
"Aakkkhhh." Adinda berteriak kaget kala seseorang di balik pintu membuatnya terkejut.
"Oma apaan sih? Bikin kaget aja tahu gak." Adinda menggerutu kesal.
"Cieeee, segitunya ngeliat dokter Ivan sampai gak sadar kalau Oma ada di sini," goda Fani.
"Lagian Oma sih. Bukannya tadi Oma itu sudah tidur? Kenapa tiba-tiba ada di balik pintu?" cecar Adinda.
"Sebenarnya Oma hanya pura-pura tidur. Oma hanya ingin memberikan kalian waktu untuk berbicara. Karena yang Oma lihat, sepertinya ada sesuatu yang dokter Ivan ingin bicarakan hanya berdua denganmu," jelas Fani.
"Huft, sudah kuduga kalau Oma punya niat terselubung." Fani hanya terkekeh geli mendengar celotehan cucunya.
"Ya udah yuk, kita sholat isya' berjamaah dulu. Setelah itu istirahat." Fani menggandeng lengan Adinda yang terlihat masih menahan kesal karena sudah ditipu olehnya.
Malam semakin larut, namun Adinda tak kunjung memejamkan mata. Diliriknya jam di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Entah mengapa ia begitu ingin makan seblak yang super pedas. Hanya dengan membayangkannya saja membuat air liurnya menetes. Padahal ia tidak terlalu menyukai makanan pedas.
"Ya ampun, kenapa tiba-tiba pengen banget ya? Apa ini yang namanya ngidam? Coba aja masih punya suami, pasti ada yang nemenin nyari makanan tengah malam gini. Ah, kenapa jadi mikir kayak gitu sih?" racau Adinda.
"Sayang, malam ini tidur dulu ya. Bunda masih ngantuk. Besok saja ya cari makanannya." Adinda mengusap perutnya yang masih rata.
"Iya, Bunda." Adinda menjawabnya sendiri dengan menirukan suara seperti anak kecil. Ia tersenyum membayangkan dirinya sebentar lagi akan mempunyai bayi.
Sementara itu, di belahan bumi yang berbeda, Devin tengah termenung di kasur setengah empuk di kontrakan David. Dia butuh teman curhat, sedangkan Aditya tak bisa menjadi teman curhatnya kali ini. Sebab siang hari Aditya dipaksa untuk kerja romusha. Menggantikan Devin mengerjakan semua tugasnya karena Devin hanya duduk termenung di kursi kebesarannya. Jadilah David yang harus cuti dulu dari pekerjaannya untuk menemaninya malam ini.
"Hei, Bro. Melamun aja nih," sapa David saat mendapati sahabatnya sedang menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.
"Cckkk, apaan sih." Devin berdecak kesal.
"Laper gak? Tadi gue beli seblak di gang depan. Enak, mumpung masih panas," kata David.
"Loe kan tahu sendiri kalau akhir-akhir ini gue susah buat nelan makanan. Apa pun yang gue makan pasti selalu gue muntahkan. Lemes badan gue. Ditambah ngeliat Adinda jalan sama cowok lain, di sini tuh makin sakit rasanya." Devin menekan dadanya yang kembali terasa sesak kala teringat kejadian tadi siang.
__ADS_1
"Yaelah, malah curhat nih bocah. Ya udah yuk, dicoba dulu. Siapa tahu kali ini makanannya bisa diterima sama cacing di perut loe," ajak David seraya menarik tangan Devin untuk berdiri.
Devin berjalan dengan langkah gontai mengikuti David. Dia sungguh kehilangan na*s* makannya sejak kepergian Adinda. Hanya air putih dan susu hangat saja yang bisa diterima perutnya.
Sesampainya di meja makan, Devin mendudukkan dirinya di sebuah kursi plastik. Dia menunggu David yang sedang mengambil mangkok. Saat David menuang seblak itu ke mangkok, entah mengapa Devin menjadi sangat lapar. Wangi kuah seblak yang menguar membuatnya tak tahan untuk segera mencobanya.
"Masih panas itu Dev," kata David memperingatkan, namun Devin seolah tak peduli. David menghembuskan napas panjang karena Devin tak mau mendengar ucapannya.
