
Pagi ini Adinda akan dirias oleh MUA. Acara ijab qobul akan dilaksanakan jam sepuluh nanti, sedangkan untuk resepsi sendiri akan dilaksanakan nanti malam di hotel.
Adinda duduk di kursi meja rias. Saat ini ia tengah di rias oleh MUA, dengan cekatan si MUA mengaplikasikan berbagai macam alat make up. Setelah selesai Adinda dibantu untuk memakai baju pengantinnya. Kini, baju pengantin pun telah terbalut sempurna. Di tambah riasan make up yang natural namun terkesan mewah.
"Mbak Adinda cantiknya pake banget deh. Belum dirias aja cantik. Apalagi kalau sudah selesai dirias gini. Pasti si abang langsung pangling," puji si MUA yang bernama Nadia.
"Mbak ini bisa aja. Semua ini berkat tangan ajaib Mbak Nadia, makanya saya bisa cantik kayak gini. Makasih ya Mbak." Adinda tersenyum ke arah Nadia. Ia akui penampilannya yang biasa bisa di sulap menjadi sangat luar biasa oleh Nadia.
"Hehe, kembali kasih Mbak. Kalau mau ada acara nikahan lagi bisa kontak saya langsung. Nanti saya kasih diskon khusus buat mbak Adinda," ujar Nadia.
"Loh kok gitu. Mbak doain aku cepat pisah dan nikah lagi ya?" Adinda pura-pura merajuk. Walau kenyataannya semua itu pasti akan terjadi mengingat bahwa pernikahan ini hanya sementara.
"Astagfirullah. Maaf ya Mbak. Bukan gitu maksud saya Mbak. Aduh, jadi salah ngomong ini." Nadia merutuki dirinya yang asal bicara.
"Haha, gak usah panik gitu Mbak, saya cuma bercanda kok." Adinda tertawa melihat ekspresi Nadia yang begitu panik.
"Huft, syukurlah." Nadia bernapas lega. "Hmm tapi, kalau memang mau nikah lagi jangan lupa hubungin saya ya Mbak," bisiknya.
"Iiihhh apaan sih Mbak Nadia ini!" Adinda memukul pelan lengan Nadia. Mereka saling pandang dan tertawa bersama.
Tok tok tok.
Ketukan di pintu mengalihkan atensi mereka. Nadia melangkah menuju pintu dan membukanya. Ternyata Sinta dan Alia, mereka yang akan bertugas mengiringi pengantin dengan memakai kebaya senada yang didesain khusus oleh Adinda.
"Mbak Nadia, Adindanya mana?" tanya Alia.
"Gue disini woy!" seru Adinda.
"Beneran ini Adinda teman kami Mbak? Kami pikir ini bidadari yang lagi kesasar." Sinta tertawa diikuti Alia dan Nadia.
"Iiihhh kalian ini ya! Emangnya aku sejelek itu apa, sehingga kalau aku di make over kayak gini kalian langsung pangling." Adinda mencebik kesal.
"Wedeeww calon pengantin dilarang ngambek, entar cantiknya hilang. Kasian itu Mbak Nadia harus ngerias lagi dari awal." Alia terkikik geli.
"Beneran loh Din, kamu cantik banget ini," puji Sinta.
"Makasih ya. Huft, aku kok jadi deg-degan gini ya." Adinda grogi karena sebentar lagi acara ijab qobul akan segera dimulai.
"Oh ya Mbak, ini sudah selesai kan? Kami kesini disuruh jemput Adinda," tanya Sinta kepada Nadia.
__ADS_1
"Iya, sudah selesai Mbak," jawab Nadia.
Adinda melangkah menuju tempat ijab qobul dilaksanakan dengan diapit Sinta dan Alia di kanan kirinya. Semakin dekat Adinda melangkah, ia merasa semakin gugup. Sinta dan Alia menggenggam tangan Adinda untuk memberikan semangat.
Semua pasang mata memandang takjub pada mempelai wanita yang sedang melangkah menuju tempat ijab qobul. Begitu pun Devin yang lekat memandang Adinda seolah terhipnotis. Adinda menunduk tak berani mengangkat wajahnya.
Intan mendudukkan Adinda di samping Devin. Acara pun di mulai dengan pembacaan ayat suci Al-qur'an, di lanjut dengan khutbah nikah. Penghulu melontarkan beberapa pertanyaan pada kedua mempelai. Setelah itu penghulu menjabat tangan Devin dan mengucapkan kalimat ijab dengan lantang dan tegas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Adinda Eka Lestari binti Fathan Angkasa dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Devin mengucapkan kalimat qobul secara lantang, tegas dan jelas dalam satu tarikan napas.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Penghulu.
"Saaaaahhhh." Koor hadirin serempak.
"Alhamdulillah." Lantunan doa pun dipanjatkan.
