Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 41


__ADS_3

POV Adinda


Lambat laun kondisiku semakin membaik. walaupun rasa trauma itu masih ada, tapi setidaknya aku sudah tak lagi berdiam diri di dalam kamar. Seperti pagi ini, aku bisa merasakan sarapan bersama keluargaku. Ada ayah, oma, dan juga opa. Seandainya bunda masih ada, pasti terasa lengkap kebahagiaan ini.


Berbagai hidangan yang tersaji di meja makan terasa begitu menggugah seleraku. Entah mengapa akhir-akhir ini aku begitu lahap, ah bukan lahap lagi, tapi bisa dikatakan sangat rakus. Selera makanku pun amat teramat sangat baik sekali. Bahkan saat tengah malam aku sering mengendap-ngendap ke dapur seperti pencuri, hanya untuk menuruti kemauan para cacing di perutku yang terus saja meronta.


"Tambah lagi, Sayang?" tanya oma ketika melihat piringku tandas tak bersisa.


Aku mengangguk dengan senyum malu-malu. Bagaimana tidak, hanya aku seorang di sini yang sarapan makanan berat, sedangkan ayah, oma, dan opa hanya sarapan setangkup roti isi yang bahkan masih sisa setengahnya.


Katanya jam sembilan nanti mereka ada acara keluarga, jadi harus menyisakan ruang untuk hidangan jamuannya. Aku tidak ikut karena kondisiku belum stabil. Jadi, mari eksekusi makanan di meja ini dengan semangat empat lima.


Perutku terasa penuh setelah dua porsi kuli itu berpindah tempat ke dalam perutku. Mengapa aku berkata demikian? Sebab, aku yang hanyalah kaum rebahan tanpa satu pun aktivitas yang kulakukan telah menghabiskan dua piring makanan yang lumayan banyak.


"Kita pergi dulu ya, Sayang. Kamu istirahat saja," kata ayah.


"Kalau butuh apa-apa jangan sungkan untuk meminta tolong," pesan oma.


Aku hanya mengangguk menanggapi pesan mereka, hanya opa yang pendiam di sini. Walaupun demikian aku tahu bahwa opa begitu menyayangiku. Wajahku yang bak pinang dibelah dua dengan bunda semasa remaja, membuat opa terus merasa bersalah karena terlambat menyadari bahwa menantu kesayangannya itu menderita karena ulah sang istri.


Setelah kepergian mereka, aku pun kembali menekuni aktivitasku seperti biasanya, apa lagi kalau bukan rebahan. Badanku pun sepertinya terasa semakin melebar. Hampir dua bulan aku berada di rumah ini dan selama itu pula aktivitasku hanya makan dan tidur saja.


Eits tunggu! Apa kataku tadi? Sudah dua bulan. Oh my God. Gegas aku raih ponsel yang tergeletak di samping bantal yang ku pakai. Aku cek kalender di ponselku. Aku menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.


"Baiklah, tenang dulu. Belum tentu semuanya seperti yang aku pikirkan." Aku menghela napas dan menghembuskannya perlahan untuk sedikit menenangkan pikiranku.


Tak ingin hanya menduga-duga, gegas aku memesan ojek online untuk mengantarku ke apotek. Meski hari terasa terik karena sekarang hampir pukul dua belas siang, tapi aku tak mungkin menggunakan jasa taxi online karena sebentar lagi ayah, oma, dan opa akan pulang. Pastinya mereka akan menceramahiku karena keluyuran di saat kondisiku belum sepenuhnya pulih. Malu rasanya jika meminta tolong pada pekerja di rumah ini untuk membeli sesuatu yang bersifat pribadi.


"Non Adinda, mau ke mana?" tanya bi Ningsing, salah satu Art di rumah ini, ketika berpapasan denganku di ruang tamu.

__ADS_1


"Saya hanya ingin jalan-jalan sebentar Bi. Sudah lama badan ini tidak terkena debu jalanan," jawabku.


"Kalau begitu Bibi panggilkan Tono dulu ya Non, supaya menyiapkan mobil untuk menemani Non Adinda jalan-jalan," tawar bi Ningsing.


"Tidak usah Bi, saya naik ojol saja. Ini sudah pesan karena hanya sebentar saja saya berkeliling," tolakku seraya menunjukkan ponsel digenggamanku.


Bi Ningsing pun mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya mengelap kaca jendela. Gegas aku melangkah keluar karena ojek online yang kupesan telah menunggu di pinggir jalan.


Motor pun melaju dengan kecepatan sedang. Untunglah aku naik ojek. Kalau tidak, sudah pasti akan terjebak macet. Walaupun jarak antara rumah dan apotek sangat dekat, tapi jalanan di sini tidak pernah sepi.


Sekitar sepuluh menit, motor pun berhenti di halaman parkir apotek. Gegas aku masuk ke dalam untuk membeli sesuatu yang aku butuhkan. Setelah mendapatkan barang yang aku inginkan, aku kembali ke rumah dengan tukang ojek yang sama.


"Ini Pak ongkosnya, terima kasih tumpangannya," ucapku seraya menyodorkan selembar uang kertas berwarna biru pada tukang ojek di hadapanku.


"Ini banyak banget Neng, ongkosnya cuma sepuluh ribu saja Neng," tolak si bapak tukang ojek seraya hendak menyerahkan kembali uang yang tadi aku berikan.


"Kembaliannya ambil saja Pak. Tak baik loh menolak rezeki." Aku mendorong pelan tangan si bapak yang hendak mengembalikan uang pemberianku.


"Aamiin." Aku mengaminkan doa beliau. Rasanya uang segitu belum ada apa-apanya dibandingkan seluruh aset yang kumiliki saat ini, tapi bisa jadi sangat berarti untuk orang lain. Terima kasih ya Rabb atas segala nikmat yang Kau beri.


"Sekali lagi terima kasih ya, Neng. Kalau begitu saya pamit dulu. Mari Neng," pamit si bapak.


"Sama-sama, Pak. Hati-hati di jalan," jawabku.


Aku memutar badan setelah si bapak tukang ojek berlalu dari hadapanku. Namun, baru saja aku hendak masuk melewati pintu gerbang, seseorang menggenggam tanganku erat.


"Din!"


Deg

__ADS_1


Suara yang tak asing itu tertangkap runguku. Jantungku berdegup dengan cepat. Mungkinkah itu dia? Kuberanikan diri menoleh ke belakang. Seketika wajahku memucat tatkala orang yang saat ini tak ingin aku temui tengah berdiri di hadapanku.


"Lepas!" Kuhempaskan tangan Devin yang masih menggenggam tanganku. Sentuhannya membuat tubuhku merinding. Adegan demi adegan kejadian itu berputar dalam benakku. Dulu, wajah ini selalu aku rindukan, namun sekarang terlihat begitu mengerikan di mataku.


"Din, maafkan aku," ucapnya.


Aku berjalan mundur saat dia berusaha menggapai tanganku. Ada secuil rasa iba melihat keadaannya yang tampak menyedihkan. Namun, aku tak ingin kejadian yang telah menghancurkan harga diriku sebagai seorang wanita terulang kembali. Lagipula dia sudah tak memiliki hak apa pun atas diriku.


"Pergi!" teriakku.


Aku membalikkan badanku dan berlari secepat mungkin. Sungguh, dada ini terasa berdenyut nyeri kala seseorang yang kucintai telah menorehkan luka di dasar hati.


Tak kupedulikan teriakannya yang terus memanggil namaku. Gegas aku masuk ke kamarku dan mengunci pintu. Aku takut dia akan nekat menerobos masuk ke kamar ini dan melakukan perbuatan biadabnya lagi.


Kurebahkan diri ini di atas tempat tidur dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Aku takut, sangat takut. Tanpa sadar aku terlelap di antara rasa takutku.


Tok tok tok


Suara ketukan di pintu membuatku terjaga dari tidur lelapku. Kulirik jam di atas nakas ternyata masih jam satu, itu artinya hanya sekitar setengah jam aku terlelap.


"Sayang, bangun. Waktunya makan siang," teriak oma dari luar pintu kamarku.


"Iya sebentar, Oma. Adin mau sholat dulu." Aku tersenyum senang atas perhatian yang oma berikan padaku. Siapa sangka, orang yang dulunya paling tidak suka dengan bunda, kini menjadi orang yang paling menyayangi cucunya yang tak lain adalah anak dari menantu yang tak pernah ia harapkan dahulu.


Gegas aku ke kamar mandi untuk berwudhu. Kemudian melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim. Setelah selesai, aku bergegas turun menuju meja makan untuk makan siang. Makan siang kali ini aku sendiri, karena yang lain sudah selesai makan di acara keluarga. Oma sudah berada di kamarnya untuk istirahat, sedangkan ayah dan opa langsung pergi ke kantor.


Selesai makan aku bergegas menuju pos security untuk menemui pak Agus, security yang tadi telah membantuku untuk menghalangi Devin yang akan mengejarku. Aku memintanya untuk tak memberitahu perihal kedatangan Devin pada yang lain. Aku tak ingin ada urusan lagi dengannya. Untunglah pak Agus masih belum melaporkan kejadian tadi pada orang rumah.


Keesokan harinya, seperti biasa aku terbangun saat suara adzan shubuh berkumandang. Gegas aku menuju ke kamar mandi dan membawa serta barang yang aku beli kemarin.

__ADS_1


Aku memejamkan mata kala menunggu reaksi dari benda pipih kecil berbentuk persegi panjang itu. Perlahan kubuka mata setelah satu menit berlalu. Luruh sudah air mataku tatkala dua garis merah kini terlihat jelas di sebuah testpack yang ku pegang.


"A-aku hamil."


__ADS_2