
Mencintai itu mudah, namun semuanya akan terasa rumit jika terlambat menyadarinya. Dijaga selagi ada, jangan menyesal setelah kehilangan. Sesal pun tiada berguna, karena waktu takkan bisa diputar kembali ke masa lalu.
Laki-laki tampan yang selalu berpenampilan rapi itu, kini terlihat begitu menyedihkan. Kehilangan sosok wanita yang selama ini selalu ada bersamanya, membuat dia merutuki kebodohannya karena telah mengabaikan batu permata yang begitu berharga.
Saat pulang bekerja, ia selalu menyempatkan diri untuk datang menemui mantan istrinya. Walaupun, ia hanya bisa menatap pagar tinggi yang menjulang itu dari kejauhan. Tak pernah sekalipun ia menatap rupa wanita pujaannya sejak kejadian itu.
Rindu, tentu saja ia sangat merindukan wanita yang kini berstatus mantan istrinya itu. Seandainya waktu bisa diputar kembali. Tak akan pernah ia menyia-nyiakan kesempatan itu. Akan ia perlakukan istrinya itu bagai ratu.
Pintu gerbang di kejauhan itu tampak bergeser. Cepat Devin menegakkan tubuhnya dan menajamkan penglihatannya. Namun, lagi-lagi ia harus menelan kekecewaaan karena yang muncul adalah seorang Art yang hendak membuang sampah.
"Din, keluarlah walau hanya sebentar saja. Aku begitu merindukanmu," gumam Devin.
Devin menghembuskan napas panjang. Dilihatnya arloji yang melingkar cantik di tangannya, sudah pukul sembilan malam, itu artinya sudah satu jam ia berada di tempat ini. Gegas ia melajukan mobilnya untuk pulang. Ia juga butuh istirahat karena besok harus bekerja.
Sesampainya di rumah, Devin langsung memejamkan mata. Kini ia tak lagi tinggal di apartemen sejak kejadian itu. Kedua orang tuanya memintanya untuk tinggal dengan mereka. Kedua orang tuanya tak ingin sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan padanya.
Tak lama Devin terlelap, terdengar suara adzan shubuh berkumandang membuat Devin terjaga dari tidur lelapnya. Rasanya baru sebentar Devin menjelajah alam mimpi.
"Hmmppp." Devin membekap mulutnya saat ia merasakan gejolak di perutnya. Gegas ia menuju ke kamar mandi.
Setiap pagi perutnya terasa mual seperti diaduk-aduk. Bahkan setiap kali ia menelan makanan, selalu saja ia muntahkan. Gegas ia mandi setelah tak ada lagi yang bisa ia muntahkan. Kemudian ia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Seusai sholat, ia adukan segala risalah hati pada sang pemilik jiwa. Berharap doa yang ia panjatkan dapat mengembalikan pujaan hatinya.
"Ya Rabb, maafkan hamba-Mu yang berdosa ini. Aku telah lalai dalam menjaga amanah-Mu. Seringkali aku terlena oleh kenikmatan duniawi hingga aku lupa bahwa ada yang halal dalam wujud seorang istri."
"Ya Rabb, Aku akui aku memang bersalah. Perbuatanku yang tak terpuji sungguh menyakitinya. Aku terlambat meraba rasaku hingga saat aku menyadarinya semuanya tak lagi sama. Wanita yang begitu tulus mencintaiku, kini telah pergi meninggalkanku."
"Ya Rabb, berilah hamba-Mu ini kesempatan sekali lagi. Akan aku curahkan segala cinta dan kasih sayang hanya untuknya seorang. Tak ingin lagi diri ini membagi hati."
"Ya Rabb, tolong kabulkan keinginan yang telah hamba-Mu langitkan dalam setiap sujud dan doaku. Pada siapa lagi diri ini mengadu dan berharap selain pada-Mu."
Devin menangis tergugu dalam setiap untaian kalimat yang ia lafalkan. Terlalu mustahil memang jika mengharapkan kaca yang telah retak kembali utuh seperti sedia kala. Namun, apa salahnya meminta pada Dzat sang maha pembolak-balik hati setiap insan.
__ADS_1
Devin menyudahi dzikir dan doanya. Ia selalu berharap kesempatan itu ada. Ia berjanji akan memperbaiki semuanya.
Diraihnya ponsel yang tergeletak di atas nakas. Diusapnya layar hingga menampilkan foto seorang wanita dengan senyum yang menawan. Devin tersenyum getir manakala hanya gambarnya saja yang kini bisa ia pandangi.
"Din, tak adakah kesempatan untuk kita bersama lagi? Aku janji akan berubah menjadi lebih baik lagi. Aku menyayangimu bukan hanya sebatas sahabat. Aku juga mencintaimu, tapi terlambat kusadari hal itu." Devin mendesah panjang.
Diusapnya foto wanita dengan senyuman yang manis di layar ponselnya. Ia membuka galeri foto dan menggulirnya. Bukan hanya satu atau dua, tapi terdapat banyak foto Adinda di dalamnya. Baru ia sadari jika di galeri ponselnya tak ada satu pun foto Liona.
Kini ia sudah tak peduli lagi tentang Liona. Berulang kali wanita itu menghubunginya, namun tak sekalipun ia menggubrisnya. Ia serahkan urusan Liona pada dua sahabatnya, Aditya dan David. Ia benar-benar muak jika harus terus bersandiwara.
Devin mengusap air mata yang telah membasahi sudut netra. Kemudian ia beranjak turun untuk sarapan bersama kedua orang tuanya. Devin mendudukkan dirinya setelah menyapa mereka. Intan mengisi piring yang kosong dan memberikannya pada Devin. Devin menerimanya dengan senang hati. Namun, baru saja satu suap makanan itu masuk ke mulutnya, saat itu juga perutnya terasa bergejolak. Gegas ia berlari ke kamar mandi untuk menumpahkan isi perutnya lagi.