Adinda meraih tangan Devin dan menc**m punggung tangannya. Devin pun mengecup kening Adinda. Kini, dua insan itu telah sah menjadi sepasang suami istri.
Selepas acara Intan menyuruh Adinda dan Devin beristirahat. Nanti malam pasti akan terasa sangat melelahkan.
"Mau kemana?" tanya Devin ketika melihat Adinda menekan handle pintu kamar di sebelah kamarnya. Memang dulunya itu adalah kamar Adinda sewaktu tinggal di sini.
"Istirahatnya di kamarku. Aku gak mau mama sama papa berpikiran yang tidak-tidak tentang kita," jelas Devin.
"Justru kalau kita sekamar mama sama papa pasti langsung berasumsi yang aneh-aneh." Adinda belum siap kalau harus berada dalam satu ruangan dengan Devin dalam keadaan int*m.
"Adinda, kita itu sekarang udah sah jadi suami istri. Kalau kita pisah kamar mama papa bakalan curiga." Devin menggeleng-gelengkan kepala. Belum satu jam mereka sah jadi suami istri tapi Adinda sudah lupa akan perubahan statusnya kini.
Adinda menepuk keningnya "Sorry Dev, aku lupa." Adinda tersenyum kikuk.
Devin masuk ke kamarnya diikuti oleh Adinda. Mendadak atmosfer di dalam kamar berubah.
"Aku mandi dulu ya," kata Devin.
Adinda hanya mengangguk. Adinda menghempaskan badannya ke kasur empuk milik Devin. Ini bukanlah pertama kalinya ia keluar masuk kamar Devin. Dulu, sewaktu masih sekolah ia sering meminta bantuan Devin untuk mengajarinya. Terkadang, dia sampai terlelap di ranjang ini. Namun, meski demikian mereka tak pernah melewati batas.
Devin telah selesai mandi dan berganti pakaian tadi di kamar mandi. Dilihatnya Adinda yang tengah terlelap dengan kaki menjuntai ke lantai. Gaun pengantin pun masih melekat di tubuhnya. Perlahan ia bergerak untuk membangunkan Adinda.
"Din, bangun. Mandi dulu gih." Devin membangunkan Adinda dari tidur lelapnya.
__ADS_1
Adinda mengerjapkan matanya. Dilihatnya Devin begitu dekat dengan wajahnya. Entah mendapat kekuatan dari mana, sehingga ia mendorong Devin hingga terjengkang ke lantai.
"Aawwww," ringis Devin masih dengan posisi terduduk di lantai.
"Sorry, sorry Dev, aku gak sengaja. Habisnya kamu sih ngagetin aku. Mau ngapain coba wajahnya di deketin gitu!" Adinda membantu Devin berdiri.
"Sakit banget ya?" Adinda merasa bersalah melihat Devin meringis kesakitan.
"Ya sakit bangetlah. Belum sehari udah KDRT, gimana kalau setahun," sungut Devin sambil mengusap pant*tnya yang terasa sakit.
"Ya sorry, aku kan gak sengaja dorong kamu tadi," sesal Adinda.
"Lagian kamu itu di bangunin susah banget. Dicolek dikit tetep gak keganggu," jelas Devin.
"Ya sorry Dev, aku pikir tadi kamu mau ngapa-ngapain aku. Jadi ya, aku refleks dorong kamu," aku Adinda.
"Emangnya kamu pikir aku mau ngapain? Lagian mau ngapa-ngapain juga gak apa-apa. Udah halal juga. Apa mau aku praktekin sekarang?" Devin menaik turunkan alisnya menggoda Adinda.
"Dasar omes!" teriak Adinda sambil berlari ke kamar mandi diikuti oleh tawa Devin.
Baru saja pintu kamar mandi ditutup, tapi tak lama dibuka kembali oleh Adinda. Ragu Adinda meminta tolong pada Devin yang kini telah merebahkan dirinya di ranjang.
Adinda menghirup udara dan menghembuskannya perlahan."Dev, boleh minta tolong gak?" tanya Adinda ragu-ragu.
Devin menoleh pada Adinda yang berdiri di ambang pintu kamar mandi.
"Apa?" tanya Devin.
"Boleh minta tolong bukakan risleting gaunku gak? Tanganku gak sampai," pinta Adinda.
Devin berdiri dari rebahannya. Dia berjalan menghampiri Adinda.
"Makanya, bikin baju itu gak usah yang ribet!" gerutunya.
Adinda hanya nyengir kuda. Memang gaun ini adalah salah satu gaun impiannya yang ia rancang sendiri.
Perlahan tangan Devin menarik turun resleting gaun Adinda. Punggung putih nan mulus itu kini terpampang jelas di hadapannya. Devin memejamkan mata agar tidak tergoda. Namun naas, tangannya bersentuhan dengan punggung Adinda. Membuatnya sesak atas dan bawah.
"Devin!"
__ADS_1