
POV Adinda
Detak jarum jam di atas nakas menghiasi keheningan malamku. Kulirik jarum jam yang menunjuk angka sebelas. Kuhembuskan napas panjang untuk mengusir gundah yang kini mulai merajam.
Sudah lebih dari seminggu Devin pulang hingga larut malam. Aku pun tak pernah bertegur sapa dengannya. Sikapnya berubah dingin sejak kejadian tempo hari. Namun, aku tetap berusaha menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri.
Aku beranjak turun dari tempat tidurku. Melangkah perlahan menuju pintu yang menghubungkan kamar ini dengan balkon. Ku sibak gorden dan memutar kunci untuk membuka pintu. Hembusan angin langsung terasa menerpa tubuhku.
Aku mendongak menatap langit. Kedua tanganku bertumpu pada besi pembatas. Ku pandangi langit malam yang cerah dan bertabur sejuta bintang yang memanjakan netra. Tampak sebuah bintang dengan cahayanya yang menenangkan. Aku tersenyum meresapi keindahan yang Tuhan ciptakan di jagat raya.
"Bunda, Adin rindu. Apa Bunda tahu, bahwa putri kesayangan Bunda ini meskipun sudah dewasa, tapi masih sering menangis seperti anak kecil." Aku menghirup udara dan menghembuskannya perlahan.
"Bunda, Adin berterima kasih karena telah memberikan Adin kesempatan untuk menikah dengan laki-laki yang Adin cintai. Namun, Adin sudah tak sanggup Bun. Adin harap Bunda di sana tidak kecewa pada Adin. Adin tidak tahu lagi, mau di bawa kemana hubungan ini." Aku mengerjapkan mata ini. Ku seka air mata yang mulai turun mengaliri pipi.
Hembusan angin kian terasa menusuk tubuhku. Langit pun kini tampak di selimuti awan gelap. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Aku memutuskan kembali masuk ke dalam kamar. Ku kunci pintu dan menutup gorden kembali. Kemudian melangkah ke tempat tidur untuk mengistirahatkan diri.
Duuuuaaaarrrr.....
"Astagfirullahaladzim." Aku terlonjak kaget ketika suara petir yang menggelegar tertangkap runguku.
Kilatan cahaya petir tampak dari pintu dengan gorden yang tak tertutup rapat. Ku coba memberanikan diri untuk menutupnya. Aku lihat di luar sana hujan mulai turun dengan derasnya. Gegas aku kembali ke tempat tidur setelah memastikan semua gorden tertutup dengan sempurna.
"Kemana Devin? Kenapa belum pulang?" tanyaku pada diri sendiri.
Aku melihat jam di atas nakas sudah hampir jam dua belas malam, tapi tak ada tanda-tanda penghuni lain di apartemen ini, selain diriku.
Aaakkhhh....
__ADS_1
Aku berteriak nyaring dengan kedua telapak tangan yang menutupi telingaku. Kupejamkan rapat mata ini. Bunyi suara petir masih terdengar bersahutan. Dan kini ditambah mati lampu. Lengkap sudah penderitaanku. Aku fobia kegelapan dan petir yang menggelegar secara bersamaan.
Tak lama kemudian terasa ada yang merengkuhku. Aku berharap itu bunda, namun bunda sudah tiada. Aroma maskulin menguar memenuhi indera penciumanku. Lantas siapa yang mendekapku dengan erat seperti ini?
Aku tak dapat berpikir jernih untuk saat ini, yang aku butuhkan sekarang adalah pasokan oksigen karena dadaku terasa sesak, hingga suara yang tak asing itu terdengar dan memaksaku untuk membuka mata.
"Din, tenanglah. Semua akan baik-baik saja." Kini aku tahu siapa orang yang berada di sisiku. Ya, dia adalah suamiku, Devin.
Satu tangan Devin mengelus punggungku dan satunya lagi menggenggam ponsel dengan senter yang menyala. Aku melingkarkan kedua tangan ini pada sosok yang selalu ada di saat aku ketakutan seperti ini.
"Aku takut Dev," kataku.
"Tenanglah! Ada aku di sini," kata Devin. Kata-katanya bagai oase di tengah gurun pasir yang tandus.
