Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 32


__ADS_3

POV Devin


"Kamu gak apa-apa kan, Sayang?" tanyaku pada Liona.


"Gak apa-apa kok, Dev," jawab Liona seraya tersenyum manis ke arahku.


Ia sesekali meringis sambil mengusap pipinya. Aku tak habis pikir, kenapa Adinda bisa bertingkah bar-bar seperti tadi. Mungkin dia cemburu melihat Liona berada di ruangan ini, tapi bukankah dia juga tahu kalau Liona itu adalah kekasihku. Bahkan kami sudah menjalin hubungan sebelum pernikahan itu terjadi.


"Beneran kamu gak apa-apa?" tanyaku lagi.


"Iya, aku gak apa-apa, Sayang. Jadi, kamu gak perlu khawatir," jawab Liona.


"Oh ya, aku pamit ya Sayang. Aku harus kembali ke kantor. Kebetulan tadi aku meeting di luar, jadi aku mampir dulu ke sini sebentar," imbuhnya seraya berpamitan padaku.


"Ya sudah, hati-hati di jalan," jawabku.


Liona beranjak dari duduknya dan melangkah menuju pintu. Aku tatap kepergiannya sampai sosok Liona hilang dari pandangan. Aku segera beranjak menuju kursi kebesaranku, karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum makan siang.


Namun, belum sempat aku melangkah, aku menoleh kembali ke arah meja sofa. Seketika netraku tertuju pada kotak bekal di meja. Aku baru menyadari jika ada kotak bekal di sini.


Urung aku melangkah, aku mendudukkan diriku kembali. Aku membuka kotak bekal itu perlahan, seketika wangi khas makanan menguar membaui indera penciumanku dan itu membuatku semakin merasa lapar. Tanpa bertanya pun, aku tahu ini pasti buatan Adinda.


Ah, mengingat Adinda, aku jadi merasa bersalah karena tadi aku bersikap kasar padanya. Tak pernah sekalipun aku membentaknya, namun tadi aku terlalu terbawa emosi. Bagaimana tidak emosi, jika seseorang yang aku sayang sampai jatuh tersungkur dan terlihat kesakitan.

__ADS_1


Namun, untuk saat ini aku harus menghentikan aksi demo para cacing di perutku. Biarlah urusan Adinda aku pikirkan nanti saja. Sepertinya akan lebih baik kalau aku terus bersikap dingin padanya agar ia menyadari kesalahannya.


Gegas aku menyendok makanan yang terlihat menggugah seleraku. Masakan Adinda memang telah membuatku candu. Aku tak pernah bisa menolak setiap hidangan yang Adinda suguhkan walaupun dalam keadaan aku sedang marah sekalipun.


Suap demi suap makanan itu berpindah tempat ke perutku. Kini, makanan di dalam kotak bekal ini pun tandas tak bersisa. Aku merasa kekenyangan. Rasanya perut ini terasa penuh. Bagaimana tidak kekenyangan, jika seluruh bekal yang Adinda bawakan untukku hanya tinggal tempatnya saja. Kemudian aku membereskan meja dan membawa kotak bekal ini ke wastafel lalu mencucinya.


Aku menghembuskan napas lelah. Aku duduk bersandar di kursi kebesaranku. Perusahaan Wijaya Group selain bergerak di bidang tekstil juga turut berperan dalam bidang kosmetik. Ada perusahaan kosmetik ternama yang tertarik untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan Wijaya Group.


Akhir-akhir ini aku seperti diburu waktu, mendesain logo dan deskripsi produk untuk diserahkan kepada perusahaan tersebut. Aku tersenyum puas menatap hasil kerjaku. Semoga tidak ada halangan agar tender besar itu aku menangkan. Karena ada beberapa perusahaan lain yang juga mengajukan kerja sama serupa. Segera aku save file yang memang belum sempat aku simpan karena terburu-buru pergi ke ruangan papa.


Aku kembali berkutat dengan tumpukan dokumen yang masih terlihat menggunung di atas meja kerjaku. Entah berapa lama aku sibuk dengan berkas-berkas yang harus aku periksa dan tanda tangani. Tanpa terasa jam sudah menunjuk ke angka empat. Gegas aku merapikan kembali meja kerjaku.


