik arloji di tangannya.
Setelah berjuang melawan kemacetan di jalan raya, mobil Honda Jazz warna putih itu akhirnya memasuki halaman hotel Angkasa. Adinda menuju basement untuk memarkirkan mobilnya. Setelah mobil terparkir sempurna, gegas ia turun dan menghubungi teman-temannya.
"Kalian di mana?" tanya Adinda setelah panggilan terhubung. Ia bahkan lupa mengucapkan salam karena pikirannya mulai tak tenang. Adinda takut jika apa yang teman-temannya katakan adalah sebuah kenyataan.
"Di lobi, Din," jawab Alia.
"Ok, aku ke sana sekarang," putus Adinda seraya mengakhiri panggilan.
Gegas ia mengayunkan kakinya dengan tergesa. Sekali lagi Adinda mencoba menghubungi nomor suaminya, namun masih tidak aktif. Adinda mengumpat kesal. Ia pun semakin mempercepat langkah kakinya.
"Akhirnya kamu datang juga," sapa Sinta saat melihat Adinda sudah sampai di dekatnya.
Mereka bertiga pun menuju resepsionis untuk mengetahui letak kamar hotel yang disewa Ivan.
"Permisi Mbak, saya mau tanya tamu atas nama Ivan Nicholas Pradana," ucap Adinda.
"Sebentar ya Mbak, saya cek dulu," ujar si resepsionis. Tak berapa lama si resepsionis mengerutkan keningnya seraya menatap layar komputer.
"Maaf Mbak, sepertinya tidak ada tamu yang namanya seperti yang Mbak sebutkan tadi," kilah si resepsionis. Ia tak mungkin memberitahukan posisi kamar hotel yang ditempati tamu yang berstatus incognito.
"Bohong, jelas-jelas tadi kita lihat sendiri bahwa dokter Ivan masuk ke hotel ini," sanggah Alia yang membuat si resepsionis terlihat salah tingkah.
"Tolong beritahu saya, Mbak. Nama tamu yang saya sebutkan tadi adalah suami saya sekaligus menantu dari bapak Fathan Angkasa, pemilik hotel Angkasa ini," jelas Adinda seraya menunjuk foto keluarganya yang terpajang di salah satu sudut lobi.
Si resepsionis itu mengikuti arah pandang yang ditunjukkan oleh Adinda. Seketika matanya membulat sempurna. Ia begitu terkejut saat mengetahui bahwa wanita yang berdiri di depannya adalah pewaris tunggal hotel tempatnya bekerja.
"Ma-maafkan saya Mbak. I-ini kunci kamarnya," kata resepsionis itu terbata-bata.
"Terima kasih," ucap Adinda.
Gegas Adinda menuju kamar hotel tempat suaminya berada. Sinta dan Alia pun mengekori langkah Adinda.
__ADS_1
Adinda berhenti sejenak saat sampai di depan pintu kamar hotel yang ditempati suaminya. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Adinda menempelkan key card di tangannya. Perlahan pintu itu pun terbuka.
"Ka--kalian!" Luruh sudah air mata Adinda menyaksikan pemandangan yang kini ada di hadapannya.