Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 11


__ADS_3

Devin menurunkan Adinda di kamar hotel di ranjang pengantin mereka. Canggung tentu saja. Meski ini bukan pertama kalinya mereka berada dalam satu ruangan yang sama, namun ini adalah momen yang di tunggu-tunggu setiap pasangan yang sebenarnya.


Perlahan Devin mengobati kaki Adinda. Jangan ditanya bagaimana kondisi jantung mereka saat ini. Sudah bisa di pastikan berdisko ria. Apalagi Adinda yang sedari awal harus menetralkan debaran jantungnya yang berdetak tak karuan.


Drrttt drrttt drrttt.


Getar ponsel Devin di atas nakas menghentikan aktifitas kecanggungan di antara mereka. Devin meraih benda pipih persegi panjang itu. Tertera nama sang pujaan hati di layar ponselnya. Devin melirik Adinda sekilas. Kemudian ia berlalu menuju balkon untuk menjawab telepon.


Sakit di kaki Adinda tak lagi terasa. Bukan karena Devin sudah selesai mengobatinya, bukan. Namun, gerak-gerik Devin yang menjauh untuk menerima panggilan seseorang, sudah bisa di pastikan bahwa orang itu adalah Liona. Kini, hatinya yang lebih merasakan sakit. Ini baru permulaan, namun mengapa sudah terasa sangat menyakitkan.


Tak lama kemudian Devin masuk kembali. Entah apa yang dibicarakan Devin dan Liona di sambungan telepon barusan. Wajah cemas Devin mengatakan bahwa ada sesuatu yang mengkhawatirkan.


"Siapa Dev?" Walau sudah tahu jawabannya, namun tak urung Adinda bertanya. Ia hanya ingin memastikan bahwa Devin yang sekarang masihlah sama dengan Devin yang dulu. Di mana kejujuran menjadi salah satu poin penting dalam persahabatan mereka.


"Hhmmm itu, bukan siapa-siapa." Devin tak mungkin mengatakan kalau yang menghubunginya adalah Liona.


Ponsel Devin kembali berdering. Devin meraup wajahnya kasar. Tampak jelas kekhawatiran di wajahnya.


"Aku keluar dulu sebentar. Ada urusan yang harus aku selesaikan. Kamu istirahatlah dulu," pamit Devin.


"Dev!" seru Adinda menghentikan langkah Devin yang menuju pintu.


"Ada apa?" Devin menoleh pada Adinda yang masih setia duduk di tepi ranjang pengantin mereka.


"Hhmmm itu. Tolong bukakan risleting gaunku," pinta Adinda ragu.


Devin memutar langkahnya menghampiri Adinda. Dibantunya Adinda untuk menarik turun risleting gaunnya. Sekali lagi Devin harus merelakan matanya terpejam sejenak. Devin tak habis pikir, bisa-bisanya dalam kondisi genting seperti saat ini ia masih bisa terpesona dengan pemandangan yang tampak jelas di depan matanya.


"Aku pergi dulu." Gegas Devin melangkahkan kakinya untuk segera pergi setelah selesai membantu Adinda.


Setetes bulir bening itu jatuh bersamaan dengan bunyi pintu yang tertutup. Ini adalah malam pertama mereka, namun kini Adinda ditinggalkan seorang diri. Meski tak akan ada ritual malam pertama di antara mereka seperti pasangan kebanyakan, namun setidaknya janganlah ia ditinggalkan.

__ADS_1


Ingin rasanya Adinda meminta Devin untuk tetap bersamanya disini. Menjaga perasaannya sebagai seseorang yang telah terikat dalam sebuah janji suci. Namun, Adinda hanya bisa tersenyum getir. Adinda sadar sesadar-sadarnya bahwa ia bukanlah seseorang yang diinginkan Devin untuk menemani setiap langkahnya.


Di liriknya jam yang menempel di dinding. Sudah hampir pukul sebelas malam. Urusan apa yang mengharuskan Devin terburu-buru pergi tengah malam begini? Tak adakah hari esok ia menyelesaikan urusannya?


Disekanya air mata yang telah membanjiri pipinya. Adinda harus tegar menerima takdir yang akan dijalaninya kini. Masih banyak hari-hari yang akan dilalui. Gegas ia menuju ke kamar mandi untuk mengguyur badannya yang terasa sangat lengket.


Sementara itu Devin memacu mobilnya dengan kecepatan maksimum. Jalanan yang tampak lengang memudahkan ia membelah jalan raya tanpa kendala. Pikirannya tak tenang sebelum bertemu dengan Liona dan memastikan bahwa wanitanya dalam keadaan baik-baik saja.


Devin memarkirkan mobilnya setelah sampai di apartemen Liona. Gegas ia keluar dan berjalan dengan langkah lebar agar ia bisa cepat sampai di unit apartemen Liona. Ditekannya angka-angka yang sudah ia hapal di luar kepala.


"Sayang! Liooo!" Devin berseru memanggil Liona. Devin mencari ke setiap sudut ruangan. Memastikan bahwa pujaan hatinya baik-baik saja.


"Lio Sayang, kamu dimana?" Devin terus saja menyusuri setiap ruangan dan meneriaki nama Liona.


Siluet bayangan seseorang di balkon membuat Devin menghembuskan napas lega. Setidaknya ia tahu, bahwa kini Liona tidak nekat melakukan ancamannya.


Setengah berlari Devin menghampiri Liona dan merengkuhnya dari belakang. Devin mengurai pelukannya dan membalikkan badan Liona. Devin memindai wajah Liona untuk memastikan bahwa wanitanya baik-baik saja.


Liona memeluk Devin erat seakan tak ingin merelakan Devin meninggalkannya walau selangkah. Liona tersenyum penuh kemenangan di dada Devin. Rencananya berhasil untuk membuat Devin datang.


Awalnya Liona hanya ingin memanfaatkan Devin sebagai ladang uangnya. Namun, kasih sayang yang diberikan Devin pada Liona membuatnya merasa nyaman. Bahkan kini setelah mengetahui Devin telah menikah, Liona merasa tak tenang. Ternyata secepat itu benih-benih cinta itu tumbuh.


"Aku tidak apa-apa Sayang," jawab Liona.


Masih dengan posisi yang sama. Liona menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh Devin. Liona menginginkan lebih dari ini. Namun, ia tak ingin tindakannya akan membuat ia kehilangan seseorang yang tulus mencintainya.


"Jangan lagi berencana untuk melakukan tindakan konyol Lio. Sudah aku katakan bahwa aku hanya mencintaimu. Aku dan Adinda tak lebih dari sebatas sahabat." Devin mengusap surai sang kekasih penuh sayang.


"Aku tahu bahwa kamu hanya mencintaiku. Aku tahu bahwa kamu akan datang jika aku memintamu untuk datang. Aku juga mencintaimu." Liona melerai pelukannya.


Mereka saling berpandangan penuh cinta. Sedetik kemudian mereka tersenyum bahagia. Devin menuntun Liona ke ruang tamu. Rasanya tak nyaman hanya berdua di dalam kamar seperti ini. Beda halnya jika Devin sedang bersama Adinda.

__ADS_1


"Sudah merasa lebih baik?" tanya Devin.


"Ya. Makasih Sayang," jawab Liona.


"Kalau begitu istirahatlah, sudah malam. Aku pamit pulang dulu," pamit Devin. Devin melirik arloji di tangannya. Sudah satu jam ia meninggalkan Adinda sendirian di hotel.


"Dev, bisakah kamu menemaniku disini sebentar saja? Please, aku mohon," bujuk Liona dengan tampang puppy eyesnya.


"Baiklah, hanya sebentar." Devin menjawil dagu Liona gemas. Kalau sudah begini ia tak mungkin bisa menolak keinginan Liona.


"Sebentar, aku ke dapur dulu ambil minuman." Liona melangkah menuju dapur.


Liona membuat orange juice kesukaan Devin. Liona menolehkan kepalanya sekilas. Kemudian ia membubuhkan serbuk yang entah apa itu ke dalam minuman Devin. Liona tersenyum penuh arti.


"Malam ini tak akan aku biarkan kamu pergi Dev. Aku akan membuatmu tetap berada di sini," batin Liona.


Liona menyuguhkan minuman yang baru saja dibuatnya. Devin langsung menenggak habis minuman itu tanpa sisa agar ia lekas pergi.


"Sayang, aku pamit dulu ya. Ini sudah terlalu larut. Aku gak mau mama papa curiga." Sesekali Devin melirik arloji di tangannya.


Devin berdiri namun entah mengapa ia merasa sangat mengantuk. Padahal sebelumnya ia tidak apa-apa. Mungkin karena sudah larut malam dan ditambah ia sangat lelah setelah serangkaian acara dari tadi pagi.


"Dev, sepertinya kamu mengantuk sekali. Menginaplah di sini malam ini. Tidak baik menyetir dalam keadaan mengantuk, bahaya!" saran Liona. Dalam hati ia bersorak, ternyata rencananya berhasil.


Devin masih mencoba untuk melawan rasa kantuknya. Ia mencoba melangkah, namun kemudian ia jatuh terduduk di sofa. Kantuknya kian terasa. Bahkan kini Devin telah terlelap di sofa. Membuat Liona mengukir senyum kemenangan.


Devin lupa bahwa ia berjanji hanya sebentar pada Adinda. Sementara Adinda terus bergerak gelisah di tempat tidurnya. Adinda tak bisa memejamkan matanya. Ia sangat cemas. Sudah jam dua dini hari namun Devin tak kunjung kembali.


Atensi Adinda beralih pada ponsel di atas nakas. Ada sebuah pesan gambar dari nomor tak di kenal. Luruh sudah air mata yang sedari tadi ia tahan.


"Tega kamu Dev!" lirih Adinda berucap di sela isakannya. Ia tak menyangka Devin tega melakukan semua ini.

__ADS_1


__ADS_2