
Adinda lebih memilih diam sepanjang perjalanan. Devin pun masih mencoba meredam emosinya. Walau bagaimanapun, Candra telah menyinggung statusnya sebagai seorang suami.
Mobil yang mereka kendarai memasuki halaman rumah orang tua Devin. Tampak mama Intan yang berdiri di teras untuk menyambut kedatangan anak dan menantu kesayangannya, sedangkan papa Bima masih bekerja di kantor.
Adinda turun terlebih dahulu. Kemudian melangkah mendekati sang mama mertua berada. Meraih uluran tangan mama Intan dan mencium punggung tangan mertuanya takzim. Diikuti oleh Devin yang melakukan hal yang sama.
"Ayo masuk Sayang." Mama Intan menggandeng lengan Adinda, menuntunnya untuk masuk ke dalam rumahnya.
Kini mereka duduk di sofa di ruang keluarga. Mama Intan sangat merindukan suasana kehangatan keluarga seperti ini. Dulu, waktu bunda Mila masih hidup, mereka seringkali menghabiskan waktu bersama. Wajah Adinda yang begitu mirip dengan sang bunda, setidaknya itu dapat mengobati rasa rindu mama Intan pada sahabatnya.
"Kata Devin, kalian akan langsung tinggal di apartemen ya?" tanya mama Intan memastikan apa yang disampaikan Devin beberapa saat yang lalu lewat telepon.
"Iya Ma," jawab Adinda mengangguk mantap.
Sebenarnya mama Intan sangat ingin sekali menyuruh Devin dan Adinda untuk tetap tinggal di rumahnya. Tapi Devin tetap bersikukuh untuk tinggal di apartemen dengan alasan agar mandiri.
"Menginaplah di sini semalam saja Sayang. Mama masih kangen sekali sama kamu," bujuk mama Intan sembari mengelus punggung Adinda.
"Lain kali sajalah Ma. Kami masih ingin menikmati waktu berdua mumpung masih cuti." Devin berkata demikian karena ia tak ingin mama Intan curiga tentang hubungan pernikahannya yang tak sesuai dengan harapan sang mama.
"Huft, baiklah, tapi kalian harus sering-sering tengokin Mama dan Papa dan jangan lupa, cepat buatin Mama cucu yang banyak biar Mama gak kesepian lagi." Dengan berat hati mama Intan mengijinkan anak dan menantunya untuk tinggal berdua di apartemen milik Devin.
Adinda dan Devin saling berpandangan. Sungguh permintaan mama Intan yang satu ini sulit untuk diwujudkan oleh Adinda maupun Devin. Jangankan banyak, satu saja sepertinya tak bisa mereka kabulkan.
---
Beberapa hari kemudian Adinda dan Devin telah kembali melakukan aktifitas seperti biasanya. Selama cuti, Adinda memanfaatkannya untuk rebahan dan menggambar. Sementara Devin? Entahlah. Setiap hari selalu keluar rumah. Alasannya, ingin bertemu klien. Padahal Adinda tahu kalau Devin di beri jatah cuti selama seminggu.
__ADS_1
Pagi ini Adinda berkutat dengan segala bahan masakan dan peralatan dapur. Menyiapkan makanan untuk mereka sarapan. Setelah selesai Adinda memanggil Devin untuk sarapan bersama.
"Dev, sarapan dulu!" teriak Adinda dari arah dapur.
"Iya sebentar!" jawab Devin dari arah kamar. Devin meletakkan dasi yang urung dia kenakan. Kemudian melangkah menuju dapur untuk menyantap hidangan yang telah disuguhkan oleh Adinda.
Devin mendudukkan dirinya di kursi meja makan berhadapan dengan Adinda. Devin sebenarnya tidak terbiasa memakan makanan berat saat sarapan. Entah kenapa semua masakan yang Adinda hidangkan tak bisa ia lewatkan. Seperti sekarang, masakan Adinda tampak menggugah seleranya.
Adinda mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauk pauknya. Lalu menyodorkannya kepada Devin. Kemudian mengambil kembali untuk dirinya sendiri.
Mereka makan dalam diam. Hanya terdengar suara dentingan piring dan sendok yang beradu. Sesekali Adinda mencuri pandang ke arah Devin. Adinda senang melihat Devin begitu lahap memakan masakannya.
"Gimana rasanya Dev?" Setiap kali menyajikan hasil karyanya di dapur, Adinda selalu bertanya pada Devin tentang rasa masakannya.
"Masakanmu selalu enak Din." Devin meletakkan sendok yang dipegangnya. Kemudian mengacungkan kedua jempolnya ke arah Adinda.
"Din, bisakah kamu berhenti bekerja saja?" tanya Devin seusai mereka sarapan.