Devin makan dengan sangat lahap. Sudah lama ia tak bisa makan dengan baik dan benar. Apa pun yang ia makan hanya sampai di tenggorokannya saja. Kini, saat semangkuk seblak tak ditolak oleh perutnya, ia memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
Bahkan, Devin juga menyerobot jatah seblak milik David. Miliknya sudah tandas tak bersisa, sedangkan isi mangkok David belum tersentuh karena David hanya bengong menyaksikan cara makan Devin yang sangat rakus.
"Alhamdulillah, akhirnya kenyang juga." Devin mengusap perutnya yang terasa penuh.
"Cckkk," decak David. Ia mulai menyendok seblak miliknya. Betapa kagetnya ia saat sendoknya hanya beradu dengan meja.
"Ya ampun, seblak gue." David menatap nanar kedua mangkok yang sudah kosong di hadapan Devin. Ia terlalu sibuk memperhatikan cara makan Devin, sampai tak sadar bahwa seblak miliknya telah berpindah tangan.
"Ya udah, tenang aja. Gue bakal ganti, entar gue transfer," kata Devin santai.
"Tinggal beli kek, apa susahnya. Nih, beli lagi sana. Tolong, gue juga belikan lagi dua porsi," pinta Devin yang membuat David melongo.
David menerima selembar uang merah yang disodorkan Devin padanya. Ia turut senang Devin tak lagi muntah saat makan, tapi ia juga tak habis pikir sahabatnya ini memesan dua porsi makanan lagi.
"Terus gimana soal transferannya?" tanya David penuh harap.
"Cckkk, katanya udah laper sekarang. Sana buruan beli. Soal transferan, gampanglah itu." Devin mengibaskan tangannya meminta David untuk segera pergi.
"Satu juta!" seru David.
"What? Satu juta itu bukan cuma dapet semangkok, tapi sama gerobaknya juga," pekik Devin. Walaupun begitu, ia tetap mengetik sesuatu di ponselnya.
__ADS_1
"Tuh, udah gue transfer lima kali lipat," ucap Devin seraya beranjak menuju ruang tamu.
"Makasih, Bro. Tunggu di sini, gue segera kembali." Gegas David pergi untuk membeli makanan lagi.
Tak lama kemudian, David kembali dengan menenteng kresek di tangannya. Gegas ia menuju dapur untuk mengambil mangkok bersih dan membawanya menuju ruang tamu.
"Ini kok empat?" tanya Devin heran saat melihat David mengeluarkan empat porsi seblak dari dalam kresek yang dibawanya.
"Jaga-jaga, Bro. Takutnya pas gue lengah, seblak gue diambil lagi sama loe," jelas David seraya menuang seblak ke dalam mangkok.
"Mumpung na*s* makan gue lagi baik, jadi gak ada salahnya, kan," ucap Devin seraya mengambil semangkok seblak yang disodorkan David padanya.
"Cckkk, dasar rakus," decak David.
Mereka pun makan dalam diam. Menikmati sensasi rasa pedas dari seblak yang begitu menggungah selera. (Jadi pengen, wkwk...).
Sementara itu, keinginan yang tadi Adinda rasakan sangat menggebu tiba-tiba menguap begitu saja. Bahkan, ia mulai menjelajah alam mimpi dengan senyum bahagia.
Keesokan harinya, Adinda sekeluarga pergi berziarah ke makam bunda Mila. Mereka juga berkunjung ke panti asuhan setelah pulang dari makam. Adinda sudah tak sabar ingin berbagi kebahagiaan yang dirasakannya.
Seluruh penghuni panti menyambut kedatangan Adinda dan keluarganya. Adinda begitu senang melihat raut wajah bahagia dari anak-anak panti yang tengah membuka bingkisan yang dibawanya.
Adinda mengajak anak-anak panti untuk bermain di halaman. Sementara ayah, oma, dan opanya tengah berbincang dengan pengurus panti di ruang tamu.
"Kalian senang gak sama hadiahnya?" tanya Adinda seraya memindai wajah mereka satu persatu.
"Senang banget, Kak," jawab mereka serempak.
"Oh ya, Kakak mohon doanya ya, supaya adik bayi di perut Kakak ini tumbuh dengan sehat dan lahir dengan selamat." Adinda mengelus perutnya yang masih rata.
Mereka serempak mengucapkan selamat serta mendoakan yang terbaik untuk Adinda dan buah hatinya. Sementara orang yang berada di belakang Adinda berdiri terpaku saat mendengar pernyataan yang Adinda ucapkan.
__ADS_1
"Ka-kamu hamil?" tanyanya.
Deg....