Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 66


__ADS_3

POV Devin...


Semalam aku tak langsung pulang ke rumah kedua orang tuaku. Namun, aku sudah mengabari mereka jika aku langsung meluncur ke tempat Adinda. Setelah sekian lama aku tak bertatap muka dengannya, rasa rinduku pada Adinda semakin menggebu.


Aku menginap di sebuah hotel yang tak jauh dari kediaman Adinda. Agar aku bisa tepat waktu untuk bertemu dengannya. Ah, rasanya sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dan menyematkan cincin yang telah kusiapkan sepenuh hati.


Kulangkahkan kaki ini menuju balkon hotel tempatku menginap. Kurentangkan tanganku untuk menghirup segarnya udara di pagi hari. Kurogoh ponselku untuk menghubungi Adinda, namun masih tetap tidak aktif seperti semalam. Berulang kali aku mencoba menghubungi kembali, namun tetap sama. Akhirnya kuputuskan untuk sarapan terlebih dahulu.


Selesai sarapan, aku kembali ke kamarku. Membuka galeri yang berisi foto-foto gadis cantik yang sangat aku rindukan. Akhirnya setelah sekian lama hanya bisa menatap fotonya, hari ini aku akan bertemu kembali dengan sang pemilik hati ini. Siapa lagi kalau bukan Adinda, mantan istriku.


Aahh, kenapa rasanya sakit kala predikat mantan itu disematkan? Walau itulah kenyataannya, namun bisakah aku memutar waktu dan memperbaiki semua kekacauan itu?


Aku hanya bisa berharap pertemuan kali ini dapat kembali mempersatukan kami. Besar harapanku bahwa Adinda masih menyimpan rasa yang sama padaku seperti waktu dulu.


Kugulir galeri yang menampilkan potret sosok wanita yang kucintai. Membayangkan sebentar lagi bertemu dengannya, membuat hati ini berdebar tak menentu.


Kemudian kutekan nomor Adinda untuk kembali menghubunginya. Alhamdulillah, akhirnya tersambung. Namun, senyumku memudar kala panggilanku hanya tersambung namun tak diangkat. Kuhubungi kembali, tapi tetap saja tak diangkat. Akhirnya kuputuskan untuk mengiriminya pesan saja. Dibaca namun tak di balas membuatku merasa cemas.


Hampir saja aku putus asa karena sudah hampir dua jam, tapi tak kunjung ada balasan. Namun akhirnya sebuah notifikasi pesan balasan dari Adinda membuat senyumku kembali merekah. Dia mengirimi lokasi restoran sebagai tempat kami akan bertemu. Gegas aku bersiap-siap untuk segera bertemu dengannya.


Aku langsung mencari sosok Adinda saat telah sampai di restoran yang telah Adinda rekomendasikan. Aku tersenyum lebar saat melihat Adinda yang duduk di dekat jendela. Kupercepat langkahku agar lekas sampai. Namun, pemandangan yang kulihat membuatku memperlambat langkah kakiku.


Bayi? Bayi siapakah itu? Apa mungkin Adinda sudah menikah lagi dan bayi itu adalah anak mereka? Atau jangan-jangan bayi itu adalah bayiku? Begitu banyak tanya yang tiba-tiba berkelebat dalam benakku.


"Din," panggilku saat sudah berada di dekatnya.


Adinda langsung menoleh padaku. Dia tersenyum dan tentu saja senyuman itu membuat hatiku berdesir bahagia.


"Dev, apa kabar?" tanyanya masih dengan seulas senyum yang ia persembahkan untukku.


"Baik, Din. I-ini?" tanyaku sedikit gugup seraya menunjuk bayi yang berada dalam dekapan Adinda.


"Bayi mungil ini adalah anak kita. Namanya Devina Aulia Putri. Dipanggil Vina." Adinda membelai pipi bayi mungil yang masih terlelap itu penuh sayang.


Deg.

__ADS_1


Aku benar-benar tak menyangka bahwa kini telah menjadi seorang ayah. Aku sangat bahagia sekaligus sedih karena baru mengetahui fakta ini. Namun, aku dapat memaklumi sikap Adinda mengingat kejadian itu. Bahkan kejadian itu membuatku merasa menyesal hingga saat ini.


"Boleh aku menggendongnya?" tanyaku.


Adinda mengangguk dan memberikan Vina padaku. Bayi mungil yang berada dalam dekapanku perlahan membuka mata dan tersenyum manis seakan ia mengerti bahwa saat ini sedang berada dalam dekapan ayah kandungnya.


Tanpa terasa aku menitikkan air mata melihat Vina yang menyambut hangat kedatanganku. Kubelai pipi bayi mungil yang kuabaikan selama dalam kandungan.


Seandainya waktu itu aku tak menuruti egoku dan menyadari perasaanku lebih awal, mungkin saat ini aku akan menjadi laki-laki paling bahagia. Duduk bersama dalam satu meja seperti ini dengan status sebagai keluarga kecil yang utuh. Namun, aku hanya bisa berandai-andai karena waktu tak bisa di reka ulang.