Kusandarkan kepala ini ke dada bidang suamiku. Aku menghirup aroma maskulin yang terasa menenangkan. Perlahan ketakutanku berangsur menghilang. Meski masih ku dengar suara petir yang menggema dan hanya ada setitik cahaya di tengah kegelapan.
"Bagaimana? Sudah lebih baik," tanya Devin seraya tangannya masih setia mengelus punggungku.
Entah mengapa jantung ini yang tadinya terasa teramat sesak, kini malah seperti melompat-lompat. Aku mencoba menetralkan debaran jantung ini. Wajahku bersemu merah saat menyadari posisi kami berdua yang sangat dekat seperti ini.
"Tidurlah," instruksi Devin.
"Dev!" seruku. Aku menggenggam tangan Devin yang akan beranjak berdiri.
"Tidurlah di sini," pintaku. Bukannya aku ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan, tapi aku memang benar-benar takut sendirian dalam situasi seperti ini.
"Baiklah," kata Devin.
__ADS_1
Aku merebahkan diri. Begitu pun Devin yang kini berbaring di sampingku. Ku memiringkan badan dan menghadap Devin. Aku menyusupkan kepalaku di dada bidang yang membuatku nyaman. Kulingkarkan tangan ini untuk memeluk tubuh suamiku. Perlahan kuhirup aroma maskulin yang membuatku candu.
Tak lama kemudian aku terlelap dan mulai menjelajah alam mimpi. Aku terbangun ketika mendengar suara adzan shubuh berkumandang dan yang pertama kali aku lihat saat membuka mata adalah wajah tampan yang terlihat begitu damai.
Aku tersenyum memperhatikan ciptaan Tuhan di hadapanku. Kuangkat tanganku dan perlahan membelai rahang tegas suamiku. Kapan lagi bisa merasakan momen seperti ini.
"Seandainya saja pemandangan ini bisa aku lihat setiap hari di saat aku terbangun dari lelap tidurku, mungkin aku akan merasa menjadi seorang wanita yang beruntung karena memilikimu," lirihku.
Aku tersenyum seraya mendekatkan wajahku ke arah Devin. Hembusan napas hangat Devin menerpa wajahku. Menimbulkan sensasi rasa aneh yang menggelitik perutku.
"Tampan," ucapku lirih.
"Aku tahu, aku memang tampan," ucap Devin seraya membuka mata. Sontak hal itu membuatku menjauhkan wajah ini dari Devin yang hanya berjarak beberapa centi saja.
Aku berusaha melepaskan diri dari dekapan Devin, tapi Devin justru semakin mempererat pelukannya. Membuatku mau tak mau tetap berada dalam posisi semula.
"Biarkanlah seperti ini sebentar saja Din," kata Devin.
"Tapi ini sudah shubuh Dev. Nanti kita terlambat," kataku mengingatkan Devin kalau adzan shubuh sudah berkumandang sejak tadi.
Devin mengurai pelukannya seperti tidak rela. Kemudian dia beranjak menuju kamar mandi. Kakinya menghentak-hentak lantai seperti anak kecil saja.
Aku mengulum senyum simpul melihat tingkah laku Devin. Aku menatap punggung tegap itu yang kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.
Aku melangkah menuju kamar mandi setelah Devin selesai dan menuju lemari. Guyuran air dingin menerpa tubuhku, namun aku justru menghangat. Bolehkah aku berharap bukan hanya tadi malam saja aku tidur seranjang dengan Devin, kekasih halalku. Mengingat kejadian tadi malam membuatku tersipu. Aku rela jika harus dihadapkan dengan petir dan kegelapan kembali, asal aku bisa terus bersamanya.
Gegas aku selesaikan ritual mandiku agar waktu shubuh tak terlewat. Aku keluar dari kamar mandi dan mendapati Devin telah menungguku untuk melakukan ibadah bersama.
__ADS_1
Setelah selesai sholat, aku beranjak menuju dapur. Aku bersenandung ria sepanjang aku menyiapkan sarapan untuk kami. Aku sungguh bahagia karena Devin tak lagi bersikap tak acuh padaku.
"Ya Tuhan, jangan biarkan kebahagiaan ini berlalu," batinku.