Kini, aku sedang dalam perjalanan pulang. Ketika melewati sebuah toko bunga, aku menghentikan mobil ini sejenak. Mungkin jika aku membeli bunga dan memberikannya pada Adinda, dia akan menerima permintaan maafku. Ah, kenapa lagi-lagi Adinda yang aku pikirkan. Bukankah seharusnya dia yang meminta maaf, bukan diriku.


"Assalamualaikum," Aku mengucap salam ketika memasuki apartemen.


"Di mana dia?" tanyaku pada diri sendiri karena tak ku dengar jawaban salam.


Aku melangkah menuju kamar. Kuputar handle pintu dan tak aku temui keberadaan istriku. Kuletakkan tas kerja di tempat yang semestinya. Kemudian melepas seluruh pakaian yang aku kenakan dan melangkah menuju kamar mandi.


Selesai mandi, segera aku menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim. Biasanya kalau tidak terlalu sibuk, aku sholat di mushola kantor.


Aku masih duduk bersila di tempatku sambil menunggu adzan maghrib. Tak berapa lama terdengar suara adzan maghrib berkumandang. Gegas aku kembali menjalankan kewajibanku.

__ADS_1


Kulirik jam di atas nakas, sudah jam enam lewat, namun masih tak ada tanda-tanda keberadaam Adinda. Segera aku menuju dapur, namun masih tak aku temui seorang pun.


Aku membuka tudung saji dan kulihat menu yang sama dengan yang aku makan tadi siang. Seketika cacing di perutku meronta-ronta. Segera aku mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk yang terhidang di meja.


Rasanya ada yang kurang, biasanya sarapan atau makan malam seperti ini, Adinda selalu menemaniku sejak dia menjadi istriku. Aku melirik ke kursi di mana tempat Adinda biasa duduk untuk makan bersama. Terasa hambar ketika hal yang terbiasa dilakukan bersama, kini harus dijalani seorang diri.


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku mencoba mengusir bayang-bayang Adinda dari benakku. Bukankah setelah satu tahun pernikahan kami, aku harus terbiasa tanpa adanya Adinda di sisiku. Ini masih tiga bulan, tapi kenapa aku sudah merasa bergantung padanya? Mungkinkah aku sudah mulai ada rasa sama dia? Segera aku tepis pikiran yang membuatku semakin dilema. Aku memantapkan hati bahwa rasa nyaman ini hanya sebatas rasa antar sahabat.


Kembali aku menyuap makanan itu ke mulutku. Makanan yang selalu tampak menggugah seleraku kini telah berpindah tempat ke dalam perutku. Seandainya saja Liona bisa memasak makanan seenak ini, pasti aku akan merasa senang. Namun, harus aku tekan keinginanku untuk mempunyai istri yang pandai mengenyangkan perut suami.


Liona hanya bisa memasak makanan instan yang sudah jelas tidak sehat jika terlalu sering mengkonsumsinya. Pernah dia belajar untuk membuat telur dadar, tapi sayang hasilnya sangat mengecewakan, rasanya asin dan juga pahit karena gosong. Huft, seandainya Liona bisa memasak seperti Adinda. Ah, kenapa Adinda lagi, Adinda lagi yang berkeliaran dalam benakku.


Segera aku membereskan meja makan. Membawa peralatan yang kotor ke wastafel lalu mencucinya. Kemudian aku beranjak menuju sofa. Kuhidupkan televisi untuk menonton.


"Kemana Adinda?" Aku menoleh ke arah pintu yang masih menutup sempurna. Tak biasanya ia pergi tanpa pamit padaku.


Tak lama kemudian, pintu perlahan terbuka. Kulihat Adinda yang sedang menutup pintu. Dia berjalan melewatiku tanpa kata. Segera aku beranjak untuk mengikuti langkah Adinda yang masuk ke kamar setelah mematikan televisi.


"Din," panggilku.


Adinda hanya menoleh sekilas lalu meneruskan langkahnya masuk ke kamar mandi. Aku menghembuskan napas panjang. Kenapa rasanya aku tidak terima Adinda bersikap dingin padaku? Bukankah aku yang telah berniat memutuskan untuk bersikap dingin padanya. Kenapa sekarang malah sebaliknya? Lalu, ke mana saja dia hingga baru pulang jam segini?


"Aakkhhh." Aku mengusap kasar wajahku. Segala tanya terus berkelebat dalam benakku, membuatku semakin merasa frustrasi.

__ADS_1


__ADS_2