"Memangnya kenapa?" tanya balik Adinda.
"Ya gak kenapa-napa Din. Salah ya kalau seorang suami menyuruh istrinya untuk tidak lagi bekerja? Apalagi aku gak suka kamu terlalu dekat dengan Candra." Devin sungguh tidak rela. Apalagi melihat penampilan Adinda hari ini yang sederhana namun terkesan s**y. Sudah bisa di pastikan para p*******n laki-laki akan menatapnya seperti singa lapar. Bahkan Devin pun sedari tadi terus mencuri pandang ke arah Adinda.
"Ya gak ada yang salah sih Dev, tapi kalau aku tidak bekerja, lantas aku dapat uang dari mana untuk membiayai hidupku setelah satu tahun pernikahan kita? Ya, meskipun kamu berjanji akan memberikan kompensasi, tapi aku tetap ingin jadi wanita yang mandiri," jelas Adinda panjang lebar.
"Lagian kamu ini aneh Dev. Kenapa malah membahas tentang Candra? Candra itu memang masa lalu aku, tapi bukan berarti aku gak boleh berteman dengan dia kan? Lagi pula, bukankah salah satu poin perjanjian kita adalah dilarang ikut campur urusan pribadi masing-masing. Aku bahkan tidak pernah protes setiap hari ditinggalkan sendirian, sedangkan kamu lebih memilih bersama Liona menghabiskan waktu seharian," sambung Adinda. Ia sangat heran akan sikap Devin yang terlalu posesif setelah menikah.
"Apakah Devin cemburu? Ah, rasanya tidak mungkin," batin Adinda.
__ADS_1
"Baiklah, terserah kamu!" Devin beranjak dari duduknya. Melangkah memasuki kamar untuk bersiap-siap pergi ke kantor.
Adinda membereskan meja makan dan mencucinya. Menyusul Devin masuk ke kamar. Adinda meraih dasi yang di sodorkan oleh Devin dan memakaikannya. Setelahnya Devin mengantar Adinda ke butik.
---
"Kenapa loe?" tanya Aditya melihat Devin yang memeriksa berkas laporan sesekali menghembuskan napas panjang.
"Salah gak, kalau gue ngelarang istri gue kerja?" tanya Devin seraya memijat keningnya.
Aditya menggelengkan kepalanya, tapi untuk apa Devin melarang Adinda bekerja padahal dia tahu bahwa pekerjaan ini adalah salah satu impian Adinda sejak kecil.
"Gue tadi ngelarang Adinda buat kerja, tapi dia malah menyinggung soal surat perjanjian yang telah disepakati." Devin benar-benar merasa tidak nyaman membiarkan Adinda terus bekerja. Pikirannya tidak tenang. Apalagi Candra semakin gencar mendekati Adinda.
"Terus masalahnya di mana? Loe kan tahu sendiri menjadi seorang designer adalah impian Adinda sejak kecil. Seharusnya loe dukung Adinda dong Dev! Apalagi sekarang butik Adinda sudah mulai dikenal banyak orang." Aditya tak mengerti dengan cara berpikir sahabatnya ini. Padahal dulu sebelum mereka menikah, Devin selalu mendukung setiap keinginan Adinda.
"Gue hanya gak suka Adinda dideketin sama mantan pacarnya," aku Devin jujur.
"What? Jadi loe cemburu?" tanya Aditya.
"Gue gak cemburu. Gue cuma gak suka aja mereka terlalu dekat." Devin menyangkal kalau ia cemburu. Bukankah cemburu itu adalah tanda cinta. Sedangkan Devin tetap menganggap Adinda hanyalah sebatas sahabat.
Devin hanya bisa menghela napas panjang. Ia juga tak mengerti mengapa menjadi seposesif ini. Cemburu? Tentu saja dia menyangkalnya. Cintanya begitu besar terhadap Liona. Bahkan ia akan dengan sangat senang hati menuruti setiap keinginan kekasihnya itu.
"Syukurlah kalau loe gak cemburu. Itu artinya gue masih punya kesempatan buat meluluhkan hati Adinda." Aditya membayangkan jika saat itu tiba. Duduk berdua di pelaminan saling bergandengan tangan dengan tatapan mesra penuh cinta. Aditya tersenyum sangat manis sehingga lemparan pulpen dari Devin menariknya dari lamunan.
"Aaawww," ringis Aditya. Lemparan pulpen dari Devin tepat mengenai pelipisnya. Tak ada luka tapi terasa sakitnya.
__ADS_1
Devin menatap tajam ke arah Aditya. Bisa-bisanya Aditya mengharapkan istri temannya dan mengatakannya di hadapan Devin secara langsung.