Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 68


__ADS_3

Setelah lebih dari satu jam Adinda bertamu, ia kemudian pamit karena tak ingin membiarkan Devin terlalu lama menunggunya. Adinda merogoh ponselnya dan mengetik pesan pada suaminya untuk tidak menjemputnya. Adinda terlalu fokus pada ponselnya sampai tak menyadari ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang ke arahnya.


"Adinda, awas!" seru Devin.


"Aakkhhh," teriak Adinda.


BRAKKK...


Suara sirine ambulance dan mobil polisi berbaur jadi satu. Adinda hanya bisa menangis melihat laki-laki penyelamatnya terluka parah. Di tengah keramaian Adinda merasa kesepian. Suara orang-orang yang saling bersahutan seakan terdengar seperti hembusan angin lalu.


Tim medis dibantu beberapa warga menggotong korban untuk dipindahkan ke mobil ambulance. Adinda turut serta dan duduk di samping laki-laki yang masih betah memejamkan mata. Selama dalam perjalanan, Adinda tak henti melafalkan doa agar semuanya baik-baik saja. Digenggamnya erat tangan sang belahan jiwa disertai deraian air mata.


Sigap tim medis mendorong brangkar ke UGD untuk segera dilakukan penanganan. Adinda hanya bisa menunggu di luar seorang diri. Seandainya diijinkan, ia dengan suka rela turut menemani di dalam sana.


Tak lama kemudian, Sinta yang masih mengenakan gaun pengantinnya datang tergopoh-gopoh menghampiri Adinda. Aldo, suami Sinta juga turut serta mendampingi istrinya. Sinta tak mungkin masih melanjutkan pesta, sementara sahabatnya sedang berduka.


"Din," sapa Sinta.


Adinda mendongakkan kepalanya. Adinda berdiri dan berhambur memeluk sahabatnya itu. Wajahnya sembab dipenuhi air mata. Dia tak peduli pada pandangan orang-orang yang menatapnya iba. Adinda hanya ingin mengurangi rasa sesak yang mendera.


"Sabar, Din. Yakinlah semua pasti akan baik-baik saja." Sinta juga turut terpukul akan kejadian yang menimpa sahabatnya itu. Perlahan Sinta mengusap punggung Adinda untuk memberikan sedikit ketenangan.


Adinda tak menjawab. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar berkata-kata. Adinda melerai pelukannya. Dihapusnya air mata yang mengalir tiada henti.


Sinta menuntun Adinda untuk kembali duduk di kursi tunggu. Matanya turut berkaca-kaca.


"Sebaiknya kamu obati dulu lukamu, Din," saran Sinta saat melihat lengan sahabatnya itu terluka. Namun, Adinda bergeming seakan ucapan Sinta hanyalah angin lalu.


Sinta meminta kotak P3K pada perawat yang lewat. Dengan telaten ia membantu mengobati Adinda yang bagaikan raga tak bernyawa.

__ADS_1


Alia datang beberapa saat kemudian. Alia sudah sampai di rumahnya saat Sinta mengabari jika Adinda mengalami kecelakaan di depan rumahnya. Gegas ia melajukan kembali mobilnya ke lokasi rumah sakit yang dikirim oleh Sinta.


"Din!" seru Alia. Alia memeluk Adinda yang telah selesai diobati oleh Sinta. Ia turut bersedih melihat sahabatnya bersedih seperti ini.


Beberapa saat kemudian, pintu UGD perlahan terbuka. Sigap Adinda berdiri saat melihat dokter keluar dari ruang UGD.


"Keluarga pasien?" tanya dokter.


"Saya, Dok. Saya istrinya," jawab Adinda seraya melangkah menghampiri dokter tersebut dengan diikuti oleh Sinta dan Alia.


Jantung Adinda bertalu saat melihat raut wajah dokter yang tanpa senyuman. Semoga saja apa yang ada di pikirannya hanya sekedar prasangka saja.


"Maaf, Mbak. Mbaknya yang sabar ya. Kami sudah berusaha sebaik mungkin. Namun Tuhan berkehendak lain," ucap dokter.


Lutut Adinda terasa lemas mendengar penuturan dari dokter tentang kondisi suaminya. Haruskah pernikahan yang hanya seumur jagung berakhir sampai di sini? Ia masih berharap apa yang di dengarnya hanyalah mimpi. Namun, saat ia mencubit lengannya sendiri terasa sakit, berarti jelas ini bukanlah mimpi. Kepalanya terasa sakit dan sesaat kemudian semuanya terasa gelap.


