
"Devin!" seru Adinda dari ambang pintu.
Devin menoleh ke arah pintu. Devin melihat Adinda dan Candra yang berdiri di belakangnya. Devin mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya. Ia mencoba menekan amarahnya agar tak mencuat ke permukaan. Devin tak ingin amarahnya memicu pertikaian dan menimbulkan keributan.
Adinda berjalan menuju tempat Devin berada. Adinda tak menyangka Devin akan datang menjemputnya, karena sebelumnya Devin sudah memberi kabar bahwa ia tak bisa menjemputnya untuk pulang bersama.
Adinda meraih tangan Devin yang masih terkepal di samping tubuhnya. Kemudian Adinda mencium punggung tangan sang suami dengan takzim. Adinda tahu bahwa Devin sedang menahan amarahnya.
"Kapan datang Dev?" tanya Adinda.
"Ayo kita pulang!" ajak Devin.
Devin tak menjawab pertanyaan yang Adinda lontarkan. Devin menggenggam tangan Adinda dan menuntunnya keluar. Devin melempar tatapan tajam pada Candra ketika melewatinya.
"Masuk!" titah Devin ketika sudah sampai di samping mobil.
Devin membukakan pintu mobil dan menyuruh Adinda untuk segera masuk ke dalam. Adinda hanya diam saja, ia tak ingin semakin menyulut emosi Devin jika ia angkat bicara.
Devin berjalan memutar dan membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri. Ia mendudukkan dirinya di kursi kemudi. Perlahan mobil pun melaju membelah jalan raya.
"Bukankah aku sudah bilang, kalau aku tidak suka kamu dekat dengan laki-laki lain. Apalagi orang itu adalah Candra." Devin mencengkram setir kemudi dengan kuat untuk melampiaskan amarahnya.
"Aku sama Candra hanya berteman Dev, tidak lebih." Adinda jengah menghadapi sikap Devin yang semakin hari semakin posesif.
Devin melirik ke arah Adinda yang menghadap jendela. Napasnya naik turun karena emosinya masih di ubun-ubun. Ia tak mengerti kenapa bisa semarah ini. Devin hanya tidak rela melihat Adinda bersama laki-laki lain.
"Apakah pantas seorang istri pergi berdua dengan laki-laki lain tanpa sepengetahuan suaminya?" tanya Devin. Netranya lurus menghadap jalanan yang dipenuhi kendaraan yang padat merayap.
Adinda menoleh ke arah Devin yang sedang mengemudi. Adinda memang seorang istri yang diharuskan patuh terhadap titah sang suami. Namun, bagi pernikahan mereka adalah pengecualian. Lantas untuk apa kertas bermaterai yang telah ditanda tangani oleh mereka secara sadar jika akhirnya salah satu pihak harus terkekang.
"Jika seorang istri tidak pantas melakukan itu, lalu bagaimana dengan seorang suami yang justru masih memiliki hubungan khusus dengan wanita lain? Apakah yang seperti itu diperbolehkan?" tanya balik Adinda.
__ADS_1
"Itu beda Din. Kamu kan tahu sendiri kalau Liona memang kekasihku sedari awal dan kamu juga tahu kalau aku begitu mencintainya, sedangkan laki-laki itu secara terang-terangan menabuh genderang perang padaku. Aku tidak suka jika milikku diusik oleh orang lain." Devin memukul stir kemudi dengan kuat.
"Apa itu artinya kamu cemburu Dev?" tanya Adinda memastikan.
"Untuk apa aku cemburu. Ingat Din! Hubungan kita hanya di atas kertas!" ucap Devin menggebu-gebu. Ia mengelak jika di katakan cemburu.
"Aku ingat Dev. Bahkan sangat mengingatnya. Kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing kan. Justru kamu yang melupakan hal itu. Bukankah poin-poin perjanjian itu kamu yang membuatnya. Namun, mengapa sekarang justru kamu yang melanggarnya. Kamu benar-benar egois Dev!" Adinda menghela napas panjang. Adinda merasa sikap Devin yang berlebihan seperti ini justru tak adil untuknya.
"Aakkhhh!" Devin meraup wajahnya kasar.
Adinda mengerjapkan matanya yang kini tampak berkaca-kaca. Rasanya sungguh sakit saat mendengar langsung orang yang kita sayang tak pernah menginginkan kehadiran kita di sisinya. Kini tak ada lagi percakapan. Mereka berdua memilih diam. Hanya terdengar lantunan musik yang mengalun.
(Yang tahu lagu ini, kita nyanyi bareng-bareng yes. Biar tidak terlalu tegang, sekalian Author lagi pengen nostalgia, hehe. Jelas Sakit by SOUQY, yuk cekidot.)
Mengapa ku terus memimpikanmu?
Mengapa aku menangis untukmu?
Mengapa ku selalu tersakiti?
Mengapa aku berharap padamu?
Jelas-jelas kau tak memikirkan aku.
Jelas-jelas kau tak pernah menganggap ku ada.
Mungkinkah ini sudah jalan takdirku
Oh mungkinkah, ini memang yang terbaik untukku.
Namun tak kuasa aku bila terus-terus begini.
__ADS_1
Aku tak sanggup.
Sungguh aku tak sanggup.
Mengapa ku terus memimpikanmu?
Mengapa aku menangis untukmu?
Mengapa ku selalu tersakiti?
Mengapa aku berharap padamu?
Jelas-jelas kau tak memikirkan aku.
Jelas-jelas kau tak pernah menganggap ku ada.
Adinda tak kuasa menahan genangan air mata yang berdesakan untuk keluar. Setetes bulir bening perlahan mengalir dari sudut netra. Cepat Adinda mengusap air mata yang kini mengalir di kedua pipinya. Ia tak ingin Devin mengetahui kalau ia sedang menangis.
"Ya Tuhan, mengapa rasanya sesakit ini? Tak bisakah aku diberi kesempatan sekali saja untuk merasakan bahagia bersama orang yang kucintai?"
"Dulu, hubungan ku dengan Candra kandas karena kesalahpahaman dan sekarang hubungan pernikahanku dan Devin hanyalah sebatas hubungan di atas kertas."
"Aku memang salah terlalu percaya diri menganggap perhatian yang Devin tunjukkan adalah sebuah rasa sayang. Karena nyatanya rasa itu tak lebih dari sekedar kamuflase belaka."
"Ya Tuhan, bisakah engkau kembalikan keadaan seperti semula? Jika tahu akan begini akhirnya, aku tak akan pernah berani untuk jatuh cinta."
"Mengapa Dewi Cinta justru memilih dia sebagai orang yang aku cintai, jika pada akhirnya dialah orang yang paling berpeluang menorehkan luka di dasar hati."
"Aku bukanlah Tuhan maupun Dewa. Aku hanyalah manusia biasa yang hanya punya cinta namun selalu berakhir luka."
"Aku pun tak sanggup jika harus menjadi seorang Qais yang rela bertahan di hutan rimba demi cintanya pada Laila. Karena aku hanya memiliki sebuah cinta yang tulus untuknya."
__ADS_1
"Namun, jika mencintainya adalah sebuah kesalahan, maka relakanlah aku untuk melepaskan. Karena aku sudah tak sanggup jika harus bertahan terlalu lama dalam sebuah hubungan tanpa adanya kepastian," batin Adinda terisak pilu.