Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 73


__ADS_3

WARNING: Area 21+. Bocil tolong di skip yah!


"Sudah Din," ucap Devin saat ia telah selesai membantu Adinda menarik turun risleting gaun pengantin yang dikenakan Adinda.


"Ma-makasih, a-aku mandi dulu." Gegas Adinda menuju ke kamar mandi untuk menghindari kecanggungan ini, sekaligus membersihkan badannya yang terasa lengket tanpa menoleh ke arah Devin.


Devin menghembuskan napas lega. Lega karena pemandangan yang menggoda imannya telah hilang dari pandangan. Walau Adinda telah menjadi pasangan halalnya, tapi tak mungkin ia langsung menerkamnya bukan?


Meskipun Devin telah berpuasa cukup lama, namun ia tak ingin memaksakan kehendaknya. Devin takut jika sampai ia lepas kendali malah akan membuat Adinda pergi lagi dari hidupnya. Hal itu sungguh sangat tidak di inginkan oleh Devin.


Beberapa saat kemudian Adinda keluar dari kamar mandi dengan handuk di atas lutut yang melilit tubuhnya. Adinda berjalan santai menuju walk in closet tanpa menutup kembali pintunya. Tanpa babibu, ia langsung melepas handuknya dan segera memakai pakaiannya.


Rupanya Adinda melupakan sesuatu. Adinda lupa jika statusnya telah berubah. Adinda lupa jika di dalam kamarnya ia tak sendiri. Sementara Devin yang tengah duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan walk in closet tanpa sengaja melihat sesuatu yang membuat darahnya berdesir. Mencoba mengalihkan pandangan, namun pandangannya justru semakin lekat tertuju pada Adinda seolah terhipnotis.


Susah payah Devin menelan saliva. Bahkan kini tenggorokannya terasa kering. Entah mengapa gerakan demi gerakan yang Adinda lakukan tampak begitu s*sy bagi seorang Devin. Devin menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menghalau pikiran yang mulai berkelana entah ke mana. Gegas ia beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri serta meredakan suhu badannya yang kian memanas.


Suara pintu kamar mandi yang tertutup membuat Adinda sedikit tersentak. Ia baru menyadari keberadaan seseorang di kamarnya yang tak lain adalah Devin, suaminya. Adinda juga baru menyadari tingkah lakunya beberapa saat yang lalu. Adinda menepuk keningnya dengan wajah yang merona malu. Ia merutuki kekonyolannya yang pastinya akan membuat Devin berpikir yang tidak-tidak tentangnya.


"Ya ampun, mau ditaruh di mana mukaku? Jangan sampai Devin berpikir kalau aku berniat menggodanya," gumam Adinda lirih.


Adinda melangkahkan kakinya untuk ke luar dari walk in closet. Adinda sejenak menghentikan langkahnya dan menoleh ke pintu kamar mandi yang tertutup. Terdengar suara gemericik air di dalam sana yang menandakan bahwa Devin masih belum selesai.

__ADS_1


"Sebaiknya aku tidur duluan. Malu banget kalau ingat kejadian tadi." Gegas Adinda menuju tempat tidur. Ia merebahkan dirinya dengan selimut yang menutupi sampai batas leher.


Suara gemericik air di kamar mandi tak lagi terdengar. Adinda memiringkan badannya membelakangi pintu kamar mandi. Ia pejamkan matanya rapat-rapat walau rasa kantuk itu telah berganti menjadi rasa yang sulit di jelaskan.


Pintu kamar mandi perlahan terbuka. Dilihatnya Adinda yang sudah tertidur. Kemudian Devin melangkahkan kakinya menuju walk in closet untuk berpakaian.


Jantung Adinda semakin berdegup dengan kencang seiiring langkah kaki Devin yang terdengar semakin mendekat. Perlahan ranjang king zise itu sedikit bergerak membuat Adinda semakin kesulitan bernapas.


Merasa tak ada pergerakan dari Devin setelah cukup lama, Adinda memberanikan diri membalikkan badannya. Adinda terkejut dengan mata yang membulat sempurna. Adinda pikir Devin sudah tertidur, namun nyatanya laki-laki itu menatap lekat dirinya dengan posisi tidur miring.


Hening, keduanya seakan terpaku. Pandangan mereka terkunci satu sama lain. Devin mendekatkan wajahnya perlahan. Adinda memejamkan matanya seolah terhipnotis. Devin bersorak dalam hati. Merasa tak ada penolakan dari Adinda, Devin semakin mendekat dan mereguk manisnya bibir ranum yang sudah lama ia rindukan.


Bagai gayung bersambut, Adinda membuka sedikit bibirnya. Memberikan akses pada Devin untuk menjelajah lebih dalam lagi. Devin melakukannya dengan sangat lembut, hingga membuat Adinda terbuai. Devin meraih tengkuk Adinda dan semakin merapatkan tubuh mereka.


Devin melepaskan tautan bibir mereka. Di pandanginya wajah Adinda yang masih memejamkan mata dengan napas yang masih tak beraturan. Devin mendekatkan wajahnya kembali. Dikecupnya setiap inci wajah Adinda. Mulai dari kening, hidung, pipi, dan kembali Devin melabuhkan ci*man di bibir ranum sang istri dengan sangat lembut namun menuntut.


Adinda masih tak berani membuka matanya saat Devin melabuhkan ci*mannya kembali. Sejujurnya Adinda masih belum siap, tapi sentuhan Devin membuat dinding pertahanannya roboh. Sebagai wanita dewasa yang pernah mengalami hal termanis dalam hubungan, Adinda tak munafik bahwa ia merindukan belaian. Apalagi Devin melakukannya dengan sangat lembut dan sangat berbeda dengan kejadian tragis delapan tahun yang lalu.


"Tidurlah, sudah larut. Kau pasti sangat lelah," ucap Devin. Sejujurnya ia sudah tak kuat untuk menahannya lagi. Namun, Devin tak ingin terburu-buru untuk memaksakan kehendaknya.


Adinda membuka matanya dan melihat pandangan Devin yang diselimuti kabut gairah. Ia pun juga demikian, Adinda juga menginginkan lebih dari sekedar sentuhan.

__ADS_1


"Lakukanlah," pinta Adinda. Sejenak ia menyingkirkan rasa malu. Toh, Devin sekarang adalah suaminya.


"Yakin?" tanya Devin memastikan. Adinda hanya mengangguk.


Kini keduanya sudah sama-sama tanpa sehelai benang pun. Devin memperhatikan Adinda lekat dari ujung rambut hingga ujung kaki. Benar-benar maha karya Tuhan yang begitu sempurna.


"Indah." Satu kata lolos terucap dari bibir Devin dengan pandangan memuja.


Ditatap sedemikian intens oleh Devin membuat Adinda merona malu. Ia mencoba menutupi aset berharganya dengan tangannya. Namun, Devin menyingkirkannya.


Devin mulai menyusuri setiap inci tubuh Adinda dengan tangan dan bibirnya yang mulai bergerilya. Meninggalkan jejak kepemilikan dengan tanda merah di sekujur tubuhnya. Sentuhan demi sentuhan yang terasa memabukkan membuat Adinda tak berdaya. Tubuh Adinda menggelinjang hebat dan ia mendapatkan pelepasan pertamanya. Kemudian Devin memposisikan dirinya dan siap memberikan surga duniawi yang sesungguhnya.


"Aahhh," des*h Adinda saat merasakan sesuatu yang keras dan berotot memenuhi intinya.


"Eemmhh, Sayang," racau Devin di sela-sela aksinya.


Perlahan tapi pasti Devin membawa Adinda terbang ke awang-awang. Malam pertama untuk yang kedua kalinya, mereka lalui dengan rasa cinta dan keikhlasan satu sama lain.


Entah sudah yang ke berapa kali mereka melakukannya seakan tak kenal lelah untuk melepas dahaga. Namun, mereka sama-sama tersentak dan menyudahi aksinya saat seruan adzan shubuh terdengar berkumandang.


"Stop! Aku lelah," ucap Adinda saat tangan Devin mulai kembali bergerilya melihat tubuh polos Adinda yang basah di bawah guyuran shower.

__ADS_1


"Maaf, Sayang. Sudah terlalu lama aku berpuasa. Jadi, saat kau telah kembali halal untukku, aku benar-benar tak bisa menahan diri. Apalagi kau begitu menggoda dan terasa nikmat. Aawww." Adinda mencubit perut Devin hingga membuat Devin mengaduh.


__ADS_2