"Mama susul Devin dulu ya, Pa," pamit Intan pada suaminya.
"Iya, Ma. Kasihan anak itu," ucap Bima.
Gegas Intan melangkah menghampiri sang putra yang berada di kamar mandi. Ia begitu mengkhawatirkan keadaan putranya itu. Tampak Devin yang masih memuntahkan isi perutnya, membuat Intan sangat cemas.
"Kita ke rumah sakit ya, Sayang. Mama takut terjadi apa-apa sama kamu," ucap Intan cemas.
"Devin gak apa-apa kok, Ma. Cuma masuk angin aja kok." Alasan yang sama setiap kali Intan mengajaknya pergi ke rumah sakit.
"Jangan bandel Dev. Apanya yang tidak apa-apa. Sudah hampir sebulan kamu terus mual muntah seperti ini," gerutu Intan.
Intan mencebik kesal menanggapi kalimat penolakan yang selalu putranya ucapkan. Ia kesal putra semata wayangnya selalu enggan setiap kali diajak ke rumah sakit. Namun sebagai seorang ibu, ia begitu mencemaskan kondisi putranya yang tampak menyedihkan.
"Kalau memang kamu tidak ingin pergi ke rumah sakit, Mama sarankan jangan selalu keluyuran. Memangnya kamu kemana aja sih Dev? Pulang kerja bukannya langsung pulang ke rumah, tapi malah keluyuran gak jelas. Bahkan sampai pulang hingga larut malam. Jadi gini kan akibatnya." Intan menggerutu meluapkan kekesalannya pada sang putra yang seringkali pulang tak tepat waktu. Ia memang belum mengetahui bahwa putranya kini tengah mengintai mantan istrinya.
"Ma, Devin bukan keluyuran gak jelas, Ma. Devin pergi ke rumah Adinda. Devin sangat merindukan dia, Ma. Devin hanya bisa menatapnya dari kejauhan, walau sampai saat ini Devin belum bisa melihatnya lagi sejak kesalahan yang Devin perbuat." Lagi, air mata yang tadi telah mengering, kini meluncur bebas tanpa hambatan.
"Maafkan Mama, Sayang," sesal Intan. Ia membawa putranya dalam dekapannya. Ia tak menyangka putranya akan bertindak sejauh ini. Ia pun turut berharap akan ada kesempatan kedua untuk putranya.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya. Kamu harus sehat agar bisa terus berjuang untuk mendapatkannya kembali," bujuk Intan.
__ADS_1
Akhirnya Devin mengangguk pasrah. Ia menuruti permintaan mamanya yang terus memaksanya untuk ke rumah sakit. Ia tak ingin melihat wanita yang telah berjuang demi dirinya sejak di dalam kandungan itu bersedih.
Gegas mereka berangkat ke rumah sakit mumpung hari masih pagi agar tidak terlalu lama mengantre. Untunglah waktu mereka sampai, hanya tinggal satu antrian lagi. Devin masuk ke ruangan dokter diiringi oleh mamanya setelah tiba giliran dia di periksa.
Devin berbaring di brangkar periksa. Dokter pun mulai menjalankan tugasnya dengan profesional. Kemudian Devin turun setelah dokter selesai memeriksanya.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Intan.
"Anak Ibu baik-baik saja. Dia hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Harus banyak istirahat agar pulih kembali. Ini saya resepkan obatnya. Jangan lupa diminum yang teratur," saran dokter seraya menyerahkan secarik kertas pada Intan.
"Terima kasih, Dok. Kalau begitu kami permisi," pamit Intan.
Gegas mereka beranjak meninggalkan rumah sakit setelah terlebih dulu menebus obat di apotek. Intan lega mengetahui putranya baik-baik saja.
"Kamu istirahat ya, Sayang. Mama mau pergi arisan dulu. Ingat, jangan keluyuran!" tegas Intan ketika ia hendak pergi.
Devin bosan jika terus berdiam diri di rumah tanpa melakukan aktivitas apa pun. Ia menyambar kunci mobil dan segera pergi dari rumahnya. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah rumah Adinda. Tak ia pedulikan saran dokter yang menyuruhnya beristirahat beberapa saat lalu.
Pucuk dicita, ulam pun tiba. Devin melihat Adinda tengah turun dari motor tukang ojek ketika ia baru saja memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Gegas ia turun dan segera menghampiri Adinda.
"Din!" seru Devin seraya meraih tangan Adinda yang hendak masuk.
Deg
Adinda terkejut ketika mendengar suara yang tak asing di telinganya. Jantungnya berdegup dengan cepat. Ia menoleh untuk memastikan. Wajahnya memucat ketika yang berdiri di hadapannya adalah laki-laki yang saat ini tak ingin ia temui.
"Lepas!" teriak Adinda seraya menghempaskan tangan Devin yang menyentuhnya.
"Din, maafkan aku." Devin mencoba meraih kembali tangan Adinda, namun Adinda berjalan mundur seperti ketakutan.
"Pergi!" teriak Adinda. Ia membalikkan badannya dan segera berlari masuk ke dalam. Tak ia pedulikan teriakan Devin yang memanggil namanya. Devin tak bisa menyusul karena dihadang oleh security yang segera menutup pintu gerbang.
Devin berjalan dengan langkah gontai menuju mobilnya. Dadanya berdenyut nyeri kala mengingat ekspresi Adinda yang terlihat ketakutan padanya. Ia menangis tergugu di balik stir kemudi.
__ADS_1
"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku."