
"Aaahhhh," jerit Adinda.
Gegas Devin keluar dari kamar mandi ketika mendengar jeritan Adinda. Devin berjalan menghampiri Adinda yang duduk berjongkok di tempat tidur.
"Kenapa Din?" tanya Devin.
"Kecoak Dev," jawab Adinda tanpa melihat ke arah Devin. Matanya terpejam rapat.
"Mana ada kecoak di kamar ini Din," sanggah Devin. Mana mungkin ia percaya, sedangkan kamarnya bersih dan rapi.
"Beneran Dev, tadi kabur ke sana," kata Adinda seraya menunjuk kolong tempat tidur, tempat di mana tadi ia melihat serangga yang menggelikan itu kabur.
"Mana? Udah gak ada kali Din," kata Devin.
Adinda membuka matanya dan melihat tempat kecoak tadi berada, namun ia tak menemukan apa-apa. Adinda menghembuskan napas lega. Adinda menoleh ke arah Devin, namun sedetik kemudian ia berteriak nyaring.
"Aaaahhhh, kecoak," tunjuk Adinda ke arah Devin. Sontak Adinda melompat dari tempat tidur dan berlari masuk ke kamar mandi.
Devin hanya bisa melongo menyaksikan tingkah laku Adinda. Karena penasaran, ia mengikuti arah pandang yang tadi ditunjukkan oleh Adinda.
"Aaahhhh." Devin pun berteriak tak kalah nyaringnya ketika menyadari kecoak yang di maksud Adinda bukanlah kecoak yang sebenarnya, melainkan si Naga Hitam yang lepas dari sangkarnya. Beruntung kamar Devin kedap suara. Jadi, ia tak perlu khawatir seisi rumah akan heboh oleh teriakannya dan Adinda.
Gegas Devin berlari ke arah lemari. Ia menyambar asal pakaiannya dan segera memakainya. Pantas saja Adinda lari terbirit-birit, sebab Devin keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benang pun.
"Dasar ceroboh." Devin mengumpat dirinya sendiri.
Devin sungguh kehilangan muka dihadapan Adinda. Bisa-bisanya ia melakukan hal yang memalukan hingga berulang kali. Meskipun status mereka adalah pasangan yang halal, namun tetap saja hal itu sungguh memalukan.
Devin berjalan ke arah kamar mandi setelah selesai mengenakan pakaiannya. Ia belum sempat berwudhu karena terburu-buru saat mendengar teriakan Adinda. Bahkan, handuk pun lupa ia kenakan.
"Kecoaknya udah kabur Din," kata Devin seraya mengetuk pintu kamar mandi.
Adinda membuka pintu kamar mandi. Diperhatikannya Devin dengan saksama. Adinda menundukkan pandangannya saat beradu tatap dengan Devin. Wajahnya menghangat mengingat kejadian tadi.
__ADS_1
"Hmm, A-aku mau ambil wudhu Din," gagap Devin. Malu, tentu saja.
Adinda keluar dari kamar mandi dan melangkah menuju lemari. Ia memilih pakaian yang akan ia kenakan. Setelah itu membawanya ke kamar sebelah, kamar yang pernah ia tempati sewaktu berada di rumah ini.
Tak butuh waktu lama, kini Adinda telah selesai dengan ritual mandi kilatnya. Gegas Adinda memakai pakaian yang tadi ia bawa. Tak lupa ia memoles tipis bedak dan lipstik untuk menyempurnakan penampilannya.
Setelah selesai, Adinda melangkah menuju pintu. Namun, belum sempat ia membukanya, pintu itu sudah terlebih dahulu terbuka. Kepala Devin menyembul dari arah pintu yang perlahan terbuka. Devin berdiri di ambang pintu dengan ekspresi wajah yang terlihat canggung.
"Hmm, su-sudah selesai Din?" tanya Devin gugup. Oh ayolah, kenapa situasi ini lebih menegangkan dari pada menghadapi para klien.
"I-iya Dev," jawab Adinda tak kalah gugupnya.
"Turun yuk," ajak Devin, " Mama pasti nungguin kita."
Adinda hanya mengangguk. Sulit rasanya untuk ia berkata-kata di saat pikirannya melanglang buana entah kemana. Adinda mengekori langkah Devin yang telah beranjak menuju tangga. Kemudian mereka turun bersama menuju ruang keluarga. Tampak mama Intan yang tengah duduk santai sembari membaca koran.
"Papa belum pulang Ma?" tanya Devin pada mamanya.
"Belum Sayang, katanya masih di jalan, mungkin sebentar lagi datang," kata mama Intan.
"Iya Ma." Adinda tersenyum ke arah mama Intan. Ia bahagia memiliki mertua sebaik mama Intan yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri.
Devin duduk di sofa lainnya berhadapan dengan Adinda. Harus ia akui bahwa Adinda terlihat cantik meskipun selalu tampil sederhana. Bahkan, jika dibandingkan dengan Liona, Adinda tak kalah cantik meski tanpa polesan make up yang tebal.
"Apakah sudah ada tanda-tanda Sayang?" tanya mama Intan seraya tangannya mengelus surai sang menantu.
"Tanda-tanda apa Ma?" tanya Adinda. Ia tak mengerti apa yang di maksud oleh mama Intan.
"Kalian kan sudah dua bulan menikah, apa tidak ada tanda-tanda calon cucu buat Mama?" tanya mama Intan penuh harap.
Adinda dan Devin saling berpandangan. Mereka tahu bahwa mama Intan sangat mengharapkan kehadiran seorang cucu dari pernikahan mereka. Namun, itu adalah keinginan yang mustahil mereka wujudkan.
"Ma, masih dua bulan, kan. Kami masih ingin menikmati masa-masa menjadi pengantin baru. Iya kan Sayang?" tanya Devin melirik ke arah Adinda.
__ADS_1
Adinda tersipu dengan panggilan sayang yang Devin ucapkan. Seandainya ini mimpi, rasanya Adinda tak ingin cepat terbangun. Ah, sayang sekali ini bukan mimpi, namun juga tak bisa jadi kenyataan.
"Iya Ma, Adinda dan Devin masih ingin menyesuaikan diri dulu Ma," ucap Adinda. Adinda tak tega melihat raut penuh harap mama Intan, namun biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.
"Baiklah, terserah kalian. Apapun keputusan kalian asalkan kalian bahagia, Mama pasti akan selalu mendukungnya," ungkap mama Intan. Sebenarnya dia sedikit kecewa, tapi ia juga tak ingin memaksakan kehendaknya.
Terdengar deru suara mesin mobil milik papa Bima terparkir di garasi. Tak lama kemudian papa Bima masuk ke dalam rumah dan mendapati istri, anak, serta menantunya sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Assalamualaikum," ucap papa Bima.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.
"Sudah lama?" tanya papa Bima yang ditujukan pada Devin dan Adinda.
"Baru Pa," jawab Devin.
Mereka bergantian menyalami papa Bima. Tak lama kemudian terdengar suara adzan maghrib berkumandang. Mereka sholat berjamaah di mushola keluarga, kecuali Adinda karena ia sedang berhalangan.
Selepas sholat, mereka berkumpul di ruang keluarga, sedangkan Adinda membantu bi Inah menyiapkan makan malam. Adinda bahagia berada di tengah-tengah keluarga Devin. Akan ia nikmati setiap momen keluarga yang mungkin takkan pernah bisa ia nikmati lagi di kemudian hari.
Setelah selesai, Adinda memanggil mereka untuk makan malam. Mereka makan dalam diam. Hanya terdengar suara dentingan piring dan sendok yang beradu.
"Ma, Pa, aku sama Adinda pamit pulang," kata Devin. Mereka kini sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Loh, gak mau nginap di sini Dev?" tanya mama Intan.
"Iya Dev, di sini kan juga rumah kalian," timpal papa Bima.
"Enggak Ma, Pa. Aku sama Adinda mau balik ke apartemen," kata Devin.
"Makanya cepat buatin Mama sama Papa cucu yang banyak, biar orang tua ini tidak merasa kesepian," kata mama Intan.
"Ya maka dari itu Ma, kami mau balik ke apartemen supaya lebih leluasa memproduksi cucu buat Mama dan Papa, " seloroh Devin.
__ADS_1
Adinda menunduk malu. Bisa-bisanya Devin bicara sesantai itu membahas hal yang pribadi pada orang tuanya. Adinda hanya diam saja tak berani bersuara. Biarlah Devin seorang yang menciptakan kebohongan demi kebohongan.
Jauh di dasar lubuk hatinya, Adinda berharap Devin bisa menerimanya sebagai seorang istri yang sesungguhnya. Ia hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Seperti sang bunda yang rela menjanda sampai akhir hayatnya. Namun, ia hanya bisa berharap. Ia pasrah kemana pun arus yang akan membawanya.