Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 37


__ADS_3

Intan turun dari mobil yang ia kendarai. Ia melangkah dengan senyum yang merekah dengan menenteng sebuah paperbag di tangannya. Ia melangkah pasti menuju unit apartemen putranya.


"Pasti Adinda akan senang sekali dengan hadiah yang akan aku berikan padanya. Seharusnya hadiah ini sudah aku berikan dari kemarin, tapi karena sudah menjadi kebiasaan setiap tahun selalu memberikan ucapan dan hadiah terlambat, jadi sekarang aku sampai lupa bahwa Mila sudah tiada. Mila, aku kangen sama kamu," ucap Intan seraya terus melangkah.


Intan menekan bel di apartemen Devin, tapi tak ada seorang pun yang membukakan pintu untuknya. Sekali lagi ia menekannya kembali, namun nihil, tetap tak ada respon dari para penghuni apartemen.


Drrtt drrtt drrtt...


Ponsel Intan berdering di dalam tasnya. Segera ia merogoh benda pipih persegi panjang yang terus-menerus berbunyi tiada henti.


"Papa udah kangen banget ya sama Mama. Belum sejam kita berpisah, Papa sudah nelfonin Mama," kata Intan percaya diri ketika panggilan sudah terhubung.


"Assalamualaikum, Ma," seru Bima.


"Waalaikumsalam, Pa. Maaf lupa," jawab Intan.


"Mama sudah sampai apa belum di apartemen Devin?" tanya Bima.


"Ini baru sampai Pa, tapi Mama udah mencet bel berulang kali tetap tak ada yang mau bukain Mama pintu," adu Intan pada suaminya.


"Mama langsung masuk aja Ma. Perasaan Papa tidak tenang dari tadi. Papa kepikiran sama anak dan menantu kita. Semoga saja mereka baik-baik saja," harap Bima.


"Iya, Pa," jawab Intan.


Intan mengakhiri panggilan telepon. Kemudian ia mulai menekan angka- angka yang sudah ia hapal di luar kepala. Pintu apartemen pun terbuka. Gegas Intan masuk ke dalam.

__ADS_1


"Astagfirullah, Devin!" pekik Intan dari ambang pintu kamar yang terbuka.


Gegas ia menghampiri sang putra yang tengah duduk bersandar di tepi tempat tidur dengan pandangan yang kosong. Penampilannya begitu acak-acakan. Di bawanya Devin ke dalam pelukannya, membuat Devin kembali menumpahkan air mata yang sejak tadi sudah reda.


"Ma, dia pergi ninggalin Devin Ma," racau Devin di sela isak tangisnya.


Intan hanya bisa diam karena ia belum mengetahui apa yang terjadi. Di usapnya punggung tegap sang putra yang bergetar. Di pindainya kamar sang putra yang terlihat sangat berantakan. Seketika netranya tertuju pada jejak merah yang sudah mengering di atas tempat tidur. Gaun wanita yang robek di lantai juga tak luput dari perhatiannya.


"Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi di sini? Siapa yang di maksud Devin telah pergi meninggalkannya?" batin Intan.


Intan melerai pelukannya setelah dirasa tangis Devin sudah mulai reda. Langsung saja ia mengintrogasi sang putra. Ia tak mau hanya terus menduga-duga.


"Sayang, coba cerita apa yang sedang terjadi sama Mama," bujuk Intan.


"Maksud kamu apa Dev? Coba kalau ngomong itu yang jelas biar Mamamu ini paham," kata Intan.


"Adinda Ma, Adinda pergi ninggalin Devin, hiks hiks." Kembali air mata itu tumpah dengan sendirinya.


"Ya Tuhan, Dev. Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?" tanya Intan.


"Devin sudah memperk*s* Adinda, Ma," jawab Devin.


"Maksud kamu apa? Bukankah dia memang istrimu?" tanya Intan tak mengerti.


"Maafin Devin Ma. Sebenarnya Devin dan Adinda tidak benar-benar serius menjalani pernikahan ini. Ada hitam di atas putih yang mengikat di antara kami. Kemarin Devin memperlakukan Adinda dengan keji akibat obat per*ngs*ng yang dibubuhkan Liona dalam minuman Devin. Bahkan tangan ini telah menyakitinya, Ma." jelas Devin.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Dev. Apa yang sudah kamu lakukan? Bukankah Mama sudah melarangmu untuk tidak lagi berhubungan dengan mereka? Lantas apa yang kamu maksud dengan hitam di atas putih? Apa kalian nikah kontrak? Mama sangat tahu Dev bahwa Adinda begitu mencintaimu. Kamu telah membuat Mama kecewa Dev," geram Intan.


Devin merebahkan kepalanya di pangkuan sang mama. Kembali ia menangis tergugu. Ia merutuki kebodohannya yang terlambat menyadari bahwa ia juga mencintai sang istri. Ia juga begitu menyesali perbuatannya yang berujung membuat mamanya kecewa.


"Maafin Devin Ma." Devin tak henti-hentinya meminta maaf pada Intan, ia sungguh merasa sangat bersalah.


"Cari istrimu sampai ketemu. Dia hanya punya kita, Sayang." Intan mengelus kepala sang putra yang berada di pangkuannya.


"Dia pergi dengan Ayahnya, Ma. Ternyata ayah Fathan masih hidup. Kemarin, Devin sempat melihat Adinda tersenyum bahagia dengan laki-laki lain. Laki-laki itu menc**m punggung tangan Adinda berkali-kali. Bahkan laki-laki itu berani memeluk Adinda di depan umum. Devin cemburu Ma, tanpa tahu bahwa laki-laki itu adalah ayah mertua Devin. Devin memperlakukan Adinda dengan kasar, Ma. Bahkan kalung pemberian ayah Fathan, Devin tarik dengan paksa sehingga berserakan di lantai. Di bawah pengaruh obat, Devin memaksa Adinda melayani Devin tanpa peduli rasa sakit yang dialami istri Devin," ungkap Devin.


Intan membekap mulutnya tak percaya. Intan pun tak kuasa menahan tangisnya. Mendengar apa yang telah dilakukan sang putra kepada istrinya, membuat dia juga merasa bersalah. Sebagai seorang wanita, Intan bisa merasakan betapa dalam luka yang anaknya torehkan.


"Apa kamu mau tahu, alasan apa yang membuat Mama dan juga papa melarangmu untuk tidak berhubungan dengan keluarga mereka?" tanya Intan yang hanya di angguki oleh Devin.


"Sebenarnya, bunda Mila dulu sempat hampir menikah dengan Danu, tapi pernikahan itu batal sebelum acara ijab qobul dilaksanakan. Kedatangan Mirna yang mengaku tengah berbadan dua saat itu dan dengan sangat jelas mengatakan bahwa ayah dari bayi yang dikandungnya adalah anak dari Danu, membuat bunda Mila histeris dan tak sadarkan diri."


"Mama sangat terpukul mengetahui fakta bahwa sahabat Mama batal menikah karena sebuah pengkhianatan. Mama mengalami kontraksi saat itu dan harus melahirkanmu secara caesar. Mama juga tak bisa memiliki anak lagi karena rahim Mama terlalu lemah."


"Mama berjuang dengan sangat keras mempertahankanmu walau rahim Mama sangat lemah. Hampir saja Mama kehilanganmu karena kejadian itu. Beruntung, Allah masih berbaik hati pada Mama dan papa, sehingga kami memiliki kesempatan untuk menjadi orang tua. Itulah sebabnya kami melarangmu untuk tidak lagi memiliki hubungan apa pun dengan mereka," jelas Intan panjang lebar.


Tangis Devin semakin pecah. Ternyata sedalam itu ia membuat mamanya kecewa. Andai dia tahu dari awal, mungkin semua itu tak akan terjadi. Obsesinya untuk menjadikan Liona sebagai miliknya membuat dia harus kehilangan banyak hal.


Seandainya sang mama mengetahui bahwa Liona tak lebih dari wanita j*l*ng, mungkin saat ini Intan akan menceramahinya panjang lebar. Devin menyesal, sungguh menyesal telah mencampakkan permata demi batu kerikil.


"Maafin aku, Din. Kemana aku harus mencarimu? Baru aku sadari bahwa aku begitu rapuh tanpamu. Tolong, kembalilah padaku. Aku akan memperbaiki semuanya. Maafkan semua khilaf dan salahku yang telah membuatmu pergi."

__ADS_1


__ADS_2