Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 69


__ADS_3

Langit yang tadinya cerah, kini berubah menjadi mendung. Alam seakan turut berduka atas kepergian sosok laki-laki baik yang kini terbujur kaku. Masih terasa seperti mimpi, namun inilah takdir. Tak ada seorang pun yang dapat menghindari ajal, walau seseorang itu telah bergelar dokter sekalipun.


Lantunan tahlil dari kerabat dan para tetangga, menambah simfoni suasana duka. Adinda masih menangis sesegukan. Air mata seakan tiada henti untuk mengalir. Namun, walaupun demikian ia turut melafalkan doa-doa untuk sang suami meski suaranya sedikit tercekat.


Begitu pula dengan kedua orang tua Devin, mama Rita dan papa Indra. Mereka seakan tak kuasa melepas kepergian putra sulung mereka untuk selama-lamanya. Padahal baru saja putra mereka mengecap manisnya berumah tangga, namun kini sudah berada di alam yang berbeda.


Lain halnya dengan Indah, adik Ivan. Ia tak sadarkan diri saat menyingkap kain yang menutupi wajah sang kakak. Indah dibawa ke kamar tamu dengan ditemani oleh suaminya. Adik mana yang tidak terpukul jika kehilangan sosok kakak yang begitu menyayanginya. Kakak yang selalu menjadi garda terdepan untuk melindunginya. Tempat berbagi keluh kesahnya. Walau kadang sedikit usil, namun keusilannya menjadi bumbu dalam persaudaraan mereka.


"Adinda!" seru Alia. Sigap ia menahan tubuh Adinda yang terkulai lemah di sampingnya.


"Ya ampun, Sayang. Fathan, bawa Adinda ke kamarnya," titah oma Fani.


Adinda tak sadarkan diri untuk yang kesekian kalinya. Ia sudah berusaha untuk tegar dan mengikhlaskan, namun apa daya semuanya tak mudah untuk dilakukan. Tak berapa lama, Adinda kembali tersadar. Gegas ia menuju tempat di mana suaminya telah selesai disholatkan.


Lagi-lagi air mata menjadi saksi pilu saat melihat orang tersayang digotong menggunakan keranda. Adinda diapit oleh Sinta dan Alia yang selalu setia menemaninya. Melangkah perlahan menuju tempat peristirahatan terakhir suaminya.


Jenazah Ivan telah siap untuk dikebumikan. Untuk ke sekian kalinya Adinda menyaksikan orang tersayangnya perlahan diturunkan ke liang lahat. Rasa sesak menyeruak memenuhi rongga dadanya. Ingin rasanya ia berteriak untuk meluapkan rasa sesak yang seakan menghimpitnya. Namun, lidahnya terasa kelu. Hanya air mata yang mewakili perasaannya bahwa ia begitu sangat kehilangan.


Satu persatu para pelayat melangkah meninggalkan area pemakaman. Adinda masih setia duduk bersimpuh di samping pusara yang masih basah. Banyak kata yang belum sempat ia ucapkan. Namun kini ia hanya bisa menatap nanar gundukan tanah dan sebongkah batu nisan.


Devin merasakan sesak yang teramat sangat. Ia tak pernah bisa melihat Adinda bersedih. Sebab Devin pasti akan turut merasakan hal yang sama. Ingin rasanya ia datang mendekat dan menghibur Adinda. Namun ia hanya bisa menatapnya dari kejauhan saja.


"Sayang, kita pulang yuk," ajak mama Rita. Mama Rita benar-benar kehilangan, namun ia sudah ikhlas. Bukankah setiap yang bernyawa akan kembali pada-Nya. Jadi, cukup sampai di sini beliau mencurahkan kasih sayang yang nyata pada titipan-Nya. Selanjutnya ia akan menunjukkan kasih sayangnya lewat doa-doa yang akan senantiasa ia panjatkan pada sang maha kuasa.


"Baik, Ma," jawab Adinda.


Tiga bulan kemudian, lambat laun Adinda sudah mulai melupakan kesedihannya. Keluarga Ivan masih sering berkunjung walau Ivan sudah berada di alam yang berbeda. Mama Rita tak pernah menyalahkan Adinda atau siapa pun atas kejadian yang menimpa almarhum putranya. Bahkan beliau telah menganggap Adinda sebagai anaknya sendiri.


"Waahhh, anak Bunda makin pintar!" seru Adinda saat melihat Vina yang mengangkat badan gembulnya untuk merangkak.


"Yaahh, gagal!" seru Indah tak kalah hebohnya saat Vina kembali telentang dan tampak enggan untuk kembali belajar merangkak.


"Eh, itu si Azka mau ke mana?" Adinda menunjuk Azka, anak kedua Indah yang sudah menapaki tangga.


"Ya ampun, Sayang." Gegas Indah berlari untuk menghampiri Azka yang sudah menaiki anak tangga. Indah terlalu fokus memperhatikan Vina yang sedang belajar merangkak, sampai tak sadar jika Azka sudah tak berada di dekatnya.

__ADS_1


Ting tong...


Bi Ningsih tergopoh-gopoh dari arah dapur. Kemudian tak lama masuk kembali dan menghampiri Adinda.


"Siapa tamunya Bi?" tanya Adinda.


"Anu, Non. I-itu--"


"Iiihh si Bibi, kenapa jadi gagap begini?" tanya Indah.


"I-itu Non, di luar ada pak polisi," jawab bi Ningsing.


"Polisi," ucap Adinda dan Indah serempak. Mereka saling berpandangan heran.


"Cari siapa katanya Bi?" tanya Adinda.


"Maaf Non, Bibi gak nanya. Bibi takut," aku bi Ningsing.


"Bibi ini gimana sih. Ya udah yuk Mbak, kita ke depan," ajak Indah.


"Baik, Non," jawab bi Ningsing.


Adinda dan Indah beranjak menuju pintu. Perlahan Adinda membuka pintu dan terlihat dua orang laki-laki yang berpakaian polisi.


"Maaf, Bapak-bapak Polisi ini cari siapa ya?" tanya Adinda.


"Kami mencari saudari Adinda," jawab pak polisi yang berkumis.


"Oh, saya sendiri. Mari Pak, silahkan masuk," tawar Adinda. Walau ia penasaran kenapa dua orang polisi ini datang dan mencari dirinya. Namun, tak mungkin ia membiarkan tamunya hanya berdiri di teras saja.


"Silahkan duduk, Pak." Adinda mempersilahkan tamunya untuk duduk di ruang tamu.


"Terima kasih," ucap kedua polisi itu serempak.


"Sebentar ya Pak, saya buatkan minum dulu. Mbak, aku ke belakang dulu." Indah beranjak menuju dapur setelah melihat Adinda menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Maaf ya Pak, sebenarnya ada kepentingan apa Bapak-bapak polisi ini datang menemui saya?" tanya Adinda.


"Maaf sebelumnya karena sudah mengganggu kenyamanan dan waktu istirahat saudari Adinda. Kedatangan kami ke mari untuk membahas perihal kecelakaan yang di alami saudara Ivan atau suami anda," jawab pak polisi.


"Oh, kalau untuk masalah itu saya sudah ikhlas Pak. Bahkan keluarga suami saya juga sudah mengikhlaskan dan tak ingin memperpanjang masalah. Bahkan kami menganggap musibah ini sebagai takdir, terlepas kejadian itu di sengaja atau pun tidak," ucap Adinda.


"Permisi, Pak." Indah meletakkan minuman dingin di meja. Kemudian duduk di samping Adinda.


"Mari Pak, silahkan diminum dulu." Adinda mempersilahkan tamunya untuk menikmati minuman yang disuguhkan oleh adik iparnya itu.


"Terima kasih," jawab pak polisi serempak. Mereka pun segera meminum minuman yang telah disuguhkan di hadapan mereka.


"Baik, kita kembali ke pembicaraan kita. Sebenarnya meskipun tidak ada laporan dari pihak keluarga korban, kasus kecelakaan itu telah kami proses. Kebetulan pelaku adalah seorang buronan yang sudah lama kami cari. Kecelakaan itu pun terjadi karena ada unsur kesengajaan dan target utama pelaku adalah anda." ungkap pak Polisi berkumis.


"Jadi maksud Bapak, kecelakaan itu memang di sengaja?" tanya Adinda. Ia baru mengetahui fakta ini. Karena baik Adinda atau pun keluarga Ivan tak ada seorang pun yang membawa kasus kecelakaan itu ke ranah hukum.


"Iya, betul sekali," jawab kedua polisi itu serempak.


"Kalau boleh tahu, siapa pelaku yang sudah tega melakukan ini semua?" tanya Indah. Ia akan pastikan pelaku mendapat hukuman yang setimpal.


"Pelaku adalah saudari Liona," jawab pak polisi.


"Liona," gumam Adinda.


"Namun, ada kabar duka yang harus kami sampaikan mengenai kondisi saudari Liona." Sontak Adinda dan Indah berpandangan.


"Kabar duka? Maksudnya bagaimana ya Pak?" tanya Adinda.


"Begini, kemarin saudari Liona berusaha untuk kembali melarikan diri kembali. Namun beruntung pihak kepolisian segera mengetahuinya. Sempat terjadi aksi kejar-kejaran. Sampai akhirnya salah satu dari pihak kami melumpuhkan pergerakan pelaku dengan sebuah tembakan yang tepat mengenai kakinya. Pelaku tetap memaksa melarikan diri, sehingga kami pun terpaksa melepaskan timah panas ke kaki yang satunya."


"Pelaku akhirnya tumbang dan tak sadarkan diri. Gegas kami membawanya ke rumah sakit terdekat. Namun naas, nyawa saudari Liona tidak bisa tertolong. Fakta baru yang kami ketahui, ternyata pelaku mengidap penyakit kanker serviks yang sudah menggerogoti tubuhnya. Jadi, penyebab kematian pelaku selain karena terluka akibat tembakan dari pihak kami, juga disebabkan oleh penyakit yang ia derita. Pelaku sudah dibawa pulang oleh keluarganya dan dimakamkan tadi pagi," jelas pak polisi panjang lebar.


"Innalillahi wainna ilahi rojiun," ucap Adinda dan Indah serempak.


Meskipun rasa benci dan marah berbaur jadi satu. Namun, rasa iba itu ada saat mendengar kabar duka yang terdengar memilukan.

__ADS_1


__ADS_2