Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 25


__ADS_3

Sudah tiga hari Adinda dirawat di rumah sakit dan selama itu pula Devin selalu setia menemaninya. Kondisinya pun kini sudah mulai membaik. Bahkan, sore ini ia sudah di perbolehkan untuk pulang.


"Aku mau mengurus administrasi sebentar ya Din," pamit Devin. Netranya menatap Adinda yang tengah sibuk dengan kegiatannya.


Adinda menghentikan gerakan tangannya yang sedang membereskan barang-barang pribadinya selama berada di rumah sakit. Ia menoleh ke arah Devin yang tengah menatapnya. Ia tersenyum pada sang suami yang telah suka rela menemani dan merawatnya dengan sepenuh hati. Bahkan, Devin seringkali mengabaikan panggilan masuk dari Liona, hanya sekedar untuk menjaga perasaannya.


"Iya Dev," kata Adinda. Kemudian ia kembali melanjutkan mengemas barang-barangnya.


Baru saja Devin keluar dari ruang rawat inap Adinda, pintu ruangan diketuk oleh seseorang. Adinda kembali menghentikan gerakan tangannya. Adinda menoleh sekilas, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat terjeda.


"Siapa ya?" Adinda mengerutkan kening heran. Tak mungkin jika itu adalah suaminya. Karena jika itu Devin, ia akan langsung masuk tanpa perlu mengetuk pintu terlebih dahulu.


Adinda menoleh lagi ke arah pintu yang perlahan terbuka. Tampak Candra yang tengah berdiri di ambang pintu dengan senyum lebarnya.


"Assalamualaikum Din," sapa Candra.


"Waalaikumsalam Dra," jawab Adinda.


"Gimana keadaannya?" tanya Candra seraya melangkah masuk mendekati Adinda.


"Alhamdulillah Dra, aku baik-baik saja. Bahkan, aku sekarang sudah boleh pulang," jawab Adinda seraya tangannya menunjuk tas yang baru selesai dia kemas.


"Syukurlah, maaf aku baru bisa jenguk. Lagi sibuk banget soalnya," jelas Candra.


"Iya, gak apa-apa. Makasih ya Dra, kamu sudah mau meluangkan waktunya buat jengukin aku," kata Adinda, "Duduk dulu Dra." Adinda melangkah menuju sofa diikuti oleh Candra yang mengekor di belakangnya.


Adinda mendudukkan dirinya di sofa panjang yang terdapat di ruangan tersebut, sedangkan Candra juga mendudukkan dirinya di sofa yang sama di samping Adinda, karena memang hanya terdapat satu sofa panjang saja.


Candra menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sepertinya ia ingin mengetahui keberadaan Devin. Sebab sejak ia memasuki ruang rawat inap Adinda, tak ia temui seorang pun kecuali Adinda.

__ADS_1


"Suamimu kemana Din?" tanya Candra. Netranya masih sibuk memindai ke setiap penjuru ruangan.


"Suamiku? Oh, dia sedang mengurus administrasi," jawab Adinda.


"Oh ya, aku punya sesuatu buat kamu," kata Candra seraya merogoh saku jas yang ia kenakan.


"Apa?" tanya Adinda penasaran.


"Ini dia, taraaaa. Maaf ya Din, aku cuma bawa ini." Candra menyodorkan sebatang cokelat di tangannya ke arah Adinda.


"Karena aku tahu, kamu lebih suka cokelat dari pada bunga," sambungnya. Candra masih mengingat dengan jelas hal yang disukai atau tidak oleh Adinda.


"Makasih ya Dra." Adinda tersenyum ke arah Candra.


Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Devin melangkah masuk dengan senyum manisnya. Namun, sedetik kemudian senyumnya pudar saat melihat Adinda tengah duduk bersisian dengan laki-laki yang namanya telah masuk daftar hitam untuk Adinda hindari.


"Din!" seru Devin.


"Iya, kita bisa pulang sekarang," ucap Devin datar. Devin menyambar tas Adinda yang teronggok di brangkar pasien dan membawanya keluar. Sejenak ia melirik tajam ke arah Candra.


"Dra, maaf, aku pamit dulu," pamit Adinda pada Candra. Ia merasa tak enak hati pada Candra.


"Iya, gak apa-apa Din. Sudah sana, susul suamimu," usir Candra dengan kekehan tawanya.


