
"Ka-kamu hamil?" tanyanya.
Deg
Adinda sontak terdiam saat suara yang tak asing itu tertangkap dengar oleh rungunya. Adinda membalikkan badannya dan mendapati mantan mama mertuanya tengah berdiri terpaku di hadapannya.
"Ma-mama," desis Adinda lirih.
Intan melangkah mendekati Adinda. Tanpa banyak kata ia membawa Adinda dalam dekapannya. Tanpa terasa tetes demi tetes air mata kini mengalir di pipinya.
Adinda bergeming di tempatnya. Ia masih syok. Ia tak menyangka bahwa mantan mama mertuanya juga berkunjung ke panti asuhan hari ini. Ia takut jika kabar kehamilannya akan sampai pada Devin.
Intan melerai pelukannya. Di usapnya air mata yang masih menetes di pipinya. Ditatapnya mantan menantu kesayangannya yang hanya diam membisu.
"Apa kabar, Sayang? Apa kamu tidak merindukan Mama?" tanya Intan yang membuat Adinda tersentak dari lamunannya.
"Ma-maaf, Ma." Adinda meraih tangan Intan dan mencium punggung tangan sang mantan mama mertuanya dengan takdzim.
"Kabar Adinda baik, Ma. Adinda juga sangat merindukan Mama. Bagaimana kabar Mama?" tanya Adinda.
"Mama sedang tidak baik-baik saja," jawab Intan sendu.
"Mama kenapa?" tanya Adinda khawatir.
"Mama sedang tidak baik-baik saja karena Mama begitu merindukanmu," jawab Intan seraya mengusap pipi Adinda yang tambah berisi.
"Maaf, Ma," sesal Adinda.
Adinda juga begitu merindukan sosok wanita baik hati yang telah ia anggap sebagai pengganti bundanya yang telah tiada. Namun, apa daya rindu itu harus ia pendam karena tak ingin bertemu dengan mantan suaminya dan membuatnya teringat kembali akan kejadian tragis yang menimpanya.
"Jangan meminta maaf, Sayang. Kamu gak salah. Mama yang seharusnya minta maaf padamu. Semua ini gara-gara Mama yang sudah memaksakan perjodohan itu," kata Intan.
Intan tahu bahwa mereka saling mencintai, sehingga ia berpikir bahwa dengan tetap menjodohkan mereka akan membuat mereka bersatu dan bahagia. Namun, nyatanya ia salah. Ternyata putra semata wayangnya yang telah menghancurkan rumah tangganya sendiri.
__ADS_1
"Tidak, Ma. Ini semua sudah takdir, jadi bukan salah siapa-siapa," sela Adinda. Ia menggenggam tangan Intan untuk meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Oh ya, ini beneran kan?" tanya Intan seraya mengusap perut Adinda yang masih rata.
"Iya Ma, sudah sepuluh minggu, tapi Adinda mohon dengan sangat sama Mama, tolong jangan beritahu Devin tentang kehamilan ini," pinta Adinda mengiba.
Intan merasa dadanya seperti terhimpit, sungguh terasa sesak luar biasa. Seharusnya kabar kehamilan Adinda dapat mengembalikan semangat hidup putranya. Namun, permintaan Adinda yang memintanya untuk merahasiakan semua ini membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Ingin rasanya ia menolak saja, namun ia sadar bahwa semua ini memang kesalahan putranya, jadi wajar jika Adinda bersikap demikian.
"Kamu ke sini sama siapa, Sayang?" tanya Intan mengalihkan pembicaraan. Ia tak menolak maupun mengiyakan, takut jika suatu saat ia kelepasan berbicara mengingat kehamilan seseorang tak bisa untuk dirahasiakan seiring bergantinya hari.
"Sama ayah, oma, dan juga opa. Mereka semua ada di dalam, Ma," jawab Adinda.
"Ya udah yuk, kita masuk. Mama ingin bertemu dengan mereka," ajak Intan.
"Adik-adik, Kakak ke dalam dulu ya," pamit Adinda pada anak-anak panti yang sedang bermain di bawah rindangnya pepohonan.
"Iya, Kak," jawab mereka serempak.
