Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 54


__ADS_3

POV Devin


Rasa cemburu menguasai hati tatkala yang lain selangkah lebih maju. Namun, sebelum janur kuning melengkung, aku tak akan menyerah begitu saja. Meskipun akan terasa sangat sulit menaklukkan kembali hati yang telah tersakiti, namun aku akan berusaha semampu yang aku bisa.


Aku memutuskan untuk pulang setelah memastikan wanitaku sampai di rumahnya dengan selamat. Walau bagaimanapun tubuh ini perlu istirahat. Banyak pekerjaan yang menanti esok hari. Aku merasa sangat bersalah pada Aditya dan juga sekretarisku, Diana. Mereka harus bekerja lebih keras, bahkan sampai lembur untuk mengerjakan semua pekerjaanku yang terbengkalai.


Sampai di rumah aku langsung menuju kamarku untuk beristirahat. Kulihat jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul satu malam. Walaupun begitu, aku tetap mandi sebentar untuk membersihkan badanku yang terasa sangat lengket.


Baru saja aku memejamkan mata, suara adzan shubuh terdengar bersahutan. Mata ini terasa seperti di lem, begitu enggan untuk terbuka. Namun, meskipun diri ini terasa mengantuk, aku harus segera bangun dan melaksanakan kewajibanku.


Seperti biasa, saat sarapan pagi aku hanya bisa minum segelas susu hangat. Aku pun tak mengerti sakit apa aku ini. Padahal sudah hampir tiga bulan, namun na*s* makanku tak kunjung membaik.


Pernah beberapa hari yang lalu, mama memberiku rujak buah. Awalnya aku merasa enggan untuk mencicipinya. Namun, saat mama makan rujak buah itu dengan begitu lahap di hadapanku, membuatku mau tak mau turut tergoda. Pada akhirnya rujak buah itu tinggal tempatnya saja.


'Ngidam ya?' kata mama waktu itu. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan mama. Bagaimana mungkin aku mengidam? Kata ngidam biasanya kan identik dengan orang hamil. Mama ini ada-ada saja. Masa lupa kalau anaknya ini seorang laki-laki.


Selesai sarapan, gegas aku pergi ke kantor. Pekerjaan menumpuk sudah menunggu untuk di eksekusi. Bukannya aku tak ingin menjadi seorang pimpinan yang bertanggung jawab. Hanya saja, masalah yang aku alami saat ini membuatku kehilangan fokus saat bekerja.


"Selamat pagi, Pak. Ini berkas-berkas yang harus Bapak periksa dan tanda tangani. Sebagian sudah saya serahkan pada pak Aditya untuk dihandle oleh beliau," kata Diana seraya menyerahkan setumpuk map di tangannya.


"Baik, terima kasih," kataku.


"Kalau begitu, saya permisi, Pak." Diana membungkukkan badannya. Kemudian beranjak keluar dari ruanganku.

__ADS_1


Aku menghela napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Tumpukan dokumen yang kini tergeletak di atas meja membuatku mendesah frustrasi. Padahal ini sudah tinggal sebagian, karena sebagian lagi sudah ada Aditya yang mengerjakan.


Kuraih satu persatu dokumen yang tersusun di atas meja kerjaku. Memeriksanya dan membubuhkan tanda tangan. Tanpa terasa jam makan siang pun tiba, namun berkas-berkas yang harus aku periksa masih menggunung.


Tok tok tok


"Masuk!" seruku pada orang yang mengetuk pintu ruanganku.


"Permisi, Pak," kata seorang office boy dengan segelas susu hangat di atas nampan yang dibawanya.


"Terima kasih," kataku setelah segelas susu hangat itu kini tersaji di atas meja kerjaku.


"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi," pamitnya seraya beranjak keluar dengan membawa nampan di tangannya.


Baru saja tanganku hendak meraih dokumen yang harus aku periksa, interkom di meja kerjaku berbunyi. Ternyata papa yang menghubungiku. Beliau memintaku untuk segera ke ruangannya. Biasanya papa tak pernah menyuruhku datang jika itu bukanlah sesuatu yang penting.