"Makasih ya Dra, sekali lagi aku minta maaf. Kalau begitu aku pulang dulu," pamit Adinda seraya beranjak dari duduknya.


Gegas Adinda menyusul Devin yang telah lebih dulu keluar meninggalkan dirinya. Dilihatnya Devin tengah menunggunya di depan lift. Adinda melangkah mendekati Devin.


Devin melihat Adinda yang berjalan tergesa ke arahnya. Devin merasa bersalah karena bagaimanapun kondisi Adinda baru pulih. Namun, ia juga merasa kesal pada Adinda karena masih memberikan celah pada Candra untuk mendekatinya. Padahal ia sudah sangat tegas melarang Adinda untuk dekat dengan laki-laki lain terutama Candra. Seposesif itukah dirinya? Namun, Devin terus saja mengelak jika perbuatannya dikatakan sebuah kecemburuan.

__ADS_1


Mereka memasuki lift bersama. Tak ada siapa pun di dalam lift selain mereka berdua. Adinda melirik ke arah Devin, ia tahu bahwa saat ini Devin tengah menahan amarahnya. Lebih baik ia diam karena ia tak ingin berdebat, apa lagi kondisinya sekarang masih belum stabil.


Sampai di mobil pun mereka masih sama-sama diam. Tak ada yang memulai pembicaraan selama perjalanan. Devin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Tak terasa kini mereka telah sampai di basement apartemen. Devin turun dan memutari mobil lalu membukakan pintu untuk Adinda. Kemudian mengunci otomatis mobilnya setelah memastikan tak ada satu barang pun yang ketinggalan. Devin melangkah dengan tas Adinda yang ia jinjing di tangannya, sedangkah Adinda mengekori langkah Devin di belakangnya. Adinda menghembuskan napas panjang. Ia tak suka kecanggungan ini.


 ---


Beberapa hari berlalu sikap Devin pada Adinda masih sama dinginnya. Bicara hanya seperlunya saja. Adinda juga sudah merasa terbiasa dengan sikap Devin yang bisa berubah seketika.


Terbiasa melakukan aktifitas, membuat Adinda merasa bosan hanya berdiam diri di apartemen. Ia memutuskan untuk mengunjungi makam sang bunda. Sudah lama ia tak berkunjung sejak ia sakit. Biasanya ia akan menyambangi makam sang bunda setiap seminggu sekali.


Sebagai seorang istri yang baik, Adinda harus meminta izin terlebih dahulu pada suaminya jika hendak bepergian. Berulang kali Adinda menghubungi Devin, namun Devin tak kunjung menjawab panggilannya.


"Kemana sih? Sibuk banget kali ya," gumam Adinda. Ia memutuskan untuk mengirim pesan saja.


Kemudian Adinda memesan taxi online yang akan mengantarnya menuju pemakaman. Tak lama kemudian taxi yang ia pesan sudah datang. Adinda bergegas masuk ke dalam taxi setelah memastikan bahwa taxi tersebut memang benar taxi online yang dipesannya.


Taxi pun perlahan melaju membelah jalan raya. Adinda sudah tak sabar ingin bertemu dengan sang bunda. Walau kini mereka berada dalam dimensi yang berbeda, tapi buat Adinda semuanya masih sama saja. Bahkan, rasa rindu yang seringkali datang menghampirinya akan sirna jika ia berkunjung ke makam ibunda tercinta.


Tak lama kemudian taxi yang ia kendarai perlahan berhenti di pemakaman. Adinda membayar ongkos taxi sesuai argo di aplikasi.


Perlahan kakinya melangkah memasuki pemakaman setelah mengucap salam. Adinda menghirup aroma melati dan kamboja yang menguar dari segala penjuru. Adinda terus tersenyum di setiap langkah kakinya.


"Siapa dia?" Kakinya berhenti melangkah tak jauh dari pemakaman.


Tampak di dekat pusara sang bunda, ada seseorang yang tengah berjongkok seraya melantunkan dzikir dan doa. Walau penasaran, tapi Adinda menunggu sampai orang tersebut selesai dengan doanya.


Dilihatnya orang tersebut mengusap tangan ke wajahnya yang menandakan orang itu telah selesai memanjatkan doa. Barulah Adinda melangkahkan kakinya kembali mendekati makam sang bunda.

__ADS_1


"Maaf, anda siapa?"


__ADS_2