"Adinda!" seru Sinta dan Alia serempak.


Ivan sampai di rumah sakit. Ia langsung menuju ruang operasi. Namun, operasi tidak jadi dilakukan karena pasien sudah terlebih dahulu menghembuskan napas terakhirnya.


Setelah turut menyampaikan rasa bela sungkawa pada keluarga pasien, Ivan mohon izin untuk menyusul istrinya. Setelah mendapatkan izin, gegas Ivan melajukan mobilnya untuk menyusul Adinda.


Sengaja Ivan tak memberitahu Adinda bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju kediaman sahabat istrinya itu. Ivan tersenyum, tak sabar rasanya untuk bertemu istrinya. Padahal tadi pagi sudah bertemu, namun entah mengapa rasanya ia sangat merindukan istrinya itu.


Kurang lebih tiga jam, kini Ivan telah sampai di tempat tujuan. Ia tersenyum saat melihat istrinya keluar dari tempat resepsi. Gegas ia turun untuk menghampiri Adinda yang berjalan menunduk seraya memainkan ponselnya. Ivan melangkah perlahan dengan pandangan yang hanya tertuju pada istrinya seorang.


"Adinda, awas!" seru Devin.


Ivan tersentak saat mendengar suara teriakan Devin. Dilihatnya sebuah mobil yang melaju kencang ke arah istrinya. Tanpa pikir panjang Ivan berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan Adinda.

__ADS_1


"Aakkhhh," teriak Adinda.


Ivan berusaha menyelamatkan Adinda. Namun naas, kakinya tersandung sehingga ia hanya bisa mendorong istrinya ke tepi.


BRAKKK...


Badan Ivan terpelanting cukup jauh. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu berteriak histeris. Sebagian orang berusaha menolong Adinda dan Ivan, sedangkan sebagian lagi berusaha menghentikan mobil yang telah mengakibatkan kecelakaan tersebut.


"Kamu gak apa-apa, Din?" tanya Devin cemas.


"Suamiku, Dev." Adinda beranjak menghampiri Ivan yang tergolek lemah tak berdaya.


Devin segera menghubungi ambulance dan polisi. Sekilas Devin melihat pelaku tabrak lari yang dihakimi warga. Antara menemani Adinda atau mencari tahu tentang identitas pelaku. Devin memilih melangkahkan kakinya untuk menemani Adinda.


"Din, sebentar lagi ambulance akan datang," ucap Devin. Ia berjongkok di dekat Adinda yang menangis tergugu.


Adinda bergeming. Ia hanya terduduk lemah di dekat tubuh Ivan yang bersimbah dar@h. Devin tak kuat menyaksikan pemandangan yang ada di hadapannya. Ingin rasanya ia merengkuh tubuh Adinda dan membawanya dalam dekapannya, namun ia sadar akan statusnya. Akhirnya ia memutuskan untuk melihat pelaku yang sudah digiring ke salah satu rumah warga.


"Kamu!" seru Devin. Rahangnya mengeras saat melihat pelaku tabrakan adalah orang yang sangat dikenalnya.


"Kenapa kamu bisa ada di sini? Bukankah kamu seharusnya masih mendekam di penjara? Pasti kamu sengaja kan melakukan semua ini?" cecar Devin.


Ingin rasanya Devin meluapkan emosinya pada wanita yang dulu pernah singgah di hatinya itu. Namun, ia tak ingin mengotori tangannya sendiri dengan turut berbuat kriminal.


"A-aku gak sengaja, Dev," kilah Liona. Ya, pelaku tabrakan itu adalah Liona yang menyimpan dendam pada Adinda. Ia berpikir bahwa Adinda adalah penyebab retaknya hubungannya dengan Devin.


Tak berapa lama, ambulance dan mobil polisi sampai di TKP. Devin beranjak meninggalkan Liona yang masih memohon-mohon padanya. Devin segera bergegas menghampiri Adinda. Namun, Adinda sudah terlebih dulu masuk ke mobil ambulance yang akan membawa suaminya.


"Maaf, Pak. Bisa ikut kami sebagai saksi?" tanya salah satu polisi pada Devin.

__ADS_1


"Baik, Pak," jawab Devin. Biarlah ia nanti menyusul Adinda ketika urusannya dengan Liona di kantor polisi telah selesai.


Flashback off...


__ADS_2