Sepanjang kaki ini melangkah, aku bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang terjadi. Kupercepat langkahku agar aku cepat mengetahui dan tak hanya menerka-nerka saja.


Sesampainya di ruangan papa, aku segera masuk setelah terlebih dulu mengetuk pintu. Kulihat beliau duduk bersandar di kursi kebesarannya seraya memijat pelipisnya. Aku menutup pintu kembali dan melangkah perlahan menghampiri beliau. Kududukkan diri ini di kursi yang hanya berbatas meja di hadapan papa.


"Maaf, Pa. Ada masalah apa?" tanyaku.


Kulihat papa menghela napas dan menghembuskannya secara kasar. Papa menegakkan tubuhnya. Beliau meraih satu dokumen yang tergeletak di atas meja dan menyerahkannya padaku.

__ADS_1


"Bacalah!" perintahnya.


Kuambil dokumen yang disodorkan papa padaku. Entah apa isi dokumen ini, namun mengapa aku yakin ini bukanlah sesuatu hal yang baik. Perlahan kubuka dan kubaca dengan seksama isi yang tertera dari semua berkas-berkas di tanganku.


"Ini?" tanyaku terkejut tak percaya dengan apa yang baru saja aku baca.


"Iya, semua itu benar. Papa tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini. Sepertinya ada pengkhianat dalam perusahaan kita," jawab papa.


"Itu pasti, Pa. Tidak mungkin saham perusahaan merosot drastis hanya dalam jangka waktu dua hari," kataku.


"Maka dari itu, Papa mengutusmu untuk menyelesaikan masalah ini agar tidak berlarut-larut. Papa percaya padamu," ungkap papa.


Apa? Kenapa harus aku? Jika aku pergi, sudah bisa dipastikan bukan hanya sebulan dua bulan aku berada di sana. Lalu, bagaimana dengan Adinda? Kepergianku pasti akan membuka banyak peluang pada yang lain, terutama dokter yang sudah diklaim sebagai calon suami Adinda. Namun, jika aku tidak pergi, bagaimana dengan nasib para karyawan yang bekerja di perusahaanku?


Perusahaan di negara S adalah salah satu cabang yang sudah berdiri selama tiga tahun terakhir. Omset yang diperoleh perusahaan setiap harinya terbilang sangat menguntungkan. Namun, mengapa statistik dalam dua hari ini mengalami penurunan yang sangat drastis. Serta laporan keuangan selama tiga bulan terakhir yang tidak sesuai.


"Baiklah, Pa. Devin bersedia," kataku mantap. Biarlah untuk saat ini aku mengalah, namun bukan berarti aku menyerah. Aku pergi untuk kembali. Semoga kepulanganku nanti, semua doa dan harapan segera terkabul.


Malam ini juga aku segera bertolak ke negara S meninggalkan tanah air tercinta. Aku harus fokus dalam menyelesaikan masalah perusahaan kali ini. Semakin cepat masalah ini selesai, maka semakin cepat pula aku bertemu kembali dengan Adinda.


Entah harus berapa lama aku berada di negara S. Satu hal yang pasti aku tidak boleh membuat semua orang kecewa. Namun, satu harapan terbesar dalam hidupku, semoga badai ini segera berlalu. Menyisakan pelangi yang memberi warna pada kehidupan.


"Adinda, berada jauh darimu pasti akan membuat diri ini begitu merindukanmu. Aku mohon, bukalah kembali pintu hatimu yang telah engkau kunci. Berilah aku kesempatan untuk membuktikan bahwa cinta ini benar-benar tulus dari dasar hati. Tunggu aku kembali untuk merajut asa yang pernah kubumbui luka," gumamku seraya mengusap layar ponsel yang terpampang wajah wanitaku dengan seulas senyuman yang menawan.

__ADS_1


"Ya Rabb, tolong jaga dia. Sampaikan padanya bahwa rasa ini sungguh menyiksa. Aku tak akan berhenti untuk memohon satu kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang pernah aku lakukan. Semoga di saat aku kembali nanti, Engkau berbaik hati tuk menyatukan kami kembali dalam sebuah ikatan yang suci."


__ADS_2