"Maaf, karena aku baru memberitahumu saat ini," ucap Adinda yang membuyarkan lamunanku.


"Aku mengerti. Lagi pula seharusnya aku yang meminta maaf," ucapku.


Kuhapus air mata yang meluncur bebas di pipiku. Kutatap wanita pujaanku itu penuh kerinduan. Walau Adinda memalingkan wajahnya, setidaknya aku tahu bahwa dia sudah memaafkanku.


"Terima kasih karena telah menghadirkan Vina ke dunia. Walau aku tahu pasti rasanya sangat sulit," imbuhku.


Di saat semua wanita hamil seharusnya didampingi oleh suaminya, namun Adinda justru berjuang melewati semua itu sendiri. Aku merasa menjadi laki-laki yang tak bertanggung jawab.


"Lalu, bagaimana dengan tawaranku?" tanyaku lagi yang membuat Adinda menoleh ke arahku.


"Memberikan keluarga yang utuh untuk Vina," jawabku mantap. Aku tidak ingin putri kecilku tumbuh dalam keluarga yang broken home dan menjadi bahan gunjingan teman-temannya kelak.


"Maaf, aku tidak bisa," tolak Adinda. Kini giliranku yang mengerutkan kening.


"Kenapa Din?" tanyaku. Aku yakin bahwa Adinda masih mencintaiku lewat tatapan mata itu, tapi kenapa dia menolak tawaranku?


"Karena, aku sudah menikah," jawab Adinda seraya memalingkan wajahnya.


Jedeerrr...


Bagai tersambar petir saat jawaban itu Adinda ucapkan. Aku terpaku saat mendengar jawaban yang tak ingin aku dengar. Namun, aku mencoba tegar dan menerimanya dengan lapang dada. Walau jauh di lubuk hatiku masih berharap bisa hidup bersama kembali dengan wanita yang sekarang sedang duduk di hadapanku.


"Selamat ya, aku turut bahagia jika kamu bahagia," ucapku.

__ADS_1


Ada yang berdenyut nyeri saat kata itu kuucapkan. Namun, aku akan berusaha ikhlas. Jika Adinda bahagia, aku pun turut merasakan kebahagian itu. Walau pada akhirnya bukan diriku yang membuatnya bahagia.


"Dev, kalau begitu aku pamit dulu ya," pamit Adinda setelah cukup lama kami mengobrol selayaknya sahabat.


"Baiklah." Kupaksakan senyumku walau tak rela kembali berpisah dengannya. Karena sejujurnya aku masih ingin berlama-lama dengannya.


"Aku antar ya," tawarku.


"Makasih Dev, tapi Suamiku sudah menungguku di depan." Kupejamkan mataku sesaat kala predikat suami itu bukan lagi untukku.


"Bagaimana kalau aku antar ke depan. Sekalian aku juga ingin berkenalan dengan ayah sambung anak kita." Aku ingin tahu sosok laki-laki beruntung yang dipilih oleh Adinda.


"Baiklah," jawabnya. Ya Rabb, sungguh senyum Adinda membuat hatiku meleleh.


Kami pun beranjak meninggalkan restoran, setelah terlebih dahulu aku membayar tagihan pesanan kami. Kuantarkan Adinda ke tempat di mana suaminya menunggunya.


Terlihat seorang laki-laki yang keluar dari sebuah mobil mewah. Dia menghampiri kami yang sedang berjalan ke arahnya. Mungkin dia adalah suami Adinda. Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana?


"Sudah selesai?" tanya laki-laki itu.


"Sudah. Oh ya Kak, kenalkan, ini Devin mantan suamiku. Dev, ini Kak Ivan, suamiku," ucap Adinda memperkenalkan kami berdua.


"Saya Ivan, suami Adinda," kata laki-laki yang bernama Ivan seraya mengulurkan tangannya padaku.


"Devin," Kusambut uluran tangan itu seraya turut memperkenalkan diriku.


"Kami pamit dulu ya, masih ada urusan lain," ucap Ivan.


"Baiklah, terima kasih sudah mengijinkan saya untuk bertemu dengan Adinda dan anak kami," ucapku.


"Sama-sama brother. Walau bagaimanapun kalian adalah teman baik di masa lalu dan Vina juga harus tahu siapa ayah kandungnya. Jadi, saya tidak punya alasan untuk tidak mengijinkan." Aku bersyukur setidaknya laki-laki di hadapanku ini adalah orang baik. Walau tak bisa dipungkiri ada rasa cemburu yang menghampiri.


"Kalau begitu, kami pamit dulu ya Dev," ucap Adinda.


"Iya, Din," balasku.

__ADS_1


Aku bergantian menjabat tangan Adinda dan suaminya. Tak lupa aku juga menc*um bayi mungilku penuh sayang.


Kutatap nanar roda empat yang semakin jauh dari pandangan. Kini, tinggallah aku seorang diri yang harus kembali berjuang menentramkan rasa ini. Rasanya sungguh sakit, namun aku harus kuat menghadapi kenyataan yang tak pernah kuharapkan.


__ADS_2