Kemudian Adinda dan Intan berjalan beriringan masuk ke dalam. Intan menyalami satu persatu orang yang berada di ruangan tersebut. Waktu menjabat tangan Fani, Intan berpikir bahwa Fani akan menolaknya seperti dulu. Namun, Fani yang sekarang bukanlah Fani yang dulu. Ia menerima uluran tangan Intan dengan seulas senyum di bibirnya.
Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan Adinda dan Intan di panti asuhan yang tak di sengaja, Adinda bersyukur karena sampai hari ini Devin tak datang menemuinya. Ia tahu bahwa mantan mertuanya itu bisa menjaga rahasia.
"Sayang, sekarang waktunya kontrol kandunganmu. Oma temani ya?" tanya Fani saat selesai sarapan bersama.
"Adin sendiri saja, Oma. Oma istirahat saja," tolak Adinda. Ia tak ingin omanya kelelahan dan akan jatuh sakit, maklum faktor U.
"Baiklah kalau begitu," desah Fani, "Kamu hati-hati ya, Sayang." Fani mengelus surai panjang sang cucu.
"Iya, Oma. Adin bukan anak kecil lagi, pasti Adin bisa jaga diri." Adinda tersenyum melihat ekspresi Fani yang terlihat begitu mengkhawatirkannya.
"Iya-iya, kamu bukan anak kecil lagi, tapi Oma begitu khawatir sama kamu, Sayang. Oma tidak mau sampai terjadi apa-apa sama cucu kesayangan Oma ini," jelas Fani.
"Oma, Oma jangan khawatir. Adin pasti akan baik-baik saja." Adinda memeluk Fani dengan erat.
__ADS_1
Walau terasa berat, namun akhirnya Fani mengizinkan Adinda pergi ke rumah sakit seorang diri. Adinda pergi dengan di antar oleh pak Rudi.
Adinda turun dari mobil dan meminta pak Rudy untuk menunggunya di mobil saja. Adinda melangkah memasuki rumah sakit tanpa tahu ada seseorang yang mengikutinya. Saat tiba di lobi langkah Adinda dihentikan oleh seseorang yang tak asing baginya.
"Din!" seru Devin.
Adinda menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya dan mendapati Devin berdiri tak jauh di depannya.
"Kamu ngapain ke sini? Kamu sakit?" tanya Devin seraya mengikis jarak di antara mereka.
"Ya Tuhan, apa Devin mengikutiku? Apa yang harus aku katakan? Aku belum siap jika Devin mengetahui kehamilan ini. Aku, aku sungguh masih belum siap," batin Adinda.
"Din, maafkan aku." Devin berlulut di kaki Adinda membuat Adinda tersentak kaget.
"Dev, apa yang kamu lakukan?" tanya Adinda.
Adinda menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Ada banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Ia merasa tidak nyaman atas sikap Devin yang masih betah berlutut di lantai.
"Dev, tolong berdiri. Aku mohon jangan seperti ini," pinta Adinda. Ia benar-benar merasa tidak nyaman.
"Aku mohon maafkan aku." Devin meraih tangan Adinda. Ia tak peduli pada pandangan orang-orang di sekitarnya. Ia hanya ingin permintaan maafnya diterima oleh Adinda.
"Ok, aku maafin, tapi tolong berdiri sekarang," mohon Adinda.
"Makasih, Din." Devin berdiri dengan senyum yang terukir di wajahnya.
Adinda terkejut saat Devin tiba-tiba memeluknya dengan erat. Adegan demi adegan kejadian mengerikan itu kembali berputar di benaknya. Wajah Adinda memucat dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya.
Devin tidak menyadari bahwa Adinda kini tengah berjuang untuk melawan rasa traumanya. Ia tetap memeluk Adinda dengan erat. Devin hanya ingin melepas rasa rindu yang selama ini ia rasakan.
Adinda merasa sesak. Bukan karena Devin memeluknya terlalu erat, melainkan sentuhan yang Devin berikan. Semakin lama pandangan Adinda semakin mengabur.
"Din!" seru Devin.
__ADS_1
Devin terkejut saat mendapati Adinda tak sadarkan diri dalam dekapannya. Begitu pun dengan seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka.