
"Itu kan Adinda. Lalu siapa laki-laki itu?" gumam Ivan saat melihat Adinda di lobi dan seorang laki-laki tengah berlutut di kaki Adinda.
Ivan mengernyit saat melihat laki-laki itu memeluk Adinda dengan erat. Ia juga melihat bahwa Adinda merasa tidak nyaman atas perlakuan laki-laki yang tak pernah ia temui sebelumnya.
"Sepertinya ada yang tidak beres," gumam Ivan.
Ia berjalan dengan langkah lebar menuju tempat di mana Adinda berada. Namun, ketika ia hampir sampai, ia dibuat terkejut saat melihat Adinda tak sadarkan diri dalam dekapan laki-laki tersebut.
"Permisi, Mas. Maaf, biar saya saja yang membawa Adinda," kata Ivan.
Devin menoleh ke asal suara. Ia mengernyit mencoba mengingat siapa laki-laki di hadapannya kini.
"Maaf, anda siapa?" tanya Devin.
"Saya seorang dokter di rumah sakit ini. Jadi, biarkan kami saja yang menanganinya," jawab Ivan.
Ivan memanggil beberapa perawat untuk membantunya membawa Adinda ke UGD. Sigap para perawat itu membantu memindahkan Adinda yang masih tak sadarkan diri ke brankar dorong dan membawanya ke UGD untuk segera mendapatkan penanganan.
Tak lupa Ivan juga mengirim pesan pada Fani. Ia memberitahukan tentang kondisi Adinda dan meminta Fani untuk segera datang ke rumah sakit. Ia mengabaikan Devin yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
"Bukankah dia adalah laki-laki yang tempo hari datang berkunjung ke rumah Adinda?" lirih Devin.
"Loh, di mana mereka?" Devin sibuk dengan pikirannya sampai tak sadar bahwa Adinda sudah dibawa ke UGD oleh dokter Ivan.
Sementara itu, Fani begitu terkejut saat menerima sebuah pesan dari dokter Ivan yang mengatakan bahwa cucu kesayangannya kini sedang tak sadarkan diri. Ia memang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Entah mengapa ia merasa tidak tenang membiarkan Adinda pergi seorang diri.
"Pantas saja perasaanku tidak tenang dari tadi. Ya Tuhan, semoga cucuku baik-baik saja," ucap Fani.
"Tono, tolong lebih cepat lagi," pinta Fani cemas.
__ADS_1
"Baik, Nyonya," jawab Tono. Tono pun menambah kecepatan laju mobilnya.
Beberapa saat kemudian, Fani telah sampai di rumah sakit. Ia mengerutkan kening kala mendapati seorang laki-laki tengah duduk seraya menundukkan wajahnya di kursi tunggu.
"Kamu!" seru Fani tatkala Devin mendongakkan wajahnya dan beradu tatap dengan Fani.
"Oma," desis Devin. Ia langsung mengenali wanita paruh baya yang kini berdiri di hadapannya. Selama masa pengintaiannya, ia jadi tahu wajah-wajah penghuni rumah mantan istrinya.
"Untuk apa kamu berada di sini? Oh, jangan-jangan ini semua gara-gara kamu, iya?" cecar Fani dengan tatapan tajamnya.
"Maaf, Oma," sesal Devin.
Devin tak bisa menyangkal jika yang terjadi pada Adinda adalah perbuatannya, karena memang seperti itulah kenyataannya. Rasa bahagia yang dirasakannya saat menerima pemberian maaf dari Adinda membuatnya lupa bahwa Adinda masih trauma tentang kejadian itu.
"Sudah kuduga. Lalu untuk apa kamu masih berada di sini?" tanya Fani datar.
"Maaf, Oma. Saya hanya ingin tahu tentang kondisi Adinda. Jadi, biarkan saya berada di sini sampai mengetahui bahwa Adinda baik-baik saja," jawab Devin.
"Ca-calon suami?" tanya Devin seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Iya, calon suami Adinda," jawab Fani.
Devin menoleh pada seorang laki-laki yang berada di belakang Fani. Laki-laki dengan pakaian seorang sopir. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak mungkin Adinda mempunyai calon suami seorang sopir. Wajah yang biasa dengan warna kulit yang sedikit gelap itu, membuat Devin yakin bahwa oma Fani sedang membohonginya.
"Oma pasti sedang bercanda," ucap Devin seraya tertawa. Ia sampai memegangi perutnya yang terasa sakit akibat terlalu menghayati tertawanya.
"Dasar gila!" decak Fani.
Devin tak peduli oma Fani mau mengatakan apa tentangnya. Ia masih saja tertawa. Tak habis pikir jika sampai Adinda menikah lagi dengan laki-laki yang sedang berdiri tak jauh darinya. Bukan ia ingin merendahkan seseorang, hanya saja itu adalah sesuatu hal yang mustahil. Banyak laki-laki tampan dan mapan di luar sana yang mengharapkan Adinda tuk jadi istrinya. Lantas, kenapa oma Fani harus memilih laki-laki itu untuk dijadikan cucu menantunya?
__ADS_1
Pintu UGD perlahan terbuka, membuat Devin menghentikan tawanya walau tidak rela. Dokter Ivan keluar dan segera meraih tangan Fani. Dokter Ivan mencium punggung tangan Fani dengan takdzim.
"Oma, kapan datang?" tanya Ivan.
"Baru saja. Oh ya, bagaimana keadaan calon istrimu?" tanya Fani seraya mengedipkan matanya.
Ivan mengernyit saat mendengar kata-kata calon istri. Jelas-jelas dia adalah seorang jomblowan sejati. Untunglah ia bisa membaca situasi saat melihat oma Fani mengedipkan mata ke arahnya. Namun, ia berharap ini semua nyata adanya, bukan hanya sekedar sandiwara.
"Baik, Oma. Tadi dia sempat sadar, hanya saja dia berteriak histeris, sehingga kami memberinya obat penenang. Sekarang dia sedang istirahat. Kami akan segera memindahkannya ke ruang perawatan," jawab Ivan.
"Lakukan yang terbaik buat cucu Oma. Tempatkan dia di ruang perawatan VVIP. Agar tidak ada pengganggu." Fani melirik tajam ke arah Devin.
Devin terlihat syok mengetahui bahwa calon suami yang di maksud oleh oma Fani adalah dokter tampan yang kini ada di hadapannya. Dugaannya tidak salah lagi, jika kedatangan dokter Ivan dan keluarganya tempo hari ke rumah Adinda adalah untuk melamarnya.
"Hey, kenapa kamu masih ada di sini? Cepat pulang sana," usir Fani. Jiwa bar-barnya meronta-ronta melihat Devin masih saja betah berdiam diri di tempat itu.
"Ja-jadi, yang Oma maksud calon suami Adinda adalah dia?" tanya Devin seraya menunjuk dokter Ivan yang tengah tersenyum.
"Iya, dokter Ivan ini adalah calon cucu menantuku yang artinya dia ini adalah calon suami Adinda. Jadi, lebih baik kamu cepat pergi dari sini. Semakin lama kamu berada di sini, maka kamu akan semakin berpeluang membuat nenek tua ini terserang penyakit jantung." Fani melenggang masuk ke ruang UGD diikuti oleh dokter Ivan.
Badan Devin luruh ke lantai. Hatinya sungguh sakit. Bukan karena perkataan yang Fani ucapkan. Namun, kenyataan bahwa Adinda sudah memiliki calon suami setampan dan semapan dokter Ivan membuat ia tak yakin bisa mendapatkan kembali cinta Adinda.
Devin bangkit dan beranjak meninggalkan rumah sakit dengan langkah gontai. Baru saja ia merasa bahagia bisa mendapat maaf dari Adinda dan bisa memeluknya, kini ia kembali dirundung lara.
...****************...
Hello Readers kesayangan. Apa kabar? Terima kasih buat kalian yang masih setia menemani karyaku hingga sampai pada titik ini. Semoga kalian tidak bosan dengan karyaku ini.
Author minta maaf jika beberapa hari ini tidak bisa daily update karena sibuk dengan kehidupan di real life. Ditambah dengan baby yang semakin hari semakin super aktif, sehingga kadang tidak sempat pegang ponsel.
__ADS_1
Jangan lupa tetap tinggalkan jejak ya Readers. Salam sayang banyak-banyak buat kalian para Readers kesayanganku 🥰