
POV Adinda.
Drrtt drrtt drrtt....
Baru saja aku memejamkan mata ini, terdengar dering ponsel di atas nakas. Netra ini masih enggan terbuka. Aku meraba-raba nakas dengan mata terpejam. Namun, saat tanganku berhasil menggapai ponsel, panggilan itu sudah berakhir.
Aku menggeliat malas. Perlahan aku membuka mata. Kulirik jam di atas nakas, ternyata sudah pukul dua dini hari. Padahal rasanya baru sebentar mata ini terpejam.
Aku menghela napas pelan. Kusingkirkan lengan kokoh yang melingkar posesif di perutku. Semenjak malam itu, aku dan Devin tidur di ranjang yang sama dengan guling sebagai pembatasnya. Namun, lagi-lagi aku terbangun dengan posisi Devin menjadikan aku sebagai gulingnya.
Drrtt drrtt drrtt.
Baru saja aku ingin melanjutkan menjelajah ke alam mimpi, namun lagi-lagi dering ponsel itu terdengar berulang kali.
"Siapa sih yang nelfon malam-malam begini?" Aku berdecak kesal.
Aku meraih ponsel yang tadi aku letakkan kembali di atas nakas. Aku melihat siapa yang menghubungiku tengah malam begini.
"Sinta," gumamku, "Ada apa ya?"
Cepat ku geser ikon gagang telepon berwarna hijau itu ke atas. Seketika runguku menangkap suara isakan di seberang sana.
"Halo Sin, ada apa?" tanyaku cemas.
"Din, butik Din," ucap Sinta di sela isak tangisnya.
"Ada apa dengan butik Sin? Kenapa kamu menghubungiku sambil menangis?" cecarku.
"Butik kenapa Sin?" tanyaku lagi saat yang ku dengar hanya isakan di seberang sana.
"Bu-butik kita kebakaran Din," jelas Sinta.
"APA?" Aku terpekik kaget mendengar pernyataan yang Sinta lontarkan.
Ponsel yang kupegang jatuh ke pangkuanku. Tubuhku terasa lemas tak bertenaga. Aku berharap ini hanyalah mimpi, namun saat ku cubit lengan ini terasa sakit. Tanpa terasa air mata ini mengalir membasahi pipi.
__ADS_1
"Din, ada apa?" tanya Devin.
Aku menoleh ke asal suara. Aku dapati Devin yang terduduk tengah menatapku. Mungkin dia terbangun karena teriakanku barusan.
"Ada apa, hmm?" tanyanya lagi.
"Butik Dev, butikku kebakaran," jawabku.
"APA?" pekik Devin. Ternyata reaksi Devin tak jauh berbeda denganku.
"Bisakah kamu anterin aku ke sana sekarang?" pintaku dengan wajah sendu.
"Baiklah," jawab Devin.
Kulihat Devin turun dari tempat tidur. Dia mengambil jaketnya yang tergantung di dinding. Kemudian menuju lemari dan mengambilkan jaket untukku.
"Pakailah," ucap Devin seraya menyerahkan jaketku yang barusan dia ambilkan.
Devin menyambar ponsel, dompet, serta kunci mobil di atas nakas. Kemudian menggandengku keluar untuk menuju butik. Aku dan Devin sama-sama masih mengenakan piyama. Mana sempat kami berganti baju dalam situasi genting seperti saat ini.
Aku hanya diam dalam perjalanan. Mulutku terkunci rapat. Hanya bulir bening yang terus menetes di pipi.
Tak lama kemudian mobil yang kami kendarai telah sampai. Devin memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari butik. Aku bergegas turun dan berlari menerobos keramaian. Tampak di depan sana para petugas damkar dan banyak warga tengah sibuk memadamkan kobaran api yang menjalar. Bukan hanya butikku yang terbakar, beberapa ruko dan rumah warga yang lain pun ikut terbakar.
Seketika badanku luruh ke tanah. Aku tak kuasa menahan sesak yang menggelayut di dada. Melihat pemandangan di depan mata membuat tangisku semakin menjadi. Butik yang aku rintis dari nol bersama kedua temanku kini jadi abu. Impianku sejak kecil kini dilahap habis oleh bara api.
Seseorang menyodorkan tangannya ke hadapanku. Aku mendongak dan kulihat Devin berdiri dengan tangan yang terulur di hadapanku. Ya Tuhan, aku terlalu panik sampai-sampai melupakan keberadaan Devin.
Aku menerima uluran tangan Devin yang mengajakku untuk berdiri. Kulingkarkan tanganku di pinggang Devin. Kusandarkan kepalaku di dada bidang yang membuatku sedikit merasa tenang.
"Tenanglah," ucap Devin seraya tangannya mengelus punggungku.
"Kamu tunggu di sana dulu Din. Aku mau bantu memadamkan api," kata Devin seraya tangannya menunjuk tempat di mana para wanita dan anak-anak berada.
Devin menuntunku ke tempat yang tadi ia tunjukkan. Rasanya aku tak sanggup untuk melangkah tanpa bantuan. Kemudian Devin mendudukkan diriku di kursi.
__ADS_1
"Tunggu di sini, ok," kata Devin yang hanya di balas dengan anggukan kepala olehku. Kemudian ia pergi bergabung dengan yang lain untuk memadamkan api.
Tak lama kemudian, api pun padam. Tak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut, namun kerugian berkisar ratusan juta. Beruntung semua desain yang telah aku buat sudah diserahkan ke penjahit oleh Alia. Walau aku mengalami kerugian akibat insiden ini, setidaknya aku tak perlu membayar pinalti pada para pelangg*nku.
Sinta dan Alia datang menghampiriku. Kami saling berpelukan. Meluapkan rasa kehilangan satu sama lain. Aku tahu mereka sama terpukulnya seperti diriku. Merekalah saksi hidup perjuanganku meraih impianku.
Kepalaku terasa teramat berat, namun aku mencoba bersikap biasa saja di hadapan teman-temanku. Aku tak mau membuat mereka khawatir. Namun, semakin lama rasa sakit itu tak tertahankan, hingga semuanya terasa gelap. Tubuhku limbung ke tanah dan aku tak mengingat apa pun setelahnya.
Saat aku terbangun, aku melihat langit-langit dan dinding yang didominasi warna putih. Wangi khas obat-obatan membaui indera penciumanku. Di tangan kiriku tertancap selang infus, sedangkan di tangan kananku terdapat tangan yang menggenggamku erat. Pasti rasanya sangat tidak nyaman tertidur dalam posisi duduk seperti Devin.
Perlahan aku mencoba melepas tanganku dari genggaman tangan Devin, tapi pergerakanku membuat Devin terbangun. Aku tersenyum ke arah Devin yang kini menatapku.
"Sudah sadar Din?" tanya Devin padaku.
Aku hanya bisa mengangguk. Rasanya lidah ini terasa kelu untuk sekedar berkata-kata. Kulihat Devin menekan tombol di atas brangkar pasien. Tak lama kemudian seorang dokter dan perawat masuk ke ruangan ini untuk mengecek keadaanku. Mereka keluar kembali setelah memastikan keadaanku baik-baik saja.
"Assalamualaikum." Seruan salam di ambang pintu membuatku dan Devin menoleh secara bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab kami serempak.
Mama Intan dan papa Bima melangkah masuk menghampiriku yang terbaring tak berdaya. Devin berdiri dan mempersilakan mama Intan untuk duduk.
"Bagaimana keadaanmu Sayang," tanya mama Intan khawatir.
"Adinda gak apa-apa Ma, jangan khawatir," jawabku.
Mataku tampak berat, mungkin karena efek obat yang disuntikkan dokter tadi melalui selang infusku, agar aku beristirahat. Tak butuh waktu lama kini aku terpejam dan siap menjelajah alam mimpi.
Entah berapa lama aku tertidur, ketika aku terbangun aku melihat Devin tidur meringkuk di sofa. Aku tersenyum, meski Devin tak mencintaiku, namun setidaknya dia masih memiliki rasa empati terhadapku.
----
Hello Readers kesayangan. Apa kabar?
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Readers, supaya Author makin semangat ngehalunya 😊
__ADS_1
Jangan lupa tap like, favorit, dan komennya juga ya 😊
Salam sayang buat para Readers tercintaku 🥰🥰